
“ Kamu mau ngomong apa sama papa.?” Tanya papa Hendra menatap Jingga penasaran.
“ Jingga minta maaf kalau pertanyaan Jingga sedikit lancang, tapi Jingga percaya sama papa dan mungkin hanya papa yang tahu soal ini.” Ucap Jingga masih sedikit gugup di buatnya.
“ Papa nggak akan marah, papa akan dengar semua yang kamu mau katakan.” Lanjut papa Hendra berhasil membuat Jingga merasa lebih tenang dan percaya diri.
Jingga kemudian menjelaskan semuanya pada papa Hendra, di awali dengan rasa penasaran Jingga pada keluarga Arkana yang masih belum di ketahuinya dengan baik. Tentang papa Hendra yang merupakan kepala keluarga namun tidak melakukan peran lebih seperti seorang kepala keluarga pada umumnya, dan soal mama Widya yang selalu bersikap tegas dan perfeksionis dalam segala situasi.
Dan yang terakhir tentang hubungan mama Widya dan Arkana yang sesungguhnya, Jingga tahu kalau papa Hendra bukan ayah kandung Arkana namun dia tahu kalau papa Hendra pasti mengetahui semuanya dengan baik.
“ Kamu ingat waktu itu papa pernah tanya kamu soal hubungan kalian berdua? Sebenarnya papa juga sudah curiga kalau Arkana pasti memperlakukan kamu dengan cara yang tidak baik.” Ucap papa Hendra sambil tertunduk sayu.
“ Pernikahan kalian berdua dilakukan atas permintaan mama Widya, Arkana sempat bertengkar dengan mamanya sebelum menikahi kamu. Tapi mama Widya selalu punya cara untuk Arkana mau mendengarnya, dan papa tahu kalau mereka berdua memiliki hubungan yang kurang baik sebagai ibu dan anak.” Lanjut papa Hendra.
“ Tapi kenapa pa? mas Arka pernah buat salah apa sama mama Widya.?” Tanya Jingga.
“ Arkana tidak pernah melakukan kesalahan apapun sejak kecil, dia anak yang sangat baik dan berusaha menjadi yang terbaik untuk mamanya. Papa juga merasa kalau masa lalu Arkana yang buruk mungkin akan sangat berdampak baginya sekarang, tapi sayangnya papa tidak begitu dekat dengan Arkana sampai sekarang. Jadi papa hanya menyimpulkannya berdasarkan dari apa yang papa lihat selama ini.” jelas apa Hendra.
“ Mas Arka selalu melakukan sesuatu yang di luar dugaan, kadang dia baik tapi kadang juga bersikap sangat kasar. Selama aku hamil, dia berubah cukup banyak. Oleh karena itu aku sangat ingin membantu mas Arka bisa berdamai dengan masalahnya, jadi aku mau tahu semua tentang mas Arka dari papa.” Kata Jingga bersungguh-sungguh.
“ Kalau mau di ceritakan akan memakan waktu yang cukup lama, papa nggak bisa menceritakannya sekarang.”
“ Papa bilang kalau papa nggak sibuk hari ini.?”
“ Itu karena.” Belum sempat papa Hendra melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari mama Widya.
“ Ini alasan papa tidak bisa menceritakan semuanya ke kamu hari ini.” papa Hendra menunjukkan panggilan masuk tersebut pada Jingga.
“ Mama Widya? Memangnya kenapa dengan mama Widya.?”
“ Papa nggak bisa kasih tahu kamu sekarang, tapi papa janji kalau ada kesempatan pasti papa akan cerita. Yang terpenting saat ini kamu fokus membantu Arkana, kalau bisa jangan pertemukan dia dan mamanya dulu.”
“ Papa mau kemana.?” Tanya Jingga.
__ADS_1
“ Papa harus kembali ke ruangan papa sebelum mama Widya datang, jadi kamu usahakan jangan bertemu mama Widya dulu hari ini.”
Jingga masih sangat penasaran dengan semuanya, setelah bertemu papa Hendra dia pikir semua pertanyaan akan terselesaikan. Namun nyatanya masih ada begitu banyak misteri yang harus di pecahkan satu persatu, tapi setidaknya dia tahu kalau papa Hendra banyak mengetahui tentang masalah Arkana dan mama Widya.
**
“ Jingga.”
Suara itu berhasil membuat Jingga menoleh ke arahnya, dia mendapati sosok Qania baru saja berdiri di hadapannya dengan senyuman. Sudah lama tidak bertemu dengan Qania semenjak hari itu, mereka hanya sering berkomunikasi melalui whatsapp saja.
“ Kamu datang check up ya.?” Tanya Qania.
“ Nggak kok, aku datang bawain mas Arka makan siang.” Jawab Jingga kemudian.
“ Kalian berdua liburan di Thailand kelihatan happy banget, Arka udah berubah ya.?”
“ Lumayan, semenjak kamu kasih tahu aku soal masalah itu aku jadi tahu cara mengatasinya.”
“ Baguslah, aku senang mendengarnya.?”
“ Cantik banget, aku langsung pakai ya.” Qania langsung memasangnya di pergelangan tangan yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.
“ Terima kasih ya.” Lanjut Qania.
“ Sama-sama, aku senang kalau kamu suka.” Balas Jingga.
“ Jingga.?” Suara Arkana baru saja terdengar yang membuat mereka berdua kompak melirik Arkana.
Arkana terliat menghampiri Jingga dan langsung merangkul pinggangnya tepat di hadapan Qania, terlihat Qania yang langsung memberikan senyuman kepada mereka berdua.
“ Kalian harus sering-sering liburan berdua biar makin mesra.” Lontar Qania.
“ Aku ada jadwal periksa pasien, aku duluan ya.” Lanjut Qania dan perlahan meninggalkan mereka berdua.
Saat itu tangan Arkana perlahan menjauh dari tempatnya barusan, Jingga melirik Arkana yang menatap kepergian Qania dengan tatapan tak rela. Nampaknya Arkana masih sangat mencintai Qania sekeras apapun Jingga berusaha untuk membuatnya bahagia.
__ADS_1
“ Aku tadi bawa makan siang untuk kamu, makanannya ada di atas meja kerja kamu. Kalau gitu aku pulang dulu ya mas.” Ucap Jingga yang langsung beranjak meninggalkan Arkana.
Saat itu Arkana tidak bergerak sama sekali dari tempatnya, dia masih berdiri dengan pandangan lurus kemana Qania pergi. Sedangkan Jingga yang berjalan pulang tidak di liriknya sama sekali.
**
Hari minggu yang di tunggu-tunggu oleh Jingga akhirnya tiba, dia langsung berjalan menuju Arkana yang saat ini sedang berada di ruang tengah.
“ Kamu mau temenin aku ikut seminar nggak.?” Sahut Jingga.
“ Seminar apa.?”
“ Seminar tentang kesehatan mental.”
Arkana menoleh pada Jingga dengan tatapan heran, dia bingung kenapa Jingga tiba-tiba mengajaknya untuk menghadiri seminar itu.
“ Nggak ah, kamu aja.” Tolak Arkana.
“ Tapi aku mau kamu ikut.” Pinta Jingga.
“ Aku nggak tertarik sama seminar kaya gitu.”
“ Karena kamu nggak tertarik makanya kamu harus ikut, pembawa bicara seminar ini teman aku. Siapa tahu kamu mau ngobrol sama dia, dia itu psikiater hebat loh mas.”
“ Terus.?”
“ Ya aku mau pergi sama kamu.”
“ Kenapa sih aku harus ikut? Aku izinin kamu pergi kok.”
“ Kalau kamu nggak mau pergi, aku akan lapor ke mama Widya kalau kamu nggak mau nurutin apa yang aku mau.” Ancam Jingga.
“ Kamu berani lapor ke mama ku.?” Sahut Arkana menatapnya lurus.
“ Berani. Dan kalau kamu masih nggak mau pergi sama aku, aku bakal posting di social media aku kalau aku pergi sendirian biar orang lain lihat kalau kamu nggak peduli sama aku.” Ancam Jingga sekali lagi.
__ADS_1
Setelah memikirkan cukup lama akhirnya Arkana menyetujui ajakan Jingga, dia mau pergi ke seminar itu bersamanya. Tampak Jingga yang merasa sangat senang mendengarnya, ini merupakan saran dari Gilang untuk membuat Arkana dapat bertemu dengannya di seminar itu.