Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Sentuhan


__ADS_3


Arkana di buat terkejut ketika dia keluar dari kamarnya dan mendapati Qania dan Jingga yang baru saja masuk ke rumah, Jingga menjelaskan kepada Arkana kalau Qania ingin datang dan mengobrol bersama. Setelah itu Qania di bawa oleh Jingga masuk ke dalam kamar, namun Arkana langsung menghentikan mereka.


“ Kenapa kamu bawa dia ke kamar itu?” Ucap Arkana dengan wajah paniknya.


“ Memangnya kenapa mas.?” Jingga bingung menatap Arkana.


“ Itu kan kamar tamu, kamu gimana sih? “ Jingga baru sadar kalau mereka harus merahasiakan kamar itu dari orang lain, namun Jingga tidak mempermasalahkannya karena Qania sudah tahu hubungannya dengan Arkana tidak berjalan dengan baik.


“ Nggak apa-apa, aku sama Jingga mau ngobrol di sini. Justru nggak sopan kalau aku ke kamar utama.” Sahut Qania.


“ Iya mas, aku sama Qania mau ngobrol masalah perempuan aja kok.” Jelas Jingga.


“ Ya sudah kalau begitu, terserah kamu aja.” Balas Arkana kemudian lanjut melangkahkan kakinya menuju dapur.


Sekarang Jingga dan Qania sudah masuk ke dalam kamar itu, mereka berdua duduk di atas tempat tidur dan saling menatap satu sama lain. Tak lama setelah itu pintu kembali terketuk, Jingga menoleh dengan penasaran karena siapa lagi yang akan mengganggu dia dan Qania.


“ Ini aku bawa minuman buat kalian.” Sahut Arkana diluar sana.


Jingga keluar untuk mengambilnya, dia pun menyuruh Arkana untuk segera pergi, Tampak Arkana yang melirik ke dalam kamar, Jingga tahu perhatian Arkana yang sangat baik ini bukan di tujukan untuknya melainkan untuk Qania.


Setelah Jingga kembali ke dalam, dia dan Qania langsung memulai tujuan mereka. Jingga di persilahkan untuk berbaring, kemudian Qania mulai memeriksa keadaannya.


“ Selain sesak apa lagi yang kamu rasakan.?” Tanya Qania.


“ Sedikit pusing dan mual, tapi ini tidak separah waktu itu.” Jawab Jingga.


“ Sayangnya kita tidak bisa sembarangan memberikan obat, kamu sedang hamil dan itu bisa berbahaya untuk janinmu. Aku harus berkonsultasi dengan dokter Nala terlebih dulu, dari yang ku lihat gejalanya hampir sama.” Ujar Qania.


“ Semoga aku nggak kenapa-napa, ini kesempatan yang baik untuk aku bisa pergi bersama mas Arka.” Gumam Jingga.


“ Kapan kamu berangkat.?” Tanya Qania.

__ADS_1


“ Besok, sekitar jam 1:00 siang.”


“ Oke, malam ini aku akan menemui dokter Nala dan membicarakan soal obat yang cocok untukmu. Dengan begitu kamu bisa menikmati waktu bersama Arkana di Madrid.”


“ Terima kasih ya Qania, aku beruntung ada kamu.”


“ Santai aja, aku senang bisa bantu kamu kok.”


Selama satu jam Qania berada di dalam kamar Jingga, lalu setelah itu mereka berdua keluar dan Arkana yang terlihat duduk di ruang tengah diam-diam melirik mereka.


“ Ar, aku pulang dulu ya.” Sahut Qania.


“ Mau aku antar pulang.?” Lontar Arkana.


“ Nggak perlu, aku bawa mobil sendiri kok.” Jawab Qania.


“ Loh, bukannya mobil kamu nggak bisa jalan.?”


Jingga menyaksikan kepulangan Qania di depan pintu masuk, senyuman di wajahnya tak pudar sampai Qania benar-benar menghilang dari pandangannya.


“ Kalian berdua habis ngobrol apa sih.?” Jingga terkejut ketika Arkana berdiri di sampingnya.


“ Kepo, ini urusan wanita.” Jingga menjulurkan lidah dan berjalan meninggalkan Arkana.


**


Madrid, bandara udara Internasional Adolfo Suarez Barajas.


Tiba di Madrid setelah menempuh perjalanan selama 18 jam 20 menit, kini Jingga dan Arkana memutuskan untuk langsung ke hotel untuk istirahat.


Selama satu hari ini mungkin mereka hanya akan berada di hotel, besok adalah hari ulang tahunnya dan banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Arkana.


Jingga sudah berbaring di atas tempat tidur dan mulai menutup kedua matanya, sedangkan Arkana baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang di sediakan oleh pihak hotel.

__ADS_1


Arkana menatap Jingga yang sedang tertidur miring ke samping, selama perjalanan mereka Jingga memang terlihat aneh dan lebih banyak tidur. Karena takut sampai kenapa-napa, yang tadinya mereka akan mengambil kamar terpisah pun harus batal.


Arkana sudah memastikan Jingga telah makan sebelum dia tidur barusan, jadi dia tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Dan Arkana juga akan bersantai sambil memantau persiapan liga champion yang akan dia lihat untuk pertama kalinya dalam hidup.


Sebuah pesan baru saja masuk di ponsel Arkana, dia terkejut melihat nama Qania di atas sana. Tanpa menunggu waktu lama dia pun membuka isi pesan tersebut.


Qania : Aku mau kasih tahu ke kamu, tolong jangan buat Jingga terlalu lelah. Dia sedang hamil, jadi sebaiknya kalian berdua tidak melakukan kegiatan yang berat.


Arkana mengernyitkan keningnya dengan bingung membaca isi pesan Qania, dia tidak mengerti kenapa Qania begitu peduli pada Jingga. Arkana sampai berpikir kalau Qania memang sudah tidak memiliki perasaan apapun untuknya, seharusnya dia cemburu melihat Arkana dan Jingga pergi bersama. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, karena kesal Arkana pun membalas pesan itu yang berbunyi.


Arkana : Ini urusanku, kamu nggak perlu ikut campur soal rumah tangga kami.


Arkana meletakkan ponselnya begitu saja, dia sangat kesal sampai berpikir untuk segera tidur. Arkana sudah naik ke atas tempat tidur yang sama dengan Jingga, dia menarik selimut dan mulai menutup kedua matanya.


Setelah Arkana tidur, saat itu Jingga terbangun setelah merasa mual. Dia beranjak dari tempat tidur sangat hati-hati, kemudian dia pergi ke kamar mandi karena merasa ingin muntah.


Hari ini dia belum minum obat yang di berikan oleh Qania untuknya, obat itu mampu membuatnya merasa jauh lebih baik terbukti saat perjalanan menuju Madrid kemarin dia tidak merasa sesak atau pusing sama sekali.


“ Aku harus kuat, nggak boleh sampai sakit. “ Jingga berusaha meyakinkan dirinya sendiri setelah dia merasa lebih baik.


Ketika Jingga kembali ke tempat tidur, dia melirik ponselnya dimana ada pesan dari Qania yang sudah masuk sejak beberapa menit yang lalu.


Qania : Hasilnya keluar lebih cepat hari ini, aku belum bisa memberitahumu detailnya. Tapi saranku jangan terlalu capek, ingat untuk selalu minum obat dan vitamin yang ku berikan ya.


Jingga : Maaf aku baru balas pesan dari kamu, terima kasih ya sudah mengingatkan aku. Aku janji akan jaga diri baik-baik disini, dan jangan lupa kalau mas Arka nggak boleh tahu soal aku.


Jingga menyimpan ponselnya di atas meja kemudian berbaring di tempat tidur sambil menarik selimutnya, dia melirik ke arah samping dimana Arkana sedang tertidur dengan sangat pulas.


Jingga memiringkan tubuhnya menghadap ke Arkana dan menatapnya lekat, saat tertidur wajah Arkana tampak seperti seorang anak laki-laki yang sangat tampan.


Diam-diam Jingga menarik lengan Arkana dan meletakkannya di atas perut Jingga, beruntung Arkana tidak terbangun sama sekali sehingga Jingga bisa membiarkan tangan itu berada disana cukup lama. Selama dia hamil tangan Arkana belum pernah menyentuh perutnya sama sekali.


“ Ini tangan papa kamu nak, papa pasti akan mengakui kamu suatu hari nanti.” Benak Jingga sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2