
“ Jadi koas ternyata capek juga ya, ku pikir pas kita masih aktif kuliah yang paling capek, ternyata aku salah.” Keluh Wulan.
“ Sstt, jangan ngomong kaya gitu. Kalau di dengar sama dokter gimana.?” Tegur Gabriel.
“ Ngeluh dikit nggak apa-apa kali, dan juga tempat ini sepi kok. “ Balas Wulan.
“ Tsania, kamu lagi lihat apa.?” Lirik Gabriel pada Tsania yang terlihat sedang memperhatikan sesuatu.
“ Kalian duluan aja ke kantin, aku ada urusan.” Balas gadis itu berlalu meninggalkan dua temannya.
“ Si Tsania makin aneh aja selama jadi koas disini.” Ujar Wulan.
Tampak Gabriel yang masih memperhatikan kepergian Tsania dengan tatapan cemas, kemudian Wulan menarik tangan Gabriel menuju kantin yang ada di depan mereka.
Sementara itu, Tsania kini sudah ada di lantai bawah atau lebih tepatnya di tempat dimana ada Arkana yang sedang menyendiri sambil melamun seperti hari-hari kemarin.
“ Dokter nggak istirahat makan siang.?” Tanya Tsania yang sudah berdiri di sebelah Arkana.
“ Saya nggak makan di kantin rumah sakit.” Jawab Arkana sontak membuat Tsania merasa malu.
“ Maaf dok, saya nggak tahu.” Balasnya lirih.
“ Kalau gitu ini buat dokter.” Tsania menyodorkan lollipop pada Arkana yang membuatnya kebingungan.
“ Memangnya saya anak-anak di kasih lollipop?”
Tsania meraih tangan Arkana dan memberikan lollipop itu padanya, kemudian dia menjelaskan bahwa menghisap lollipop yang manis akan mengembalikan mood yang sedang buruk.
“ Kamu tahu dari mana saya lagi bad mood.?” Tanya Arkana.
“ Kelihatan kok dari raut wajah dokter, saya bisa baca raut wajah orang kalau dia lagi sedih, senang, bosan, cemas, dan marah. Jadi dokter nggak perlu pura-pura lagi, karena saya tahu dari wajah dokter.” Jelas Tsania.
“ Ya udah, saya terima lolipopnya.” Arkana kemudian menyimpannya di dalam saku jasnya.
“ Dokter lagi ada masalah kan? Kalau dokter nggak ada teman curhat, boleh kok curhat ke saya.” Gumam Tsania melirik Arkana.
__ADS_1
Arkana tertunduk dalam diam, mendengar ucapan Tsania barusan membuat Arkana tak berniat sama sekali untuk menceritakannya pada orang baru.
“ Nggak ada apa-apa, hanya masalah kerjaan aja.” Balas Arkana kemudian.
“ Bohong, saya tahu kalau dokter lagi galau karena dokter Qania mantannya dokter akan segera melepas masa lajangnya kan.?”
“ Kamu tahu dari mana dia mantan saya.?”
“ Semua orang di rumah sakit sering membahasnya, jadi saya tahu dari mereka kalau dokter itu pernah pacaran dengan dokter Qania.”
“ Tapi bukan itu kok masalahnya.” Balas Arkana.
“ Kalau bukan itu lalu apa? Dokter mau membiarkan dokter Qania di ambil pria lain? Kalau memang cinta kenapa nggak di perjuangkan.”
“ Kamu tahu saya sudah menikah, mana mungkin saya melakukannya.”
“ Memangnya kenapa kalau sudah menikah? Seorang suami kan boleh poligami, kalau memang dokter lebih cinta sama dokter Qania, kenapa nggak di perjuangin.?”
Arkana benar-benar tidak percaya Tsania akan mengatakan hal yang seberani itu, namun selama ini belum ada satu orang pun yang mendukungnya untuk memperjuangkan perasaannya pada Qania.
“ Lalu saya harus apa? Kamu pikir poligami itu mudah? Bahkan Qania saja sudah tidak menyimpan perasaan apapun sama saya.” Arkana tanpa sadar mengatakan isi hatinya pada Tsania saat ini.
“ Bagaimana caranya.?” Tanya Arkana penasaran.
**
Wanita itu baru saja keluar dari ruangannya lengkap dengan jas berwarna putih yang dia kenakan, langkahnya tidak begitu cepat pun tidak lambat. Saat ini dia ingin pergi ke satu ruangan yang membuatnya harus segera berada disana secepatnya.
“ Baik dok, saya mengerti. Setelah semua selesai, saya tunggu di parkiran ya dok.”
Qania tertegun saat mendengar seorang mahasiswa koas yang baru saja melewatinya, dia menghentikan langkahnya dan memperhatikan gadis itu dengan teliti.
“ Hey, kamu.” Panggil Qania padanya.
“ Iya dok? Ada apa ya.?” Ucap Tsania yang baru saja selesai menerima panggilan.
“ Kamu dari departemen bedah kan.?”
__ADS_1
“ Iya dok.”
“ Oh nggak, saya kira kamu dari departemen lain. Maaf sudah mengganggu, silahkan lanjutkan urusannya.” Ucap Qania dan melanjutkan langkahnya.
Setibanya Qania di ruangan yang dia tuju, dia langsung duduk di atas sofa dengan raut wajah yang kebingungan. Aizen menghampirinya sambil menyodorkan segelas air, melihatnya seperti itu tentu membuat Aizen cemas.
“ Ada apa lagi? Kamu kelihatan kesal akhir-akhir ini, apa itu karena Arkana lagi.?” Tanya Aizen.
“ Bukan kok, kamu nggak usah ngungkit apapun tentang Arkana lagi. Itu nggak ada urusannya sama dia, kita sebaiknya fokus dengan urusan kita aja sekarang.” Ungkap Qania.
“ Nia, walaupun kita baru kenal beberapa bulan. Tapi aku tahu kalau kamu lagi bohong saat ini, kamu boleh jujur kok sama aku.” Sahut Aizen menarik tangan Qania dan menatapnya tulus.
“ Aku boleh nangis nggak.?” Ucap Qania yang terlihat sudah mulai berkaca-kaca.
“ Silahkan. Kamu boleh nangis sebanyak yang kamu mau.” Balas Aizen.
Qania pun menangis sejadi-jadinya, semua kesedihan yang selama ini dia bendung di keluarkannya hari itu juga. Qania adalah tipe orang yang sulit mengutarakan emosinya, dan jika sudah keluar itu artinya dia sudah tidak sanggup menahan semuanya lagi.
Seujujurnya Qania terus memikirkan ucapan Arkana tentang bayi yang di kandung Jingga, dia masih belum mengetahui apakah yang di katakan oleh Arkana benar atau tidak.
Saat ini Qania bingung dengan keputusannya kemarin, semua itu karena ucapan Arkana kemarin. Namun untuk mengetahuinya lebih lanjut cukup membuatnya takut, Qania benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini.
**
Sore itu Qania dan Aizen pulang bersama karena harus pergi ke suatu tempat, saat mereka sudah berada di tempat parkir. Keduanya melihat sosok Arkana dan Tsania yang jalan bersama menuju mobil Arkana.
“ Dia gadis yang tadi di koridor, jadi dia menelpon sama Arkana.” Benak Qania memperhatikan mereka dengan serius.
“ Dia mahasiswa koas kan? Ada hubungan apa sama Arkana, kok kelihatan dekat banget.?” Lontar Aizen.
“ Nggak tahu, sebaiknya kita bergegas pergi.” Ajak Qania yang langsung membuka pintu dan duduk di dalam mobil.
Pandangan Qania terus tertuju pada mobil Arkana, dia tidak mengerti kenapa Arkana bisa dekat dengan mahasiswa koas itu. Perasaannya mulai tidak enak, tapi Qania sadar ini bukan urusannya sehingga dia memilih untuk mengabaikannya.
Sementara itu di seberang sana Arkana dan Tsania juga sedang memperhatikan mobil Aizen yang membawa Qania pergi, semua rencana Tsania di lakukan Arkana tanpa terkecuali. Namun dia merasa sedikit kurang puas, dia takut jika hal ini justru tidak akan membuat dia tahu seperti apa perasaan Qania padanya.
“ Dokter tenang aja, dari yang saya lihat, dokter Qania sudah mulai penasaran dengan kedekatan kita. Saya yakin besok dia akan lebih penasaran, dengan begitu kita bisa tahu bagaimana perasaan dokter Qania.” Ujar Tsania.
__ADS_1
Arkana hanya diam sambil mengangguk, dia tidak tahu harus berkata apalagi. Dan jika besok rencana Tsania gagal, dia akan berhenti melakukan hal ini.