Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Ibu & Anak


__ADS_3


Pagi itu Jingga terkejut melihat Arkana sudah memakai kemeja buatannya yang dia berikan kemarin sebagai hadiah ulang tahun untuk Arkana, dengan senyum yang lebar Jingga menyapa Arkana meskipun tidak mendapat respon yang dia harapkan.


“ Kamu udah nggak mual lagi mas.?” Tanya Jingga.


“ Udah agak enakan, sekarang bisa cium aroma apa aja.” Balasnya pelan.


“ Syukurlah, jadi kamu masuk kerja ya hari ini.”


“ Ya menurut kamu, aku rapih begini mau kemana.?”


“ Semangat kerjanya ya mas.” Sambung Jingga dengan senyuman manis.


“ Aku nggak butuh semangat dari kamu.” Balas Arkana ketus.


Di dapur, bi Salma dan bi Inah sedang sibuk membicarakan mereka berdua. Sikap Arkana memang sangat sulit untuk di tebak, baru saja kemarin mereka melihat sisi Arkana yang lain dan sekarang sudah harus melihat sikap cuek pria itu.


“ Besok aku ada urusan di Solo dan mungkin akan tinggal disana selama tiga hari, aku mau kamu jangan pergi dari rumah selama aku nggak ada.” Ucap Arkana dengan penuh penekanan.


“ Ke Solo selama tiga hari ada apa mas.?”


“ Kerjaan lah, apa lagi? Kamu nggak usah tahu, pokoknya kamu harus nurut apa kata aku aja.”


“ Selama ini aku kurang nurut apa sama kamu mas.?”


Arkana terdiam mendapat jawaban dari Jingga, memang benar kalau selama ini Jingga sudah menuruti semua perintahnya. Namun dia masih tetap memperingatinya dengan segala tuntutannya itu.


“ Aku berangkat.” Lanjut Arkana segera beranjak dari kursinya.


Jingga menyodorkan tangannya ingin mencium tangan Arkana, saat itu Arkana diam menatap Jingga untuk segera di berikan kesempatan tersebut.


“ Nggak usah lebay.” Kata Arkana dan berlalu begitu saja meninggalkan Jingga.


**


Siang itu Jingga kedatangan tamu yang tak lain adalah Diana, wanita itu datang tanpa memberitahu Jingga seperti biasa. Dengan penuh kehebohan dirinya masuk ke dalam dan memeluk sahabatnya itu dengan penuh semangat, dia juga tak lupa mengusap perut Jingga sambil menyapa si jabang bayi.


“ Kamu ini ya selalu saja datang tanpa bilang-bilang dulu.” Seloroh Jingga.


“ Buat apa bilang? Aku tahu kok kamu pasti nggak akan kemana-mana, kamu kan nurut banget apa kata suami.” Lontar Diana.

__ADS_1


“ Emang harus gitu kan, istri itu nggak boleh sembarangan keluar rumah apalagi tanpa izin suami.”


“ Iya..iya.., si paling istri ya kamu sekarang.”


“ Oh iya btw anak kamu cewek atau cowok?” Tanya Diana.


“ Belum di cek, masih delapan minggu. Kata dokter baru bisa di lihat itu sekitar enam belas mingguan.” Jawab Jingga.


“ Aku harap bayinya cewek biar cantik kaya ibunya.”


“ Emang kenapa kalau cowok? Mas Arka kan ganteng.”


“ Dia emang ganteng, tapi aku nggak setuju kalau anak kamu mirip kaya dia.”


“ Kamu bawa apa?” Tanya Jingga melirik barang bawaan Diana yang banyak.


“ Aku bawain kamu baju hamil, makanan, sama buah-buahan premium yang segar.” Diana menunjukkan kantong belanjaannya di hadapan Jingga yang tersenyum senang di buatnya.


“ Yuk ikut aku ke dalam.” Ajak Jingga kemudian.


**


Hari ini Arkana sudah boleh pulang lebih awal, itu karena besok dia harus ke Solo untuk menghadiri pertemuan IDI ( Ikatan dokter Indonesia) yang di adakan di Solo selama tiga hari, setiap dokter dari perwakilan departemen akan pergi dan Arkana menjadi salah satu perwakilan dari departemen bedah syaraf.


“ Ini pasti karena mama.” Arkana memutar tubuhnya dan berjalan menuju salah satu ruangan yang berada di ujung koridor.


Arkana mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam, dia di kejutkan dengan kehadiran Aizen bersama Qania di dalam ruangan itu. Melihat kedatangan Arkana sontak membuat mereka berdua menanyakan kedatangannya.


“ Aku mau ngomong sama kamu.” Kata Arkana pada Qania.


“ Ya udah ngomong aja, sini masuk dulu.” Panggil Qania.


“ Aku mau ngomong berdua sama kamu.” Balas Arkana lagi.


“ Kalau gitu aku keluar dulu.” Aizen kemudian beranjak dari tempatnya, dia berjalan melewati Arkana yang sempat menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


“ Kamu mau ngomong apa.?” Tanya Qania setelah Aizen meninggalkan ruangannya.


“ Kenapa bukan kamu yang pergi besok.?”


“ Aku sibuk jadi nggak bisa pergi.”

__ADS_1


“ Sibuk atau karena ada orang lain yang menukar kamu sama orang lain.?”


“ Maksud kamu apa Ar.?” Qania menatapnya dengan bingung.


“ Pasti mamaku kan yang melarang kamu pergi?”


“ Ar, aku nggak ngerti kenapa kamu ngomong kaya gini ke aku. Mama kamu nggak ada hubungan apa-apa, aku memang lagi sibuk akhir-akhir ini.”


“ Bohong, aku tahu ini pasti ulah mamaku.”


“ Kalau itu ulah mama kamu, kenapa kamu marah ke aku? Aku hanya mengikuti perintah dari rumah sakit aja.”


Arkana kemudian keluar meninggalkan ruangan Qania saat itu juga, dia berjalan menuju lantai tuju rumah sakit dimana disana terdapat ruangan direktur utama yang tak lain adalah papa Hendra.


**


Tok..tok…tok…


Arkana baru saja membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk ke dalam, disana terlihat seorang wanita yang duduk di kursi utama sambil menatap kedatangannya dengan heran.


“ Kamu tumben ke ruangan ini.” Sahut mama Widya.


“ Sampai kapan mama akan ganggu Qania terus? Belum cukup mama buat aku sama dia menderita? “


“ Lagi-lagi kamu bahas wanita itu, ingat ya Arka. Kamu sekarang sudah menikah dan akan menjadi seorang ayah, mama nggak mau sampai mendengar kamu dekat dengan wanita itu lagi.”


“ Ini bukan soal dekat atau tidak ma, aku hanya ingin mama stop ikut campur urusan dia. Biarkan dia memilih kehidupannya sendiri, mama jangan mengatur dia sesuka hati mama.”


“ Memangnya apa yang sudah mama lakukan sampai kamu berani bicara begitu ke mama.”


“ Nama Qania ada di daftar yang akan pergi ke Solo besok, tapi tiba-tiba saja di ganti sama orang lain. Kalau bukan mama yang melakukannya lalu siapa lagi.?”


“ Kamu memang masih di pengaruhi sama wanita itu, mama nggak pernah mengajukan pertukaran apapun soal keberangkatan besok. “


“ Mama kamu benar nak, dia tidak menukar Qania.” Sahut papa Hendra.


Arkana terdiam di tempatnya, dia menunduk tak berdaya sekarang. Kemudian mama Widya beranjak dari tempatnya, dia menyuruh papa Hendra untuk meninggalkan ruangan terlebih dulu.


“ Kamu mau apa ma.?” Tanya papa Hendra menatap istrinya dengan tatapan yang penasaran.


__ADS_1


“ Ini urusan aku sama putraku.” Balasnya kemudian.


Papa Hendra mulai memutar tubuhnya meninggalkan ruangan itu, perasaannya sudah tidak enak di buatnya. Nyatanya bukan petrama kali mama Widya menyuruhnya keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam menyelesaikan masalah keduanya.


__ADS_2