Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Perhatian Palsu


__ADS_3


Arkana mulai memainkan perannya menjadi pria penuh perhatian kepada Jingga sesuai keinginan mama Widya, dia berhasil mendekati Jingga hingga membuat mereka selalu mengirim kabar satu sama lain melalui pesan singkat.


Awalnya Jingga sangat sulit untuk di dekati, dia bahkan pernah memberitahu Arkana bahwa dia masih belum bisa melupakan mendiang calon suaminya itu.


Untuk membuatnya semakin luluh, segala cara telah di lakukan oleh Arkana. Dia mulai menanyakan apapun yang di suka dan tidak di suka oleh Jingga, dengan begitu dia bisa mendekatinya dengan mudah.


Dan sore itu Arkana mengajak Jingga keluar menghabiskan waktu berdua, Arkana bahkan sampai datang ke butik Jingga untuk menjemputnya secara pribadi.


Keduanya datang berkunjung ke sebuah tempat makan yang berada di pucak bukit, disana mereka bisa melihat keindahan kota Jakarta dengan suasana alam yang masih menyatu di tempat itu.


“ Jadi, kalau aku boleh tahu kesukaan kamu apa aja? Dan aku juga mau tahu sesuatu yang kamu benci.” Lontar Arkana.


“ Hmm, aku suka menggambar dan menjahit tentu saja. Tapi sesuatu yang paling ku suka adalah melihat senja, saat melihat senja rasanya hatiku menjadi lebih tenang.” Jawab Jingga.


“ Oke, kalau yang nggak kamu suka.?”


“ Aku takut sama kegelapan, serangga, dan juga ketinggian.”


“ Kalau gitu aku salah bawa kamu dong? Kita berada di tempat yang tinggi sekarang.”


“ Nggak apa-apa, aku takut tinggi bukan yang mendaki kaya gini. Contohnya itu takut naik jembatan yang curam, takut berada di gedung pencakar langit, bungee jumping, yang kaya gitu loh.”


“ Ohh, aku ngerti sekarang.”


Kemudian mereka berdua mengobrol hal apapun yang membuat Jingga terlihat nyambung dan nyaman dengan Arkana. Sampai pada akhirnya mereka lupa waktu dan langit sudah mulai berwarna keemasan.


Kebetulan sekali, saat ini mereka bisa menikmati senja seperti yang di sukai oleh Jingga. Terlihat Jingga yang menatap langit dengan senyum yang merekah, Arkana merasa berhasil melakukan rencananya dengan baik yang tidak membuat Jingga curiga sama sekali.


**


Hanya butuh dua minggu Arkana mendekati Jingga hingga akhirnya wanita itu menerima tawaran perjodohan mereka. Arkana merasa senang sekaligus sedih, dia tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


Beberapa hari menuju pernikahan mereka, Arkana mulai terlihat cuek dari biasanya. Itu karena dia kesal pada Qania yang sekarang semakin sulit untuk di hubungi, dia bahkan tidak mengetahui kabar dari wanita itu sama sekali.


Hari berikutnya Jingga dan Arkana pergi ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin, disana hanya Jingga yang terlihat tertarik untuk memilih sedangkan Arkana hanya sibuk dengan ponselnya semenjak mereka tiba di butik itu.


Arkana sibuk mencaritahu kabar tentang Qania melalui orang-orang yang dia kenal yang ikut melakukan kegiatan seperti Qania. Dia sudah mendapat kabar dari salah seorang perawat yang berada di tim yang sama Qania, dan dia juga mengirimkan foto Qania yang sedang sibuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat disana.


“ Akhirnya aku tahu kabar kamu Nia.” Benak Arkana merasa sangat puas melihatnya.


Saat itu Jingga tampak menegur Arkana dan menyuruhnya untuk melihat-lihat baju yang akan dia gunakan, namun Arkana hanya menyebutkan size dirinya kepada Jingga dan menyerahkan semuanya pada wanita itu.


Setelah beberapa saat, Arkana mendapat panggilan dari perawat yang bersama Qania sekarang. Tak mau menunggu waktu lama, akhirnya Arkana pamit undur diri duluan kepada Jingga dengan alasan dia memiliki kesibukan di rumah sakit.


Begitu Arkana berhasil meninggalkan Jingga, kini dia menjawab panggilan tersebut saat dirinya sudah berada di dalam mobil. Saat itu Arkana tidak mengatakan apa-apa dan hanya mendengar percakapan perawat itu bersama Qania.


“ Dokter sedih ya tentang kabar pernikahan dokter Arkana yang sebentar lagi akan di langsungkan.”


“ Nggak, kata siapa.?”


“ Aku Cuma lelah aja, nanti istriahat sebentar udah mendingan kok.”


“ Jadi dokter benar-benar nggak apa-apa nih soal pernikahan itu.?”


“ Nggak apa-apa, aku senang tahu kalau Arkana akan segera menikah. Sudah yah, aku gak ada waktu buat bahas beginian.”


Arkana terdiam mendengar pengakuan Qania yang sukses membuat dirinya terpukul, dia mendengar suara perawat di seberang sana yang memanggilnya namun tidak dia gubris sama sekali.


Arkana kemudian melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu, dia sedang dalam keadaan mood yang kurang bagus. Dan biasanya jika dia mengalami hal ini, satu-satunya tempat yang akan dia tuju adalah sebuah club.


**


Malam itu Arkana pulang dalam keadaan mabuk berat, dia memang tidak kuat soal alkohol namun memutuskan untuk tetap meminumnya. Arkana di jemput oleh Jefri yang merupakan supir pribadi mama Widya setelah mendapat kabar bahwa Arkana mabuk dan tak sadarkan diri di salah satu club yang ada di Jakarta.


Mama Widya tampak sangat marah melihat Arkana yang seperti itu, bukan pertama kalinya mama Widya mendapati Arkana pulang dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


Setelah hubungan Arkana dan Qania berakhir semua itu menjadi lebih sering terjadi, dan kali ini kesabaran mama Widya sudah habis. Dia menampar wajah Arkana yang tak sadarkan diri itu untuk memaksanya bangun.


“ Ma, sudah. Jangan di tampar, dia masih belum sadarkan diri.” Sahut papa Hendra yang berusaha untuk menahannya.


“ Kamu diam, ini urusan aku sama putraku. Kalau aku tidak mendidik dia menjadi anak yang baik, ke depannya dia hanya akan membuat malu nama keluarga.” Balas mama Widya.


“ Arka bangun sekarang, mama nggak mau kamu melakukan hal ini lagi saat kamu berhasil menikah dengan Jingga.” Lanjut mama Widya menarik kerah baju Arkana dan menggoyangkan tubuhnya agar segera sadar.


Karena tak kunjung sadar akhirnya mama Widya menyerah, dia pun beranjak meninggalkan Arkana dan menyerahkannya pada suaminya dan juga Jefri.


“ Kita bawa dia ke kamarnya.” Ucap papa Hendra dan langsung di laksanakan oleh Jefri.


**


Perlahan namun pasti Arkana mulai membuka kedua matanya, dia langsung menyentuh kepalanya yang terasa pening. Dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam, setiap dia mabuk kejadian setelah itu tidak bisa dia ingat sama sekali.


“ Akhirnya kamu bangun juga.” Suara mama Widya berhasil membuat Arkana terkejut, dia bahkan tidak tahu sejak kapan mamanya duduk di sana.


“ Mama.?”


“ Ini peringatan terakhir buat kamu, mama nggak akan pernah maafin kamu lagi kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi. Kamu ngerti kan maksud mama.” Lontar mama Widya namun Arkana tidak menggubrisnya sama sekali.


“ Kenapa? kenapa mama nggak pernah ngerti sama aku.?”


“ Apa kamu bilang.?” Mama Widya tampak beranjak dari tempatnya dan menghampiri Arkana dengan kesal.


“ Mama selalu berbuat sesuka hati mama tanpa pernah peduli perasaan aku, sejak kecil sampai sekarang mama selalu menuntut aku sempurna sedangkan aku hanya mausia biasa ma.”


PAKKKK….


Satu tamparan yang sangat keras baru saja mendarat di wajah Arkana, pria itu hanya dapat terdiam saat di perlakukan kasar oleh mamanya sendiri.


“ Jaga ucapan kamu sama orang yang telah merawat dan membesarkan kamu sampai sekarang. Kamu memang nggak akan pernah bisa kaya Bima.” Mama Widya kemudian beranjak meninggalkan Arkana sendirian di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2