
Arkana termenung di dalam kamarnya sambil menatap langit-langit kamarnya, dia terus memikirkan Jingga sampai membuat kepalanya sakit. Dia tidak pernah merasa frustasi berat seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika dia putus dengan Qania pun rasanya tidak seperti sekarang.
Kemudian Arkana menarik ponselnya sambil melihat profil whatsapp Jingga, sudah beberapa hari ini profil itu tidak menunjukkan foto Jingga. Itu menandakan bahwa Arkana sudah di block oleh Jingga, nama Jingga tertulis di sana dengan lengkap dimana sebelumnya dia tidak menyimpan nomor itu di dalam daftar kontaknya.
“ Bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau nomorku di block seperti ini.?”
Kemarin setelah pulang dari rumah sakit, Arkana sempat mampir ke rumah mama Widya untuk sekali lagi melihat Jingga. Namun sayangnya dia tidak di perbolehkan masuk ke dalam, Arkana hanya boleh berada diluar pagar karena satpam di rumah itu sudah di perintahkan oleh mama Widya untuk tidak membiarkan Arkana sampai masuk ke dalam.
Sudah hampir dua minggu Arkana hidup sendirian di rumah itu, bi Inah dan bi Salma sudah tidak bekerja di rumah itu lagi karena Arkana sudah tidak membutuhkan mereka lagi.
“ Menyebalkan.” Keluhnya sambil membuang ponselnya ke atas tempat tidur.
Arkana memiringkan tubuhnya dan menatap tempat kosong di sampingnya, dia tiba-tiba membayangkan ada Jingga yang sedang berbaring disana.
“ Sekarang aku sadar kalau ternyata aku sudah mulai mencintaimu, bodohnya aku selama ini yang memperlakukan kamu tidak baik. Kamu memang wanita yang sangat baik, bersamamu rasanya sangat menyenangkan. Tolong pulang, aku kesepian disini.” Ucap Arkana pada bayangan Jingga yang dia pikirkan sendiri.
**
Jingga bangun dari tidurnya setelah dia merasa sesak di dada, perasaan itu kembali hadir setelah beberapa saat tidak pernah dia rasakan. Sekarang sudah larut dan dia tidak bisa menelpon Qania untuk menanyakan keadaannya saat ini.
Besok Qania sudah kembali bertugas di rumah sakit, dia telah kembali dari liburan bulan madunya bersama Aizen. Mungkin besok Jingga akan ke rumah sakit untuk memeriksanya, tapi bagaimana caranya dia bisa pergi tanpa memberitahu mama Widya tentang tujuan aslinya.
“ Sudah hampir dua minggu aku tidak keluar dari rumah ini, rasanya bosan juga terus berada di kamar sepanjang hari. Ini bahkan lebih membosankan dari pada tinggal bersama Arkana.” Gumam Jingga.
Jingga kemudian kepikiran dengan Diana, dia bisa membuat Diana datang menjemputnya dan dia juga bisa beralasan pergi shopping dengan Diana kepada mama Widya. Semoga besok mama Widya percaya dan memberikan izin kepadanya.
Jingga ingin kembali istirahat tapi dia tidak bisa menutup matanya, alhasil dia berpikir untuk ke dapur mengambil air dan beberapa buah setelah dia merasa sedikit lapar.
“ Rumah ini sangat besar dan dapurnya berada di paling belakang, semua orang pasti sudah tidur.” Benak Jingga sambil terus berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Dari kamar sampai ke dapur memerlukan waktu tiga puluh detik untuk sampai disana, dan setibanya di dapur dia pun dengan cepat mengambil apa yang ingin dia bawa ke kamarnya.
“ Non Jingga? Ngapain malam-malam di dapur.?” Bi Ijah baru saja muncul saat melihat ada cahaya di dapur.
“ Saya lapar bi, sekalian mau ambil air.” Jawab Jingga malu-malu.
“ Mau bibi buatin makanan.?” Tawar bi Ijah.
“ Nggak usah bi, saya Cuma mau makan buah aja.” Balas Jingga cepat.
“ Sini biar saya cuci buahnya non.” Bi Ijah mengambil buah-buahan di tangan Jingga dan mencucinya agar lebih higienis lagi.
“ Kalau butuh sesuatu tengah malam begini jangan sungkan bangunin pembantu, kalau nyonya tahu non Jingga turun ke dapur, beliau pasti bakal marah besar.”
“ Saya nggak enak bi, lagi pula kalau saya bisa melakukannya sendiri saya nggak butuh bantuan siapa-siapa.”
“ Kita semua di pekerjakan disini sama nyonya Widya, semua perintah apapun itu pasti akan kami kerjakan. Jadi non Jingga nggak perlu sungkan, ini buahnya sudah saya cuci dan potong kecil-kecil biar makannya mudah.”
Jingga pun beranjak menuju kamarnya kembali, saat itu dia tiba-tiba berhenti melihat sebuah pintu yang ada di sebelah kirinya. Ruangan itu sudah terkunci sejak dia tinggal disana, katanya itu adalah kamar milik Arkana yang sengaja di kunci oleh Arkana setelah dia tidak tinggal di rumah itu lagi.
“ Aku jadi penasaran seperti apa kamarnya disini.” Benak Jingga menatap pintu itu lama sebelum akhirnya kembali melangkah menuju kamarnya.
**
Keesokan harinya saat Jingga, mama Widya, dan papa Hendra sarapan bersama. Jingga meminta izin kepada mereka untuk pergi bersama Diana sahabatnya, dan siapa sangka permintaan Jingga langsung di kabulkan oleh mama Widya.
“ Kamu boleh pergi kemana pun kamu mau, asal kamu bisa menjaga diri kamu dengan baik diluar sana.” Kata mama Widya.
“ Jingga pasti bakal jaga diri baik-baik kok ma, jangan khawatir.” Balas Jingga merasa senang.
Dan setelah mendapat izin keluar, hari itu juga Diana datang menjemput Jingga. Diana sendiri baru tahu kalau ternyata Jingga sudah tidak tinggal bersama Arkana, meski begitu dia terlihat lebih senang mengetahui Jingga tak lagi bersama pria sampah itu.
“ Mertua kamu baik banget, tapi kenapa anaknya kaya iblis.?” Tanya Diana ketika dia sudah tiba di kediaman rumah mama Widya.
__ADS_1
Jingga tidak menanggapi ucapan Diana barusan, dia memang sudah memberitahu Diana tentang apa yang dia alami selama ini. Tapi dia tidak berhak memberitahu Diana tentang apa yang di alami Arkana sehingga membuatnya bersikap seperti itu.
“ Masuk dulu, kita pamit sama mama dan papa mertuaku.” Kata Jingga mengajak Diana masuk ke dalam.
Diana akhirnya bertemu dengan mama Widya dan papa Hendra, dia juga memberitahu mereka bahwa dirinya akan menjaga Jingga hari ini. Mendengar Diana yang begitu penuh perhatian pada Jingga membuat mereka bisa mempercayakannya dengan senang hati.
“ Hati-hati ya, kalau nggak enak badan langsung pulang aja.” Ucap mama Widya.
“ Iya ma, Jingga pamit dulu.”
**
“ Selamat datang kembali dok.” Seru beberapa perawat pada Qania dan Aizen yang hari ini sudah resmi kembali bekerja.
“ Sekarang kerja bareng suami ya.”
“ Asyiknya, jadi makin semanget deh kerjanya.”
Qania dan Aizen hanya bisa tersenyum malu-malu mendengar godaan mereka semua, sampai akhirnya mereka tiba di ruang check loc dan kembali di goda oleh para dokter yang ada disana.
“ Aduh penganten baru auranya beda ya sekarang, kayaknya efek bulan madu memang bisa buat pasangan suami istri kelihatan beda ya.” Sahut dokter Nala.
“ Dokter Qania kelihatan makin cantik, dokter Aizen juga makin ganteng aja.”
“ Biasa aja dok, saya sama Qania nggak pernah berubah kok tetap kaya gini-gini aja.” Kata Aizen namun kembali mendapat sorakan dari mereka semua.
Di ruangan itu ada dokter Nala, dokter Hamsah, dokter Fredy, dan dokter Arkana tentunya. Qania bingung melihat Arkana yang sejak tadi menatap layar ponselnya, dia bahkan tidak bergeming ketika semua orang sibuk membahas tentang kedatangan Qania dan Aizen.
“ Dokter Arkana kenapa.?” Tanya Qania pada dokter Nala.
“ Nggak tahu, sejak dua minggu ini dia kelihatan galau berat.” Jawab dokter Nala.
“ Kayaknya aku harus tanya ke Jingga deh.” Benak Qania.
__ADS_1