Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Special Chapter 25


__ADS_3


Lingga tidak menyangka akan datang ke apartemen Sabrina sepulang dari sekolah, dia mengira dapat bertemu dengan gadis itu ternyata dia salah. Lingga justru bertemu dengan mama Sabrina, dimana beliau menyambut Lingga dengan sangat ramah.


Mama Sabrina bahkan mempersilahkan Lingga masuk ke dalam agar mereka dapat mengobrol bersama, kabarnya Sabrina sendiri belum pulang karena ada urusan diluar.


“ Kamu pasti Lingga kan.” Tebak mamanya Sabrina.


“ Tante kok bisa tahu.?” Ucap Lingga bingung.


“ Apa sih yang nggak tante tahu tentang anak tante, Sabrina sering bahas tentang kamu ke tante. Dan terima kasih karena waktu itu kamu sudah menyelematkan Sabrina.”


“ Nggak usah berterima kasih tan, saya tulus menyelamatkan Sabrina waktu itu.


“ Sabrina memang benar, kamu anak yang baik dan manis.” Ucap mama Sabrina sontak membuat Lingga salah tingkah.


Lingga menyadari kalau di apartemen itu sudah hampir kosong, besok Sabrina benar-benar akan pergi dari Jakarta. Mama Sabrina menyadari perhatian Lingga tertuju pada seisi apatemen, dia kemudian menyahut.


“ Sabrina belum bilang kalau dia akan pergi besok ya.?” Sahut mama Sabrina.


“ Belum tan, tapi saya sudah tahu dari Siska temannya Sabrina.”


“ Dasar anak itu, sejak awal dia memang nggak mau kasih tahu ke kamu. Tapi mungkin nanti akan di kasih tahu, soalnya dia mau menyiapkan sesuatu buat kamu.”


“ Menyiapkan sesuatu? Apa itu.?”


“ Hmm rahasia, tunggu sampai Sabrina sendiri yang beritahu.”


Lingga benar-benar di buat penasaran oleh mamanya Sabrina, namun dia harus lebih bersabar lagi. Mungkin alasan Sabrina menolak ajakannya hari ini karena dia sedang menyiapkan sesuatu juga.


**


“ Lingga kenapa.?” Tanya Jingga pada Shanum.


Shanum dan Jingga melirik Lingga yang sejak tadi sibuk menatap layar ponselnya dengan kening yang berkerut.


“ Nggak tahu ma.” Jawab Shanum juga penasaran sejak tadi.


Saat Jingga hendak menghampiri anak laki-lakinya itu, tiba-tiba saja dering ponsel Lingga berbunyi yang membuatnya langsung menjawab panggilan tersebut dengan cepat dan berlari keluar rumah.


“ Anak itu kenapa sih.?” Ucap Jingga benar-benar penasaran.


Sementara itu, Lingga yang kini sudah berada di luar tampak bahagia menerima panggilan dari Sabrina. Dia sudah menunggu dari sore dan sekarang sudah malam dan gadis itu baru saja menghubunginya.


“ Tumben cepat banget di jawab.” Sahut Sabrina di seberang sana.


“ Kebetulan hpnya ada di tanganku, jadinya aku jawab dengan cepat.” Balas Lingga tak mau jujur.


“ Oh gitu.”

__ADS_1


“ Kamu ada apa telpon aku.?”


“ Aku mau pamit sama kamu.”


“ Akhirnya dia mulai jujur meskipun telat.” Batin Lingga.


“ Pamit? Memangnya kamu mau kemana.?”


“ Kamu beneran nggak tahu aku mau kemana.?”


“ Nggak tahu.”


“ Aku memang nggak penting ya, tapi nggak apa-apa. Karena selama ini kamu udah banyak bantu aku, aku mau kamu tahu kalau malam ini aku berangkat ke Bandung.”


“ Malam ini.?”


“ Iya, papaku tiba-tiba berubah pikiran. Jadi dia ingin malam ini kami harus sudah tiba di Bandung.”


“ Tapi.”


“ Oh iya, ada satu lagi. Aku barusan kirim alamat ke pesan wa kamu, tolong nanti di baca ya.” Lanjut sabrian tak memberikan kesempatan untuk Lingga bicara.


“ Udah dulu ya, aku udah harus berangkat. Sampai jumpa lagi Lingga.”


“ Sabrina, tunggu,,,”


Panggilan telah di akhiri oleh Sabrina begitu saja, Lingga merasa begitu bodoh karena tidak bisa mengatakan apa yang ada di hatinya. Sialnya dia harus mendengar kabar kepergian Sabrina yang mendadak itu, padahal jika besok Sabrina berangkat dia bisa bertemu dengan gadis itu sebelum benar-benar pergi.


**


Pagi keesokan harinya, Jingga tidak melihat satu anak laki-lakinya di meja makan. Bahkan tidak ada yang melihat keberadaannya, dan di cek ke kamar pun tidak ada. Shanum menebak bahwa Lingga mungkin pergi mengantar kepergian Sabrina ke Bandung, dan semua orang rumah juga berpikiran yang sama.


Kemarin Sabrina sempat pamit kepada semua orang rumah kecuali Lingga, dan dia juga mengatakan yang sebenarnya bahwa dia dan Lingga tidak benar-benar berpacaran. Hal itu di akui Sabrina karena dia ingin pergi tanpa meninggalkan kebohongan kepada mereka semua.


“ Bagaimana dengan Lingga? Bukannya dia juga suka dengan Sabrina?” Tanya Keenan.


“ Kamu kaya nggak kenal adik kamu itu, gengsinya terlalu besar.” Balas Arkana.


“ Maklum saja, Lingga itu masih remaja dan pikirannya sangat polos. Kakek lihat dia belum bisa menjalin suatu hubungan, ada baiknya kalau fokus dengan pendidikan saja dulu.” Sahut Hendra.


“ Nenek setuju, Sabrina anak yang baik. Kalau memang mereka berjodoh, seberapa jauh mereka berpisah pasti akan kembali bersama.” Sambung Widya.


“ Aku juga berpikir demikian, mungkin kebepergian Sabrina hanya untuk membuat keduanya sama-sama tumbuh lebih dewasa lagi.” Kata Jingga sambil tersenyum simpul.


**


Lingga sudah tiba di sebuah alamat yang di kirim oleh Sabrina semalam, dia tidak tahu kalau ternyata alamat itu adalah sebuah taman dengan danau kecil di dekatnya.


Lingga berjalan menuju sebuah pohon besar yang terdapat di dekat danau, kemudian dia melirik sekeliling yang terlihat sepi tanpa ada seorang pun disana.

__ADS_1


“ Kenapa dia menyuruhku datang kesini.?” Ucap Lingga penasaran.


“ Akhirnya kamu datang, aku pikir kamu nggak akan datang.” Suara itu baru saja membuat Lingga terkejut dan langsung menoleh.


“ Sabrina? Kamu kok masih disini? Semalam bukannya kamu udah berangkat ke Bandung.?”


“ Kenapa? kamu nggak suka ya kalau aku masih disini.”


“ Bukan, bukan begitu. Tapi semalam kenapa kamu berpamitan.?”


“ Semalam aku nggak ikut, aku mau berangkat hari ini setelah ketemu kamu.”


Sabrina mengambil tiga langkah ke depan Lingga, tampak Lingga yang masih tidak menyangka akan bertemu dengan Sabrina di hari ini.


“ Sebelum aku pergi, aku mau jujur ke kamu. Tapi kamu juga harus jujur, apapun jawaban kamu nanti pasti aku terima. Soalnya selama ini aku udah kebal dengan kata-kata dingin dari kamu.” Ucap Sabrina dengan serius.


“ Aku akan jujur kali ini.” Jawab Lingga mantap.


“ Sakalingga Arunawa Sandyakala, kamu adalah sosok pria yang berhasil buat aku jatuh hati sejak pandangan pertama. Mungkin ada banyak gadis yang kaya aku, tapi aku berani bilang kalau aku berbeda. Sampai detik ini aku masih suka sama kamu dan akan terus suka sama kamu, tapi untuk sekarang aku mau kamu dan aku sama-sama fokus belajar, perjalanan kita masih panjang. Jadi, mari bertemu saat kita sama-sama sudah beranjak dewasa. Kamu mau nggak.?” Ujar Sabrina sambil menyodorkan tangannya kepada Lingga.


Lingga menatap tangan Sabrina dengan tatapan sayu, kemudian terlihat senyuman manis di wajah Lingga sambil menyambut jabatan tangan itu.


“ Sabrina Mahira Kurniawan, aku juga akan jujur sekarang. Mungkin selama ini sikap dinginku buat kamu benci dan nggak nyaman, selama ini aku sering di kelilingi oleh banyak gadis. Tapi belum pernah ada yang berhasil buat aku jatuh hati kecuali sama kamu, dari sekian banyaknya gadis yang ku kenal hanya kamu berhasi. Aku juga suka sama kamu, dan kamu sudah berhasil buat aku melihat sosok kamu yang berbeda dari mereka. Mungkin ini sudah terlambat, tapi seperti yang kamu bilang kalau perjalanan kita masih panjang. Aku mau bertemu kamu lagi setelah kita beranjak dewasa.” Balas Lingga dengan tatapan lurus ke arah Sabrina.


Sabrina sampai tidak bisa menahan perasaan bahagianya mendengar ucapan jujur dari seorang Lingga yang terkenal cuek dan dingin, pertemuan dan perpisahan kali ini akan menjadi kenangan mereka berdua yang takkan terlupakan. Maka dari itu Sabrina telah menyiapkan sesuatu agar keduanya tidak pernah lupa dengan hari ini.


“ Di tempat ini, aku sengaja bawa kamu kesini bukan tanpa alasan. Pohon ini akan jadi saksinya, dan juga aku sudah menyiapkan dua botol ini untuk di isikan surat kita masing-masing.”


“ Surat untuk apa.?”


“ Ini namanya surat masa depan, dua atau tiga tahun ke depan kalau kita bertemu lagi, mari ke tempat ini dan membaca isi suratnya.”


Lingga mengerti maksud Sabrina, kemudian dia menerima kertas dan pulpen dari gadis itu. Dan sekarang keduanya sibuk menuliskan surat yang akan mereka lihat di masa depan, dan sepanjang menulis surat terlihat Lingga yang terus menatap Sabrina.


“ Di masa depan, aku dan kamu akan datang ke tempat ini lagi. Kamu harus lihat isi surat yang ku buat, karena pada dasarnya aku tidak terlalu pandai dalam berkata-kata secara langsung.” Benak Lingga sambil memasukkan surat tersebut ke dalam botol yang di berikan oleh Sabrina sebelumnya.


Setelah mereka berdua selesai membuatnya, kedua botol itu di masukkan ke dalam galian yang telah di buat oleh Sabrina kemarin. Dia sengaja menggalinya lebih awal agar mereka bisa menguburnya dengan cepat.


“ Nah, sekarang sudah selesai. Sampai ketemu lagi di masa depan.” Ucap Sabrina tersenyum simpul.


“ Sekarang waktunya aku pergi, bus yang ku tumpangi akan berangkat sebentar lagi.” Lanjut Sabrina sambil melirik arlojinya.


“ Tunggu dulu.” Lingga menahan tangan Sabrina yang membuat gadis itu menatapnya penasaran.


“ Kamu janji sama aku, jangan dekat-dekat dengan cowok lain disana.” Ucap Lingga cepat.


“ Jangan khawatir, kamu harus perlu ingat kalau hati perempuan itu tidak mudah berubah. Kalau sudah cinta dengan satu orang, dia nggak akan berpaling.” Jawab Sabrina.


Lingga ingin sekali memeluk Sabrina, tapi dia menahannya. Dia tidak ingin menyentuh Sabrina tanpa seizinnya, dan mereka pun hanya berjabat tangan melepas kepergian mereka di tempat yang menjadi saksi perjanjian keduanya.

__ADS_1



__ADS_2