Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Putus Asa)


__ADS_3


Arkana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menangis, dia sudah sering mendapat perlakukan buruk seperti ini namun masih tetap membuatnya sedih dan menangis seperti seorang anak kecil.


Perasaan sakit yang di rasakan dalam dadanya sudah menumpuk sangat banyak, dia menyadari dirinya semakin merasa depresi dan ingin mencari sesuatu yang membuat dirinya merasa lebih baik.


Arkana memukul kepalanya secara terus menerus kemudian menjambaknya berkali-kali, rasa sakit itu dapat mengalahkan sakit hatinya yang selama ini bertumpuk menjadi satu.


“ Kenapa? kenapa? kenapa selalu aku yang salah.”


Cukup lama Arkana menyakiti dirinya sendiri sambil menangi dan menyalahkan diri, tak lama setelah itu dia bangkit dari tempat tidurnya. Dia menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, dia sangat lelah menangis sampai malam dan sadar kalau dirinya juga butuh istirahat.


Saat Arkana selesai membasuh wajah, dia melihat pisau cutter yang dia simpan di dalam laci di dekat wastafel. Saat itu dia memperhatikan ketajaman pisau tersebut yang entah mengapa membuatnya berpikir ingin menyayat tangannya sendiri.


“ Kalau aku mati mungkin mama akan mulai peduli padaku, dia pasti akan kembali menyayangiku.” Gumam Arkana dengan segala pemikiran sempitnya saat itu.


Arkana baru saja menyayat tangannya hingga mengeluarkan darah yang berceceran di lantai kamar mandi, saat itu entah mengapa dia tidak merasakan sakit akibat sayatan yang dia buat sendiri.


Tak cukup sekali, dia melakukan sayatan ketiga di tangannya dan mulai merasakan kepuasan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan sedih dalam hatinya hilang ketika dia melukai dirinya seperti itu, namun dia cukup sadar untuk berhenti melakukannya dan segera membungkusnya dengan perban agar darahnya segera berhenti mengalir.


**


Arkana semakin melakukan self harm pada dirinya sendiri sejak hari itu, dia melukai dirinya dan mengobatinya sendiri. Tadinya dia berpikir luka yang dia toreh akan di perlihatkan kepada mama Widya, namun sampai saat ini dia tidak berani melakukan itu.


Sampai suatu ketika papa Hendra menyadari ada yang aneh di balik pergelangan tangan Arkana, sejak kemarin dia selalu menggunakan pakaian dengan lengan panjang untuk menutupi lukanya. Namun papa Hendra menyadari hal itu dan langsung menegurnya.


“ Papa lihat tangan kamu.” Pinta papa Hendra ketika hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

__ADS_1


“ Untu apa?” Arkana tampak menolak menunjukkannya.


Papa Hendra langsung menarik lengan baju Arkana untuk melihatnya, dan ketika berhasil terbuka dia di kejutkan dengan plester luka yang begitu banyak di lengan kanan Arkana.


“ Apa-apaan ini Ar? Kamu menyakiti dirimu sendiri.?” Tebak papa Hendra menatapnya serius.


“ Bukan urusan papa.” Arkana menarik lengan bajunya kembali dan mengalihkan pandangannya.


“ Ini nggak bisa di biarin, kalau kamu sering melakukan itu nanti kamu sendiri yang akan repot.” Sahut papa Hendra.


“ Papa tahu apa soal penderitaan aku? Jangan asal menasehati pa, aku punya cara sendiri jadi jangan pernah larang aku. Ingat, papa itu bukan papa kandung aku.” Ujar Arkana sebelum akhirnya meninggalkan papa Hendra sendirian.


**


Angin berhembus sangat lembut kala itu, Arkana sedang berdiri di pelataran kampus sambil menatap langit yang mulai berubah menjadi jingga. Sejak tadi pikirannya selalu kacau sampai akhirnya dia menemukan tempat yang cocok untuk menyendiri, sepulang dari kampus dia pergi ke suatu tempat di sebuah danau yang memiliki jembatan besar di atasnya.


Arkana duduk di atas sana sendirian, dia menatap lengannya yang terbungkus oleh plester yang perlahan membuat matanya basah karena air mata. Dia tak dapat menahan semuanya lagi, Arkana merasa dirinya tidak pantas berada di dunia ini.


“ Aku nggak kuat lagi, maafin aku Nia.” Arkana berdiri dari tempatnya saat ini, dia mulai naik di antara penyanggah jembatan.


Dirinya menatap lurus ke bawah dimana danau itu terlihat sangat jauh ada di bawah, dia berpikir jika dirinya jatuh dan menenggelamkan diri maka dirinya hidupnya pun akan berakhir.


Arkana pun menjatuhkan tubuhnya ke danau itu, dia berhasil masuk ke dalam air dan membiarkan dirinya terus tenggelam. Dia bisa berenang jika dia ingin mengurungkan niatnya, namun saat itu dia tidak ingin melakukannya.


Arkana membuka kedua matanya, dia melihat ke atas sana ada setitik cahaya matahari. Berada di dalam air rasanya sangat tenang, dia tidak mengingat apapun yang membuat hatinya sakit.


Sayup-sayup dia melihat ada sosok bayangan yang ikut terjun ke dalam air, sosok itu perlahan mendekat namun kesadarannya mulai buyar. Arkana menganggap bahwa apa yang di lihat hanya sebuah halusinasi, dia bahkan tidak berharap ada seseorang yang menolongnya.

__ADS_1


**


“ Siapa yang menyelamatkannya.?”


“ Seorang gadis SMA.”


“ Dimana dia sekarang.?”


“ Dia sudah pulang.”


Suara yang tak asing baru saja di dengar oleh Arkana, dia yakin suara itu adalah suara mama Widya. Perlahan namun pasti dia mulai membuka kedua matanya.


“ Kenapa aku ada disini? Bukannya aku sudah bunuh diri.?” Benak Arkana bingung.


Melihat Arkana yang sudah sadar membuat mama Widya langsung menghampirinya, Arkana melirik raut wajah mamanya yang bahkan tidak terlihat khawatir pada dirinya sendiri.


“ Kamu kenapa lagi sih? Mau buat mama malu hah.?” Sahut mama Widya.


Arkana berharap mamanya akan peduli padanya setelah apa yang terjadi, namun ternyata dia salah. Sikap mama Widya masih sama seperti dulu, bahkan tidak terlihat rasa khawatir sama sekali.


“ Lihat tangan kamu, sejak kapan kamu menyakiti diri kamu sendiri? Apa kata orang kalau mereka melihat ini, jelasin ke mama.?” Lontar mama Widya lagi.


“ Kalau kamu kesal sama diri kamu, lebih baik kamu hajar orang lain saja dari pada menyakiti dirimu sendiri. Orang-orang akan berpikir kalau kamu gila kalau melakukan semua ini, kamu memang sengaja kan melakukan semua ini supaya mama ikut terseret? Orang-orang akan beranggapan kalau mama tidak becus menjadi orang tua, itu kan yang kamu mau.?”


“ Sejak awal memang seharusnya kamu nggak usah lahir, mama menyesal sudah melahirkan kamu. Atau sebaiknya kamu mati saja saat melakukan bunuh diri hari ini, seharusnya tidak ada yang menyelamatkanmu dari danau itu.” Lanjut mama Widya yang kemudian beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Arkana sendirian.


Setelah mama Widya keluar dari ruangan, ada seseorang yang baru saja masuk. Arkana melirik orang itu dan langsung menyeka air matanya, Qania mendekati Arkana dengan ekspresi khawatir yang membuatnya sampai menangis.

__ADS_1


“ Kamu nggak seharusnya melakukan semua ini, aku sudah bilang ke kamu kalau ada masalah kamu bisa datang ke aku kan.” Ucap Qania menatap Arkana.


Arkana hanya menangis di tempat tidurnya, dia tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan mamanya barusan. Qania pun ikut mendengar ucapan mama Widya tadi, dia juga tidak menyangka kalau mama Widya akan mengatakan hal semacam itu pada putranya sendiri.


__ADS_2