
Arkana tiba di kamar inap Jingga sambil membawa barang-barang istrinya yang dia bawa dari rumah, selain itu ada titipan makanan yang di inginkan oleh Jingga juga sebelumnya.
“ Aku udah bawain kamu makanan yang kamu mau, kamu nggak mau makan sekarang apa nanti.?” Tanya Arkana sambil meletakkan semua barang itu di atas sebuah meja.
Arkana menoleh melirik Jingga yang saat ini sedang membelakanginya, dia tahu sebelumnya Jingga tidak tidur tapi apa yang membuatnya tidak bergeming ketika dirinya sudah tiba di kamar itu.
“ Sayang, kamu nggak dengar aku.?” Tegur Arkana sambil menghampirinya dan mulai duduk di sebelah Jingga.
Arkana menyentuh lengan Jingga sangat lembut kemudian menggerakkannya secara perlahan, namun tetap saja tidak ada respon dari Jingga yang akhirnya membuat Arkana khwatir.
“ Hey, kamu kenapa nggak mau lihat aku.?” Tanya Arkana bingung.
Arkana kemudian turun dari tempat tidur dan pergi ke sisi dimana Jingga sedang menghadap, saat itu Jingga langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tak ingin membiarkan Arkana melihat wajahnya yang sembab karena habis menangis.
“ Kamu kenapa? ayo cerita sama aku? Kalau ada yang sakit bilang, jangan kaya gini.” Tegur Arkana berusaha menarik tangan Jingga agar dia bisa melihat wajah istrinya itu dengan jelas.
Jingga kembali menangis di buatnya, Arkana semakin kebingungan melihat sikap Jingga saat ini. Padahal dia hanya pergi selama satu jam lebih, tapi Jingga sudah seperti ini tanpa mengatakan apa-apa.
“ Aku ada salah ya sama kamu? Kalau aku salah, aku minta maaf. Tolong kamu jangan nangis kaya gini, hatiku sakit lihat kamu nangis.” Ucap Arkana sambil membelai lembut rambut Jingga.
“ Kamu kenapa nggak cerita ke aku sih mas? Kamu dapat masalah di rumah sakit tapi kamu nggak cerita ke aku, aku istri kamu atau bukan sih? Kamu nggak percaya sama aku lagi ya? Aku tahu aku lagi sakit, dan kamu nggak mau buat aku kepikiran, tapi setelah tahu semua ini dari orang lain justru itu lebih sakit.” Ucap Jingga yang mulai membuka kedua tangannya dan kini mereka berdua sudah dapat melihat wajah mereka satu sama lain.
“ Siapa yang kasih tahu kamu?” Tanya Arkana dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
“ Mama Widya, dia yang kasih tahu aku semuanya tentang masalah kamu. Tentang Tsania, Qania, dan Nisa. Aku satu-satunya yang nggak tahu apa-apa, aku merasa nggak kamu anggap mas.”
“ Jingga, dengarkan aku.” Arkana meraih wajah Jingga dan menatapnya lekat.
__ADS_1
“ Aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Bukan berarti aku nggak kasih tahu kamu artinya kamu nggak penting, justru kamu yang terpenting saat ini. Apapun yang mama bilang tolong jangan terlalu mempercayainya, aku bahkan nggak yakin kalau mama mengatakan semua ini karena dia peduli sama kamu.”
“ Maksud kamu mas.?”
“ Aku nggak bisa bilang ke Jingga tentang tujuan mama menikahkan kami berdua? Dia pasti akan lebih syok dari ini.” Benak Arkana mencoba memikirkan sesuatu.
“ Kamu cukup percaya sama aku ya, dan semua masalah kemarin sudah teratasi dengan baik. Sekarang kita fokus pada kesehatanmu saja, jangan memikirkan hal yang tidak perlu lagi, oke.?”
Jingga mencoba untuk mengerti meskipun dia masih terus memikirkannya, di saat Arkana sedang mengalami kesulitan dia berharap bisa menemani dan membantunya. Namun apa daya, semua sudah terjadi dan benar apa kata Arkana untuk sebaiknya fokus dengan kesehatannya saja kali ini.
**
Arkana dan Jingga sedang asyik mengobrol berdua setelah mereka memutuskan untuk melupakan masalah kemarin, saat ini Jingga merasakan tendangan yang cukup kuat dari bayinya. Dia dan Arkana sama-sama menyentuh perut Jingga untuk merasakan tendangan tersebut.
“ Kamu nggak kesakitan di tendang begitu dari dalam.?” Tanya Arkana polos.
“ Lumayan sih, tapi seru. Aku suka kalau dia mulai aktif di dalam sana, itu artinya dia sangat sehat.” Jawab Jingga.
“ Kamu mau kalau anak kita jadi pemain bola.?”
“ Aku nggak akan menuntut apapun, dia bebas memilih apa yang dia sukai nantinya. Kita sebagai orang tua hanya perlu memantau, jika itu baik maka kita harus menerimanya, tapi jika buruk kita harus menegurnya.”
“ Suamiku hebat ya, sekarang sudah berubah menjadi orang yang bijak.”
“ Semua ini kan karena kamu, aku berubah karena kamu, dan aku janji akan terus menjadi lebih baik lagi untuk kamu dan anak kita.”
“ Kalau gitu kamu mau dong beliin aku es krim.” Gumam Jingga dengan memasang ekspresi gemas di hadapan Arkana.
“ Kamu mau makan es krim malam-malam? Nggak baik buat kesehatan kamu.” Balas Arkana merasa tidak terima dengan permintaan Jingga.
__ADS_1
“ Tapi ini keinginan anak kita, tadi katanya mau jadi suami dan papa yang baik.?”
“ Iya..iya, tapi sedikit aja ya jangan banyak-banyak.”
“ Horeee. Yang rasa choco mint ya.”
“ Iya, kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana.”
**
Arkana keluar membeli es krim di sebuah toko yang terdapat di seberang rumah sakit, hanya membutuhkan waktu lima menit untuknya membeli es krim pesanan Jingga, dan sekarang dia sudah berada di rumah sakit lagi.
Langkah Arkana yang tadinya cepat seketika melambat ketika dia melihat ada beberapa perawat yang keluar masuk dari kamar Jingga, karena penasaran dia pun berlari menuju kamar Jingga dengan perasaan yang mulai kacau.
“ Ada apa ini.?” Tanya Arkana pada beberapa perawat yang ada di dalam.
“ Istri dokter mengalami serangan jantung.” Jawab salah satu perawat sukses membuat Arkana terkejut, es krim yang ada di tangannya jatuh ke lantai dan mendadak membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
“ Bawa Defibrillator sekarang.” Ucap dokter Zakir yang memimpin pemeriksaan Jingga saat ini.
Seorang perawat bergegas menarik benda yang memberikan kejutan listrik ke jantung, benda itu di gunakan untuk mengatasi irama jantung abnormal seperti yang di alami Jingga saat ini.
“ Padahal tadi bai-baik saja, kenapa bisa jadi begini? Apa yang akan terjadi padanya?” Ada begitu banyak pertanyaan di kepala Arkana yang membuatnya tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
“ 150 joule.”
Dokter Zakir menyentuhkan dua benda yang berada di tangannya ke dada Jingga untuk memberikan kejutan pada jantungnya, sementara itu beberapa perawat sibuk memantau monitor yang memperlihatkan irama jantung Jingga yang berdetak tidak stabil.
Kondisi Jingga semakin kritis, kesadarannya perlahan menghilang. Dokter terus melakukan kejutan sampai membuat irama jantungnya kembali normal, saat itu Arkana di suruh keluar oleh perawat meskipun dia seorang dokter sekalipun.
__ADS_1
Arkana masih sangat syok, dia menerima perintah perawat ketika dia diminta untuk keluar dari ruangan itu. Rasa takut dan khawatir bercampur menjadi satu, bahkan untuk saat ini Arkana tidak bisa berpikir dengan normal