Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Jangan Di Pendam


__ADS_3


Tengah malam ketika Arkana sedang tertidur pulas, dia di bangunkan oleh suara rintihan seseorang di sampingnya. Arkana membuka kedua matanya dan melihat Jingga yang kembali mengalami sesak, tanpa menunggu waktu lama Arkana langsung menarik selang oksigen dan memasangnya dengan benar.


Tak lupa Arkana menekan bel darurat untuk perawat datang ke ruangan itu, dia bisa melakukan pemasangan oksigen namun tidak bisa mendiagnosa apa yang terjadi pada Jingga.


“ Kamu tenang ya, tetap tarik nafas perlahan lalu hembuskan.” Ucap Arkana mengarahkan Jingga.


Dua orang perawat baru saja masuk, kemudian Arkana menyuruh mereka untuk memanggil dokter yang menangani Jingga. Dan karena malam itu hanya ada Qania yang lembur, maka dia yang akan datang memeriksa keadaan Jingga.


Tak lama berselang Qania pun datang ke ruangan itu, dia langsung mengambil alih memeriksa keadaan Jingga. Arkana kembali gemetar hebat, dia tidak bisa membantu Qania dengan keadaannya saat ini.


Arkana merasa semua yang ada di sekitarnya berhenti berputar, dia tidak bisa mendengarkan apa yang di katakan Qania pada dua mahasiswa koas yang datang bersamanya barusan.


“ Arkana.”


“ Arkana.?”


“ Hey, sadarlah.” Qania berhasil membuat Arkana tersadar, dan saat kesadarannya kembali dengan sempurna dia sudah melihat Jingga yang tidak mengalami sesak lagi.


“ Bagaimana kondisinya? Apa yang terjadi kali ini.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Aku sudah pernah bilang sebelumnya ke kamu, jangan biarin Jingga terlalu banyak berpikir. Biarkan pikirannya tetap tenang, aku yakin dia lagi banyak pikiran sampai gejalanya kembali timbul seperti barusan.” Jelas Qania.


“ Aku nggak tahu apa yang dia pikirkan, tapi hari ini dia bertanya tentang luka di wajahku. Aku nggak mau dia tahu kalau aku sama Bima sempat berkelahi.”


“ Ya ampun, seharusnya kamu lebih jujur ke dia. Biarin dia tahu apa masalah kamu, justru karena kamu merahasiakannya mungkin buat dia kepikiran.”


“ Aku akan kasih tahu ke dia nanti, aku menyesal.”


“ Kamu juga perlu istirahat, kondisimu yang sekarang nggak bisa buat jaga Jingga. Yang ada nanti kamu yang jatuh sakit.” Lanjut Qania merasa khawatir.


“ Aku nggak mau Nia, aku mau tetap disini menjaganya.”


“ Kamu boleh pulang ke rumahmu nanti pagi, biar aku yang jaga Jingga. Jam 8:00 nanti tugasku sudah selesai dan aku bisa menggantikan kamu menjaganya.”


**


Sayup-sayup Jingga mendengar suara seseorang sedang berdiskusi membahas sesuatu, begitu kesadarannya kembali dengan sempurna dia pun bisa melihat di hadannya ada Qania yang sedang berbicara dengan seorang perawat.

__ADS_1


“ Kamu sudah sadar.?” Sahut Qania yang menyadari Jingga sudah bangun dari tidurnya.


“ Saya permisi dok.” Kata perawat itu di balas anggukan pelan Qania.


Qania kemudian menghampiri Jingga dan mengecek keadaannya sekali lagi, tidak ada tanda-tanda seperti semalam dan itu artinya kondisinya sudah kembali membaik.


“ Mas Arka mana.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Arka pulang ke rumah, dia kelihatan capek banget. Aku kasihan sama dia kalau nanti dia ikut jatuh sakit karena jagain kamu.” Jawab Qania.


Jingga hanya mengangguk pelan sambil menatap perutnya dengan sayu, Qania menyadari ekspresi wajah Jingga yang terlihat tidak senang. Lantas dia mengajak Jingga untuk mengobrol seputar keluhannya.


“ Kalau ada apa-apa kamu bisa bilang sama aku. Jangan buat diri kamu memendam semuanya, itu nggak baik buat kesehatan kamu sekarang.” Ucap Qania sambil menatap wajah Jingga.


“ Apa yang harus aku bilang? aku nggak mau bilang kalau aku cemburu kamu dekat sama mas Arka, aku mau percaya sama kamu Qania.” Benak Jingga hanya bisa menahannya dalam hati.


“ Kita udah sahabatan kan? Kamu masih ragu ya cerita sama aku.?” Tanya Qania lagi.


“ Bukan itu, aku Cuma nggak ada sesuatu yang harus di bahas kok.” Jawab Jingga lirih.


“ Baiklah, kalau kamu memang nggak mau membahasnya nggak apa-apa. Mungkin Diana bisa membantu, barusan aku telpon dia untuk datang kemari.”


“ Aku tinggalkan kalian berdua dulu, kamu bisa mengobrol dengan Diana sampai aku kembali.” Qania pun beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tidak puas.


“ Semoga kamu mau menceritakan semuanya ke Diana.” Benak Qania dengan penuh harap.


**


Pria itu baru saja meletakkan secangkir teh hangat untuk istrinya, sejak tadi Aizen hanya mendengar helaan nafas panjang Qania tanpa ada sepatah kata pun yang di ucapkan oleh wanita itu sejak dia datang ke ruangannya.


“ Kamu nggak pulang istirahat.?” Tanya Aizen memulai percakapan.


“ Aku nunggu seseorang dulu.” Jawabnya pelan.


“ Siapa.?”


“ Diana, dia lagi ngobrol sama Jingga. Aku nggak tahu kenapa kayaknya ada sesuatu yang di sembunyiin Jingga dan dia nggak mau kasih tahu ke aku.”


“ Kamu udah makan? Mau aku pesan makanan kesukaan kamu.?” Tawar Aizen kemudian.

__ADS_1


“ Nanti aja pas aku mau pulang, kalau kamu gimana? Udah sarapan? “


“ Udah, tadi aku buat nasi goreng sebelum ke rumah sakit.”


“ Maafin aku ya, karena aku lembur jadi nggak ada yang mengurus kamu.”


“ Jangan ngomong gitu, aku ngerti kok dengan kondisi kita sekarang.”


Dering ponsel Qania baru saja berbunyi, dia melihat nama Diana disana dan langsung menjawabnya dengan cepat. Sebelumnya Qania sudah minta tolong pada Diana untuk mencaritahu semuanya dari Jingga, dan tentunya hal ini tidak di ketahui oleh Jingga sama sekali.


“ Gimana? Dia mau cerita sama kamu.?”


“ Kamu dimana? Aku tunggu di kafe dekat rumah sakit kita bahas disana. Aku penasaran sama cewek yang namanya Tsania itu.”


**


Sekarang Qania sudah ada di kafe tempatnya bertemu dengan Diana. Keduanya memilih duduk di tempat yang sepi agar tidak banyak yang mendengar obrolan mereka.


“ Jingga sama siapa sekarang.?” Tanya Qania penasaran.


“ Suaminya udah datang, aku langsung pergi saat itu juga.” Jawab Diana.


“ Jadi apa yang dia bahas? Kenapa kamu menyebutkan nama Tsania barusan.”


“ Jingga bilang kalau di rumah sakit ini ada mahasiswa koas yang namanya Tsania, dia sering lihat postingan-postingan cewek itu kalau dia dekat dengan suaminya. Tapi tiba-tiba saja si Tsania ini datang ke kamar Jingga dan kasih tahu ke dia kalau kamu sama Arkana kembali dekat? Memangnya iya? Kalian balikan.?”


“ Aku balikan sama Arkana? Gila kali ya, aku udah punya suami.” Qania terlihat begitu jengkel mendengarnya.


“ Jadi Tsania yang ngefitnah aku dekat sama Arkana lagi? Ini benar-benar kelewatan, kamu harus tahu kalau sebenarnya Tsania itu suka sama Arkana. Aku nggak bisa bilang apa-apa lagi, intinya dia cewek paling playing victim yang pernah aku kenal.”


“ Dia mahasiswa koas kan? Bukannya mudah buat dia berhenti melakukan semua ini, aku memang nggak suka sama Arkana. Tapi aku juga nggak mau lihat Jingga sedih karena masalah ini.”


“ Dia memang mahasiswa koas, tapi entah mengapa dia bisa melakukan semuanya dengan santai. Seperti ada seseorang yang bekerja bersamanya, tapi sebelum itu aku nggak mau tinggal diam. Enak saja dia fitnah aku di depan Jingga yang sedang sakit seperti itu.”


“ Kamu jangan kasih tahu Jingga dulu soal ini, dia bilang sama aku kalau dia nggak mau kamu tahu dia berpikir seperti itu ke kamu.”


“ Tenang saja, aku nggak akan bilang apapun ke Jingga.”


__ADS_1


__ADS_2