
Untuk membantu Jingga mengingat kembali kenangan yang telah di buatnya bersama, Arkana mengajak Jingga pergi ke suatu tempat hanya mereka berdua. Tentu saja Keenan di titipkannya pada bi Yuli, dan untungnya Keenan sangat penurut dan seolah mengerti dengan keadaan orang tuanya.
Selepas Arkana kembali sehat seperti sebelumnya, dia tidak menunda waktu lagi untuk membawa Jingga menikmati waktu berdua. Beberapa momen yang dulu dia buat bersama Jingga kembali dia lakukan, tak lupa dirinya menunjukkan foto serta video yang menjadi bukti bahwa mereka pernah ke tempat itu.
Mulai dari restoran, taman hiburan, toko aksesoris, street food, dan yang terakhir adalah laut. Jingga yang dulu sangat sering ke pantai menikmati waktu senja tentu merasa tidak asing dengan tempat yang di datanginya bersama Arkana sekarang.
Tepat di waktu sore dimana langit menampakkan warna keemasan yang sangat indah, apalagi jika di saksikan di pantai dengan seseorang yang senantiasa akan memberikan kebahagiaan untuknya.
“ Kamu mengingat sesuatu sekarang.?” Tanya Arkana yang berdiri di belakang Jingga.
“ Aku tidak mengingatnya, tapi perasaan ini tidak asing. Perasaan saat dimana aku menyaksikan senja, aku merasa seperti sering melakukannya.” Balas Jingga tanpa mengalihkan pandangannya pada pantulan cahaya matahari terbenam di laut.
“ Kamu harus tahu, dulu kita sering ke pantai buat lihat matahari terbenam. Kamu paling suka dengan suasana kaya gini, aku pun jadi ikut menyukainya.” Sahut Arkana.
Jingga menjatuhkan tubuhnya di atas pasir putih itu, kemudian dia menepuk tempat kosong di sampingnya untuk mengajak Arkana duduk di sebelahnya.
Arkana bergerak mengikuti arahan Jingga dengan cepat, sekarang mereka berdua duduk bersebalahan sambil menyaksikan matahari terbenam. Tak ada percakapan lain setelah itu, keduanya hanya diam dan membiarkan angin pantai menerpa wajah mereka.
“ Aku mulai percaya kalau kamu bukan mas Arka yang aku kenal dulu.” Gumam Jingga sontak membuat Arkana langsung menoleh menatapnya.
“ Jadi maksud kamu, kamu nggak perlu mengingat semuanya lagi?” Tanya Arkana lirih.
“ Mau bagaimana lagi, kalau memang ingatanku masih bisa kembali, mungkin akan sangat baik. Tapi aku nggak bisa terus menerus seperti ini, sekarang aku percaya sama kamu. Dan kita punya Keenan, aku nggak mau dia tumbuh tanpa peran kita berdua.”
“ Aku boleh peluk kamu nggak.?” Tanya Arkana penuh harap.
“ Boleh mas.” Jawab Jingga yang mulai membentangkan kedua tangannya lebih dulu.
Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya dengan penuh kebahagiaan, akhirnya dia bisa memeluk Jingga lagi setelah sekian lama. Perasaan bahagia yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata lagi saat ini, Arkana bahkan sampai menolak untuk melepasnya dengan cepat.
“ Sampai kapan kamu mau peluk aku mas.?”
“ Sampai aku bosan.”
“ Kamu masih bisa peluk aku lagi kok, jangan khawatir.”
Barulah Arkana melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jingga dengan tatapan penuh cinta.
“ Aku akan kasih kamu kenangan yang nggak akan pernah kamu lupa mulai hari ini, aku janji akan buat kamu terus bahagia.” Kata Arkana sungguh-sungguh.
“ Iya mas, aku tunggu.” Jawab Jingga tersenyum senang.
__ADS_1
**
Di bawah bulan dan bintang yang tak pernah jemu-jemu berpendar. Dua manusia dimabuk cinta berjalan beriringan, saling menautkan kedua tangan mereka.
Berada di pantai sampai malam tampaknya bukan pilihan yang buruk, Arkana memberikan jaketnya kepada Jingga agar wanita itu tidak kedinginan.
Keduanya berjalan menyusuri bibir pantai dan membiarkan telapak kaki mereka basah karena deburan ombak yang menyapu dengan sangat lembutnya.
“ Mas.”
“ Hmm.?”
“ Terima kasih ya.”
“ Terima kasih untuk apa? Seharusnya aku yang terima kasih karena kamu sudah mau membuka hatimu untukku lagi.”
Keduanya berhenti di tempat mereka, Jingga melangkah maju dan memutar tubuhnya menghadap Arkana. Dengan tatapan setulus mungkin dan senyuman yang selalu membuat jiwa Arkana bergetar setiap melihatnya.
“ Mulai hari ini kita mulai kehidupan baruku sebagai istri kamu, aku janji nggak akan buat kamu kerepotan lagi seperti kemarin. Kamu mau kan.?” Ujar Jingga terlihat serius.
“ Aku mau.” Jawab Arkana yang tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya lagi. Dia masih belum cukup untuk mengungkapkan perasaannya di hadapan Jingga.
Sekali lagi Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya cukup lama, dan kemudian berakhir dengan ciuman hangat yang di selimuti suasana tenang untuk pasangan yang akhirnya kembali di satukan oleh takdir.
**
Jingga melirik ke samping dimana sudah tidak ada Arkana disana, semalam mereka sudah memutuskan untuk tidur di satu kamar yang sama lagi. Namun apa yang membuat Arkana tidak ada ketika dia bangun pagi ini.
Jingga pun turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, hanya beberapa menit sampai pada akhirnya dia keluar dengan penampilan sederhananya. Saat Jingga membuka pintu kamar dan berjalan keluar, dia bisa mendengar suara tawa Keenan yang ternyata sedang bersama Arkana di ruang makan.
Ternyata Arkana memang sengaja tidak membangunkan Jingga agar dia bisa tidur lebih lama, sementara itu Arkana lah yang mengurus segala keperluan Keenan untuk sekolah.
“ Mama.” Seru Keenan di sambut senyum merekah dari Jingga.
“ Selamat pagi, kayaknya ada yang sarapan dan nggak ngajak mama nih.” Seloroh Jingga yang kemudian mendapat kecupan mesra dari Arkana di keningnya.
“ Tidur kamu pulas banget waktu aku bangun duluan, karena nggak tega makanya aku biarin kamu tidur aja.” Balas Arkana.
Pagi itu Jingga dan Arkana serta Keenan menikmati sarapan pagi mereka bersama seperti sebelum Jingga mengalami amnesia, sekarang sudah terdengar tawa dari keluarga kecil mereka yang sebelumnya hanya ada rasa sunyi dan sepi.
“ Nanti sore aku pulang lebih awal, aku mau bawa kamu ke dokter Steve. Kita periksa keadaan kamu, aku hanya nggak mau terjadi sesuatu sama kamu ke depannya.” Ujar Arkana.
“ Iya mas, habis jemput Keenan sekolah, aku tunggu kamu di butik aja ya.” Balas Jingga.
__ADS_1
“ Oke, kalau begitu ayo kita berangkat sekolah nak.” Ajak Arkana pada Keenan.
Sebelum meninggalkan rumah, Keenan mencium pipi Jingga sebanyak dua kali. Dia juga memberikan pelukan hangat kepada sang ibu, dan setelah itu Arkana lah yang memberikan pelukan dan ciuman lembut kepada istri tercintanya itu.
**
Sudah waktunya menjemput Keenan di sekolah, Jingga datang ke sekolah Keenan menggunakan taksi online karena dia masih belum di perbolehkan oleh Arkana untuk menggunakan mobilnya.
Setibanya di sekolah, Jingga bertemu dengan Mike yang juga datang untuk menjemput anak-anaknya. Mike sendiri memiliki dua anak kembar perempuan yang sangat cantik, Jingga belum sempat bertemu dengan mereka sebelumnya.
Hari ini Jingga bertemu dengan keduanya, mereka sangat cantik dan kata Mike mereka mirip dengan mendiang ibunya. Keenan juga berteman baik dengan keduanya di kelas, sehingga ketika kelas benar-benar berakhir mereka berkumpul bersama dan saling mengobrol sejenak.
“ Nama kalian siapa sayang.?” Tanya Jingga.
“ Yang rambutnya sedikit bergelombang Lily, dan yang lurus Daisy.” Jawab Mike karena kedua putrinya masih malu-malu dengan Jingga.
“ Nama yang cantik, sama seperti kalian.” Ujar Jingga tersenyum manis di hadapan mereka berdua.
Masih ada banyak waktu sebelum jadwal periksa ke rumah sakit, Jingga berpikir ingin pergi bersama Mike dan anak-anak ke taman bermain. Hal ini dapat membantu Daisy dan Lily agar bisa lebih akrab dengannya dan Keenan.
Mike pun membawa mereka semua dengan mobilnya, dan sepanjang perjalanan hanya suara anak-anak yang terdengar begitu antusias. Keenan pun terlihat bersemangat dengan dua teman perempuannya itu, Jingga sampai gemas sendiri melihatnya.
Setibanya di taman bermain, Jingga dan Mike duduk di atas sebuah bangku panjang sementara anak-anak mereka sibuk bermain dengan beberapa permainan yang di sediakan disana.
Mereka tidak khawatir dengan keselamatan anak-anak sebab taman bermain di Singapura sudah di lengkapi pengaman yang baik, seperti perosotan yang tidak begitu curam, kotak pasir yang di lindungi oleh karet, dan ayunan yang bisa di mainkan dengan bebas tanpa pengawasan ketat para orang tua.
“ Katamu Daisy dan Lily sudah di tinggal oleh ibunya sejak mereka di lahirkan, pasti berat menjadi orang tua tunggal sendirian.?” Lirik Jingga pada Mike.
“ Ada ibuku yang selalu membantu kalau aku sibuk di kantor, tapi bagaimana pun juga aku merasa sangat kerepotan jika harus mengurus mereka sendiri.” Jawab Mike.
“ Lalu kenapa kamu tidak menikah lagi.?”
“ Tidak semudah itu, kalau aku ingin menikah, wanita yang ku nikahi harus menerima kedua putriku dulu. Kalau dia sudah menyayangi mereka, maka aku pasti akan menikahinya. Tapi masalahnya sampai saat ini, belum ada wanita yang bisa menerima mereka berdua.”
“ Mereka pasti sangat membutuhkan sosok ibu.”
“ Tentu saja, aku merasa bersalah setiap memikirkan hal ini.”
“ Kamu sudah hebat melakukannya, aku hanya bisa berharap kamu segera menemukan wanita yang kamu mau.”
“ Terima kasih ya Jingga, semenjak mengenalmu aku merasa jauh lebih terbuka. Sebelumnya aku tidak pernah menceritakan masalah keluargaku pada siapapun, dan mengobrol denganmu rasanya sangat seru.”
“ Sama-sama, kapan-kapan aku akan memperkenalkan kamu dengan suamiku. Kalian bisa berbagi pengalaman membesarkan anak nantinya, pasti bakalan seru.”
__ADS_1
“ Boleh, kapan-kapan ajak aku bertemu dengan suamimu.”