
Wanita cantik itu baru saja membuka kedua matanya secara perlahan, dia berusaha mengingat apa yang terjadi hingga akhirnya dia sadar sepenuhnya dan langsung duduk dan melihat sekitar kamar yang tampak asing.
“ Dimana aku? Bukannya tadi mas Bima datang menyelamatkanku? Apa itu hanya mimpi.?”
“ Bukan mimpi.” Sahut seseorang yang membuat Jingga langsung menoleh dengan cepat.
“ Mas Bima? Kita ada dimana.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Untuk sementara waktu aku mau kita jauh dari semua orang.” Lontar Bima membuat Jingga kebingungan.
“ Maksud mas Bima apa.?” Tanyanya penasaran.
“ Aku minta maaf Jingga, kali ini aku egois.” Benak Bima sambil menundukkan wajahnya.
“ Mama sedang mencari kamu sekarang, besar kemungkinan kamu pasti akan di temukan kalau kita masih berada di Jakarta. Jadi aku membawamu ke Bandung untuk sementara waktu, sampai kondisi disana membaik baru kita akan kembali.” Jelas Bima kemudian.
“ Tapi biarin aku ketemu sama mas Arka dulu, dia pasti khawatir dengan kabar aku.”
“ Gunakan ini, kamu bisa mengirim pesan untuk Arkana dan beritahu keadaan kamu ke dia. Di sana sudah ada nomor Arkana.” Bima memberikan sebuah ponsel kepada Jingga dan di terimanya dengan penuh kegirangan.
Jingga segera melakukan panggilan kepada Arkana, namun setelah beberapa saat tampaknya tidak ada jawaban sehingga membuat Jingga terpaksa harus mengirimkan pesan dan memberitahu kondisinya untuk saat ini.
“ Kamu boleh gunakan hp itu sampai kita bisa kembali ke Jakarta, aku nggak bisa melakukan lebih karena mama sangat ketat dalam pencarian kamu sekarang.” Jelas Bima.
“ Nggak apa-apa mas, aku senang karena kamu membantuku sampai sini. Aku tinggal menunggu waktu sampai mas Arka menjawab pesanku, sekali lagi terima kasih ya mas.” Kata Jingga menatap wajah Bima dengan senang.
“ Sekali lagi maafin aku ya, aku nggak punya waktu banyak. Kali ini biarin aku yang memiliki kamu sepenuhnya.” Batin Bima balas menatap Jingga dengan tatapan yang teduh.
**
Jingga : Mas ini aku Jingga, kamu telpon aku sekarang.
Arkana : Kamu dimana sekarang? Sama siapa? Aku udah nyariin kamu kemana-mana.
__ADS_1
Jingga : Aku sama mas Bima, ceritanya panjang. Aku mau telpon kamu tapi nggak tahu kenapa sinyalnya jelek, panggilan ke kamu terus terputus.
Arkana : Nggak usah telpon, aku cukup tahu kabar kamu aja.
Jingga : Kamu apa kabar mas? Bagaimana dengan anak kita.?
Arkana : Dia sehat, aku juga baik-baik aja disini.
Jingga : Aku pengen ketemu sama kamu, aku kangen. Aku mau cerita semua ke kamu tentang apa yang terjadi sama aku.
Arkana : Kamu sabar ya, kita akan segera ketemu kok. Aku lagi sibuk sekarang, kamu mending istirahat yang cukup ya.
Sudah dua hari Jingga dan Arkana saling mengirim kabar melalui ponsel yang di berikan Bima, anehnya pesan yang Jingga dapat dari Arkana terdengar sangat aneh dan seperti bukan Arkana.
“ Kok responnya begini? Apa benar yang mama Widya bilang waktu itu? kamu udah lupain aku mas.?” Benak Jingga merasa ada yang sakit di bagian dadanya.
Suara ketukan pintu baru saja membuat Jingga menoleh, ternyata yang datang adalah Bima. Pria itu datang membawa semua makanan kesukaan Jingga, dan bahkan ada beberapa makanan yang sudah lama tidak dia makan dan itu menjadi favoritnya sejak dia kecil.
“ Ini ada manisan dari Surabaya, manisannya enak dan nggak bikin gemuk. Kamu suka sama manisa yang kaya gini kan.?”
“ Suka mas, tapi kenapa mas Bima bisa tahu soal manisan ini.?”
“ Tapi aku nggak pernah bilang sama siapa-siapa soal manisan ini, hanya satu orang dan dia sudah lama meninggal.”
“ Mungkin kamu lupa, ini kamu habiskan semuanya ya. Aku mau pergi dulu, jangan pergi kemana-mana ya.” Lanjut Bima yang akhirnya mencoba untuk menghindar dari pertanyaan Jingga yang tidak bisa dia jawab barusan.
“ Aneh, padahal yang tahu aku suka manisan hanya Nawa. Kenapa dia bisa tahu? Ini kembali membuatku teringat dengan Nawa, apalagi wajah mereka berdua sangat mirip.”
**
Bima benar-benar telah membuat Jingga tidak bisa saling mengirim kabar dengan Arkana, awalnya dia merasa bahwa Jingga harus di selamatkan dan di pertemukan dengan Arkana.
Namun dari lubuk hati yang paling dalam, dirinya yang sebagai Nawa masih memiliki rasa cinta yang amat sangat besar kepada Jingga. Dia bahkan sampai menyabotase ponsel yang Jingga gunakan dengan dirinya yang berpura-pura sebagai Arkana, semua itu dia lakukan agar Jingga tidak menaruh rasa curiga kepadanya.
Sejauh ini Jingga cukup patuh dan menuruti semua apa yang dia katakan, sampai suatu ketika kondisi Jingga kembali ngdrop dan membuat Bima harus memanggil dokter ke rumah itu.
__ADS_1
Jingga mendapat perawatan dan harus kembali menggunakan infus dan selang oksigen, dokter berkata bahwa pasca operasi yang telah di terima Jingga belum sepenuhnya membaik. Bahkan dokter berkata untuk melanjutkan perawatan di rumah sakit agar kondisinya dapat semakin membaik.
Tapi sayangnya Bima menolak, dia tidak ingin membawa Jingga pergi ke rumah sakit atau Arkana dan yang lainnya akan tahu dimana dia sekarang. Bagi Bima ini adalah kesempatan terakhirnya bisa bersama dengan wanita yang dia cintai.
“ Kamu udah baikan sekarang.?” Tanya Bima sambil menatap wajah Jingga yang sedang terbaring lemah di tempat tidur.
“ Aku mau ketemu sama mas Arka, bawa dia kemari mas.” Pinta Jingga pada Bima.
“ Kamu bisa nggak jangan bahas orang lain dulu.” Ucap Bima sontak membuat Jingga tercekat.
“ Maksud kamu apa mas.?”
“ Berhenti sebut nama Arkana, kita lagi berdua sekarang, kamu fokus sama diri kamu dulu.”
“ Kamu kok jadi begini mas? Aku berhak untuk ketemu sama suamiku, kenapa justru setelah bebas dari mama Widya sekarang aku merasa terkekang sama kamu.?”
Bima tersadar mendengar ucapan Jingga barusan, dia tidak pernah menyakiti perasaan Jingga sejak dulu dan sekarang dia sudah bersikap layaknya seorang penjahat yang merenggut kebahagiaan wanita yang dia cintai.
“ Aku akan coba hubungi Arkana, kalau dia menolak untuk datang, itu bukan salahku.” Kata Bima yang kemudian keluar meninggalkan kamar Jingga.
**
Keesokan harinya, Bima kembali memberitahu Jingga bahwa Arkana menolak untuk datang. Kali ini Bima berbohong sama seperti mama Widya yang mengatakan bahwa Arkana akan segera menikah lagi, dan Jingga harus menandatangi surat perceraian yang dia berikan kepada Jingga hari ini.
“ Arkana mengirim surat gugatan hari ini, dia minta aku untuk membuat kamu menandatanganinya segera.” Kata Bima sambil menyerahkan surat tersebut.
“ Ini bohong kan? Mas Arka nggak mungkin melakukan hal ini.” Jingga menangis melihat surat yang kini sudah di tanda tangani oleh Arkana sebelumnya.
“ Kamu bisa lihat sendiri kan, dia udah nggak sayang lagi sama kamu. Dia ingin menikah lagi dan bayi yang kamu lahirkan pun sudah berada di panti asuhan sejak kamu menghilang.”
Jingga tak kuasa lagi dengan perasaan sedih yang bercampur menjadi satu itu, dia menangis sejadi-jadinya di samping Bima dengan tangan yang bergetar memegang surat perceraian tersebut.
“ Ini bohong, aku nggak mau semua ini terjadi.” Isak Jingga.
“ Kenapa? bukannya dulu kamu lebih memiliku? Aku bahkan bisa memberikan kebahagiaan yang lebih dari pada Arkana, seharusnya kau tahu akan hal itu.” benak Bima hanya bisa menahan emosinya saat ini.
__ADS_1
“ Aku nggak bisa mas, kalau memang mas Arka mau pisah, suruh dia yang datang menemuiku langsung.” Jingga menyerahkan kembali surat itu dan memutuskan untuk kembali berbaring di atas tempat tidurnya.