Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Intropeksi Diri


__ADS_3


Sudah satu minggu Arkana datang ke rumah mama Widya dan membujuk Jingga untuk pulang, namun sampai hari ini dia tidak berhasil menemuinya. Jingga selalu mengurung diri di dalam kamar ketika dia tahu kalau Arkana akan datang di jam itu.


Dan sama seperti kemarin, Arkana datang dengan segala omong kosong yang di anggap Jingga tidak ada artinya. Dia tidak peduli bahkan jika Arkana mencoba menyakiti dirinya seperti terakhir kali, perkara kejepit pintu, atau mogok makan tidak membuat Jingga berniat untuk menemuinya.


Hari ini terdengar cukup hening, Jingga mengira bahwa Arkana mungkin sudah menyerah membujuknya keluar. Tapi tiba-tiba saja dia mendengar suara mama Widya diluar sana, karena penasaran Jingga pun mencoba untuk membuka pintu dan mengintip apa yang terjadi diluar.


Jingga bisa melihat bagaimana mama Widya sedang berhadapan dengan Arkana, dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bahas dari jarak yang seperti itu. Jingga berpikir untuk mengabaikannya, tapi dia tidak bisa dan akhirnya keluar menemui mereka.


“ Ma, biar aku bicara sama mas Arka sebentar.” Sahut Jingga yang baru saja muncul.


“ Kamu yakin mau bicara sama dia.?” Mama Widya melirik Jingga lurus.


“ Iya ma, ada sesuatu yang ingin ku bahas dengannya.” Balas Jingga kemudian.


Setelah itu mereka berdua di persilahkan untuk bicara berdua, keduanya memilih bicara di dalam kamar Jingga. Pada akhirnya Jingga pun harus menemui Arkana, entah karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi karena Arkana dan mama Widya bertemu hari ini.


“ Aku sudah bilang sama kamu, kita nggak perlu tinggal satu rumah lagi. Jadi buat apa kamu terus datang kesini? “ Ucap Jingga yang berdiri membelakangi Arkana.


“ Bukannya kamu mau jadi istri yang baik? tinggal di rumah mama seperti ini, dan membiarkan aku tinggal sendirian bukannya sangat kejam.” Sahut Arkana.


" Aku kejam mas? kamu nggak sadar yang paling kejam itu kamu, bukan aku." Balas Jingga emosi.


Arkana hanya terdiam saat Jingga melontarkan kata-kata seperti itu.


“ Mau kamu sebenarnya apa sih mas? Sikap kamu aneh tahu nggak, ada atau tidak ada aku di rumah itu nggak akan merubah apapun. Kamu bisa bebas sekarang, kamu mau ajak wanita lain ke rumah itu pun terserah. Aku nggak mau kamu sakitin lagi, jadi berhenti untuk datang ke rumah ini dan bujuk aku pulang.” Pinta Jingga.


“ Kamu nggak kasihan sama aku.?” Tanya Arkana.

__ADS_1


“ Aku? Kasihan sama kamu? Sekarang aku tanya, kamu kasihan nggak sama aku? Untuk semua yang kamu lakukan ke aku, ada nggak perasaan bersalah kamu tentang itu.?” Ketus Jingga.


“ Bukan ini yang aku mau mas, kenapa kamu nggak ada rasa pengertian sama sekali? Bahkan kamu belum minta maaf sama aku, sekarang yang ada di otak kamu hanya aku bisa kembali ke rumah, itu saja.” Benak Jingga mengepal kedua tangannya dengan kuat.


“ Semuanya sudah jelas, nggak ada yang perlu di bahas lagi. Anggap saja semua ini persiapan sebelum kita berpisah, baik aku dan kamu lebih bagus menjaga jarak. “ Jingga kemudian menarik tangan Arkana keluar dari kamar itu.


“ Selamat tinggal mas.” Ucap Jingga sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu.


**


“ Dok, pasien yang ada di kamar melati keadaannya sudah membaik. Apa nanti kita akan kesana untuk mengeceknya?” Tanya Nisa pada Arkana.


“ Dok? “ Nisa kembali memanggil Arkana karena tidak bergeming ketika di ajak bicara.


Tsania, Wulan, dan Gabriel ikut melirik Arkana yang sejak tadi melamunkan sesuatu, sejak kemarin Arkana bersikap aneh dan tidak fokus dalam hal apapun.


“ Dokter, jangan melamun.” Sahut Tsania dengan nada yang cukup tinggi sehingga berhasil membuat Arkana tersadar dari lamunanya.


“ Kita sedang membahas pasien di kamar melati, sejak tadi dokter kelihatan banyak pikiran. Kalau sedang kurang sehat bisa pulang istirahat kok, hari ini nggak ada jadwal pasien check up juga.” Sahut Nisa.


“ Oh nggak, saya baik-baik aja. Saya mau ke pantry dulu, kamu sama mereka bisa langsung ke ruang melati untuk mengecek keadaan pasien.” Titah Arkana pada Nisa.


“ Baik dok.” Jawab Nisa lirih.


“ Sikapnya sama persis waktu dia putus dari dokter Qania, apa dia ada masalah sama istrinya sekarang.?” Benak Nisa penasaran.


**


Hari itu Arkana belum berniat untuk pulang meskipun pekerjaannya telah selesai, dia berpikir pulang ke rumah hanya akan membuatnya semakin frustasi. Betapa menyedihkannya dia sekarang, tidak ada teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Tidak ada yang mengajaknya bersenang-senang seperti yang sering di lakukan oleh Jingga.

__ADS_1


Arkana baru sadar kalau keberadaan Jingga begitu berarti untuknya, tapi mengingat apa yang telah dia lakukan kepada Jingga selama ini tentu tidak bisa di maafkan begitu saja.


Dalam waktu tiga bulan lagi dia dan Jingga akan berpisah, perjanjian yang dia buat sendiri nampaknya cukup membuat dia menyesal. Tapi dia juga tidak bisa bergerak maju untuk memperbaiki semuanya, dia bingung dengan perasaannya terhadap Jingga seperti apa.


Tok..tok…tok….


Arkana menoleh ke arah pintu ruangannya, dia tidak tahu siapa yang datang di jam begini. Kemudian dia mempersilahkan masuk, dan ternyata yang datang adalah Nisa dengan membawa segelas kopi untuk Arkana.


“ Buat dokter.” Ucap Nisa menyodorkan gelas kopi itu.


“ Tapi aku lagi nggak mood minum kopi.” Balas Arkana.


“ Ini kopi susu dok, kesukaan dokter.” Ujar Nisa lagi.


Dan Arkana pun menerimanya meskipun dia tidak mood, ekspresi wajah Arkana masih sama seperti tadi. Nisa yang sudah bekerja selama empat tahun bersama Arkana merasa sudah mengenal pria itu dengan baik.


“ Lagi ada masalah ya dok, maaf kalau aku lancang. Tapi aku pernah melihat ekspresi yang dokter tampilkan sekarang, ekspresi galau, gelisah, dan frustasi setelah dokter putus sama dokter Qania.”


“ Kamu satu-satunya yang tahu hubungan aku sama Qania seperti apa dulu, dan kamu juga tahu kan kalau aku menikah karena terpaksa. Jingga, istriku sudah tidak tinggal di rumah lagi. Kami akan berpisah setelah dia melahirkan.”


“ Kenapa begitu? Jangan berpisah dok.”


“ Mau bagaimana lagi, ini sudah kesepakatan kita berdua.”


“ Memangnya dokter nggak cinta sama Jingga? Dia wanita yang baik kan? Kenapa harus pisah, kan bisa di bicarakan baik-baik.”


“ Aku nggak tahu bagaimana perasaanku ke dia, tapi ku akui dia memang wanita yang sangat baik.”


“ Kalau dokter belum bisa menyadari perasaan dokter sama Jingga, tolong di pikirkan dulu. Masih ada waktu tiga bulan untuk dokter menyadari perasaan itu, dan aku yakin hati wanita itu mudah luluh kalau dokter lebih percaya diri dalam mengakui semuanya.”

__ADS_1


“ Tapi Jingga nggak ada perasaan apapun sama kau.”


“ Nggak mungkin dok, kalian sudah berhubungan dan sebentar lagi akan memiliki anak. Mustahil kalau nggak ada rasa cinta di hati Jingga walaupun sedikit, sekarang lebih baik untuk fokus menyadari perasaan dokter dulu. Kalau sudah yakin sayang dan cinta, coba temui dia dan katakan semuanya dengan jujur.” Ucap Nisa yang memberikan kepercayaan diri kepada Arkana.


__ADS_2