
Bima sudah pulang dari pertemuannya dengan Gilang hari ini, dan kecurigaannya terhadap mamanya sudah dapat di tebak Gilang karena Arkana sebelumnya.
Hari itu setelah kembali ke rumah, Bima mendapati mamanya sedang berada di kamar dengan suasana yang gelap dan terdengar suara tangisan yang membuat Bima akhirnya masuk ke dalam sana.
“ Ma, mama kenapa.?”
“ Bima, kamu akhirnya datang nak. Mama pikir kamu mau tinggalin mama seperti yang mereka lakukan.” Mama Widya langsung datang memeluk Bima dengan erat.
“ Aku hanya pergi menemui temanku ma, aku kan sudah janji nggak akan pergi tinggalin mama.” Balasnya sambil menenangkan mamanya.
Bima kembali mengingat ucapan Gilang bahwa pengdiap bipolar biasanya mengalami perubahan suasana hati dari posisi rendah ( depresi ) hingga ke tertinggi yang di sebut manik.
“ Seseorang yang mengalami episode depresi pada gangguan bipolar akan merasakan kesedihan yang luar biasa, dan pada episode manik akan sering berkhayal, perasaan yang menggebu-gebu, dan antusias yang berlebihan.”
Bima merasa sangat kesal pada dirinya saat ini, dulu Arkana yang berusaha melawan masalah mentalnya dan sekarang kini terjadi pada mamanya yang mungkin sudah berlangsung cukup lama.
“ Ma, mama nggak sendirian. Jadi jangan pernah berpikir kalau mama hidup sendiri di rumah ini, mama punya aku, Arkana, dan juga cucu mama.”
“ Nggak, mereka selain kamu bukan siapa-siapa. Mama nggak butuh mereka, mama hanya butuh kamu.” Mama Widya melepas pelukannya dan kembali menangis seperti anak kecil.
Gilang juga berkata bahwa penyebab dari gangguan bipolar bisa jadi karena masa lalu yang kurang bahagia, stress, dan traumatik, Bima bisa menarik kesimpulan bahwa semua ini berawal sejak kedua orang tuanya berpisah, kemudian mamanya hamil Arkana dari pria lain, kehidupan mama Widya penuh tekanan sehingga membawanya menjadi sosok yang sangat mengerikan seperti sekarang.
“ Mama mau berobat sama aku.?” Tawar Bima.
“ Mama nggak sakit, kenapa mama harus berobat.?”
“ Mama jangan tersinggung, tapi untuk sekarang mama butuh bantuan seorang psikolog. Aku punya teman yang bekerja di pekerjaan itu, dia pasti bisa menolong mama buat sembuh.”
“ Bima, jadi kamu berpikir kalau mama sudah gila.?”
“ Bukan begitu ma, aku hanya mau menolong mama. Tidak ada salahnya meminta bantuan piskolog.”
__ADS_1
“ Keluar, mama nggak mau lihat wajah kamu sekarang.”
“ Tapi ma.”
“ Mama bilang keluar, keluar.!!!!”
Bima pun terpaksa harus keluar dari kamar mamanya setelah mendapat respon yang kurang baik. Dan setelah Bima keluar dari kamar itu, dia tidak sengaja mendengar di bawa sana kedatangan seseorang yang tidak asing.
Bima melihat supir mama Widya yaitu pak Jefri baru saja memberikan sesuatu kepada seseorang yang berdiri di depan rumah, Arkana yang penasaran pun segera mendekati mereka dan menanyakannya secara terang-terangan.
“ Dia siapa pak.?”
“ Bukan siapa-siapa den, dia hanya kurir yang datang buat ambil barang.”
“ Barang apa kalau saya boleh tahu.?”
“ Barangnya nyonya.”
“ Iya saya tahu, tapi barangnya berupa apa.?”
Bima tidak bertanya lagi setelah itu, tapi dia masih penasaran dengan pak Jefri sejak awal. Pak Jefri mungkin banyak mengetahui semuanya tentang mama Widya, tapi Bima tidak ingin menanyakannya sekarang.
**
Pagi keesokan harinya, Bima bangun pagi-pagi sekali setelah kemarin sempat memperhatikan pak Jefri dari semalam. Pagi ini terlihat pak Jefri yang akan keluar tanpa mama Widya, kabarnya mama Widya sedang kurang sehat sehingga tidak pergi kemana-mana.
Bima penasaran dengan pak Jefri yang ternyata pergi meninggalkan rumah sekitar pukul 7:00 pagi. Bima diam-diam mengikutinya dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan olehnya.
Sekitar satu setengah jam Bima mengikuti pak Jeferi hingga akhirnya dia tiba di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, hanya ada satu jalan yang dapat di lewati dan selebihnya di kelilingi oleh pepohonan besar.
Di jalan yang di lewatinya itu Bima sengaja mengambil laju pelan dan membiarkan pak Jefri pergi duluan, dia tahu kalau jalanan itu pasti akan membawanya ke satu tempat tujuan.
“ Mau kemana dia?”
__ADS_1
Dari kejauhan Bima sudah melihat sebuah kediaman yang cukup besar melebihi rumah yang di tempatinya saat ini. Bima berhenti sejenak sambil bertanya-tanya tentang tempat tersebut.
Kemudian Bima sengaja memarkirkan mobilnya di dekat pepohonan yang tertutup oleh semak belukar, lalu dia turun dari dalam mobilnya dan berjalan sedikit lebih dekat ke arah rumah itu.
Di depan pintu pagar terlihat dua orang pria yang berjaga dengan sergam serba hitam, Bima mulai curiga mengapa rumah itu terlihat begitu misterius. Terlebih lagi dia tahu kalau pak Jefri baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
“ Apa jangan-jangan dugaanku memang benar, di rumah itu ada Jingga yang sengaja di sembunyikan oleh mama.?” Benak Bima.
“ Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kalau aku memaksa masuk apa akan jadi masalah besar? Tapi aku nggak bisa tinggal diam saja, aku yakin disana ada Jingga.”
Cukup lama Bima berada di tempat persembunyiannya, sampai akhirnya dia melihat ada sebuah mobil yang keluar dari rumah itu. Mobil tersebut bukanlah mobil yang di gunakan oleh pak Jefri, dan ketika mobil itu hendak melewati tempat Bima bersembunyi, dengan cepat dia merunduk agar tidak kelihatan oleh orang yang membawa mobil tersebut.
“ Sial, aku bahkan nggak tahu ada berapa orang di dalam sana?”
Setelah memikirkannya baik-baik, Bima pun mendapat satu ide yang muncul saat itu. Terlebih dulu dia akan pergi dari tempat itu sebelum ketahuan oleh salah satu dari mereka.
**
Sudah tiga minggu Jingga berada di rumah itu, tangisnya tidak pernah berhenti setiap kali dia mengingat Arkana dan putranya. Dia masih berharap keajaiban datang dan membawanya pergi dari rumah bak neraka itu.
Sebuah ketukan pintu membuat Jingga tidak bergeming sama sekali, dia sudah tahu siapa yang datang untuk mengeceknya. Dia adalah pak Jefri yang setiap hari akan datang mengecek dan memberitahu kondisinya kepada mama Widya.
“ Pak Jefri dulu orang baik kan sebelum bekerja sama mama Widya.?” Tanya Jingga melirik pria setengah baya itu dengan tatapan sayu.
“ Jangan pernah meminta apapun ke saya non, saya hanya menjalankan tugas dari nyonya.”
“ Pak Jefri punya keluarga kan? Gimana perasaan pak Jefri kalau pak Jefri jauh dari istri dan anak-anak.?” Jingga tak berhenti melemparkan pertanyaan kepada pak Jefri.
“ Saya melakukan semua ini demi mereka.” Balas pak Jefri.
“ Tapi mereka nggak tahu kan apa yang pak Jefri kerjakan sekarang? Mereka nggak tahu kalau saat ini pak Jefri berusaha menjauhkan seorang ibu dari putra dan suaminya.” Sambung Jingga.
“ Saya permisi.” Pak Jefri memutus obrolan secara sepihak dan berlalu begitu saja meninggalkan kamar Jingga.
__ADS_1
Jingga kembali meneteskan air mata, dulu dokter Anggun yang dia harap dapat menolongnya ternyata sudah di berhentikan dan menghilang entah kemana. Sekarang pak Jefri yang dia harap bisa menolongnya pun ternyata tidak bisa di harapkan sama sekali.