
Wanita itu baru saja melihat seseorang yang tak asing keluar dari salah satu ruang vip, dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu sambil menatap kepergian gadis itu.
“ Ngapain dia ke ruangan ini.?” Ucap Qania penasaran.
Kemudian Qania mengetuk pintu kamar Jingga dan masuk ke dalam sana, Qania bisa melihat Jingga yang sedang melamun. Saat Qania sudah berdiri di sampingnya dia pun menjelaskan tujuannya datang kemari untuk menemaninya selama Arkana pergi.
“ Barusan ada siapa yang datang ketemu kamu.?” Tanya Qania ingin memastikannya dengan benar.
“ Mahasiswa koas bimbingan mas Arka.” Jawab Jingga.
“ Dia ngapain kemari? Dia nggak ada urusan apapun soal keadaan kamu, kenapa dia datang kemari.?”
Jingga mulai menatap Qania dengan tatapan yang sayu, dia tidak bisa mengatakan apa yang barusan diberitahu oleh Tsania kepadanya karena menganggap itu bukanlah hal yang penting yang harus dia pikirkan.
“ Hanya menyampaikan pesan dari mas Arka.” Jawab Jingga kemudian.
“ Kamu jangan terlalu akrab sama dia, kelihatannya aja dia baik tapi aslinya licik.”
“ Kok kamu bisa bilang begitu? Memangnya apa yang sudah Tsania lakukan sama kamu.?”
Qania menutup mulutnya karena merasa salah bicara, dia kemudian meluruskan ucapannya kepada Jingga dengan mengatakan bahwa Tsania masih terlalu polos sehingga dia mungkin akan mengatakan sesuatu yang dapat membuat kesehatan Jingga terganggu nantinya.
“ Kok aku jadi kepikiran apa yang di katakan Tsania barusan setelah melihat sikap Qania yang seperti ini.” benak Jingga menunduk diam.
“ Btw gimana keadaan kamu? Kalau ada sesuatu yang aneh cepat kasih tahu aku ya.”
“ Untuk sekarang aku baik-baik aja, jangan khawatir.”
Qania meraih perut Jingga dan mengusapnya dengan lembut sambil berkata.
“ Dia anak yang hebat, di saat seperti ini dia bisa bertahan dengan baik. Ku harap kamu dan anakmu akan baik-baik saja saat persalinan tiba.” Ucap Qania lirih.
Tak lama setelah itu Arkana pun kembali dengan membawa semua pesanan Jingga, melihat Qania masih berada di ruangan itu lantas membuat Arkana mengucapkan terima kasihnya karena sudah menjaga Jingga selama dia pergi.
__ADS_1
Saat itu fokus Jingga tertuju pada mereka berdua, dulu saat dia melihat Arkana dan Qania bersama seperti itu dia tidak pernah merasakan perasaan yang aneh. Tapi entah mengapa dia merasa terganggu, tidak seharusnya dia merasakan seperti itu pada saat ini.
“ Aku pulang dulu kalau begitu, suamiku udah nunggu di ruangannya.” Seru Qania pada Jingga dan Arkana.
“ Kamu kenapa? kok kelihatan murung begitu.?” Tegur Arkana yang menyadari perubahan wajah Jingga.
“ Aku mau pudingnya sekarang.“ Pinta Jingga untuk segera menghiraukan apa yang mengganggunya saat ini.
**
Pria itu baru saja memperbaiki posisi tidurnya dan sadar bahwa tidak ada sipapun di sampingnya, dia mulai membuka kedua matanya dan benar saja dia tidak melihat istrinya disana. Padahal sebelumnya mereka sudah tidur bersama, tapi sekarang entah kemana dia pergi.
Jam sudah menunjukkan pukul 3:00 pagi, Aizen yang penasaran dengan keberadaan Qania pun segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya mencari sosok istrinya itu.
Aizen sudah keluar dari kamarnya dan melihat satu ruangan di hadapannya dengan pintu yang terbuka sedikit, kemudian dia melangkah masuk ke dalam dan mendapati Qania yang sedang tertidur di meja kerjanya.
Melihat Qania yang ternyata mempelajari tentang penyakit Jingga membuat Aizen merasa bangga padanya, sejak Jingga masuk rumah sakit hal itu sudah sering di lakukan oleh Qania.
Perlahan namun pasti Aizen mengangkat tubuh Qania dan memindahkannya ke kamar, beruntung Qania tidak sadar kalau dirinya di pindahkan oleh Aizen.
“ Tidur yang nyenyak di tempat ini.” Kata Aizen sambil memperbaiki posisi selimut untuk Qania.
Masih ada waktu untuk kembali tidur, keduanya memang harus ke rumah sakit pagi ini dan Aizen ingin tidur sedikit lebih lama di samping istrinya.
**
Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol dengan sangat asiik. Saat dia membuka kedua matanya dengan sempurna, tampak di depannya ada Arkana dan Qania yang sedang mengobrol berdua.
Obrolan mereka memang hanya membahas seputar kesehatan Jingga, tapi entah mengapa hal itu justru mengganggu Jingga. Dia sampai bangun dari tidurnya dan menegur keduanya seperti biasa.
“ Kamu udah bangun? Mau makan apa? Biar aku pesenin sekarang.” Sahut Arkana yang langsung menghampiri Jingga dan membantunya bersandar pada kepala tempat tidur.
__ADS_1
“ Aku cuma mau makan bubur ayam langganan aku mas.” Jawabnya pelan.
“ Bubur ayam langganan kamu ada dimana.?”
“ Di jalan Sudirman dekat SMA aku dulu.”
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu berhasil membuat semuanya menoleh, terlihat Bima yang muncul dengan senyum yang merekah. Dia menunjukkan kantung plastik yang berisikan bubur ayam seperti yang di inginkan oleh Jingga barusan.
“ Mau apalagi kamu kemari? Bukannya kemarin sudah cukup menengoknya.?” Sahut Arkana dengan nada yang tidak bersahabat.
“ Kemarin aku belum selesai menengok adik iparku karena kamu mengusirku, jadi sekarang aku datang untuk menengoknya lagi.” Balas Bima santai.
Qania terlihat bingung dengan situasi kali ini, dia tidak mengerti kenapa Arkana sangat ingin menyingkirkan Bima dari ruangan ini. Tapi karena Jingga mengizinkannya untuk tetap berada disana, alhasil Bima tetap boleh berada di ruangan itu.
“ Kebetulan aku ada urusan di dekat sini, jadi sekalian aja aku mampir dan bawa bubur buat kamu.” Ucap Bima yang segera menyiapkannya untuk dapat di makan oleh Jingga.
“ Kamu jangan makan itu, biar aku ke tempat langganan kamu beli buburnya.” Lontar Arkana mencegah semuanya dengan kesal.
“ Tapi ini bubur yang aku maksud barusan mas, dari tempat dan aromanya sama persis. Btw, mas Bima beli dimana.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Aku asal pesan online aja sih, kebetulan bubur ayamnya banyak yang rating bintang lima, jadi aku pesan disitu aja deh.” Jawabnya kemudian.
“ Kamu nggak usah beli mas, ini aja udah cukup.” Kata Jingga pelan.
“ Aku ke ruanganku dulu kalau begitu, kalian boleh lanjut mengobrol.” Sahut Qania yang merasa kehadirannya tidak di butuhkan di sana.
Arkana masih memperhatikan Jingga yang menikmati buburnya dengan pelan-pelan, kemudian saat Arkana menoleh ternyata Bima juga sedang memperhatikannya.
“ Ikut aku.” Ajak Arkana menarik tangan Bima keluar dari ruangan itu.
Jingga yang sejak tadi menahan perasaan canggungnya dengan situasi yang di buat Arkana dan Bima terpaksa menghentikan sarapannya, entah mengapa dia jadi tidak tertarik untuk menyantapnya lagi.
Di samping itu Jingga di buat kembali termenung dengan bubur ayam yang di beli Bima hari ini, kenangan bersama Nawa kembali terlintas dimana yang mengenalkannya dengan bubur ayam itu adalah Nawa.
__ADS_1
“ Kebetulan yang aneh.” Gumam Jingga dengan ekspresi sendu.