
Diana melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati mengingat Jingga sahabatnya sedang hamil besar saat ini, setelah menjemput Jingga di kediaman mertuanya terlihat Jingga yang banyak melamun. Dia bahkan mengabaikan ucapan Diana saat ini, sampai Diana meliriknya heran dan mulai berpikiran yang tidak-tidak.
“ Jingga.” Panggil Diana sontak membuat Jingga tersadar dan meliriknya dengan cepat.
“ Hmm, ada apa.?” Tanya Jingga dengan ekspresi polosnya.
“ Kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus, suami brengsek kamu berulah lagi ya.?” Tebak Diana.
“ Nggak kok, ini bukan karena mas Arka.”
“ Lalu karena apa.?”
“ Bukan apa-apa, kita langsung ke kafe biasa aja ya.” Jingga tak ingin memberitahu Diana tentang apa yang hari ini dia lihat.
Beberapa saat yang lalu..
Jingga masih tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, dia sampai mengira bahwa sekarang dia sedang bermimpi. Sosok Nawa berdiri di hadapannya dan terlihat begitu nyata, dia sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
“ Ini mimpi kan.?” Jingga mencoba memukul wajahnya sekali dan dia merasa sakit yang artinya itu bukan mimpi.
Jingga mendekati pria yang berdiri di depannya dan mulai meraih wajah pria itu, Jingga mengamati setiap sudut wajah tampan itu dengan penuh teliti.
“ Ini kamu kan? Katakan kalau ini kamu kan Nawa? kamu masih hidup kan.?” Jingga masih tidak percaya dengan apa yang di saksikannya secara langsung.
Pria yang begitu mirip dengan Nawa sedang berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan, anehnya setiap Jingga mengatakan sesuatu tampak pria itu diam dan hanya memperhatikannya bingung.
Saat itu Jingga tidak bisa menahan emosinya, dia memeluk pria itu dan menangis tersedu-sedu.
“ Aku senang kalau kamu masih hidup, tapi kemana kamu selama ini? siapa yang di makamkan waktu itu? jelaskan sama aku.” Isak Jingga.
Pria itu melepaskan pelukannya, dia menyentuh memegang kedua lengan Jingga dan menatapnya lurus.
“ Kamu siapa.?” Tanya pria itu seketika membuat Jingga terkejut.
“ Den Bima.” Suara bi Ijah kembali membuat Jingga semakin terkejut.
__ADS_1
Pria yang berdiri di hadapannya ternyata adalah Bima yang merupakan putra pertama mama Widya, Jingga tidak tahu kalau ternyata Bima memiliki wajah yang sama persis dengan Nawa mantannya.
“ Tunggu, jadi kamu bukan Nawa.?” Tanya Jingga.
“ Namaku Bima, aku nggak tahu siapa yang kamu sebut Nawa barusan.” Jawab Bima lirih.
“ Iya non, dia ini putranya nyonya Widya, kakaknya den Arka.” Jelas bi Ijah.
“ Den Bima memangnya belum pernah lihat non Jingga? Dia ini adek iparnya aden. “ Sambung bi Ijah.
“ Oh jadi kamu istrinya Arkana. Aku kaget soalnya kok kamu ada di rumah mama. Dan juga aku belum pernah lihat kamu sebelumnya, makanya aku nggak kenal.”
“ Jadi dia bukan Nawa? Tapi kenapa wajah dan suaranya begitu mirip dengan Nawa.?” Benak Jingga merasa sangat kacau sekarang.
“ Non Jingga kenapa nangis? Ada yang sakit badannya.?” Tanya bi Ijah khawatir.
“ Mau aku antar ke rumah sakit.?” Tawar Bima.
“ Nggak, aku baik-baik aja. Maaf tadi aku sudah bersikap kurang sopan, aku pikir mas Bima itu adalah kenalanku. Ternyata aku salah, sekali lagi aku minta maaf.” Ucap Jingga tak berani menatap wajah Bima lagi.
**
Pikiran Jingga sedang tidak baik-baik saja saat ini, dia terus memikirkan Bima yang sangat mirip dengan Nawa. Barusan dia mendapat pesan dari mama Widya kalau Bima akan tinggal di rumah itu selama beberapa bulan, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti setelah apa yang telah dia lakukan pada Bima.
Diana masih penasaran dengan Jingga yang terus terlihat aneh sejak tadi, biasanya Jingga akan bersemangat untuk menikmati makanan kesukaannya, tapi tadi dia bahkan tidak menghabiskannya seperti biasa.
“ Jingga lihat aku. Kalau ada sesuatu kamu harus bilang sama aku, jangan di pendam.” Ucap Diana menarik wajah Jingga untuk mereka bisa saling menatap satu sama lain.
“ Kamu mungkin nggak akan percaya dengan apa yang ku katakan.” Jingga menunduk bingung sekarang.
“ Aku akan percaya sama kamu, apapun yang orang bilang tentang kamu, aku akan selalu percaya sama sahabatku sendiri.” Diana kembali memberikan kepercayaan diri Jingga untuk mengatakannya.
“ Aku melihat Nawa hari ini.” Jawab Jingga tak membuat Diana berkutik sama sekali.
“ Sepertinya kita harus menemui Gilang, ini nggak bisa di biarkan. Aku nggak mau kamu sampai gila karena suami brengsek itu, kamu sudah berhalusinasi sekarang dan itu cukup berbahaya.” Ujar Diana.
“ Aku serius Diana, aku habis lihat Nawa hari ini. Tapi dia bukan Nawa yang dulu ku kenal, dia adalah Bima kakaknya Arkana.” Jelas Jingga dengan wajah penuh serius.
__ADS_1
“ Maksud kamu apa ? aku nggak ngerti, bisa tolong jelasin lagi.” Pinta Diana.
**
Arkana baru saja keluar dari ruangannya saat dia mendapati para perawat sedang membahas sesuatu, karena penasaran Arkana pun langsung bertanya pada mereka.
“ Ada apa ini? kenapa semua kelihatan sibuk.?” Tanya Arkana.
“ Direktur mengundang semua orang di rumah sakit besok malam, katanya ada pengumuman penting.” Jawab mereka.
“ Direktur? Pengumuman?” Arkana tidak tahu sama sekali soal itu.
“ Dokter pura-pura nggak tahu ya.” Ledek mereka.
Arkana hanya tertawa kecil menutupi ketidaktahuannya itu agar mereka tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, untuk memastikannya dengan jelas dia pun ke atas menemui papa Hendra dan mungkin mama Widya juga sedang berada di ruangannya hari ini.
Arkana sudah berada di ruang direktur, namun di dalam hanya ada papa Hendra. Dia mencari keberadaan mamanya, tapi papa Hendra menjawab bahwa mamanya sudah pulang lebih dulu hari ini.
“ Undangan apa yang mama buat? Pengumuman apa yang akan di sampaikan pada semua orang.?” Tanya Arkana pada papa Hendra.
“ Memangnya mamamu tidak bilang apa-apa.?”
“ Mama bahkan tidak pernah menghubungiku lagi semenjak Jingga bersama kalian.”
“ Besok mamamu akan memperkenalkan Bima di semua rekan kerja perusahaan kita, termasuk orang-orang di rumah sakit.” Jawab papa Hendra kemudian.
“ Memperkenalkan Bima? Memangnya dia sudah kembali.?” Arkana terlihat terkejut mendengarnya.
“ Mamamu pulang lebih awal karena dia sudah kembali, papa nggak tahu kalau kamu belum di kasih tahu soal ini.”
“ Jingga, dia nggak boleh sampai ketemu sama pria itu.” Arkana memutar tubuhnya meninggalkan ruangan papa Hendra dengan tergesa-gesa.
Langkah Arkana begitu cepat sampai dia berhasil tiba di ruangannya, dia melepaskan atribut rumah sakit dan menarik kunci mobilnya dengan cepat. Dia bahkan tidak memperdulikan sapaan seseorang yang berpapasan di dekatnya, yang terpenting saat ini adalah dia bisa tiba di rumah mama Widya dengan cepat dan membawa Jingga pergi dari sana.
“ Tunggu aku, kamu nggak boleh sampai ketemu sama dia.”
__ADS_1