Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
We Love Each Other


__ADS_3


Pagi hari yang terasa berbeda setelah mereka berdua saling mengakui perasaan satu sama lain, Jingga dan Arkana sedang menikmati sarapan pagi mereka dimana Arkana terus memperhatikan Jingga sampai membuat wanita itu salah tingkah.


“ Kamu jangan lihat aku terus mas, habisin makanannya.” Sahut Jingga menatapnya sebentar.


“ Kayaknya aku bakalan kenyang kalau lihat wajah kamu aja.” Balas Arkana sontak membuat Jingga tak bisa berkata-kata lagi.


“ Kamu kenapa jadi lebay begini sih mas.?”


“ Siapa yang lebay? Aku bicara fakta, rasa lapar aku hilang hanya karena aku lihat kamu sekarang.”


“ Habisin makanan kamu, kalau nggak habis, aku nggak mau tidur sama kamu nanti malam.” Ancam Jingga berhasil membuat Arkana langsung mengambil sendok dan menyuap nasi goreng buatan Jingga dengan cepat.


“ Pelan-pelan dong makannya, nanti keselek.” Tegur Jingga sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah laku suaminya sekarang.


Setelah selesai sarapan bersama, Arkana sudah harus pergi ke rumah sakit. Dia sudah menunda-nunda waktu berangkat karena tak ingin berpisah dengan Jingga, dia tak henti-hentinya memeluk Jingga dan berkata ingin libur dan menemaninya saja di rumah.


“ Kamu harus pergi ke rumah sakit, banyak pasien yang butuh kamu. Dan juga nanti kan aku ke rumah sakit buat check up, jadi kita bisa ketemu lagi.” Ujar Jingga sambil menemani Arkana ke mobilnya.


“ Nanti aku jemput kamu kalau gitu.”


“ Ngapain? Jarak rumah sakit ke rumah kita lumayan jauh, belum lagi kalau terjebak macet.”


“ Terus kamu mau naik taksi ke rumah sakit.?”


“ Aku sama Diana, kamu tenang aja. Dia pasti jagain aku sampai ke rumah sakit dengan selamat.”


“ Diana, aku masih nggak suka sama teman kamu itu.”


“ Jangan gitu, Diana orangnya baik. Kalau dia tahu kamu mau berubah lebih baik lagi, aku yakin dia nggak akan bersikap kaya gitu ke kamu.”


“ Ya udah kalau gitu aku berangkat, kamu jagan nakal ya di dalam sana, jangan bikin mama sakit.” Kata Arkana sambil menyentuh perut Jingga dengan lembut.


Dan akhirnya Arkana pun pergi meninggalkan rumah itu, Jingga masih berdiri di depan rumah sampai mobil suaminya benar-benar menghilang di balik perumahan.

__ADS_1


**


Satu rumah sakit di buat heran dengan tingkah Arkana ketika dia baru saja tiba di rumah sakit, padahal baru kemarin mereka melihat wajah menakutkan Arkana yang di selimuti oleh emosi yang tidak stabil dan kali ini dia bahkan menyapa semua orang yang di temuinya dengan nada yang penuh semangat.


Sebelum Arkana masuk ke dalam ruangannya, dia sempat bertemu dengan Qania dan Aizen. Dengan penuh semangat Arkana menghampiri mereka dan menyapa mereka dengan sapaan yang tidak biasanya.


“ Kamu kenapa Ar?” Tanya Qania heran.


“ Aku mau bilang terima kasih buat kalian berdua, berkat bantuan kalian akhirnya aku sama Jingga bisa balikan. Sekali lagi aku ucapin terima kasih yang tak terhingga, dan juga kita berempat bisa makan malam bareng kapan-kapan.” Seru Arkana.


“ Maksud kamu? Kamu dan Jingga nggak akan berpisah.?” Lontar Qania dengan raut wajah yang penasaran.


“ Yupp, aku udah tahu semuanya dan janji akan memperbaiki kesalahan yang dulu aku buat. Jadi tunggu aja tanggal mainnya, kita berempat harus pergi makan bareng.” Jawab Arkana yang kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam ruangannya setelah dia selesai dengan mereka berdua.


“ Aku senang banget dengarnya, akhirnya mereka nggak jadi pisah.” Ucap Qania pada Aizen.


“ Kamu memang hebat, aku juga ikut senang mendengarnya.” Balas Aizen sambil mengusap kepala Qania dengan lembut.


Tampak seorang gadis di balik tembok yang baru saja mendengar percakapan mereka langsung mengepal kedua tangannya dengan kuat, dia merasa kesal dan akhirnya pergi dari tempat persembunyiannya.


**


“ Kamu kok kelihatan beda sekarang.?” Tegur Diana.


“ Beda apanya? Perasaan kaya gini-gini aja deh.” Balas Jingga bingung.


“ Wajah kamu lebih bersinar, kamu kelihatan lebih bahagia aja sekarang. Suami kamu yang brengsek itu nggak nyantet kamu kan? Dia nggak bersikap kaya dakjal lagi kan.?”


“ Jangan ngomong gitu, sekarang aku sama mas Arka mau memperbaiki hubungan pernikahan kita. Dia janji mau berubah jadi lebih baik buat aku dan anaknya.”


“ Dia udah tahu kalau itu anaknya.?”


“ Yup, dia udah ingat semuanya. Aku lega karena akhirnya dia sadar dan meminta maaf atas kesalahan yang dulu dia buat.”


“ Kamu serius mau mempertahankan rumah tangga sama dia? Kamu nggak ingat semua yang udah dia lakuin ke kamu.?”

__ADS_1


“ Awalnya aku pikir semuanya akan berakhir setelah anak ini lahir, tapi nggak tahu kenapa aku berubah pikiran. Mas Arka kelihatan serius mau berubah, dan sepertinya anak ini juga ingin aku tetap sama papanya.”


Diana tidak bisa lagi berkata-kata jika memang itu adalah pilihan terbaik Jingga, sebagai sahabat dia hanya bisa mendukung keputusan sahabatnya. Tapi jika di kemudian hari dia sampai tahu sesuatu yang buruk kembali terjadi pada Jingga, maka dia akan menjadi orang pertama yang akan menolongnya.


“ Jadi hari ini mau langsung ke rumah sakit.?” Tanya Diana setelah akhirnya dia melajukan mobil menuju jalan raya.


“ Aku mau ketemu sama Erwin bentar, alamatnya di jalan Kenanga blok c nomor 3.” Jawab Jingga.


“ Erwin siapa? Aku nggak pernah dengar nama itu sebelumnya.”


“ Memangnya aku belum cerita sama kamu soal Erwin.?”


“ Belum, memangnya dia siapa.?”


**


Jingga dan Diana tiba di alamat yang di sebut oleh Jingga kepada Diana barusan, keduanya tiba di salah satu kost-kostan khusus laki-laki yang sempat membuat Diana bertanya-tanya sebelumnya.


“ Jadi cowok yang namanya Erwin tinggal disini.?” Tanya Diana di balas anggukan pelan dari Jingga.


“ Jingga.” Sahut seseorang kompak membuat Jingga dan Diana menoleh ke sumber suara.


Saat ini kedua mata Diana fokus tertuju pada Erwin yang sedang berjalan ke arah mereka berdua. Saat itu Diana merasa dunia sedang berhenti berputar dan terdengar alunan musik yang indah yang membuatnya sampai membayangkan bahwa Erwin adalah seorang pangeran berkuda putih yang bersiap untuk membawanya ke sebuah istana mewah.


“ Jingga, sejak kapan kamu kenal sama cowok seganteng dia.?” Bisik Diana yang benar-benar terpesona dengan ketampanan yang di miliki oleh Erwin.


“ Dia yang bakal handle pembangunan butik aku yang baru, dia Erwin kenalan aku.” Jingga tidak bisa bilang pada Diana kalau Erwin adalah pria sewaan yang dulu di sewa Arkana untuknya.


“ Kamu bawa teman rupanya, kenalin aku Erwin.” Ucap Erwin sambil menyodorkan tangan.


“ Hai, aku Diana sahabat baiknya Jingga.” Balas Diana menjabat tangan Erwin dengan cepat.


Setelah cukup berkenalan, mereka bertiga pindah ke tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol bersama. Selama Jingga membahas tentang kesepakatan bersama Erwin, tampak Diana yang terus menerus curi-curi pandang pada pria itu.


__ADS_1


__ADS_2