Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Selesai


__ADS_3


Widya dan Bima mendapat panggilan dari pengacara Arkana untuk menemui Jingga dan Arkana agar segera menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Jika mereka menolak maka masalah ini akan melibatkan kepolisian dan akan membuat masalahnya semakin rumit.


Kedua tersangka sudah datang di tempat pertemuan, Jingga dan Arkana duduk saling bersebelahan sambil menggenggam tangan masing-masing. Terlihat Widya ditemani oleh pengacaranya begitu pun dengan Bima.


Masing-masing pengacara mewakili setiap klien untuk bicara sebelumnya, dan sekarang tiba waktunya Widya yang menyampaikan suaranya kepada korban di hadapannya.


Namun sayangnya Widya tidak angkat bicara barang satu kata pun, sedangkan Bima telah menyampaikan permintaan maafnya kepada Jingga dan juga Arkana dan berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi.


Sampai di akhir pun mama Widya tetap diam dan enggan melihat wajah mereka berdua, bahkan ketika mediasi keluarga itu berakhir dia adalah orang pertama yang meninggalkan tempat itu.


Kini semuanya telah selesai, jika Widya dan Bima kembali melakukan perbuatan mereka maka kasus ini benar-benar akan di selesaikan di jalur hukum. Jingga terlihat gemetar sesaat, entah mengapa dia sangat takut pada mama Widya hari ini.


“ Nggak apa-apa, semuanya sudah selesai.” Ucap Arkana pelan.


“ Terima kasih mas.” Jawab Jingga tersenyum manis.


Bima melihat bagaimana Jingga tersenyum di depan Arkana dengan sangat tulus, senyuman itu yang dulu sering dia lihat kini bukan untuknya lagi. Bima tersenyum simpul sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


**


Keenan masih belum menerima Jingga sampai saat ini, setiap Jingga menyentuhnya saat itu juga Keenan akan menangis histeris. Hanya Arkana yang mampu membuatnya tenang dan berhenti menangis setiap Keenan di sentuh oleh Jingga.


Mereka sudah berkonsultasi pada dokter Stella tentang keadaan keenan yang sekarang, namun beliau hanya menyarankan untuk Jingga tidak terlalu terbawa perasaan. Hal itu sering terjadi pada hampir sebagian ibu di seluruh dunia, metode pendekatan yang paling ampuh adalah terus memberikan aroma tubuh Jingga agar dapat di kenali oleh Keenan seiring berjalannya waktu.


“ Keenan udah tidur mas.?” Tanya Jingga ketika Arkana sudah kembali dari kamar anak mereka.


“ Sudah, sekarang dia lebih cepat tidur dari biasanya.” Balas Arkana yang sekarang sudah mendarat tepat di samping Jingga.


“ Kamu pasti capek ya jagain Keenan hampir seharian ini.?” Tanya Jingga sambil membelai rambut suaminya.


“ Aku nggak pernah capek jagain Keenan, apalagi mamanya.” Lirik Arkana dengan tatapan menggoda.


“ Kamu kenapa lihat-lihat aku begitu.?”

__ADS_1


“ Kita udah pisah hampir sebulan, kamu nggak kangen sama aku.?”


“ Aku kangen kok.”


Arkana kembali memberikan tatapan yang membuat Jingga merinding, Arkana kemudian duduk dan meraih wajah Jingga hingga mendekatkan hidung mereka satu sama lain.


“ Aku ngerti kok, aku Cuma bercanda. Kamu masih dalam masa nifas, aku bisa sabar sampai waktu itu tiba.” Kata Arkana yang membuat Jingga sampai tertawa kecil di buatnya.


“ Dasar mesum.”


“ Kok mesum? Aku kan suami kamu.”


“ Aku mau tidur.” Jingga mendorong Arkana pelan dan mulai membaringkan tubuhnya.


Arkana ikut berbaring dan memberikan pelukan belakang untuk Jingga, posisi itu benar-benar membuat Jingga nyaman dan merasa bahwa tidurnya akan sangat nyenyak.


“ Selamat tidur istriku.” Bisik Arkana.


**


Hari itu Arkana mengundang keluarga dan kerabat dekatnya, dia juga mengundang papa Aidan dan keluarganya, papa Hendra, Diana, Qania dan Diana. Dia juga sudah mengundang mama Widya dan Bima, tapi sudah dapat di pastikan bahwa mereka tidak akan hadir di pertemuan tersebut.


Arkana menyewa sebuah restoran mewah untuk menyambut tamu undangannya hari itu. Jingga dan Arkana sudah siap untuk pergi, mereka mengenakan pakaian formal untuk sekian lamanya, dan Keenan yang sekarang sudah siap mengenakan jump suit bayi yang terlihat begitu menggemaskan.


Jingga sangat ingin menggendongnya, tapi sayang Keenan masih menangis saat dia menyentuhnya. Alhasil Keenan di gendong oleh bi Inah, kedua pembantu di rumah pun ikut di undang oleh Arkana karena bagi Arkana mereka sudah sangat berjasa selama ini.


Setibanya di restoran, rupanya disana sudah ada Diana dan Qania. Mereka sangat bersemangat untuk bertemu Jingga, dan saat mereka bertiga saling melihat satu sama lain. Sama seperti gadis-gadis remaja lainnya yang bertemu dengan teman-teman mereka, heboh dan berisik.


“ Kita udah kangen banget sama kamu.” Ucap Qania antusias.


“ Aku juga kangen banget sama kalian.” Balas Jingga.


“ Suami kamu mana Nia.?” Tanya Arkana.


“ Mas Aizen sibuk, dia nggak bisa datang.” Balas Qania.

__ADS_1


Qania dan Diana gemas melihat Keenan yang sedang berada di gendongan bi Inah, kemudian mereka gantian menggendong Keenan. Jingga yang melihatnya merasa cemburu, bagaimana mungkin wanita lain nyaman bersama Keenan sedangkan dia yang menjadi ibu kandungnya tidak.


“ Kalian jangan buat istriku cemburu.” Sahut Arkana pada Dianda dan Qania.


“ Maksud kamu.?”


“ Keenan belum mau di gendong sama Jingga, melihat Keenan nyaman dengan kalian buat Jingga sedih.” Balas Arkana.


“ Maaf, kita nggak tahu.” Lontar Qania langsung mengembalikan Keenan ke bi Inah.


“ Santai aja, aku memang sedikit cemburu tapi aku juga senang karena Keenan di kelilingi orang-orang yang baik sama dia.” Balas Jingga tersenyum senang.


Tak lama setelah itu keluarga papa Aidan pun datang, karena Jingga belum mengenal mereka maka Arkana terlebih dulu memperkenalkan mereka kepada Jingga.


“ Dia mantan suami mama, dan ini istrinya dan anak pertama mereka, kamu nggak asing lagi kan sama dia.” Ucap Arkana yang membuat tatapan Jingga fokus pada Zara.


“ Kak Zara? “


“ Nanti aja, kamu bisa ngobrol sama dia kalau kamu mau.” Bisik Arkana pada Jingga.


“ Dan ini Revan, anak kedua mereka.”


“ Hai kak Jingga, aku Revan.”


Jingga membalas jabatan tangan dari Revan dengan senyuman, kemudian mereka semua masuk ke dalam sedangkan tatapan Jingga terus tertuju kepada Zara.


Dan yang terakhir adalah papa Hendra, beliau menyempatkan hadir di tengah kesibukannya mengurus perceraian dan juga perpindahannya ke Bali. Semua demi Arkana dan tentunya Jingga yang sudah lama ingin dia lihat lagi.


“ Papa senang akhirnya kamu kembali, mulai sekarang kalian berdua jangan pernah berpisah lagi ya.” Kata papa Hendra.


“ Semoga pa, dan untuk papa juga sehat terus ya.” Balas Jingga.


“ Tentu saja nak.”


Acara makan malam bersama pun di mulai, semua orang terlihat menikmati makanan yang di sediakan. Dan untuk permasalahan Jingga kemarin, baik Arkana dan Jingga sepakat untuk tidak mengungkitnya lagi, sekarang hanya perlu fokus untuk apa yang terjadi di masa depan.

__ADS_1



__ADS_2