
Qania tertawa mendengar Arkana mengatakan hal demikian, mereka memang cukup dekat untuk di katakan sebagai teman. Namun Qania merasa hubungan mereka tidaklah lebih dari seorang teman saja, dengan tegas Qania menolak perasaan Arkana dan ingin mereka tetap berteman saja.
Meskipun mendapat penolakan darinya, Arkana tidak merasa kesal atau marah pada Qania. Mereka tetap bisa menjadi seorang teman yang selalu bersama-sama, bahkan ada masa dimana Arkana berani menceritakan masalahnya pada Qania.
Qania menjadi orang pertama yang mendengar masalah Arkana dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia menceritakan bagaimana dia merasa kesulitan dalam menjalani hidup dengan tuntutan dari mamanya.
“ Setiap aku melihat orang tuaku bertengkar saat aku masih kecil, aku merasa sangat takut dan juga marah. Dan setelah mereka berpisah aku semakin menyalahkan diriku karena telah di lahirkan, mama bilang ketika aku belum lahir itu adalah puncak dimana papaku berselingkuh dengan wanita lain.”
“ Mama mu mungkin tidak melakukan semua ini karena dia membencimu, sebagai seorang single parent dia pasti telah melalui banyak hal yang tidak di bagi ke orang lain. Kamu hanya ada untuk mama kamu, dan dia melampiaskan semuanya hanya padamu. “
“ Tapi ingat, tidak ada satu pun seorang ibu di dunia ini yang membenci anaknya sendiri. Kamu harus lebih memahami mama mu saja, oke.” Lanjut Qania setelah mendengarkan cerita Arkana.
“ Mamaku berubah semenjak dia bercerai, dan sekarang aku lebih menyalahkan papaku dari pada perbuatan mama selama ini.”
“ Lalu dimana papa dan kakak mu sekarang.?”
“ Aku tidak tahu, mereka tidak pernah mengirim kabar pun sebaliknya. Aku sama mama hidup tanpa mereka, tapi mamaku selalu mencari cara untuk mencari kabar kakakku.”
“ Kau tidak pernah ingin mencaritahu kabar mereka.?”
“ Tidak, dan selamanya tidak akan pernah. Aku sudah membenci mereka berdua, sekarang dan selamanya.”
Qania baru saja menyentuh kepala Arkana dan membelainya dengan lembut, saat itu wajah Arkana tampak merona karena malu. Perhatian yang di berikan Qania mampu menyembuhkan luka yang ada di hatinya, dia yang merasa hatinya selalu kosong kini terisi oleh kehadiran wanita itu.
“ Apapun yang telah terjadi padamu, kamu harus percaya kalau aka nada pelangi setelah hujan.” Ujar Qania lirih.
“ Nia, kamu yakin nggak mau jadi pacarku.?” Lagi-lagi Arkana membahas hal tersebut yang akhirnya membuat Nia menarik tangannya.
__ADS_1
“ Kita ini masih SMA, aku mau fokus sekolah.” Jawab Qania kemudian.
“ Ngomong-ngomong kamu mau jadi apa dewasa nanti.?” Tanya Arkana.
“ Seorang dokter.” Qania menjawabnya dengan penuh semangat.
“ Kenapa?” Tanya Arkana pelan.
“ Karena aku ingin menyembuhkan banyak orang, bukannya keren kalau kita bisa menyelamatkan orang lain dan menyembuhkan penyakit. Aku sudah lama ingin menjadi dokter, setelah lulus SMA nanti aku akan mengambil jurusan kedokteran.” Seru Qania.
Arkana mulai sedikit tertarik untuk melanjutkan permintaan mama Widya untuk menjadi dokter, tadinya dia merasa bahwa menjadi dokter bukanlah keinginannya. Tapi setelah mendengar Qania yang sangat ingin menjadi seorang dokter akhirnya membuat Arkana ikut merasa tertarik untuk melakukannya.
**
Arkana dan Qania menghabiskan waktu bersama di SMA dengan baik, dan keduanya lulus dari sekolah itu dan melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan kedokteran. Tapi sayangnya mereka tidak satu kampus, mama Widya telah menunjuk kampus UI sebagai kampus yang akan di tempati Arkana melanjutkan pendidikannya.
Meskipun mereka berbeda kampus, akan tetapi Arkana sering mengantar jemput Qania yang kebetulan tinggal di salah satu kost yang ada di Jakarta. Qania datang dari kota Bogor dan menetap di Jakarta, itu sebabnya Arkana akan selalu ada untuk menjemputnya kapan pun dia butuh.
Banyak gadis-gadis yang berharap bisa menjadi pacar Arkana, namun di hati Arkana tetap saja hanya ada Qania. Wanita itu akan selalu ada di hatinya, meskipun mereka berdua tidak menjalin hubungan apapun.
Sore itu setelah pulang dari kuliah, Arkana datang ke kampus Qania untuk mengantarnya pulang. Dengan mobilnya, mereka berdua pulang bersama sambil bercerita di dalam mobil.
“ Kamu mau yah ketemu sama mamaku.” Ajak Arkana pada Qania.
“ Aku ketemu mama kamu? Untuk apa? Kamu jangan asal kenalin aku sebagai pacar kamu ya, kita bahkan belum pacaran.” Balas Qania.
“ Aku mau kenalin kamu sebagai teman, selama ini aku nggak punya teman yang di kenal sama mama. Jadi aku mau kamu menjadi orang pertama yang di kenalnya, kamu mau ya.” Pinta Arkana dengan sangat.
“ Kamu yakin mama kamu bakal suka sama aku.?” Qania terlihat takut karena dia tahu seperti apa mama Arkana itu dari cerita yang pernah di beritahu oleh Arkana.
__ADS_1
“ Aku yakin mama suka sama kamu.” Ujar Arkana dengan penuh semangat.
**
Arkana dan Qania datang ke rumah di waktu yang tidak tepat, pasalnya mereka datang ketika mama Widya sedang bertengkar dengan papa Hendra. Saat itu mama Widya meminta untuk di ceraikan yang entah kenapa bisa terjadi, Arkana yang mendengar semuanya di balik pintu langsung menoleh kepada Qania.
" Kita tunggu diluar dulu ya.” Ucap Arkana segera membawa Qania pergi dari sana.
Baru saja mereka beranjak, pintu tiba-tiba terbuka dan memunculkan mama Widya dengan ekspresi penuh emosi. Arkana dan Qania berhenti dan menoleh, mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda-beda.
“ Siapa dia.?” Tanya mama Widya menatap Qania penasaran.
Belum sempat Arkana menjelaskan siapa Qania pada mama Widya, dia sudah di sela oleh omongan mamanya.
“ Arka dengar ya, ini bukan waktunya buat kamu pacar-pacaran. Mama nggak suka kamu bawa seorang gadis ke rumah ini, sekarang bawa dia keluar dari rumah ini.”
Qania merasa ketakutan saat ini, dia akhirnya bisa melihat sisi mama Arkana yang ternyata benar sangat menakutkan. Tak lama setelah itu Arkan membawanya keluar, dan dia meminta maaf sebesar-besarnya pada Qania atas apa yang terjadi hari ini.
“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Qania menatap wajah Arkana yang terlihat sendu.
“ Sejak dulu aku tidak pernah baik-baik saja, tapi mau bagaimana lagi. Kau bisa melihat sendiri seperti apa keluargaku sekarang.” Jawab Arkana.
“ Kamu nggak sendiri sekarang, kalau ada apa-apa curhat sama aku yah.” Kata Qania berhasil membuat Arkana mendengarnya dengan baik.
“ Aku minta maaf sekali lagi.”
“ Nggak apa-apa, aku pulang ya. Jaga diri kamu baik-baik.”
Arkana menatap kepergian Qania dengan perasaan yang sangat kacau, padahal dia yang telah membawa Qania datang dan sekarang dia melihat wanita itu perlahan meninggalkan rumah sendirian.
__ADS_1
“ Den, nyonya memanggil.” Suara bi Ijah baru saja membuat Arkana menoleh.
Arkana tahu dia pasti akan menjadi pelampiasan emosi mamanya lagi, bahkan dia tidak tahu kenapa barusan mamanya meminta bercerai dari papa Hendra. Selama ini dia melihat rumah tangga keduanya baik-baik saja, semua yang mama Widya inginkan pasti akan selalu di kabulkan oleh papa Hendra.