
Qania menundukkan wajahnya dengan tatapan sendu, setelah mendengar pengakuan Jingga dirinya tak tahu harus berkata apa lagi. Sementara itu Jingga menunggu tanggapan Qania, dia ingin tahu apakah Qania masih menyimpan rasa terhadap Arkana atau tidak.
“ Kamu sayang kan sama Arkana.?” Tanya Qania mengangkat wajahnya menatap Jingga.
“ Aku nggak tahu perasaanku ke mas Arka seperti apa. Aku nggak bisa bilang sayang atau benci sama dia untuk sekarang.” Jawab Jingga.
“ Kamu sekarang sedang mengandung anaknya, aku yakin perasaan kamu ke Arkana akan berubah seiring berjalannya waktu.” Kata Qania sambil mengusap lembut perut Jingga.
“ Bagaimana aku bisa memiliki perasaan itu kalau yang bermasalah itu mas Arka, dia belum selesai sama masa lalu kalian. Aku nggak akan bisa ada di hati mas Arka kalau kamu masih ada disana.” Lontar Jingga.
“ Lalu aku harus apa? Aku juga nggak bisa melakukan apapun.”
“ Setelah anak ini lahir, aku ingin berpisah dengan mas Arka. Sebagai gantinya aku mau kamu sama mas Arka menikah.”
“ Kamu gila ya, nggak bisa gitu dong.”
“ Aku akan mencoba menahan agar tidak jatuh cinta sama mas Arka sampai waktu itu tiba, jadi kumohon untuk menikah dengannya setelah itu.”
“ Jingga, kamu sadar. Pernikahan itu bukan permainan, kamu nggak bisa memutuskannya semudah itu. Dan mungkin kamu harus tahu soal Arkana dulu sebelum kamu benar-benar memikirkan ucapanmu barusan.” Qania terlihat serius saat mengatakannya.
“ Soal mas Arka? Apa yang harus aku tahu soal dia.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Tentang dia dan keluarganya yang tidak ada orang lain tahu selain aku, dan aku mau kamu tahu semua tentang Arkana supaya kamu nggak mikir kaya tadi.” Lanjut Qania sungguh-sungguh.
**
“ Maaf, lihat istri saya nggak.?” Tanya Arkana pada seorang perawat.
“ Saya nggak lihat dok.” Balasnya.
“ Terima kasih.” Arkana kembali melanjutkan pencarian Jingga di rumah sakit, setelah pemeriksaan hari ini dia menghilang entah kemana.
Arkana sudah mencari ke penjuru rumah sakit dan menanyakan keberadaan Jingga pada mereka yang mengenalnya, namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan wanita itu.
Arkana membawa tas milik Jingga yang dimana ponselnya pun ada disana sehingga dia tidak bisa menghubunginya, sudah waktunya untuk pulang dan sampai sekarang Arkana belum menemukannya.
“ Awas aja kamu kalau sampai kabur lagi.” Benak Arkana mengepal tangannya dengan kuat.
__ADS_1
“ Mas Arka.” Suara Jingga berhasil membuat Arkana menoleh dengan cepat.
“ Kamu dari mana aja.?” Tanya Arkana saat Jingga sudah berada di depan Arkana.
“ Aku dari toilet mas.” Jawabnya berbohong.
“ Toilet dimana? Kok lama banget perginya.”
“ Hehe, ada sedikit masalah tadi.”
Arkana heran melihat ekspresi Jingga yang terlihat sangat senang, dia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita itu. Kemudian Jingga menarik lengan Arkana untuk berjalan bersama meninggalkan rumah sakit, dia tahu kalau Arkana tidak akan menolak di perlakukan seperti itu jika di tempat umum.
“ Kita makan bakmi yuk.” Ajak Jingga sekali lagi membuat Arkana bingung.
“ Kamu ngidam lagi.?” Tanya Arkana melirik Jingga.
“ Hmm, aku mau makan bakmi. Kamu ada rekomendasi tempat makan nggak.?”
“ Ada, aku sering kesana sebelumnya.”
“ Ya udah yuk kesana.”
Dari kejauhan tampak seorang wanita terlihat menatap kepergian mereka berdua dengan senyum yang merekah di bibirnya, dia merasa sedikit lebih tenang sekarang karena satu masalah telah terselesaikan dengan baik.
**
“ Mas, kamu nggak apa-apa.?” Jingga mencoba untuk membuka pintu kamar Arkana karena memang saat itu pintunya tidak tertutup dengan rapat.
Jingga melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, saat itu Arkana baru saja keluar dengan wajah yang pucat. Dia menegur Jingga yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin, kemudian Jingga menjelaskan bahwa dia khawatir setelah mendengar Arkana muntah-muntah.
“ Aku ini seorang dokter, kamu nggak usah khawatirin aku.”
“ Kalau kamu benar seorang dokter, sekarang aku tanya. Kamu kenapa muntah-muntah? “
“ Mungkin salah makan aja, ini karena kamu kemarin ngajak aku makan bakmi.”
“ Kok salahin aku? Yang nambah sampai dua mangkok kan kamu.”
Arkana pun terdiam di buatnya, dia bahkan mengalihkan pandangannya dari Jingga karena malu.
__ADS_1
“ Atau jangan-jangan.” Jingga menggantungkan ucapannya sehingga membuat Arkana penasaran.
“ Jangan-jangan apa.?” Tanya Arkana dengan penuh penekanan.
“ Kamu kena gejala morning sickness.”
“ Kamu yang hamil kenapa aku yang kena gejalanya.”
“ Bisa aja kan, ada kok suami yang mengalami morning sickness dan bukan istrinya. Kalau di pikir-pikir semenjak aku hamil, aku belum pernah mengalami morning sickness. Paling kalau cium bau makanan yang amis aja bisa bikin aku mual.” Ungkap Jingga.
“ Nggak mungkin lah, lagi pula anak itu bukan anakku. Nggak mungkin aku yang kena gejalanya, kamu itu sok tahu banget jadi orang.” Celetuk Arkana.
“ Ya udah kalau kamu nggak mau percaya, aku tunggu di ruang makan ya.” Jingga pun keluar dari kamar Arkana, dia terlihat tertawa kecil melihat Arkana yang mengalami morning sickness dan bukan dirinya.
**
Arkana baru saja keluar dari kamarnya setelah Jingga menunggu hampir dua puluh menit untuk sarapan, saat itu ekspresi yang di tunjukkan Arkana masih sama seperti sebelumnya.
Arkana duduk di kursi yang kemudian Jingga membantu menyendokkan nasi goreng ke piringnya, saat itu Arkana terlihat menahan mual hingga membuat wajahnya nampak memerah.
“ Ini ada apa sih, kok bau banget.” Tegur Arkana sambil menutup hidungnya.
“ Bau apa mas? Aku nggak cium bau apa-apa.” Balas Jingga bingung.
“ Bau amis, kaya bau kerang gitu.”
“ Oh itu bi Salma mau masakin aku kerang saus tiram buat nanti siang.”
Arkana terlihat ingin muntah setelah berada di tempat itu beberapa saat, dia kemudian berlari kembali menuju kamarnya. Jingga merasa kasihan dan juga lucu melihatnya, dia baru sadar kalau Arkana memang memiliki sisi yang membuatnya terlihat lucu.
“ Tuan Arka kenapa non.?” Tanya bi Salma yang sempat mendengar suara muntah-muntah.
“ Mas Arka kayaknya lagi kena morning sickness bi, dia kayaknya lagi sensitif banget sama bau-bau amis. Tolong masak kerangnya nanti aja ya, kasihan mas Arka kebauan amisnya.”
“ Siap laksanakan non.”
Pada akhirnya Arkana berangkat kerja sebelum menikmati sarapan paginya, dia sudah tidak tahan mencium aroma yang tidak sedap dan membuatnya ingin terus muntah jika berada di rumah lama-lama.
“ Hati-hati ya mas, kalau mulai mual lagi kamu bisa pakai aroma terapi biar lebih enak penciumannya.” Ucap Jingga.
__ADS_1
“ Kamu nggak usah ajarin aku soal itu.” Ketus Arkana yang sekarang sudah berada di dalam mobil.
Jingga tersenyum melambaikan tangan melihat kepergian Arkana saat itu, dia pun kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih baik.