
Arkana menggebrak meja kerjanya setelah mendengar percakapan Qania dan Tsania lewat telepon, rupanya hasilnya tetap sama dimana Qania tidak menunjukkan respon apapun dengan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.
“ Halo dok, masih disana.?” Suara Tsania membuat Arkana tersadar kalau ternyata panggilan tersebut masih terhubung.
“ Kamu nggak seharusnya bersikap seperti itu ke Qania.” Balas Arkana.
“ Justru dengan begitu kita bisa tahu respon dari dia dok, saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Dan saya minta maaf kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang dokter harapkan.”
“ Ini bukan salah kamu, sebaiknya kita akhiri saja semua kebohongan ini. Saya nggak mau ada masalah yang terjadi nantinya, anggap semua kedekatan kita kemarin tidak berarti apapun.”
Panggilan di akhiri oleh Arkana secara sepihak, dia sudah tidak lagi memikirkan tentang cara untuk membuat Qania mengakui perasaannya. Semua sudah jelas, dan mungkin ini adalah waktunya untuk move on.
**
Pada akhirnya Jingga kembali datang ke rumah sakit setelah mendapat panggilan dari dokter Nala, dia datang sendirian menggunakan taksi dari rumah. Sebelumnya dia sudah memberitahu Arkana kalau dirinya akan datang ke rumah sakit, dia juga tidak berharap kalau Arkana akan datang menemaninya nanti.
Saat hendak menunggu lift terbuka, tanpa sengaja Jingga mendengar ada dua orang yang sedang membahas tentang suaminya. Melihat penampilan mereka sudah membuat Jingga tahu kalau mereka adalah mahasiswa koas.
“ Semalam Tsania posting sesuatu di instagramnya, dan kalau aku lihat dia sedang berada di ruangan dokter Arkana. kamu lihat nggak.?” Tanya seorang gadis berambut ikal.
“ Nggak, aku belum pernah lihat Tsania posting apapun.” Jawab pria di sebelahnya.
“ Masa sih? Bentar ya aku lihat story intagramnya masih ada atau belum.”
Pintu lift pun baru saja terbuka, Jingga dan kedua mahasiswa itu masuk ke dalam secara bergantian. Jingga berdiri sedikit menjauh dari mereka, namun lirikannya terus tertuju pada mereka berdua.
“ Lihat, dia pakai cincin yang katanya dari pacar dia. Setahuku Tsania nggak punya pacar, dan kenapa dia posting ini di ruangannya dokter Arkana.?”
“ Kok di aku nggak ada? Apa jangan-jangan dia mengecualikan aku dari storynya.?”
“ Hmm, mungkin aja. Tapi kenapa di hide dari kamu? Aneh banget ya.”
Mereka kemudian sadar kalau Jingga sedang mendengarkan, akhirnya mereka diam sampai pintu lift terbuka. Keduanya cukup kaget melihat Jingga yang juga keluar di lantai yang sama dengan mereka.
__ADS_1
“ Dia nggak kenal sama dokter Arkana kan? Duh mulutku ini nggak bisa di kontrol barusan.”
“ Semoga aja nggak, kalau dia sampai kenal bisa gawat.”
Jingga menghentikan langkahnya sebentar dan menoleh ke arah mereka pergi, ekspresi bingung Jingga terlihat jelas saat itu. Namun dia mencoba untuk mengabaikannya dan segera pergi ke ruangan dokter Nala.
**
“ Bagaimana hasilnya dok.?” Tanya Jingga setelah dia selesai melakukan pemeriksaan kandungannya.
“ Seperti yang dokter Qania katakan, efek obat itu tidak baik untuk kesehatan si janin jika terus menerus di konsumsi. Tapi melihat hasilnya yang cukup baik, kamu nggak perlu lanjut minum obatnya. Semoga sampai hari lahiran tiba semuanya akan baik-baik saja.” Jelas dokter Nala.
“ Terima kasih ya dok, saya janji akan lebih menjaga diri ke depannya.” Ungkap Jingga.
“ Oh iya Jingga, waktu itu kenapa kamu nggak datang? Arkana sampai datang kemari loh, dia pikir kamu datang periksa.”
“ Ada urusan dok, maaf kalau sebelumnya saya nggak bilang apa-apa.”
“ it’s okey, tapi lain kali kalau sudah waktunya untuk periksa tolong jangan di skip lagi ya.”
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, kini tiba saatnya Jingga untuk pulang. Ketika dia keluar dari ruangan dokter Nala, tiba-tiba saja dia mendapat panggilan dari Arkana yang menyuruhnya untuk ke ruangannya sekarang.
**
Setibanya di ruangan Arkana, Jingga yang baru saja mengetuk pintu langsung mendengar suara Arkana yang menyuruhnya untuk membuka pintu. Ketika pintu di buka, Jingga bisa melihat ada tiga mahasiswa koas yang duduk di sana.
Tatapan Jingga tertuju pada dua dari mereka yang di temuinya di lift barusan, dan gadis yang satunya lagi tidak di kenal oleh Jingga. Kemudian Arkana beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jingga, dia bahkan merangkul pinggang Jingga sekarang.
“ Kenalin, dia istri saya. Dan Jingga, mereka adalah mahasiswa koas yang aku bombing selama dua tahun ke depan.” Ucap Arkana.
“ Kenalin kak, saya Wulan.” Ucap gadis itu terlihat tak berani menatap wajah Jingga.
“ Saya Gabriel.” Begitu pun dengannya.
Hanya satu yang terlihat penuh percaya diri, dia bahkan berdiri dari tempatnya dan menghampiri Jingga dengan senyuman.
__ADS_1
“ Akhirnya bisa ketemu langsung sama kak Jingga, kenalin saya Tsania.” Ucapnya sambil menyodorkan tangan kepada Jingga.
Jingga terdiam sejenak dan mengingat nama itu dengan sangat jelas, Jingga melirik Wulan dan Gabriel sebentar sebelum akhirnya menatap Tsania dengan tatapan sayu.
“ Senang berkenalan dengan kalian semua.” Balas Jingga menerima jabatan tangan dari Tsania.
Jingga melirik cincin yang tersemat di jari manis Tsania saat itu, kemudian dia melirik Arkana yang saat ini membuatnya cukup penasaran dengan apa yang terjadi. Jingga tidak mungkin menanyakannya pada Wulan dan Gabriel sekarang, dan setelah di pikir-pikir dia memilih untuk tidak peduli.
“ Kamu kenapa mas panggil aku kemari.?” Tanya Jingga melirik Arkana.
“ Karena kamu kebetulan ada disini aku mau kita pulang bareng dan sekalian aku kenalin kamu sama mereka, “ Jelas Arkana membuat Jingga paham kalau ini adalah bagian dari pencitraan dia saja.
“ Oke, kalian sudah boleh pergi. Saya mau ngobrol sama istri saya.” Sahut Arkana pada mereka bertiga.
Satu persatu dari mereka beranjak dari sofa, saat itu Jingga dan Tsania sempat saling menatap satu sama lain. Jingga tidak membalas senyuman dari Tsania, sementara itu Tsani terlihat begitu senang setelah keluar dari ruangan itu.
**
Dalam perjalanan pulang ke rumah, baik Jingga dan Arkana tidak banyak bicara sama sekali. Jingga masih sama seperti kemarin, bahkan saat ini Arkana merasa kalau dirinya sedang bersama sebuah manekin berjalan.
“ Mau sampai kapan sih kamu diam kaya gini?” Tegur Arkana.
“ Ya terus kamu mau aku kaya gimana mas?” Balas Jingga tanpa melirik Arkana sama sekali.
“ Ngomong kek atau minta sesuatu kek.”
“ Aku nggak mau apa-apa.”
“ Katanya kamu mau jadi istri yang baik, tapi kenapa justru kaya begini.?” Protes Arkana lagi.
“ Aku nggak ngerti sama pola pikir kamu mas, dalam beberapa bulan lagi kita akan berpisah kan? Bukannya lebih baik kalau selama ini kita urus diri kita masing-masing aja.?”
“ Oh jadi kamu mau kaya gitu? Kamu mau hidup sendirian.?”
“ Udah mas, aku nggak mau debat.”
__ADS_1
Melihat Jingga yang terlihat sedikit lemas membuat Arkana tidak melanjutkan kata-katanya lagi, dia cukup kesal dengan Jingga saat ini tapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak menyakitinya seperti dulu.