Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kehidupan Yang Di Inginkan


__ADS_3


3 Hari yang lalu…


“ Mama mohon sama kamu, tolong jangan bercerai dengan Arkana. Ini hanya sebuah kesalah pahaman, Arkana pasti tidak melakukannya secara sengaja.” Bujuk mama Widya pada Jingga.


“ Mama nggak tahu seberapa menderitanya aku menjalani rumah tangga bersama mas Arka, aku sudah berusaha yang terbaik untuk membuatnya bisa menerima aku sebagai istrinya. Tapi semua tidak berjalan sesuai harapanku, dan sekarang aku sudah capek. Aku mau hubungan kami segera berakhir.” Kata Jingga sungguh-sungguh.


“ Pikirkan bayi kalian, jika kalian bercerai apa kamu tidak kasihan dengan nasibnya nanti.?”


“ Aku bisa kok membesarkan anak sendirian, aku nggak butuh suami kalau suaminya kaya mas Arka.”


“ Arkana pasti bisa berubah, mama yakin dia pasti akan lebih tulus menyayangimu. Sekarang sudah tidak ada Qania dalam hidupnya, dia pasti akan fokus sama kamu.”


“ Aku tetap akan bercerai ma, tolong jangan paksa aku lagi untuk bertahan.”


“ Mama juga pernah bercerai dengan papanya Arkana, dan kamu tahu apa yang mama dapat setelah bercerai dengannya? Mama mendapatkan kehidupan yang buruk, mama berusaha bangkit dari kehidupan itu dan sampai akhirnya mama bisa membesarkan Arkana di kehidupan yang baik karena papa Hendra, dalam perceraian yang menjadi korban itu bukan orang tuanya, tapi anaknya. Jadi tolong ya kamu pikir baik-baik dulu sebelum memutuskan untuk berpisah.” Ujar mama Widya sambil menatap Jingga dengan serius.


**


Wanita itu terbangun dari tidurnya di sebuah tempat tidur yang empuk dan membuat tidurnya semalam sangat nyenyak, Jingga melirik ke arah jendela yang sudah terbuka dan membiarkan udara segar yang masuk ke dalam.


“ Non Jingga sudah bangun.” Suara itu membuat Jingga terkejut, dan ternyata dia adalah bi Ijah yang merupakan pembantu di rumah mama Widya.


Dua hari yang lalu Jingga memutuskan untuk tidak berpisah dengan Arkana terlalu cepat, tapi dia minta satu permintaan pada mama Widya. Dan permintaannya itu adalah meninggalkan rumah Arkana, dan dia pun di bawa oleh mama Widya tinggal di rumahnya.


Jingga tidak yakin apakah dia bisa hidup bebas di rumah mertuanya itu, dan pagi ini dia mendapatkan pelayanan terbaik dari pembantu mama Widya. Dia juga di perbolehkan keluar kamar kemana pun dia ingin pergi asal masih dalam lingkungan rumah.


“ Minum teh nya non, mumpung masih hangat.” Kata bi Ijah yang menunjukkan trolley berisikan makanan serta minuman di atasnya.


“ Terima kasih ya bi, tapi saya mau mandi dulu.” Balas Jingga.

__ADS_1


“ Baik non, kalau begitu bibi permisi.”


Jingga turun dari tempat tidurnya menuju jendela untuk menghirup udara segar terlebih dulu, melihat pemandangan taman di halaman rumah mama Widya yang luas cukup memanjakan mata untuk Jingga pagi iu.


“ Ini keputusan terbaik untuk kita berdua sayang.” Ucap Jingga sambil menyentuh perutnya.


**


Arkana baru saja keluar dari kamarnya, dia melirik pintu kamar Jingga dengan tatapan sayu. Dia merasa rumah ini semakin kosong dan dingin semenjak kepergiannya, Arkana tidak bisa berbohong kalau dirinya merindukan sosok Jingga yang selalu datang memanggilnya di waktu makan tiba.


Arkana baru saja membuka pintu kamar Jingga, dia bisa menghirup aroma Jingga yang akhir-akhir ini selalu membuatnya senang setiap kali dia menghirupnya.


“ Dia pasti butuh beberapa pakaian untuk di pakai di rumah mama, apa sebaiknya aku kesana membawakannya.?” Gumam Arkana yang tiba-tiba saja memikirkan hal itu.


Arkana pun menarik sebuah koper di dekat lemari untuk memasukkan beberapa pakaian serta barang-barang Jingga yang menurutnya penting, sejak kemarin belum ada orang suruhan mama Widya yang datang dan ini adalah waktu yang tepat juga baginya bertemu dengan Jingga.


**


Jingga sedang duduk di ruang keluarga sambil menyaksikan siaran televisi, dia tidak minat kemana-mana saat ini dan hanya duduk di sana sejak dua jam yang lalu.


Merasa bosan dengan siaran yang di lihatnya, Jingga pun mengakhiri nonton tv hari ini dengan berpikir untuk berjalan-jalan di taman rumah mama Widya.


Ketika Jingga baru saja beranjak dari sana, dia di kejutkan dengan kehadiran Arkana yang baru saja datang dengan membawa koper miliknya. Jingga yang tak ingin bertemu Arkana pun langsung memutar tubuhnya dan hendak kembali ke kamarnya.


“ Jingga, tunggu dulu.” Arkana mengejar dan berhasil menahan lengan Jingga untuk tidak pergi.


“ Lepasin.” Ucap Jingga berusaha melepaskan tangannya dari Arkana.


“ Dengerin aku dulu.” Kata Arkana berusaha membuatnya tenang.


“ Aku nggak perlu dengar apapun lagi, ini keputusan terbaik untuk kita masing-masing. Kan kamu sendiri yang bilang mau berpisah setelah anak ini lahir ? Okey aku turutin, tapi aku nggak mau kita tinggal serumah lagi.”

__ADS_1


“ Kamu pikir tinggal di sini sama mama akan merubah kehidupan kamu? Mama pasti akan memperlakukan kamu sama kaya aku.”


“ Setidaknya mama Widya lebih punya hati dari pada kamu, aku nggak mau lagi hidup satu atap sama kamu. Jadi tolong sampai anak ini lahir, kamu jangan datang temui aku lagi.” Jingga berhasil melepaskan tangan Arkana dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Arkana masih setia berada di luar, dia mengetuk pintu kamar Jingga dan menyuruhnya untuk keluar. Namun Jingga tetap tidak akan membuka pintu untuknya lagi, sekuat apapun Arkana mencoba tetap tidak akan mampu merubah keputusan Jingga.


“ Baik, aku pulang hari ini. Tapi besok aku tetap akan datang sampai kamu mau pulang ke rumah kita lagi.” Lontar Arkana diluar sana.


**


Seperti yang Arkana bilang kemarin, dia akan tetap datang membujuk Jingga untuk pulang bersamanya. Dan Arkana akan selalu datang setiap kali dia tahu kalau mama Widya tidak ada di rumah, akan lebih baik jika dia datang di saat rumah itu tidak ada orang tuanya agar dia bisa bebas mengatakan apapun kepada Jingga.


Karena keberadaan Arkana di rumah saat ini, Jingga sampai tidak keluar dari kamarnya. Dia tidak peduli pada Arkana yang berusaha membujuknya, dan dia juga tidak peduli kalau Arkana mau datang setiap hari untuk menemuinya.


Tok…tok…tok…


Jingga menoleh ketika pintu baru saja di ketuk, suara bi Ijah diluar sana membuat Jingga bingung harus membukanya atau tidak. Dia khawatir kalau di samping bi Ijah ada Arkana, dan kalau dia membuka pintunya maka Arkana pasti akan masuk menemuinya.


“ Ada apa bi.?”


“ Bibi bawain makan siang buat non Jingga.”


“ Nanti aja bi, saya masih belum lapar.”


“ Tapi dokter bilang non Jingga nggak boleh menunda makan, nggak baik buat kesehatan bayinya.”


“ Bibi jujur sama saya, di samping bibi ada mas Arka kan.?”


“ Nggak ada non, den Arka udah pulang.”


Jingga percaya pada bi Ijah, dan sekarang dia baru saja membuka kunci pintu kamar itu. Namun saat dia membuka pintu, yang ternyata ada di hadapannya adalah Arkana, tepat di samping Arkana barulah ada bi Ijah.

__ADS_1


Ketika Jingga hendak menutup pintunya kembali, dengan cepat Arkana menahannya menggunakan kakinya hingga membuatnya meringis kesakitan.


“ Aku nggak peduli.” Jingga menerima nampan berisi makan siangnya dan kembali menutup pintu dengan kasar.


__ADS_2