
Satu minggu telah berlalu dan hari itu juga mama Widya sudah akan kembali ke rumahnya, dengan begitu Jingga juga akan kembali tidur di kamarnya mulai malam ini.
Arkana akan mengantar mama Widya pulang ke rumah, dan sebelum membawanya pulang terlihat mama Widya memberikan pelukan hangat kepada menantunya itu.
“ Kamu jaga diri dengan baik ya, mama senang bisa menghabiskan waktu bersama kamu.” Ucap mama Widya dan mengakhiri pelukannya.
“ Aku juga mau berterima kasih sama mama, sering-sering mampir ya ma.” Balas Jingga.
Dan setelah itu mama Widya pun pamit undur diri bersama Arkana, Jingga melambaikan tangan di teras rumpah sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
Jingga pun harus mengemas barang-barangnya kembali untuk di bawa ke kamarnya, dia tidak ingin Arkana marah jika pulang nanti barang miliknya masih ada di kamar itu.
Sebelum pergi mengemas barang-barangnya, Jingga memanggil kedua pembantunya untuk membantu memindahkan barang-barang tersebut ke kamarnya.
“ Non nggak capek ya harus begini setiap ada nyonya besar.?” Tanya bi Salma.
“ Mau bagaimana lagi bi, saya nggak bisa melakukan apa-apa.” Jawab Jingga pasrah.
“ Non Jingga sangat sabar, sayangnya non dapat suami seperti tuan Arka.” Lontar bi Inah.
“ Udah bi, jangan bahas mas Arka lagi. Bawa barangnya langsung ke kamar saya ya bi.”
“ Baik non.”
Dengan bantuan bi Salma dan bi Inah semua barang telah di pindahkan kembali ke kamar Jingga, dan saat itu Jingga mengambil barang terakhir yang membuatnya tiba-tiba terdiam di kamar itu.
**
Diandra baru saja keluar dari ruangannya untuk segera menuju ruang operasi, hari ini ada jadwal operasi yang harus dia selesaikan pada salah satu pasien dewasa.
Langkah Arkana baru saja terhenti saat dia mendengar tawa seseorang yang amat sangat dia kenali, ketika dia menoleh dia bisa melihat seorang wanita sedang bersenda gurau bersama seseorang yang membuat ekspresi Arkana langsung berubah.
“ Mobil kamu masih sering mogok sampai sekarang.?” Tanya Aizen pada Qania.
“ Ya gitu deh, kayaknya emang harus ganti yang baru deh.” Balas Qania lirih.
“ Mau ganti yang baru atau di antar jemput aja sama aku? Rumah kita kan searah, gimana kalau kita pulang pergi bareng aja.” Tawar Aizen.
“ Nggah ah, aku nggak mau repotin kamu.” Tolak Qania.
__ADS_1
“ Nggak ngerepotin kok.”
“ Jadwal kita biasanya kan nggak sama, masa kamu mau antar jemput aku.”
“ Emang kenapa.?”
“ Aku nggak mau, ngerepotin banget tahu.”
“ Tapi sesekali boleh ya, aku nggak merasa di repotin kok.”
“ Ya sudah kalau kamu maksa.”
Qania dan Aizen kompak menoleh ke ujung koridor setelah melihat ada yang lewat, namun keduanya tidak tahu siapa yang baru saja berada disana.
**
Sudah larut malam namun Arkana masih belum pulang, Jingga tahu kalau Arkana tidak lembur hari ini sehingga dia pasti akan pulang lebih awal. Padahal hari ini Jingga ingin memberikan baju hasil buatannya sendiri untuk Arkana, dia sudah menyimpannya di dalam sebuah kotak berwarna biru dengan pita yang sangat indah di atasnya.
“ Non ayo masuk, nggak baik wanita hamil diluar malam-malam.” Sahut bi Salma yang menyusul Jingga di luar rumah.
“ Mas Arka belum pulang bi, aku khawatir.” Balas Jingga lirih.
“ Mungkin tuan Arka sibuk non jadi pulang telat.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil diluar sana, pak Hasan segere membuka pintu pagar agar mobil Arkana bisa masuk ke dalam halaman parkir.
Pak Jefri turun dari mobil dan langsung menghampiri Jingga, dia memberitahu Jingga kalau malam ini Arkana tidak pulang karena dia akan tinggal di hotel untuk sementara waktu.
“ Kenapa harus tinggal di hotel pak? “ Tanya Jingga penasaran.
“ Saya nggak tahu non, tadi sore mood tuan Arkana terlihat berubah. Dia Cuma suruh saya pulang sendirian tanpa dia.”
“ Dia tinggal di hotel mana pak.?”
“ Grand hotel yang ada di dekat rumah sakit, soal kamarnya saya nggak tahu non.”
“ Non Jingga mau kesana.?” Tanya bi Salma.
“ saya penasaran bi, nggak biasanya mas Arka kaya gini. Kalaupun ada sesuatu yang buat di jengkel dia pasti akan pulang ke rumah.” Jingga sudah hafal sikap Arkana jika dalam keadaan mood yang buruk pasti akan selalu mencarinya dan melampiaskan semua amarah padanya.
“ Tapi sudah malam non, nggak baik buat kesehatan non dan si dedek.”
__ADS_1
“ Aku Cuma mau memastikannya bi, pak Jefri tolong antar saya ya.”
“ Baik non.”
**
“ Maaf, ada yang bisa saya bantu mbak.” Ucap seorang resepsionis pada Jingga yang baru saja tiba.
“ Saya mau tahu kamar atas nama Arkana Adyatama dimana ya.?” Tanya Jingga.
“ Kalau boleh tahu anda siapanya pak Arkana.?”
“ Saya istrinya.” Jingga bahkan menunjukkan cincin nikahnya pada wanita itu agar dia di percayai olehnya.
“ Baik mbak, pak Arkana ada di lantai enam kamar nomo 300 ya.”
“ Terima kasih.” Jingga segera berlari pelan menuju lift yang terlihat hampir tertutup.
Sekarang Jingga berhasil masuk ke dalam, disana ada dua orang yang terlihat sedang bergandengan tangan. Jingga mencoba mengalihkan pandangannya menuju angka yang tertera di atas, sebentar lagi dia akan sampai di lantai yang akan dia tuju.
Ting.
Pintu lift pun terbuka, Jingga segera keluar dan mulai mencari satu persatu kamar yang betruliskan nomor 300. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu nomor 300 dengan perasaan yang mulai tak karuan.
Jingga sudah memikirkan hal ini sebelumnya, mungkin Arkana akan sangat marah jika melihatnya datang. Namun, Jingga hanya ingin memastikan suaminya baik-baik saja di dalam sana.
Tok…tok…tok
Jingga berhasil mengetuk pintu sebanyak tiga kali, namun belum ada tanggapan sama sekali dari dalam yang membuatnya kembali harus mengetuk pintu tersebut.
Baru sekali dia mengetuk dan pintunya kini sudah terbuka, Jingga menatap sosok yang baru saja membuka pintu. Tampak sosok Arkana juga terkejut melihat kehadiran Jingga di tempat itu.
“ Kamu ngapain kesini? Siapa yang kasih tahu kamu aku ada disini.?”
“ Aku khawatir sama kamu, aku di kasih tahu sama pak Jefri jadi tolong jangan marah sama dia.”
“ Aku nggak butuh kamu ada disini, pulang sebelum aku kasar sama kamu.”
“ Kamu nggak apa-apa kan mas.?” Tanya Jingga yang seakan tak memperdulikan ucapan Arkana sebelumnya.
“ Pergi sana.” Arkana baru saja akan menutup pintu, namun Jingga langsung menahan dengan kakinya.
__ADS_1
“ Awww.” Jingga meringis menahannya dan alhasil Arkana membuka pintu itu kembali.
“ Ceroboh sekali, kan sudah ku bilang untuk pulang saja.” Arkana mengecek kaki Jingga yang terlihat merah akibat ulahnya sendiri.