
Arkana melapaskan jas dan sepatunya setelah dia masuk ke dalam kamar, hipnoterapi hari ini berjalan lebih mulus dari sebelumnya. Dia berhasil bertemu dengan dirinya lagi dan sempat mengajaknya bicara, meski begitu sosok kecil dalam dirinya masih belum merespon apapun dan Gilang berkata bahwa dia masih perlu berusaha lebih untuk menyembuhkan dirinya.
“ Lelahnya.” Ucap Arkana sambil menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Nama Nawa terus terngiang di pikiran Arkana saat ini, dia tidak bisa menyingkirkan pikiran itu sejak tadi. Sehingga dia menjadi sangat penasaran seperti apa sosok Nawa yang telah berhasil membuat Jingga jatuh cinta dengannya.
Arkana kemudian beranjak dari tempat tidur, sekarang dia sudah berjalan menuju kamar Jingga. Pintu baru saja terbuka, Arkana melangkah masuk ke dalam kamar itu dan melihat sekitarnya dengan perasaan sedih.
“ Biasanya kalau aku buka kamar ini pasti ada kamu disini, sekarang kamar ini jadih lebih dingin semenjak kamu nggak ada.”
Arkana kemudian mencari sesuatu di kamar itu, dia yakin kalau Jingga pasti menyimpan setidaknya satu foto dia dan Nawa. Karena rasa penasarannya semakin tinggi, dia tidak ingin menyerah sampai berhasil menemukannya.
Di dalam sebuah lemari dia menemukan kotak berukuran sedang yang membuatnya segera mengeluarkan benda itu dari sana, sekarang Arkana duduk di atas tempat tidur dan memberanikan diri untuk membuka kotak tersebut.
“ Apa-apaan ini? kenapa nggak ada satu pun foto di dalamnya.?” Arkana hanya menemukan tumpukan surat di dalam kotak tersebut.
Melihat ada nama Nawa di setiap kop surat yang ada di dalam kotak itu lantas membuatnya semakin pensaran, dan setelah di cek ternyata semua isi surat itu adalah pengakuan Nawa kepada Jingga.
“ Cih, buat apa melakukan hal norak seperti ini.” Arkana tidak peduli dan mengembalikan kotak itu ke dalam lemari Jingga.
Dia masih belum menyerah, beberapa tempat lain di kamar itu dia selidiki sampai dia menemukan sesuatu. Dan setelah mencari-cari akhirnya dia berhasil menemukan sebuah album foto yang di simpan Jingga di dalam laci meja.
Arkana membuka album foto itu dan menemukan beberapa foto Jingga ketika masih bayi hingga sampai sekarang, semuanya terlihat menggemaskan dan sangat cantik.
Dari semua foto dia belum menemukan foto seorang pria disana, sampai di halaman terakhir barulah Arkana menemukan foto Jingga dan teman-temannya. Ada Diana dan Gilang di beberapa foto itu, dan ada beberapa foto pria yang berfoto bersama Jingga dan terlihat cukup dekat.
__ADS_1
“ Jadi ini yang namanya Nawa? pria culun seperti ini tentu saja akan sulit mendapatkan perasaan Jingga. Ngapain juga aku cemburu dengan orang yang sudah meninggal.” Gerutu Arkana mencoba untuk tetap santai.
Ketika Arkana hendak menutup album tersebut, dia menemukan satu foto yang terjatuh ke lantai. Arkana memungutnya dan mencoba melihat foto itu, kedua mata Arkana membulat dengan sempurna saat melihat foto itu.
“ Kenapa Jingga bisa berfoto bersama dia.?”
**
Sore itu Jingga dan mama Widya sedang asyik menikmati teh hangat dan cemilan yang di sediakan bi Ijah, keduanya duduk santai di halaman belakang rumah sambil mengobrol santai.
“ Kamu kapan mau periksa kandungan kamu lagi? Sebentar lagi sudah masuk usia enam bulan kan, nggak terasa ya.” Ucap mama Widya sambil menyentuh perut Jingga.
“ Minggu depan ma, kata dokter Nala dia menyarankan pas usianya sudah masuk enam bulan.” Jawab Jingga.
“ Mama nggak sabar melihat cucu pertama mama, mengetahui dia adalah bayi perempuan benar-benar buat mama antusias, kamu tahu sendiri kan mama hanya punya anak laki-laki.”
“ Kak Bima apa kabar ma? Aku belum sempat ketemu sama dia waktu itu.” Sahut Jingga.
“ Masa sih? Mama kira kamu sudah pernah ketemu, tapi nggak apa-apa bulan depan dia pulang kok. Urusan di pertambangan berjalan lancar semenjak di pegang Bima, dan sudah waktunya dia pulang untuk liburan.”
“ Kak Bima belum menikah ma.?”
“ Semenjak Bima kembali ke mama, dia belum menceritakan masalah pribadinya. Mungkin nanti kalau dia pulang, mama juga nggak sabar lihat dia segera menikah.”
Bagai pucuk di cinta ulam pun tiba, ponsel mama Widya baru saja berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Dan setelah di lihat ternyata yang menelpon saat ini adalah Bima.
“ Kebetulan banget, mama sama menantu mama sedang bahas kamu. Ada apa Bim.?”
“ Aku mau kasih tahu kalau lusa aku sudah balik ke Jakarta ma.”
__ADS_1
“ Loh kok cepat banget? Bukannya bulan depan.?”
“ Iya mah, soalnya aku mau ketemu sama calon istriku. Aku mau bawa dia ketemu sama mama.”
Jingga melihat ekspresi senang dari wajah mama Widya saat Bima mengatakan dia akan membawa calon istrinya kepada mamanya, dari yang Jingga lihat sekarang jelas bahwa mama Widya memang lebih peduli pada putra pertamanya dari putra bungsunya.
“ Tapi kenapa harus berbeda si ma? Karena mama mas Arka menderita cukup banyak sampai sekarang.” Benak Jingga sambil menyeruput tehnya.
“ Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya. Mama tunggu kedatangan kamu sama calon istri kamu itu.” Seru mama Widya.
Panggilan pun berakhir, dan sekali lagi mama Widya terlihat begitu kegirangan. Dia bahkan akan membuat acara penyambutan untuk Bima nanti, Jingga pun hanya bisa menganggukan kepalanya setiap kali mama Widya membanggakan Bima di depannya.
**
Jingga baru saja keluar dari kamarnya, hari ini dia ingin keluar menemui Diana. Dia bosan berada di rumah terus menerus, tidak ada yang bisa di ajaknya untuk mengobrol sehingga pergi keluar adalah keputusan yang tepat saat ini.
Jingga memilih dress bermotif bunga dengan cardigan polos berwarna dusty yang sangat cocok untuk dressnya, sebelum pergi dia melihat dirinya di depan cermin sambil menyentuh perutanya.
“ Kamu kok nggak pernah nendang perut mama lagi? Waktu itu kamu aktif banget saat papa kamu minta maaf sama mama.”
Waktu itu saat pertama kali Jingga merasakan tendangan dari bayinya, dia langsung menghubungi dokter Nala. Dia di beritahu dokter Nala kalau saat bayi menendang artinya dia sedang ikut mendengarkan apa yang di bahas oleh orang tua mereka, dan Jingga bepikir kalau bayinya merespon percakapan waktu itu.
“ Yuk nak, kita pergi jalan-jalan sama tante Diana.” Jingga pun menarik tasnya dan bergegas keluar dari kamar.
Jingga berjalan sampai dapur untuk mencari bi Ijah, dia ingin menitip pesan pada wanita itu jika nanti ada yang mencarinya. Jingga sudah mencari kemana-mana tapi tidak berhasil menemukan bi Ijah, dan saat dia mendekati ruang keluarga, terlihat ada sosok pria yang membelakanginya saat itu.
“ Maaf, kamu siapa ya.?” Tanya Jingga pada pria itu.
Ketika pria itu berbalik melihat Jingga, sontak Jingga langsung terkejut sampai menjatuhkan tasnya ke lantai. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, dan air matanya pun jatuh melihat pria yang berdiri di hadapannya tanpa mengucapkan apa-apa.
__ADS_1