Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Penuh Emosi )


__ADS_3


Sudah tiga hari mama Widya tidak kembali ke rumah sakit, Arkana di rawat secara khusus oleh seorang perawat atas suruhan Hendra. Tidak ada kabar apapun tentang keberadaan mama Widya saat ini, bahkan Hendra juga sudah menghubungi orang tuanya namun mereka juga tidak tahu kabar tentang mama Widya.


Arkana sudah menangis sejadi-jadinya di tempat tidur, hari ini dia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Mengetahui mamanya tidak kembali dan tanpa adanya kabar jelas membuat Arkana semakin sedih.


“ Kamu tenang dulu ya, om janji sama kamu akan bawa mama kamu kembali kesini.” Ucap Hendra berusaha menenangkan Arkana.


“ Aku kangen sama mamaku.” Isak Arkana tak bisa diam.


Pintu baru saja terbuka dan sosok mama Widya pun muncul, tanpa mengucapkan apapun pada Hendra dia langsung ingin membawa Arkana pergi dari rumah sakit.


“ Kita mau kemana ma.?” Tanya Arkana.


“ Kamu diam, ikut mama aja.” Balas Mama Widya ketus.


Mama Widya sudah tahu kalau Arkana boleh pulang hari ini, keberadaan Hendra di ruangan itu seakan tidak di anggap oleh mama Widya.


“ Biaya rumah sakit tidak perlu kau pikirkan, semua sudah lunas.” Sahut Hendra.


“ Terima kasih, tapi aku akan mengganti biayanya segera.” Balas mama Widya kemudian.


“ Tunggu, kalian mau pergi kemana? Arkana bilang kalau kalian sudah tidak tinggal di rumah bu Dina lagi.” Lontar Hendra.


“ Bukan urusanmu.” Jawab mama Widya dan akhirnya pergi dari ruangan itu.


**


Arkana menatap sebuah rumah kecil di depannya saat ini, ternyata mama Widya sudah menemukan rumah untuk mereka tinggal. Meskipun hanya ada satu ruangan yang menghubungkan dapur dan kamar mandi sekaligus, akan tetapi membuat Arkana merasa senang karena mereka sudah memiliki tempat tinggal.


Seperti biasa, Arkana akan selalu melihat mamanya yang merenung sendirian dengan ekspresi yang begitu sedih. Arkana tidak bisa melihatnya terus seperti itu, di usianya yang masih muda saat ini dia tidak bisa melakukan hal yang banyak untuk mamanya.

__ADS_1


“ Ma, jangan sedih.” Ucap Arkana sambil memeluk mamanya.


Meksipun tak mendapat pelukan balik dari mama Widya, nampaknya tak membuat Arkana merasa beckecil hati. Selama mama Widya tidak menyuruhnya pergi dari hadapannya, dia akan tetap memeluk dan memberikan semangat kepada mamanya.


“ Sudah waktunya mama kerja, kamu disini dan jangan kemana-mana.” Lontar mama Widya beranjak dari tempatnya.


“ Mama kerja dimana.?” Tanya Arkana.


“ Bukan urusan kamu.” Balas Mama Widya ketus.


**


Sudah malam dan mama Widya belum kembali dari yang katanya pergi kerja, bahkan Arkana tidak tahu mamanya memiliki pekerjaan seperti apa. Saat ini Arkana sudah menahan lapar sejak kepulangannya dari rumah sakit, dia tidak menemukan makanan apapun di rumah itu sehingga dia hanya dapat menunggu mamanya pulang.


Sekitar pukul 10:00 malam akhirnya mama Widya pulang, dia membawa beberapa makanan lezat yang katanya dari tempatnya bekerja. Kini Arkana bisa makan dengan nikmat, mamanya tidak makan dan katanya sudah makan di tempat kerja.


“ Mama kerja apa dan dimana.?” Tanya Arkana ketika dia sedang asyik menikmati makannanya.


Setelah kenyang, Arkana pun memutuskan untuk tidur. Dia memeluk bantal kesayangannya dan mulai memejamkan mata, sementara itu mama Widya tampak masih duduk di tempatnya tanpa bergerak sama sekali sejak tadi.


Begitu jatuh ke dalam tidurnya, tiba-tiba saja Arkana merasa sesak yang membuatnya perlahan membuka kedua matanya. Dia kaget saat melihat mama Widya sudah ada di hadapannya dan mencekik lehernya dengan sangat kuat.


“ Memang lebih baik kalau kamu itu mati saja.” Ucap mama Widya sontak membuat Arkana menitihkan air mata.


Arkana berusaha melepaskan cekikan mamanya, namun sayang kekuatan mama Widya jauh lebih besar darinya. Saat itu mama Widya terlihat seperti bukan dirinya, dia terus berkata ingin membunuh Arkana dan menyalahkannya atas apa yang telah terjadi kepadanya.


Tangan mama Widya akhirnya terlepas dari leher Arkana, dan kini Arkana terlihat terkulai lemas dengan sedikit kesadaran yang masih menguasainya. Mama Widya terlihat menangis sesegukan, Arkana tak bisa menahan diri lagi hingga akhirnya dia jatuh pingsan.


**


Arkana terbangun dalam keadaan sakit di sekujur tubuhnya, dia kemudian menemukan lengan dan kakinya yang membiru entah karena apa. Kemudian dia ingat semalam mamanya berusaha ingin membunuhnya, dia pun menangis karena takut sambil memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Pintu kamar mandi baru saja terbuka, dia melihat sosok mama Widya yang keluar dengan tatapan tak suka padanya. Arkana tidak mau melontarkan apapun selain duduk di tempatnya dalam diam.


“ Hari ini mama akan pergi kerja dan pulang malam seperti kemarin, kamu harus ingat untuk tidak kemana-mana.” Kata mama Widya penuh penegasan.


Arkana kemudian memastikan mamanya pergi dari rumah, dia mengintip melalui jendela dengan perasaan yang berkecamuk. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah. Arkana tidak tahan bersama mama Widya yang selalu menyakitinya dan tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang anak.


Kini Arkana sudah berlari meninggalkan rumah, dia berniat akan pergi ke rumah kakek dan neneknya saja. Di usianya yang sekarang dia memang tidak bisa menemukan jalan ke rumah itu, tapi dia bisa naik taksi dan meminta supir untuk mengantarnya kesana.


“ Aku ingat alamat nenek, aku harus kesana.” Arkana berlari mencari jalan raya untuk dapat menemukan taksi.


Saat dirinya berhasil menemukan jalan, tanpa sengaja dia melihat mama Widya masih berdiri menunggu angkutan umum. Keduanya saling menatap satu sama lain hingga mama Widya sadar dan menatapnya dengan tatapan tajam.


“ Kamu.?”


Arkana pun berlari dari hadapan mama Widya, dia terus berlari secepat yang dia bisa. Di belakang sana mama Widya sudah meneriaki namanya dengan kencang, karena tak memperhatikan jalan dengan baik akhirnya Arkana jatuh dan berhasil membuat mama Widya menangkapnya.


“ Mama sudah bilang jangan keluar dari rumah?” Bisiknya dengan emosi yang di tahan.


Karena di tempat mereka saat ini begitu banyak orang, akhirnya mama Widya terpaksa harus membawa Arkana kembali ke rumah. Dan setidabnya di rumah, dia langsung melempar tubuh Arkana ke atas kasur dengan sangat kuat.


“ Kamu memang benar-benar udah buat emosi mama habis ya, sekarang bilang sama mama. Kamu mau mati dengan cara apa hah.?”


“ Arkana minta maaf ma.”


“ Nggak ada maaf untuk kamu, kamu memang anak yang nggak berguna.”


Suara teriakan Arkana di pukul oleh mamanya terdengar cukup jelas sampai di luar, namun karena rumah itu berada jauh dari rumah warga lainnya sehingga tidak aka nada yang menyadari apa yang di lakukan oleh mereka di dalam sana.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2