
Arkana sudah sampai di rumah dengan cepat, dia pun langsung menggendong Keenan dan berusaha untuk meredakan tangisan anak itu. Arkana menimangnya dengan penuh kasih sayang sambil mengatakan kata-kata yang lembut kepada Keenan.
“ Papa disini nak, jangan nangis ya.”
Perlahan namun pasti Keenan mulai tenang, Arkana yang merasa lelah pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Qania merasa kasihan dengan Arkana yang terlihat begitu pucat, dia terus saja memaksakan tubuhnya untuk pergi mencari Jingga meskipun kondisinya sedang tidak sehat.
“ Sini, Keenan biar aku taro di tempat tidurnya.” Ucap Qania berusaha ingin mengambil Keenan dari Arkana.
Saat Qania hendak mengambil Keenan, tanpa sengaja dia menyentuh tangan Arkana yang terasa begitu panas. Lantas Qania segera meletakkan Keenan di tempat tidurnya dan kembali mengecek keadaan Arkana.
“ Kamu demam Ar.” Ucap Qania saat dia langsung menyentuh kening pria itu.
“ Nggak apa-apa, ini hanya efek dari panas matahari.”
“ Tapi diluar mendung, kamu jangan banyak alasan. Sekarang cepat berbaring biar aku periksa dulu.”
Arkana menuruti apa kata Qania dengan naik ke atas tempat tidurnya, dia merasa semakin pusing saat dirinya berbaring seperti itu. Qania pun segera memeriksa keadaan Arkana, dan setelah di periksa ternyata suhu tubuh Arkana sudah hampir mencapai 40 derajat yang itu artinya dia harus istirahat penuh.
“ Kamu bisa buat Keenan tertular dengan demam yang kamu alami sekarang, untung saja aku sadar kalau kamu sedang demam.” Ucap Qania sambil memasang tali infus untuk Arkana.
“ Untuk sementara waktu, biar Keenan tinggal di rumahku. Aku akan panggil perawat untuk berjaga disini, jadi kamu nggak perlu kemana-mana, oke.”
“ Aku percayakan Keenan sama kamu Nia, aku capek. Mau tidur dulu.” Akhirnya Arkana pasrah dengan keadaannya yang memang sudah tidak bisa di ajak untuk berkompromi lagi.
Qania pun memasang selimut yang di gunakan Arkana dengan benar sebelum akhirnya meninggalkan kamar itu. Kemudian Qania kembali mengambil Keenan dan meminta para bibi untuk mengemas beberapa perlengkapan Keenan untuk di bawa ke rumah Qania.
**
Di kediaman keluarga Adyatama saat ini sedang kedatangan seorang tamu yang membuat mama Widya langsung turun tangan menemuinya, awalnya dia menolak bertemu siapapun tapi setelah mendengar nama dari tamu yang datang seketika membuatnya beranjak dari kamarnya.
Widya terlihat menuruni satu persatu anak tangga sambil menatap seorang pria yang berdiri di ujung ruangan, tatapannya tajam namun tak lepas dari pergerakan pria itu.
__ADS_1
“ Ada perlu apa datang kemari.?” Tanya Widya ketika dia sudah berdiri di hadapan Aidan.
“ Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu.” Balas Aidan.
“ Duduk.” Titah Widya yang duduk lebih dulu di salah satu sofa di ruangan itu.
“ Katakan dengan cepat, aku tidak punya waktu.” Lanjutnya dengan nada yang cuek.
“ Aku ingin Arkana kembali menjadi putraku, aku ingin menjadi papanya kembali.”
“ Kamu tahu sendiri kan kalau dia bukan anak kandungmu, kenapa repot-repot datang kemari hanya untuk meminta dia menjadi anakmu lagi.?”
“ Aku sudah tahu bagaimana kau memperlakukan Arkana selama ini, kamu harus tahu kalau sikapmu ke Arkana selama ini bisa membawamu ke pengadilan.”
“ Kamu hanya orang luar, jangan sok ikut campur urusan keluargaku.”
“ Terserah, aku akan tetap menemui Arkana dan mengajaknya ikut denganku. Kedatanganku kemari hanya ingin memberitahumu sebelum aku melakukannya.” Lanjut Aidan terlihat begitu santai.
“ Nggak akan, Arkana nggak akan pernah ikut sama kamu. Mungkin Bima bisa ikut denganmu, tapi tidak dengan Arkana.” Sahut Widya kesal.
“ Aku pulang dulu, aku salah bertemu denganmu hari ini. Sebaiknya sejak awal aku tidak menemuimu.” Aidan beranjak dari sofa dan hendak pergi.
Widya ikut beranjak dari tempatnya dan langsung memeluk Aidan dari belakang, melihat hal itu jelas membuat Aidan terkejut bukan main.
“ Jangan pergi mas, aku minta maaf karena sudah marah barusan.” Ucap Widya yang semakin mempererat pelukannya.
Aidan meraih tangan Widya dan berusaha untuk melepaskannya, kemudian dia memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah mantan istrinya itu.
“ Aku nggak bahagia mas, aku nggak bahagia. Sejak kita berpisah semuanya menjadi kacau, aku nggak bisa hidup dengan baik. Aku hancur, aku nggak tahu harus apalagi.” Isak Widya di depan Aidan.
“ Sadarlah, sekarang aku sudah bukan suami kamu. Kita sudah punya kehidupan masing-masing, aku punya anak dan istri dan kamu juga punya Arkana dan suami kamu.”
“ Kebahagiaan itu kamu sendiri yang menciptakannya, kamu sudah memiliki segalanya tapi kamu tidak benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Itu karena hatimu masih terluka, coba untuk datang ke psikiater dan beritahu semua masalah yang kamu pendam selama ini.”
__ADS_1
“ Aku nggak butuh psikiater, aku nggak gila.”
“ Kamu memang nggak gila, tapi kamu butuh mereka. Mulai sekarang cobalah untuk memperbaiki kehidupanmu dulu, kebahagiaan yang kamu inginkan pasti akan datang.”
“ Kamu nggak ngerti mas, dan nggak ada yang pernah ngertiin aku.” Widya mendadak menjadi lebih emosional sampai menangis dengan suara yang begitu keras.
Beberapa pekerja di rumahnya pun keluar melihat keadaan disana, Aidan berusaha menenangkannya namun tak berhasi. Emosi Widya yang seperti itu pun baru pertama kali di lihat oleh para pekerja di rumahnya, sedangkan Aidan sudah pernah melihatnya sekali ketika dia menggugat cerai Widya.
“ Kamu keluar dari rumahku sekarang, keluar.!!!!” Sentak Widya pada Aidan.
Emosi yang sebelumnya di tunjukkan tiba-tiba berubah menjadi emosi yang lain, Aidan di usir oleh Widya dengan bantuan satpam dan para pembantu di rumah itu.
“ Saya bisa keluar sendiri.” Kata Aidan yang sebelum pergi sempat melirik Widya yang masih menangis sejadi-jadinya.
“ Beritahu Bima untuk kembali ke rumah ini, aku nggak mau dia lama-lama tinggal sama kamu.” Teriak Widya yang masih sempat di dengar oleh Aidan.
Aidan bingung dengan ucapan Widya, dia bahkan belum bertemu Bima dalam beberapa hari ini. Dia datang ke rumah itu juga ingin bertemu Bima, tapi ternyata Bima sedang tidak di rumah itu.
**
Selama dua hari Arkana harus terbaring lemah di kamarnya, dia sudah menghabiskan dua tiga kantung cairan infus untuk memulihkan keadaannya. Sekarang dia sudah mulai merasa sehat, dan hari ini dia akan pergi menjemput Keenan di rumah Qania.
Arkana pergi menuju rumah Qania seorang diri, di perjalanan menuju rumah Qania dia tiba-tiba mendapat panggilan dari seseorang tak di kenal. Dulu Arkana tidak suka menjawab panggilan dari nomor asing, tapi setelah Jingga menghilang dia memiliki harapan bahwa itu adalah Jingga.
“ Halo, Jingga.?”
“ Bukan pak, saya melihat selebaran orang hilang di jalan pulang. Dan saya sempat melihat wanita yang bapak cari ada di dekat tempat saya kerja.”
“ Dimana tempatnya.?”
“ Di jalan Merak pak, dekat toko buku Sentosa Jakarta pusat.”
Arkana langsung memutar balik mobilnya, dia akan pergi ke tempat itu untuk memeriksanya sebelum menjemput Keenan. Perasaan bahagia yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata lagi membangkitkan semangat Arkana untuk segera tiba disana.
__ADS_1
“ Tunggu aku, kita akan segera bertemu.” Ucap Arkana yang terlihat begitu tidak sabar untuk tiba disana.