
Semua orang yang bekerja di butik Jingga terkejut melihat kedatangan Jingga setelah dia istirahat karena mengalami amnesia, Sofia yang menjadi karyawan terpercayanya pun ikut kaget sampai mengira bahwa Jingga telah mengingat semuanya kembali.
Namun Jingga memberitahu mereka bahwa dia belum mengingat apapun, dia bahkan tidak mengenali semua karyawan di butiknya. Meski begitu dia tidak mau bersikap seolah-olah lepas dari tanggung jawabnya, Jingga ingin mengenal mereka lagi dengan ingatan yang sekarang.
Setelah Jingga selesai menyampaikan semuanya kepada mereka, Mike yang di ajaknya ke butik itu juga di perkenalkan oleh Jingga sebagai ayah dari teman sekolah Keenan.
Beberapa karyawan tampak saling berbisik, rupanya mereka membicarakan Mike dan Arkana. Mereka membahas bagaimana jadinya jika Arkana sampai melihat hal ini, dia pasti akan sangat cemburu mengetahui istrinya datang bersama pria lain.
Sementara itu Jingga terlihat mengamati setiap sudut di butiknya, dari deretan busana yang katanya telah dia buat itu ada satu yang menarik perhatiannya. Jingga ingat dengan desain awal gaun yang ada di depannya itu. Desain gaun yang telah lama dia buat, dan ternyata dia sudah menyelesaikannya dengan baik.
“ Bu Jingga mungkin lupa soal penghargaan yang di terima di event fashion show waktu itu. Biar saya tunjukkan hasil kerja keras bu Jingga selama ini.” Sofia mengajak Jingga menuju satu ruangan khusus dimana di ruangan itu terdapat koleksi busana yang di gunakan ketika fashion show waktu itu berlangsung.
“ Semua ini aku yang membuatnya? Dan aku menang penghargaan waktu itu.?” Tanya Jingga seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“ Iya bu, semua jerih payah bu Jingga selama lima tahun di Singapura akhirnya terbayar dengan penghargaan ini.” Jawab Sofia.
Jingga merasa begitu senang meski dia tidak bisa mengingat semuanya dengan baik, andai saja ingatannya sudah kembali, ingin sekali dia merasakan saat-saat penuh bahagia di hari itu.
Ketika hendak keluar dari ruangan itu, Jingga melirik sebuah foto di atas meja kerja dimana terdapat foto dirinya dan Arkana bersama Keenan. Lagi-lagi foto itu menunjukkan kebahagiaan yang entah mengapa membuat Jingga merasa senang melihatnya.
“ Ingatanku, tolong cepat kembali.” Benak Jingga sambil menutup kedua matanya dengan rapat.
**
Arkana baru saja tiba di rumah sekitar pukul 5:00 sore, dia terlihat lelah dan sedikit pucat. Sebelum masuk ke rumah dia memastikan dirinya terlihat baik-baik saja agar tidak membuat Jingga cemas, ya meskipun dia tidak begitu yakin apakah Jingga akan cemas atau tidak.
Saat memasuki rumah dia tidak melihat keberadaan Jingga dimana-mana, di ruang keluarga hanya ada Keenan dan bi Yuli yang sedang sibuk mengajarkan Keenan nama-nama hewan dan buah.
" Jingga mana bi.? " Tanya Arkana.
" Papa. " Seru Keenan langsung berlari memeluk Arkana.
" Bu Jingga lagi istirahat pak, katanya lagi nggak enak badan. " Jawab bi Yuli.
" Papa mau cek keadaan mama bentar ya, kamu main sama bi Yuli dulu. " Kata Arkana pada Keenan.
" Baik pa. " Jawab Keenan yang akhirnya kembali ke tempatnya semula.
Arkana mulai beranjak menuju kamar, sebelum masuk ke dalam dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam, Arkana pun membuka pintu dengan pelan sambil menyahut.
" Aku masuk ya."
Tak ada jawaban, dan Arkana melihat Jingga sedang terlelap di atas tempat tidur. Dengan sangat hati-hati Arkana mendekati Jingga, kini dia bisa melihat wajah cantik istrinya yang sedang terlelap.
__ADS_1
" Kamu pasti capek ya jagain Keenan seharian. Maaf ya, aku juga mau jagain dia sama kamu. Tapi aku nggak mau buat trauma kamu semakin parah, untuk sekarang aku hanya bisa menjauh meskipun aku maunya terus berada di samping kamu." Gumam Arkana lembut.
Arkana menundukkan kepalanya dengan perasaan yang kacau, kepalanya sedikit pening saat dia beranjak dari tempatnya.
Sebelum pergi meninggalkan kamar itu, Arkana meletakkan beberapa obat dan vitamin yang di butuhkan Jingga dalam proses penyembuhannya. Dia juga meninggalkan catatan untuk tidak lupa meminumnya setelah dia bangun.
Saat Arkana sudah keluar, terlihat Jingga yang perlahan mulai membuka kedua matanya. Dia jelas mendengar semua ucapan yang barusan di katakan oleh Arkana, hatinya mendadak sakit mendengar perkataan barusan.
**
Malam itu Jingga dan Keenan hanya makan malam berdua saja, Jingga sudah menanyakan keberadaan Arkana pada bi Yuli dan wanita itu bilang kalau Arkana sudah makan lebih dulu dan sekarang sedang istirahat di kamar lain.
Entah mengapa Jingga terus memikirkan Arkana sampai dia tidak bisa menikmati makanannya dengan baik. Keenan menatapnya bingung sambil meraih tangan Jingga dan berkata.
" Mama khawatir sama papa kan.? "
Jingga terkejut mendengar Keenan mengatakan hal itu, bahkan anak seusia Keenan saja sudah mengerti dengan urusan orang dewasa.
" Aku udah lama nggak lihat mama sama papa barengan lagi, mama sama papa marahan ya.? " Tanya Keenan lagi.
" Nggak sayang, mama sama papa baik-baik aja kok. "
" Tapi kenapa kalian nggak tidur di kamar yang sama? "
Jingga terdiam sejenak, tidak seharusnya dia berbohong pada Keenan atas apa yang terjadi. Namun Keenan masih terlalu kecil untuk mengetahuinya, sehingga Jingga dengan cepat mengalihkan obrolan mereka agar Keenan berhenti melontarkan pertanyaan lain.
Dan pada akhirnya Jingga pergi menuju kamar itu, dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali dan tidak mendengar suara apapun dari dalam sana.
" Mas Arka mungkin udah tidur. " Benak Jingga sedikit ragu untuk membuka pintunya langsung.
Ketika dia hendak pergi, tiba-tiba saja pintu terbuka dan membuatnya terkejut melihat keadaan Arkana yang sangat pucat dan lesuh.
" Kamu kenapa mas? Kok mukanya pucat banget.? " Jingga langsung panik dan segera masuk ke dalam.
" Aku baik-baik aja. " Balasnya jelas sedang berbohong.
Dia meletakkan cangkir teh itu di atas meja, kemudian menghampiri Arkana dan langsung menyentuh keningnya.
" Kamu demam. " Kata Jingga yang mulai panik.
Jingga menyuruh Arkana untuk kembali berbaring, dia akan mengurusnya dengan mengompres kening Arkana.
Kondisi Arkana sudah semakin memburuk, dia tidak merespon ucapan Jingga lagi. Untungnya Jingga tahu soal obat-obatan, entah bagaimana dia bisa mengetahuinya.
" Kamu minum obatnya dulu. " Jingga membantu Arkana meminum obatnya dan memastikan Arkana benar-benar meminumnya dengan baik.
__ADS_1
Setelah selesai mengurus Arkana, terlihat Jingga yang menunggunya dengan setia sambil menatap wajah suaminya yang masih begitu pucat.
Arkana mulai membuka matanya perlahan, dia melirik Jingga dengan tatapan yang sayu. Dengan susah payah dia meraih wajah Jingga, dengan cepat Jingga meraih tangan Arkana dan menggenggamnya lembut.
" Ini beneran kamu kan.?"
" Iya mas, ini aku. "
" Aku nggak lagi mimpi kan.? "
" Kamu nggak mimpi, ini aku Jingga. "
Arkana merasa senang mendengarnya, dia kembali menutup mata akibat efek obat yang mulai bekerja di tubuhnya.
**
Perlahan namun pasti Arkana mulai membuka matanya, dia tidak lagi merasa pusing seperti kemarin. Dan tubuhnya terasa lebih bugar kembali, dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi.
" Gawat, aku telat. " Ucap Arkana yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.
" Mas, kamu mau kemana.? " Suara Jingga berhasil membuatnya terkejut, dia merasa seperti sedang bermimpi melihat Jingga berdiri di hadapannya saat ini.
" Kamu mau kemana aku tanya.? " Ulang Jingga menatapnya penasaran.
" Ke klinik. " Jawabnya lirih.
" Jangan dulu, semalam kamu demam tinggi. Kamu pokoknya harus istirahat dulu, ayo kembali ke tempat tidur. " Titah Jingga sambil mendudukkan Arkana ke tempat tidurnya lagi.
" Tapi aku udah nggak apa-apa. " Jawabnya pelan.
" Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya istirahat, aku lagi masak sup jamur kesukaan kamu jadi tunggu sampai supnya jadi. " Kata Jingga sontak membuat Arkana terkejut.
" Kamu ingat makanan kesukaan aku.?" Tanya Arkana.
" Aku telpon mama kamu, katanya kamu suka sama sup jamur. "
" Aku kira kamu ingat sesuatu sekarang. "
Jingga terdiam menatap Arkana yang tampak memelas, dia merasa bersalah karena belum mengingat apapun. Tapi satu yang pasti, kali ini Jingga tidak menolak berada di dekat Arkana.
" Bantu aku. " Sahut Jingga.
" Apa katamu.? "
" Bantu aku mengingat semuanya. "
__ADS_1