Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Demi Keselamatan Jingga


__ADS_3


Hasil dari pemeriksaan Jingga keluar lebih cepat dari yang di harapkan, dan di dalam ruangan itu ada orang-orang yang berperan penting dalam kondisi Jingga ke depannya.


Mereka merupakan dokter pilihan papa Hendra dimana dia memilih dokter Zakir ( spesialis jantung), dokter Inka ( spesialis penyakit dalam), dokter Nala ( dokter kandungan), dan dokter Qania ( bedah toraks dan kardiovaskular).


Dan mereka semua yang nantinya akan bekerja sama untuk membantu Jingga sembuh dari penyakitnya, dan selama kehamilan Jingga mereka juga akan memantau sesuatu yang buruk tidak akan terjadi pada Jingga dan bayinya.


Mama Widya baru saja memasuki ruangan itu, dan sekarang ada delapan orang di ruangan itu termasuk Arkana dan papa Hendra. Dan sekarang dokter Zakir yang akan memimpin pertemuan hari itu dengan memberitahukan hasil laboratoriumnya.


“ Hasilnya menyebutkan bahwa Jingga mengalami lemah jantung yang dapat beresiko menjadi gagal jantung jika tidak lebih di perhatikan, saya bisa melihat dari hasil lab kalau kondisi jantungnya mengalami penurunan dari hasil sebelumnya yang telah di periksa oleh dokter Qania.” Ungkap dokter Zakir sambil menunjukkan hasil lab pada sebuah layar LCD agar bisa di lihat oleh semuanya.


“ Dalam kasus Jingga yang sedang hamil, kita tidak bisa melihat berubahnya kinerja jantung dan pembuluh darah. Itu sebabnya jika di perhatikan oleh kasat mata kita hanya menduga bahwa ini hanya efek dari kehamilannya saja, tapi sebenarnya jantungnya bekerja lebih cepat dan membuatnya mengalami sesak nafas seperti waktu itu.” Lanjut dokter Zakir.


“ Lalu bagaimana dengan janinnya? Dia masih bisa melahirkan anak itu kan.?” Tanya mama Widya yang membuat Arkana kesal karena mamanya lebih memikirkan anak itu lahir dari pada kondisi Jingga.


“ Biar dokter Nala yang menjelaskan hal itu, silahkan dok.” Lontar dokter Zakir mempersilahkan.


“ Kondisi janin dalam keadaan baik, saya sudah memastikan bahwa selama Jingga mengalami masalah jantung hal ini tidak mempengaruhi janinnya sama sekali.” Jelas dokter Nala kemudian.


“ Barusan dokter Zakir bilang kalau lemah jantung bisa beresiko mengalami gagal jantung, apa yang harus kita lakukan untuk tidak membuat hal itu sampai terjadi.?” Tanya papa Hendra.


“ Untuk memastikan hal itu tidak terjadi maka kita akan tetap memantau kondisi Jingga sampai waktu persalinan tiba, sekarang usia kandungannya sudah berjalan tujuh bulan dan itu artinya butuh dua bulan untuk dia di rawat di rumah sakit.” Jawab dokter Zakir.


“ Bagaimana jika dia sampai mengalami gagal jantung? “ Tanya Arkana yang sejak tadi takut jika Jingga akan mengalami hal itu.

__ADS_1


“ Cara satu-satunya adalah melakukan transplantasi jika jantungnya sudah tidak bisa di tangani dengan obat-obatan, tapi tenang saja dok. Saya akan pastikan semua itu tidak akan terjadi, baik ibu dan bayi akan selamat setelah persalinan terjadi.” Jawab dokter Zakir cukup membuat Arkana merasa jauh lebih tenang sekarang.


Setelah hasil pemeriksaan selesai di jelaskan, semua para dokter itu sudah dapat meninggalkan ruangan. Dan yang tersisa di ruangan itu tak lain adalah Arkana dan mama Widya, bahkan papa Hendra di minta untuk keluar dari ruangan tersebut.


“ Kamu memang selalu berhasil buat mama berpikir kalau ternyata kamu sama dengan ayah kandung kamu, kalian memiliki darah yang sama dan sifat yang sama pula. “


“ Maksud mama apa tiba-tiba mengungkit hal itu.?”


“ Itu karena kamu anak pembawa sial, sama seperti ayah kamu yang sudah bawa sial dikehidupan mama. Setelah mama pikir-pikir ternyata memang kalian sangat mirip satu sama lain.”


“ Sebenarnya mau mama apa sih? Mama nggak mau berhenti buat aku terus menderita dengan sikap mama.?”


“ Kenapa kamu jadi salahin mama? Dengar ya, apa yang terjadi sama Jingga sekarang ini memang karena kamu. Jingga mendapatkan nasib sial itu karena menikah sama kamu, dan sekarang kamu mau buat anak yang di dalam kandungannya ikut mendapat kesialan.?”


“ Cukup ma, cukup.!!!” Arkana mulai berani membentak mamanya sendiri setelah apa yang di dengarnya sudah cukup keterlaluan.


“ Aku berani kalau itu menyangkut tentang Jingga dan anak aku, mama nggak berhak bilang aku pembawa sial di kehidupan mereka karena sejak awal mama yang udah buat aku menikah sama dia. Dan sekarang aku bisa jatuh cinta sama Jingga. Mama yang jodohin aku sama dia, dan selama aku bisa buat dia bahagia, aku akan jamin nasib sial itu nggak akan pernah datang ke istri dan anak aku.”


Arkana yang semakin kesal akhirnya keluar dari ruangan itu, dan tepat saat dia membuka pintu tiba-tiba saja dia berhadapan dengan Tsania. Arkana tidak tahu apakah dia mendengar semua pembicaraan di dalam barusan atau tidak, namun saat ini dia tidak begitu peduli dan kembali melanjutkan langkahnya.


“ Dokter Arka.” Panggil Tsania namun tak di gubris oleh Arkana sama sekali.


**


Arkana sedang berada di atap rumah sakit untuk menenangkan pikirannya saat ini, dia tidak bisa kembali ke kamar Jingga dengan keadaan emosi yang seperti ini.

__ADS_1


Ucapan mama Widya barusan kembali menggangunya, tangannya bergetar cukup hebat saat dia meninggikan suaranya kepada mamanya sendiri. Tapi ada perasaan lega yang dia rasakan, dan itu cukup membuatnya berpikir bahwa melawan ucapan mamanya bukanlah perbuatan yang buruk.


“ Sudah ku duga kamu pasti ada disini.” Ucap seseorang yang membuat Arkana langsung menoleh.


“ Kamu ngapain kesini, aku lagi mau sendirian.” Balas Arkana cuek.


“ Aku tahu kalau kamu lagi ada masalah sama mama kamu, pasti kamu akan datang ke tempat ini dan menyendiri. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyendiri, Jingga tungguin kamu di kamarnya.” Ujar Qania sambil menjatuhkan tubuhnya di sebelah Arkana.


“ Aku nggak berani lihat dia sekarang. Aku takut aku nggak bakal kuat dan justru nangis di depan dia.”


“ Kalau kamu terlihat lemah sekarang, bagaimana Jingga bisa tetap kuat? Kamu satu-satunya yang di miliki Jingga saat ini, setidaknya buat dirimu kuat menghadapi semua ini. Jingga butuh support kamu, jadi jangan kaya gini terus.”


Apa yang di katakan oleh Qania memang benar, tidak seharusnya dia sedih terus menerus. Jingga pun akan berpikir seperti itu, dan sekarang sudah waktunya untuk dia kembali tegar dan menemani istrinya yang sedang istirahat di kamar pasien.


**


Wanita itu baru saja turun dari mobilnya dengan membawa keranjang buah-buahan, dia mengaktifkan alarm mobilnya. Diana baru saja tiba di rumah sakit saat mendengar kabar Jingga masuk rumah sakit dari Qania.


Dia baru tahu kalau ternyata Jingga mengalami lemah jantung, dan itu membuatnya sangat khawatir bahkan sampai meninggalkan semua pekerjaannya demi Jingga.


“ Sus, kamar atas nama Nitaria Jingga dimana.?” Tanya Diana pada salah seorang perawat.


“ VIP Gold lantai 3.” Jawab perawat itu dan segera membuat Diana berlari menuju lift yang sebentar lagi akan tertutup.


Diana berhasil masuk ke dalam lift saat ada seorang pria yang dengan baik menahan pintunya, saat Diana hendak mengucapkan terima kasih tiba-tiba saja dia di buat terkejut dengan penampilan sosok itu.

__ADS_1


“ Aku nggak lagi bermimpi kan.?” Tanya Diana yang tak bisa berkata-kata lagi melihat sosok pria di depannya.



__ADS_2