
Jingga merasa ada yang janggal dengan semua ini, dia mencoba untuk menggunakan ponsel yang di berikan Bima untuk menghubungi Diana atau Qania. Namun sayangnya ponsel itu tidak dapat di gunakan selain nomor Arkana.
Hari ini Bima sedang keluar dan Jingga mencoba untuk menelusuri apartemen yang mereka tempati selama beberapa terakhir ini, Jingga menyadari bahwa dia sedang berada di lantai paling atas dan mungkin sekitar lantai dua puluhan.
View apartemen yang di tampilkan pun sangat indah, Jingga bisa melihat sebuah pantai yang tak jauh dari apartemen itu. Nuansa apartemen yang di dominasi gaya eropa mengingatkan Jingga pada seseorang yang tak lain adalah Nawa.
“ Kenapa mas Bima terus mengingatkan aku dengan Nawa sih.” Gumam Jingga dengan suara yang parau.
Langkah Jingga terhenti tepat di depan sebuah pintu kamar Bima, di apartemen itu memang terdapat dua kamar tidur yang saling bersebalahan dan kamar itu di gunakan oleh Bima selama ini.
“ Maaf kalau aku lancang mas.” Jingga pun membuka knop pintu dan segera melangkah masuk ke dalam.
Jingga memasuki kamar tersebut dan kaget setelah melihat ada begitu banyak foto dirinya yang di pajang hampir memenuhi dinding kamar. Jingga semakin mendekat dan melihat ada beberapa foto sewaktu SMA, dan di foto itu jelas terlihat bahwa itu adalah dia dan Nawa.
“ Apa maskudnya? Kenapa mas Bima punya semua foto ini? Dia bilang dia bukan Nawa, tapi kenapa semua ini ada disini.?” Jingga semakin di buat terkejut saat melihat beberapa foto dan kenangan lainnya saat dia dan Nawa masih berpacaran.
“ Rahasia apa lagi yang dia sembunyikan? Aku nggak ngerti sama sekali.” Keluh Jingga sambil menutup matanya dengan rapat.
“ Kamu ngapain disini.?” Suara itu baru saja membuat Jingga menoleh dengan cepat.
Belum sempat Bima kembali menyahut, Jingga sudah meminta penjelasan kepada Bima tentang semua foto-foto itu. Sekarang sudah cukup jelas kalau Bima adalah Nawa, namun Jingga masih tidak habis pikir atas kematiannya dan kemunculannya yang hadir sebagai Bima dan bukannya Nawa.
“ Kamu Nawa kan? Jawab aku, kamu Nawa kan.?” Tanya Jingga sambil menarik kerah baju Bima dan mengguncangnya dengan sekuat tenaga.
“ Biarin aku jelasin dulu, kamu tenang, jangan emosi seperti ini.” Jawab Bima dengan nada yang pelan.
__ADS_1
Jingga merasa tubuhnya mulai melemah, sampai pada akhirnya Bima segera membantunya untuk duduk terlebih dulu. Bima yang sudah tertangkap basah bahwa dia adalah Nawa sudah tidak ada lagi alasan untuknya terus berbohong.
“ Aku akan jujur sama kamu sekarang.” Ungkapnya dengan menatap wajah Jingga tulus.
“ Hari dimana aku ingin menemuimu, memang benar waktu itu aku mengalami kecelakaan. Tapi yang meninggal bukan aku, dan waktu itu aku sengaja untuk membiarkan kematianku tetap di ketahui semua orang termasuk kamu. “
“ Kenapa? bukannya waktu itu kamu sangat ingin menikah denganku? Tapi kenapa kamu melakukan semua ini?”
“ Aku punya alasan tersendiri, maaf kalau saat ini aku belum bisa menyebutkan alasanku. “
“ Lalu selama kamu pergi, kamu dimana? Kenapa kamu nggak tahu kalau aku di jodohkan sama seseorang yang tak lain adik kamu sendiri.?”
“ Soal itu aku pun nggak tahu sama sekali, sejak aku mengalami kecelakaan aku di bawa ke Bandung oleh seseorang. Selama aku di Bandung, aku hanya fokus dalam perawatanku dan tidak mencaritahu kabar tentangmu.”
“ Kamu benar-benar egois tahu nggak?”
Jingga tak kuasa menahan air matanya lagi, dia tidak tahu harus senang atau sedih mengetahui bahwa Bima adalah Nawa. Semua yang telah terjadi kepadanya sangatlah menyakitkan sehingga dia tidak bisa menyalahkan Nawa atas perbuatannya itu, dan sekarang waktu telah merubah segalanya dan kehadiran Nawa sekarang tampak tak berarti seperti dulu lagi.
“ Dan soal hp ini? kamu pasti sengaja buat aku hanya bisa menghubungi mas Arka kan? Hp ini sama sekali nggak berguna, kamu sengaja melakukannya kan supaya aku nggak pergi dari kamu.?” Tanya Jingga sambil menunjukkan ponsel yang di berikan Bima kepadanya.
“ Aku minta maaf soal itu, kamu benar. Aku hanya nggak mau kamu kembali ke Jakarta dulu.” Balas Bima menunduk bersalah.
“ Aku masih nggak habis pikir dengan kamu, aku mau kembali ke Jakarta sekarang.” Jingga beranjak dari tempatnya dan hendak untuk pergi.
Namun dengan cepat Bima menahannya dan memeluk wanita itu dari belakang, dia meminta maaf atas perbuatannya selama ini dan memohon agar Jingga tidak pergi darinya lagi.
“ Sekarang aku sudah menikah dan punya anak, kita nggak bisa kembali kaya dulu lagi.” Ucap Jingga dengan isak tangis.
__ADS_1
“ Kamu belum pernah bilang nggak cinta sama aku, sekarang coba kamu bilang. Bilang kalau kamu udah nggak cinta sama sosok Nawa lagi.” Bima memutar tubuh Jingga agar bisa saling menatap satu sama lain.
Jingga tidak bisa berkata-kata di hadapan Bima sekarang, mungkin dia sudah tahu bahwa pria di hadapannya adalah Nawa, tapi dia masih menganggap pria di hadapannya adalah Bima.
“ Tatap aku sebagai Nawa, bukan Bima. Kalau memang kamu udah nggak cinta sama aku lagi, aku pasti akan menyerah untuk kamu.” Kata Bima dengan tegas.
Jingga hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menjawab bahwa dia tidak mencintai pria di hadapannya namun dia juga tidak bisa bilang kalau dia masih cinta.
Bima kemudian meraih tubuh Jingga ke dalam pelukannya, melihat Jingga yang tidak menolak membuat Bima percaya diri bahwa Jingga masih memiliki perasaan kepadanya.
**
Jingga menolak bertemu dengan Jingga untuk sementara waktu, dia hanya mengurung diri di dalam kamar seharian. Dan Bima hanya akan membawa makanan dan juga obat untuk Jingga, setelah urusannya selesai dia pun keluar begitu saja.
Selama kurang lebih lima hari Jingga mendiami Bima, sampai pada akhirnya dia keluar dan menemui Bima dengan emosi yang cukup tenang dari sebelumnya.
Jingga memeluk Bima dan menangis sejadi-jadinya, dia pun berkata bahwa dia masih belum melupakan perasaannya kepada Nawa. Mendengar hal itu tentu membuat Bima merasa senang, dia balas memeluk Jingga seolah-olah tidak akan pernah melepaskannya lagi.
“ Kamu janji mau hidup sama aku mulai sekarang.?” Tanya Bima pada Jingga.
“ Aku mau, tapi kalau mas Arka memang benar-benar akan menikah lagi. Aku hanya perlu tahu semua kebenaran itu.” Balas Jingga kemudian.
“ Kamu mau aku bicara dengan Arkana soal ini? atau kamu mau aku membawanya kemari menemui kamu.?” Tawar Bima.
“ Aku hanya mau bicara sama dia aja lewat telpon, tolong kamu kasih ke aku nomor aslinya mas Arka.” Pinta Jingga kemudian.
__ADS_1