Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
By Your Side


__ADS_3


Arkana baru saja mendengar kabar dari papa Hendra tentang keadaan mama Widya yang hari itu telah selesai menemui psikiater, mendengar kabar tersebut tentu saja membuat Arkana merasa senang dan lega. Dia pun tidak menyangka kenapa mamanya dapat berubah pikiran dengan sangat cepat, apakah karena pertemuan dengan Wira kemarin yang membuat dirinya sedikit tergerak untuk berubah?


Melihat Arkana yang sedang tersenyum sendirian membuat Jingga penasaran dan langsung menghampirinya, wanita itu duduk di sebelah Arkana dan bertanya tentang keadaan Arkana saat ini.


“ Mama udah mau ke psikiater, dan dia pergi dengan papa.” Jawab Arkana.


“ Serius? Mama mau tanpa di paksa.?”


“ Iya, papa bilang mama sendiri yang menawarkan diri.”


“ Ya ampun, aku ikut senang mendengarnya mas.”


“ Apalagi aku, sampai saat ini aku masih berharap melihat mama berubah dan bersikap baik ke aku.”


Jingga langsung meraih tangan Arkana ketika pria itu memasang wajah yang sendu.


“ Kamu memang anak yang baik, aku salut sama kamu. Seburuk apapun kelakukan mama Widya selama ini, tapi kamu masih menyimpan satu ruang kosong di hati kamu untuk mama.” Sahut Jingga lirih.


“ Asal kamu tahu aja, aku nggak bisa kaya gini kalau bukan karena bantuan kamu. Aku mulai mengerti perasaan mama karena dulu aku pun hampir merasakan hal yang sama. “


“ Semoga mama segera sembuh dan semua permasalahan ini terselesaikan dengan cepat.”


Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya, dia memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya Jingga membalas pelukan itu dengan senyum yang merekah, berada di pelukan Arkana memang selalu menjadi tempat ternyaman untuknya.


**


Sudah satu minggu di lalui oleh Widya dengan berbagai macam terapi bersama salah satu psikolog terbaik, dia banyak menceritakan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya selama ini. Semua yang hampir tidak di ketahui oleh orang-orang, dan untuk pertama kalinya dia membagi cerita tersebut.


Dokter Martin merupakan salah satu teman Hendra, dan dia banyak membantu Widya selama masa pengobatannya melawan bipolar. Karena gejala bipolar tidak dapat di sembuhkan, maka pengobatannya hampir sama seperti yang di lakukan oleh Arkana dulu.


Berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diri sendiri, serta meminum obat yang di berikan oleh dokter akan mampu membuat Widya mengontrol emosinya mulai dari sekarang.

__ADS_1


Obat-obatan penahan emosi yang di berikan harus selalu di konsumsi oleh Widya selama kondisinya masih belum memungkinkan untuk berhenti minum obat. Dan Hendra menjadi salah satu sosok yang akan selalu ada di samping Widya dari dia bangun hingga terlelap.


Saat itu Widya sedang berjalan dari ruang keluarga menuju kamarnya, tapi tiba-tiba saja dia berhenti di depan sebuah kamar yang membuat hatinya ingin masuk ke dalam kamar itu.


Widya tidak bisa membuka pintu tersebut karena kamar itu terkunci dengan rapat, dia tidak tahu dimana keberadaan kunci kamar itu, dan mungkin saja kuncinya sudah tidak ada mengingat si pemilik kamar sudah lama meninggalkannya.


“ Nyonya mau masuk ke kamar den Arka.?” Sahut bi Ijah yang membuat Widya menoleh ke arahnya dengan pelan.


“ Saya punya kunci kamarnya, kalau mau biar saya bukain.” Sambung bi Ijah.


Tidak ada jawaban dari Widya, bi Ijah langsung pergi mengambil kuncinya saat itu juga. Bi Ijah tahu kalau Widya ingin masuk ke dalam sana tanpa harus menjawabnya.


Bi Ijah pun kembali ke Widya dan membukakan kamar itu untuknya, dan setelah terbuka dia pun mempersilahkan Widya untuk masuk ke dalam. Widya melangkahkan kakinya memasuki kamar itu dengan ekspresi datar yang selalu dia tunjukkan.


Widya mengamati seisi kamar yang tampak berbeda dari terakhir kali dia masuk ke dalam, dia bahkan lupa seperti apa dulunya kamar itu. Melihat semua barang-barang Arkana masih ada disana dan tersusun dengan sangat rapih.


Di atas meja belajar Arkana bahkan terdapat beberapa bingkai foto dirinya bersama Arkana, meskipun hanya ada satu foto yang sama dan di pajang menggunakan bingkai yang berbeda-beda.


Widya meraih salah satu bingkai dan menatap foto itu dengan tatapan sayu, semua bayang-bayang masa lalu di antara dia dan Arkana kembali terbayang di kepalanya.


“ Nyonya mungkin ingin melihat ini.” Bi Ijah kembali menunjukkan sebuah buku catatan milik Arkana yang di simpannya di dalam sebuah brangkas.


Terakhir kali brangkasnya dalam keadaan terkunci, namun kali ini entah mengapa bisa terbuka sehingga bi Ijah menunjukkan isi dari buku-buku yang Arkana tulis selama ini.


Widya meraih semua buku-buku itu dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mulai membuka satu persatu halaman buku tersebut dan membacanya bait demi bait.


Semua curahan hati Arkana tertulis disana, dan Widya tidak pernah tahu soal itu. Bukan karena dia tidak tahu, dulu dia hanya tidak ingin tahu. Namun kali ini semuanya berbeda, dia ingin mengetahui segala sesuatu tentang Arkana.


Widya benar-benar terkejut saat membaca setiap halaman yang ada, dia baru menyadari betapa buruknya dia menjadi seorang ibu. Dia benar-benar telah di selimuti kejahatan yang tanpa dia sadari telah merusak mental putranya, dan bahkan untuk dirinya sendiri.


Bi Ijah yang melihat Widya menangis setiap membaca buku Arkana ikut terharu melihatnya, bi Ijah pun sudah lama menginginkan hal ini terjadi. Dan siapa sangka hari itu pun tiba, hari dimana dia bisa melihat Widya menyesali segala perbuatannya kepada Arkana.


**

__ADS_1


Sebuah mobil hitam mewah baru saja memasuki pelataran rumah, dia datang membawa beberapa makanan kesukaan istrinya yang sengaja dia pesan sebelum pulang ke rumah.


Melihat rumah dalam keadaan sepi lantas membuat Hendra bertanya-tanya kemana semua orang, dia berjalan ke dapu dan melihat tiga pembantunya sedang sibuk memasak.


“ Widya mana bi.?” Tanya Hendra pada salah satu pembantu yang berada di dapur.


“ Di kamarnya den Arka tuan.” Jawabnya cepat.


“ Kamarnya Arka?”


“ Iya, barusan masuk sama bi Ijah kesana.”


“ Oh iya, terima kasih.”


Hendra pun bergegas berjalan menuju kamar Arkana, langkahnya terhenti saat melihat ke dalam sana dimana ada istri dan satu pembantunya sedang menenangkan Widya yang menangis tersedu-sedu.


“ Ada apa bi? Kenapa dengan Widya.?” Tanya Hendra khawatir.


Bi Ijah pun menjelaskan apa yang terjadi hari ini kepada Hendra, dan setelah Hendra mendengarkan cerita dari bi Ijah, wanita setengah baya itu pun segera keluar dan membiarkan keduanya bicara berdua.


“ Jangan menangis lagi, kalau ada sesuatu kamu bisa cerita sama aku.” Kata Hendra sambil menyeka air mata Widya.


“ Aku mau minta maaf sama kamu, aku sadar sudah banyak melakukan kesalahan yang mungkin sulit buat kamu maafin aku.”


“ Kata siapa? Aku nggak pernah sulit buat maafin kamu, justru selama ini aku udah nunggu kamu mengatakannya. Bagiku nggak ada kata terlambat buat kamu menyadari kesalahan kamu, aku akan selalu maafin kamu kapan pun kamu mengatakannya.”


“ Tetap aja mas, masa lalu yang kita”


“ Masa lalu biarkan berlalu, mari kita sama-sama melupakan semua masa lalu kelam itu dan menyambut masa depan yang lebih cerah. Kamu mau kan.?” Sambung Hendra sambil menatap kedua bola mata Widya yang kembali berkaca-kaca atas apa yang di katakan barusan.


Widya sadar bahwa di kehidupannya selama ini hanya ada warna abu-abu, tapi kini mulai berubah. Karena kehadiran seorang suami yang begitu sabar dalam menghadapinya, seorang suami yang berhasil menoreh berbagai macam warna dalam kehidupannya yang abu-abu.


“ Terima kasih mas, terima kasih karena selalu ada di sampingku.”

__ADS_1



__ADS_2