
Wanita itu terlihat menatap dirinya di depan cermin satu badan sambil menyentuh perutanya yang sudah semakin membesar, tanpa terasa usia kandungan Jingga sekarang sudah memasuki usia 20 minggu.
Hari ini dia akan melakukan check up sekaligus melihat jenis kelamin dari bayinya, seharusnya saat usianya sudah menginjak 18 minggu dia sudah melakukannya tapi karena suatu alasan dia pun memutuskan untuk melakukannya hari ini.
Jingga sudah siap dengan balutan dress berwarna biru dengan rambut yang di ikat asal, sejak dirinya hamil dia merasa malas untuk dandan dan penampilannya pun cukup sederhana meskipun dirinya adalah seorang desainer.
“ Hari ini mama akan tahu kamu cewek atau cowok, apapun itu asal kamu sehat mama sudah cukup bahagia.” Gumam Jingga sambil mengelus perutnya.
Sudah waktunya untuk berangkat, diluar sana sudah ada pak Jefri yang datang menjemputnya. Arkana sudah ada di rumah sakit jadi mereka akan bertemu di ruangan dokter Nala nanti.
**
Setibanya di rumah sakit, Jingga berjalan sendirian menuju tempat dokter Nala berada. Jingga mendapat nomor antrian ke 9 pagi itu, meskipun dia adalah menantu dari pemilik rumah sakit dirinya tetap akan menggunakan pelayanan yang sama seperti pasien lainnya.
Jingga menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi di sebelah pasien wanita yang usia kehamilannya lebih tua dari Jingga, saat itu dia melirik perut wanita itu dengan tatapan takjub.
Jingga berpikir suatu saat nanti ukuran perutnya mungkin akan seperti wanita itu, dengan ukuran perutnya yang sekarang saja dia sudah merasa sangat bersemangat.
“Mbak sudah berapa minggu.?” Tanya Jingga pada wanita di sebelahnya.
“ Sudah masuk 29 minggu mbak.” Jawabnya lirih.
“ 29 minggu sebesar ini.?” “ Jingga kaget karena ukurannya yang sangat besar di usia kehamilan seperti itu.
“ Saya mengandung anak kembar makanya kelihatan lebih besar.”
“ Anak kembar? Hebat banget, habis lahiran langsung dapat dua anak.” Seru Jingga yang semakin terkesan mendengarnya.
“ Boleh saya pegang.?” Pinta Jingga dengan sopan.
“ Boleh, silahkan.”
Jingga menyentuh perut itu dan merasakan ada tendangan yang pelan dari dalam sana, semua ibu hamil pasti merasakan hal yang sama seperti Jingga saat ini. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, Jingga sangat tidak sabar dia segera merasakan tendangan anaknya jika sudah besar nanti.
“ Kalau mbak udah berapa minggu.?” Tanya wanita itu.
__ADS_1
“ Saya baru 20 minggu.” Jawab Jingga kemudian.
“ Hamil pertama ya.?” Tanya nya lagi.
“ Iya, kalau mbak.?”
“ Ini kehamilan kedua saya.”
Tak lama setelah itu terdengar suara anak kecil berusia lima tahun berlari memanggil mamanya, Jingga ikut menoleh saat ternyata anak pertama dari wanita itu baru saja datang bersama suaminya.
“ Mama mau periksa adek lagi ya.”
“ Iya sayang. Kamu mau lihat adek juga.?”
“ Maaauuuu.”
“ Sayang maaf ya aku telat, tadi terjebak macet waktu mau jemput Naya.”
“ Iya nggak apa-apa sayang.”
Jingga yang menyaksikan keharmonisan keluarga itu merasa iri di buatnya, melihat wanita itu di sayang oleh suami dan putrinya membuatnya harus menunduk sayu. Dia bahkan tidak bisa merasakan hal seperti itu, anak yang di dalam perutnya saja tidak di akui oleh ayahnya sendiri dan bagaimana bisa hal itu terjadi padanya juga.
“ Halo Jingga, senang bisa ketemu sama kamu lagi.” Ujar dokter Nala langsung mempersilahkannya untuk berbaring di atas tempat tidur.
“ Senang juga bisa bertemu denganmu dok.” Jawab Jingga.
“ Baiklah, hari ini kita akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin si bayi ya.”
“ Ngomong-ngomong suaminya mana? “
“ Mas Arka mungkin lagi ada pasien dok, aku sendirian yang lihat hasilnya pun nggak apa-apa kok.”
“ Sayang banget kalau dia nggak lihat langsung, tapi nggak apa-apa. Arkana itu salah satu dokter yang paling sibuk di rumah sakit ini, tidak heran kalau pasiennya banyak.”
Dokter Nala mulai mengoleskan gel pada perut Jingga dan mengeluarkan alat yang bernama transduser yang akan di gerakkan maju mundur secara perlahan di area permukaan kulit perut untuk menangkap gambar organ-organ di dalamnya.
Jingga bisa melihat hasil dari tangkapan gambar pada layar di atas, kemudian dokter Nala menjelaskan bagian-bagian tubuh bayi yang sudah mulai terbentuk di dalam sana.
“ Kondisi bayinya sehat sejauh ini, sudah mulai berkembang sangat baik. Dan untuk jenis kelaminnya, sepertinya dia berjenis kelamin perempuan.”
__ADS_1
“ Perempuan dok.?”
“ Benar, dia pasti akan lahir cantik seperti ibunya.”
“ Dokter bisa aja.”
“ Tapi Jingga, apa Arkana sudah bilang sebelumnya tentang kondisi kamu.?”
Jingga memasang wajah kebingungan saat dokter Nala mengatakan hal itu, dia tidak tahu apa yang di maksud dokter Nala dan memintanya untuk menjelaskannya dengan benar.
“ Waktu kamu check up sebelum ini, saya sudah memberitahu Arkana untuk membawamu ke dokter spesialis jantung.”
“ Untuk apa dok? Memangnya saya kenapa.?”
“ Sesuai hasil pemeriksaan sebelumnya memang di katakan kalau kamu dan bayinya sehat, tapi ini hanya untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan. Sepertinya kondisi jantungmu tidak sehat, dan ini akan sangat berbahaya untuk kehamilanmu ke depannya. Jadi ada baiknya kalau kamu pergi periksa ke dokter spesialis, jangan takut dulu ini hanya perkiraan ku saja.” Ucap dokter Nala merasa tidak enak pada Jingga.
“ Terima kasih atas sarannya dok, saya akan coba periksa nanti.” Jawab Jingga.
“ Kamu jangan sampai banyak pikiran ya, saya akan memberikan vitamin yang bisa kamu konsumsi selama kehamilan ini.”
“ Terima kasih banyak dokter.”
**
Jingga menatap foto hasil USG hari ini sambil duduk di ruang tunggu rumah sakit, setelah menjalani pemeriksaan dia mendapat pesan dari Arkana kalau hari ini dia tidak bisa menemuinya karena sangat sibuk.
Ucapan dokter Nala mengenai kondisinya barusan cukup membuat Jingga terganggu, dia terus memikirkannya sampai bingung harus berbuat apa. Dia takut sesuatu yang tak di inginkan terjadi, lalu bagaimana dengan nasib anaknya nanti.
“ Jingga.” Suara yang tak asing itu baru saja membuat Jingga menoleh.
“ Qania.?”
“ Sudah lama kita nggak ketemu, ya ampun sekarang perut kamu kelihatan lebih besar.”
“ Benar juga, Qania adalah dokter bedah toraks yang mengambil spesialis jantung. Apa sebaiknya aku memeriksakannya pada dia saja?” Benak Jingga menatap Qania dengan lurus.
“ Jingga? Kamu kenapa.?” Tegur Qania kebingungan.
__ADS_1
“ Aku mau minta bantuan kamu boleh nggak? Tapi ini rahasia, mas Arka nggak perlu tahu.” Kata Jingga dengan sangat yakin.