
Setelah urusan mereka selesai, Jingga dan Diana harus segera pamit undur diri. Padahal saat itu Diana masih betah berlama-lama disana, karena terlalu fokus memperhatikan Erwin dia sampai tidak mendengar apa saja yang di katakan Jingga barusan.
“ Kamu kenal dia dimana? Dia teman kuliah kamu? Tapi waktu aku belum ke Milan kok aku nggak pernah lihat dia.?” Tanya Diana begitu mereka sudah masuk ke dalam mobilnya.
“ Oh itu, dia cuma kenalan aja. Bukan teman kampus, jadi kamu nggak pernah lihat dia sebelumnya.” Jawab Jingga sambil menggaruk kepala tak gatal.
“ Aku nggak mau tahu, kamu harus kenalin aku ke dia.”
“ Kan tadi udah.”
“ Maksud aku kenalan lebih jauh, tadi aku malu mau ngomong apa. Tapi kalau ada kesempatan kedua, aku nggak mau malu-malu kaya tadi.”
“ Kamu naksir sama Erwin.?” Tanya Jingga langsung di balas anggukan cepat dari Diana.
“ Selama kenal kamu baru kali ini aku lihat kamu sangat bersemangat soal laki-laki, tapi kalau kamu serius sama Erwin coba kamu pikir baik-baik dulu, jangan sampai ketika kalian dekat terus kamu tiba-tiba jauhin dia.” Lanjut Jingga.
“ Kenapa aku harus jauhin dia? Justru sekarang aku sangat yakin kalau aku suka sama dia, dia itu tipe idaman aku banget tahu.” Seru Diana.
“ Diana mungkin akan sangat syok kalau tahu Erwin dulu bekerja sebagai pria sewaan, tapi di satu sisi aku juga nggak mau buat dia kecewa secepat ini? aku harus gimana.?” Benak Jingga hanya bisa menundukkan wajahnya sekarang.
**
Arkana tampak menatap arlojinya dengan penuh cemas, sudah lewat dari sepuluh menit dari jam yang seharusnya Jingga sudah tiba di rumah sakit. Saat ini Arkana menunggu Jingga tepat di pintu masuk, dia sudah tidak bisa menunggu lagi dan mencoba untuk menghubungi wanita itu.
Belum sempat dia menghubungi Jingga, tiba-tiba saja wanita itu sudah muncul di hadapannya. Arkana menyimpan ponselnya dan menghampiri Jingga dengan raut wajah yang memprihatinkan.
“ Kamu nggak kenapa-napa kan? Kok lambat sepuluh menit? Diana bawa mobilnya nggak bar-bar kan.?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul membuat Jingga terkekeh, Jingga sampai bingung harus menjawabnya seperti apa.
__ADS_1
“ Aku baik-baik aja mas, lihat aja kondisiku sekarang.” Jawab Jingga kemudian.
“ Kalau gitu kita ke ruangannya dokter Nala sekarang, sini tasnya biar aku yang bawa.” Arkana meraih tas Jingga dan menggandeng tangannya menuju ruangan dokter Nala.
Jingga dan Arkana sudah berada di ruangan dokter Nala dan mulai menjalani pemeriksaan, hari ini usia kandungan Jingga sudah masuk usia enam bulan.
Untuk pertama kalinya Arkana hadir disana dan melihat kondisi perkembangan bayi mereka, dokter Nala menjelaskan bahwa kondisi bayi sangat sehat dan jauh lebih aktif. Jingga juga berkata bahwa dia mulai merasakan tendangan dari dalam meskipun sangat jarang terjadi.
“ Tunggu sebentar, waktu terakhir kali kamu check up bukannya waktu itu aku bilang anaknya berjenis kelamin perempuan? Tapi setelah ku perhatikan baik-baik, ternyata anak kalian berjenis kelamin laki-laki.”
“ Laki-laki? Jadi bukan perempuan dok.?”
“ Maaf kalau aku keliru waktu itu, tapi ini sudah di pastikan bahwa dia adalah seorang laki-laki. Dan mungkin jika lahir nanti akan mirip seperti ayahnya.” Lirik dokter Nala pada Arkana.
Arkana meneteskan air mata karena terharu, Jingga dan dokter Nala sampai bingung melihatnya. Karena tak kuasa menahan rasa bahagianya, dia pun izin ke kamar kecil untuk mencuci wajah dan menenangkan perasaan hatinya sekarang.
“ Tentu saja boleh, justru melakukan hubungan intim saat hamil yang teratur dapat membantu tubuh lebih mudah menghasilkan kontraksi pada otot panggul, sehingga ketika proses persalinan tiba akan lebih mudah mengeluarkan si bayi dari dalam.” Jelas dokter Nala sukses membuat Jingga tersipu malu.
“ Tapi untuk usia enam sampai tujuh bulan tolong jangan terlalu sering, mungkin dua atau tiga kali tidak masalah. Perlu di ingat juga, kalau kamu merasa sakit atau ada pendarahan akan lebih baik untuk tidak melakukannya sama sekali.”
“ Baik dok, terima kasih atas jawabannya.”
**
Setelah selesai menjalani serangkaian pemeriksaan dengan dokter Nala, sekarang Arkana membawa Jingga pada Qania untuk memeriksa kesehatannya. Meskipun Jingga berkata tidak ada keluhan serius, tapi Arkana tetap membawanya kesana.
“ Senang akhirnya bisa melihat kalian berdua kaya gini.” Sahut Qania yang terus tersenyum melihat bagaimana Arkana yang terlalu sayang sama Jingga.
__ADS_1
“ Ini semua berkat kamu, kalau nggak ada kamu yang bantu aku waktu itu, nggak mungkin aku sama Jingga bisa kaya gini.” Kata Arkana sambil merangkul pundak Jingga.
“ Terima kasih banyak untuk semuanya Nia.” Sambung Jingga.
“ Bukan apa-apa, sejak awal aku juga sudah ingin membantu kalian bersama.” Balas Qania merasa tersanjung.
“ Qania memang wanita yang sangat baik, dia adalah korban dari hubungannya dan mas Arka. Tapi masih berusaha membuat mas Arka bahagia dengan orang lain, aku mungkin nggak akan bisa seperti dia.” Benak Jingga sambil tersenyum simpul.
“ Oke sekarang kita mulai pemeriksaannya ya, semoga saja nggak ada yang serius.” Ujar Qania sambil mempersilahkan Jingga untuk berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.
Arkana memperhatikan bagaimana Jingga sedang di periksa oleh Qania, ada perasaan takut yang menyelimuti Arkana saat ini. Dulu saat dia tahu Jingga mengalami lemah jantung, dia bahkan tidak peduli sama sekali. Tapi sekarang hanya membayangkan Jingga menanggung sakit sendirian rasanya ikut membuat hatinya jauh lebih sakit.
Ponsel Arkana tiba-tiba berdering dan membuatnya langsung menjawab panggilan dari Nisa, dia sedikit menyingkir dari sana agar tidak mengganggu proses pemeriksaan Jingga saat ini.
Tak lama setelah menerima panggilan tersebut Arkana pun harus pergi melihat pasien yang kemarin sudah melakukan operasi besar, Jingga mempersilahkannya untuk pergi tapi Arkana berjanji akan kembali melihatnya setelah dia selesai dengan tugasnya.
“ Arkana kelihatan peduli banget sama kamu, tapi yang lebih mengejutkan lagi saat aku tahu kalau kamu akhirnya membuka hati untuk dia.” Ucap Qania setelah selesai memeriksa keadaan Jingga.
“ Semua terjadi saat malam dimana kamu sama suami kamu datang ke rumah, mas Arka ingat dengan kejadian itu dan akhirnya meminta maaf. Aku nggak bisa bohong kalau aku juga sayang sama dia.” Jawab Jingga.
“ Aku benar-benar lega dan senang mendengarnya, kalian berdua memang sangat cocok. Semoga ke depannya Arkana bisa menjadi lebih baik untuk kamu dan anakmu nanti.”
“ Jadi bagaimana dengan hasil pemeriksaannya? Aku nggak kenapa-napa kan.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Semuanya sehat, detak jantungmu normal dan kamu juga tidak merasakan gejala sebelumnya. Semoga semuanya akan tetap seperti ini sampai hari pesalinan tiba.” Jawab Qania.
“ Semoga, aku nggak mau anak ini dalam bahaya. Dan untuk sekarang, mas Arka pasti nggak mau kehilangan kami berdua.” Kata Jingga sambil menyentuh perutnya.
__ADS_1