

Karena Arkana menolak tidur di samping Jingga, alhasil Jingga kembali ke tempat tidur dan membiarkan Arkana tetap tidur disana. Jingga tahu kalau Arkana belum tidur dan masih duduk termenung disana, walaupun Jingga ingin sekali mengabaikannya tapi pada dasarnya dia khawatir dan ingin membantu Arkana untuk merasa lebih baik.
Jingga mencoba untuk kembal tidur, tapi dia kembali membuka matanya saat mendengar Arkana sedang mencari sesuatu di laci meja. Jingga pun bangkit dari tempatnya dan langsung menahan Arkana saat hendak meminum obat anti depresan.
“ Jangan di minum.” Cegah Jingga sebelum Arkana meminumnya.
“ Kenapa bangun lagi? Kamu harus tidur.” Arkana tak ingin melihat Jingga terus terbangun karenanya.
Jingga merebut botol obat di tangan Arkana dan membawanya ke kamar mandi, Jingga membuang semua obat itu ke dalam kloset dan menyiramnya sampai tak terlihat lagi.
“ Kenapa di buang? Aku butuh obatnya.” Arkana tidak meninggikan suaranya meskipun dia kesal karena Jingga telah membuang obat yang bisa membuatnya lebih tenang.
“ Minum obat nggak akan buat kamu jadi lebih baik, sekarang ikut aku ke tempat tidur. Aku bisa buat kamu tidur dengan nyenyak.” Jingga menarik tangan Arkana yang kemudian mereka berdua sudah berbaring di atas tempat tidur itu lagi.
Arkana masih syok dengan sikap Jingga yang tiba-tiba seperti ini, bahkan sekarang Jingga membantunya tidur dengan cara membelai kepala Arkana selayaknya menidurkan seorang anak kecil.
“ Aku mau memeluknya.” Batin Arkana yang tak tahan melihat Jingga yang ada di sampingnya saat ini.
“ Kamu mimpi apa mas sampai wajah kamu kelihatan sangat pucat barusan.?” Tanya Jingga dengan nada yang lirih.
Arkana tidak bisa mengatakannya, dia tidak ingin memberitahu Jingga kalau dia mengalami mimpi buruk yang berulang-ulang tentang mama Widya yang dulu ingin membunuhnya.
“ Aku nggak ingat.” Jawabnya pelan.
“ Kamu sering kaya begini? Sudah berapa banyak obat yang kamu minum selama ini.?” Tanya Jingga lagi.
Arkana kembali diam, dia juga tidak ingin memberitahu Jingga kalau dia sudah menemui Gilang. Dan karena Arkana tidak menjawab sama sekali, akhirnya Jingga berhenti menanyakannya.
“ Sekarang kamu tidur ya, mimpi itu nggak akan datang ke kamu lagi. Percaya sama aku.” Ucap Jingga yang akhirnya meruntuhkan pertahanan Arkana untuk memeluknya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Arkana tidak membutuhkan obat itu lagi sekarang, dia merasa jauh lebih baik dengan kehadiran Jingga di sampingnya. Dan saat itu Jingga pun ikut membalas pelukan Arkana, dia juga merasakan bahwa Arkana menjadi lebih tenang sekarang.
“ Aku boleh kan tidur sambil peluk kamu.” Bisik Arkana.
“ Tapi aku nggak bisa bernafas dengan baik, dan juga aku butuh ruang yang cukup karena anak ini.”
“ Maaf, aku nggak bermaksud.” Arkana melepaskan pelukannya saat mendengar Jingga merasa tidak lega dengan posisinya sekarang.
“ Kita bisa tetap tidur bersebelahan, kamu nggak usah khawatir karena aku nggak akan kemana-mana.“ Ucap Jingga yang kemudian membuat Arkana mengangguk dengan perasaan yang lega.
**
Perlahan namun pasti Arkana mulai membuka kedua matanya, dia merasa tidurnya semalam begitu nyenyak dan membuat dirinya terbangun dalam keadaan yang sangat baik.
Seketika itu Arkana sadar bahwa semalam ada Jingga di sampingnya, namun anehnya pagi ini dia tidak melihat keberadaan Jingga di sampingnya.
Arkana turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa, dia bahkan sampai tak sengaja melukai jempol kakinya akibat menabrak meja yang berada di dekat pintu kamar.
Saat itu langkah Arkana terhenti ketika dia melihat sosok Jingga sedang sibuk di dapur, Arkana tak bisa menahan tubuhnya lebih lama karena sangat panik dan akhirnya membuat dirinya jatuh ke lantai.
“ Syukurlah dia masih ada.” Arkana sangat senang melihat Jingga ternyata tidak pergi meninggalkannya.
“ Mas? Kamu ngapain disana.?” Tegur Jingga yang baru saja menyadari Arkana sedang merunduk di lantai.
“ Lagi bersyukur, soalnya kamu masih ada disini.” Balasnya sambil beranjak dari sana dan menghampiri Jingga.
“ Aku mau pulang ke rumah mama setelah kita sarapan.” Jawab Jingga seketika membuat jantung Arkana tertusuk dengan kalimat barusan.
“ Kamu beneran nggak mau tinggal sama aku lagi? Kamu segitu bencinya sama aku sampai memilih untuk tinggal disana? Kalau memang kamu mau tinggal disana, kenapa nggak pergi saat aku belum bangun tadi, dengan begitu aku nggak akan kecewa seperti sekarang.” Gumam Arkana dengan wajah sedihnya.
“ Hari ini mama Widya buat acara kan? Aku mau pulang untuk mengambil barang-barangku, aku butuh barang-barang itu supaya bisa pergi kesana.” Balas Jingga membuat Arkana mengangkat wajahnya sekali lagi.
__ADS_1
“ Jadi kamu mau tinggal sama aku lagi?”
“ Hanya sampai batas waktu yang aku kasih ke kamu, kalau dalam satu bulan ini kamu belum mengingat apapun, aku terpaksa harus pergi dari rumah ini.”
“ Oke fine, aku akan berusaha semampuku. Dan untuk barang-barang yang ada di rumah mama, biar aku yang kesana mengambilnya buat kamu.”
“ Memangnya kamu nggak kerja.?”
“ Aku bisa cuti, jadi kamu tunggu di rumah selagi aku pergi mengambilnya.”
“ Nggak, aku mau ikut. Kamu nggak tahu apa aja yang aku butuhin, dan juga aku mau bicara langsung dengan mama Widya kalau aku akan tinggal di rumah ini lagi.” Tegas Jingga.
“ Oke kalau memang kamu mau ikut, kita pergi kesana bersama-sama.” Balas Arkana hanya bisa pasrah.
**
Acara yang di buat oleh mama Widya di langsungkan di sebuah hotel bintang lima yang di hadiri oleh beberapa orang penting, belum ada informasi lebih mengapa mama Widya mengadakan acara ini. Dalam undangan di tuliskan sebagai bentuk makan siang bersama sekaligus pemberitahun informasi penting, hanya orang-orang di keluarga yang tahu kalau acara ini di buat untuk memperkenalkan Bima sebagai putra pertama di keluarga Adyatama.
Jingga dan Arkana sudah tiba di lokasi beberapa saat yang lalu, namun saat itu Arkana masih berdiam diri di mobilnya. Dia merasa bahwa acara ini hanya akan membuatnya kesal, bagaimana mungkin kakaknya di perkenalkan secara umum setelah dua puluh tahun tidak ada di samping mamanya.
“ Kamu pasti sedih karena acara ini kan mas.” Benak Jingga yang dapat merasakan apa yang di rasakan Arkana walaupun dia belum mengatakan apapun.
“ Angkat wajahmu mas, seorang putra kedua harus terlihat lebih keren.” Sahut Jingga seketika membuat Arkana mulai mengangkat wajahnya.
Jingga benar untuk tetap terlihat keren di depan semua orang, entah mengapa kepercayaan dirinya turun hanya karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Bagaimana pun juga dia sudah di kenal lebih dulu oleh semua orang, Bima hanya pendatang dan tidak akan mengambil posisinya yang dulu.
“ Ayo turun.” Ajak Arkana yang sekarang sudah mulai percaya diri.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Arakana Jingga Bima