Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Drop


__ADS_3


Setelah proses pre wedding selesai, Jingga menyingkir sejenak untuk memberitahu Arkana tentang apa yang terjadi hari ini. Dia sudah berjanji sebelumnya untuk memberitahu Arkana apapun yang dia lakukan dengan Nawa tanpa tapi.


Jingga telah mengirim sedikit bukti bahwa dia melalukan foto pre wedding palsu bersama Nawa kepada Arkana, dia akan menunggu sampai Arkana membalasnya setelah itu kembali ke Nawa untuk melihat hasilnya.


Terlihat bahwa pesan yang di kirim oleh Jingga sudah di baca oleh Arkana, namun tidak seperti biasanya Arkana tidak membalas pesannya dengan cepat.


" Dia nggak marah kan. " Benak Jingga mulai khawatir.


Selama lima menit Jingga menunggu balasan, namun sampai saat ini belum ada balasan apapun. Jingga berpikir bahwa Arkana mungkin sedang sibuk menjaga Keenan sampai tidak bisa membalas pesannya.


" Anggap aja kaya gitu. " Benak Jingga yang akhirnya kembali menghampiri Bima.


Sementara itu terlihat Bima yang sedang memperhatikan hasil dari pemotretan hari ini, dia terlihat senang sampai tak bisa berhenti untuk tersenyum.


" Gimana hasilnya.? " Tanya Jingga berhasil membuat Nawa sadar dan langsung meliriknya.


" Bagus, aku mau simpan hasilnya buat aku sendiri. Kamu nggak usah. " Balas Nawa hanya membuat Jingga tersenyum simpul.


Hari ini semua telah selesai, mereka telah berganti pakaian mereka sebelumnya. Nawa meminta supir taksi yang membawa mereka pergi untuk menuju sebuah taman hiburan untuk menutup kegiatan mereka hari ini.


**


Pria itu menatap sebuah foto berukuran besar yang terpajang di atas dinding kamar, sebuah foto pernikahan di masa dimana dia tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.


Senyuman palsu yang di tampilkan saat itu sedikit membuat Arkana menyesal saat ini, dia bahkan tidak pernah merasakan perasaan bahagia ketika menikah dulu.


Melihat Jingga mengirimkan foto pre wedding palsu beberapa saat yang lalu cukup membuat perasaannya tak karuan, dia juga ingin melakukan hal itu. Mengenakan pakaian terbaik lalu mengabadikan moment bersama wanita yang paling di cintainya adalah sesuatu yang sangat dia inginkan sekarang ini.


" Apa-apaan aku? Kenapa aku jadi kaya gini sih. " Keluh Arkana sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Baru saja Arkana ingin membalas pesan dari Jingga, tiba-tiba saja suara Keenan terdengar sedang menangis. Ternyata Keenan sudah bangun dari tidurnya, dan jika sudah begini Arkana harus berusaha untuk membuatnya tenang kembali.


" Anak papa udah bangun ya, sini sini biar papa gendong. " Arkana meraih Keenan dan berusaha menenangkannya dengan cara yang biasa dia lakukan.


Keenan terus saja menangis, bi Inah sampai masuk ke kamar dan membantu Arkana menenangkannya. Dan entah mengapa Keenan bisa jadi tenang jika yang menggendongnya adalah seorang wanita.

__ADS_1


" Kayaknya Keenan udah mulai nggak suka sama saya deh bi. " Celetuk Arkana terlihat sedih.


" Anak bayi memang kaya gitu den, kadang suka di gendong cuma sama ibunya, ayahnya, atau bahkan orang-orang yang dia rasa bisa memberikan ketenangan buat dia. " Jelas bi Inah.


" Bi Inah bisa jagain Keenan selama dua jam nggak? Saya mau keluar ada urusan. " Pinta Arkana.


" Bisa den, serahin semuanya ke bibi." Balas bi Inah mantap.


**


Jingga dan Nawa baru saja selesai menikmati beberapa wahana yang santai di taman hiburan tersebut, keduanya berjalan beriringan dengan santai sambil berdecak tawa membahas wahana yang mereka coba barusan.


" Kamu senang nggak.? " Tanya Nawa.


" Senang, wahananya seru. Udah lama juga aku nggak main di sini. " Balas Jingga.


Seseorang tiba-tiba lewat dan menyambar Jingga hingga minuman yang di pegang oleh Jingga tak sengaja tumpah di kemeja pria itu.


" Punya mata nggak sih.? " Tegur pria itu dengan nada yang kesal.


" Maaf pak, saya nggak sengaja. " Balas Jingga yang dengan cepat ingin membantu pria itu untuk membersihkan kemejanya.


" Berapa.? " Sahut Nawa yang terlihat kesal dengan sikap sombong pria itu.


" 1 juta. "


" Sebut nomor rekening sekarang, "


" Kamu nggak perlu gitu, ini salahku. " Sahut Jingga merasa tidak enak.


" Ya udah kalau gitu kamu aja yang ganti. " Lontar pria itu pada Jingga.


" Saya tahu kemeja bapak harganya nggak sampai sejuta, bapak jangan berusaha nipu kita ya. " Balas Jingga yang jelas tahu kualitas kemeja yang di kenakan oleh pria itu bukanlah dari brand mewah.


" Tahu apa kamu. " Pria itu langsung mendorong Jingga hingga dia terjatuh ke tanah.


Nawa melirik Jingga yang jatuh dan langsung membantunya, dia yang terbawa emosi pun bangkit dan memukul wajah pria itu hingga dirinya yang kembali terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Beberapa pengunjung fokus memperhatikan keributan yang di ciptakan oleh Nawa dan pria itu. Perkelahian antara mereka sulit di relai karena keduanya sama-sama larut dalam emosi.


" Nawa, cukup. " Jingga berusaha menahan Nawa untuk tidak melawan, namun sayang Nawa sulit untuk di hentikan.


Jingga sudah tahu kebiasaan Nawa jika sudah terbawa emosi seperti ini, apalagi jika menyangkut tentang dirinya yang tidak bisa di hentikan hanya dengan kata-kata.


Satu pukulan yang tidak di sengaja berhasil mendarat di wajah Jingga, Nawa menoleh dengan khawatir ke arahnya. Dan saat itu juga pukulan yang cukup keras mendarat di kepala Nawa, dia terlihat diam dan pandangannya mulai buram hingga dia merasa mati rasa selama beberapa detik.


" Nawaaaaaa. "


**


Arkana menatap palang besar taman hiburan yang ada di Jakarta, dia tidak menyangka pada akhirnya akan datang ke tempat itu meski dalam benaknya dia tidak akan pergi kesana.


Alasan Arkana datang ke tempat itu tentu saja karena Jingga berada disana, dia merasa tidak tenang dan ingin melihat apakah Jingga tidak melakukan sesuatu yang sengaja tidak di ketahui olehnya.


Ketika Arkana memasuki tempat itu, dia melihat keributan yang terjadi di sekitar tempatnya berdiri saat ini.


Karena penasaran Arkana pun mendekat, dan semakin dia mendekat, semakin jelas dia melihat keributan apa yang telah terjadi di tempat itu.


Melihat Jingga dan Nawa yang terkena pukulan membuat Arkana terkejut hingga dirinya tak bisa bergerak selama beberapa detik. Dia sadar ketika suara Jingga terdengar memanggil Nawa dengan nyaring.


Arkana menghampiri pria yang melakukannya, dia menarik kerah baju pria itu dengan sangat kuat dan di selimuti oleh amarah yang jauh lebih besar dari Nawa barusan.


" Berani-beraninya kau menyakiti istri dan kakakku. " Ucap Arkana menatapnya tajam.


Jingga terkejut melihat kehadiran Arkana saat ini, dia tidak tahu sejak kapan dan sedang apa suaminya datang ke tempat ini.


Tak ada waktu untuk memikirkan itu, Jingga segera mengecek keadaan Nawa dan berusaha memanggil namanya dengan rasa takut yang berlebihan.


" Mas Arka, Nawa nggak sadarkan diri. " Sahut Jingga dengan tangis yang pecah.


Arkana menarik kerah pria itu dan memberikan tinjuan penuh amarah tepat di wajah pria itu, dia mengancam akan membawa pria itu ke kantor polisi jika sesuatu terjadi pada Nawa.


" Kita bawa ke rumah sakit sekarang juga. " Arkana segera meminta bantuan orang-orang sekitar untuk mengangkat tubuh Nawa ke mobilnya.


Sedangkan pria yang menyebabkan kekacauan tersebut kini sudah di amankan oleh pihak terkait, banyak dari saksi mata yang menyaksikan kejadian barusan dan hampir semua dari mereka menunjuk pria itu sebagai tersangka utama.

__ADS_1



__ADS_2