
Tok…tok…tok…
“ Ar, aku masuk ya.” Sahut Qania sambil membuka knop pintu dan melihat ke dalam kamar pria itu.
Qania dan Diana bisa langsung melihat keadaan kamar yang gelap dan sangat suram, terlihat Arkana yang sedang duduk di dekat jendela kamar sambil menundukkan kepalanya.
Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar Arkana dan menghampiri pria itu, mereka bisa melihat bagaimana keadaan Arkana yang benar-benar tidak terawat.
Qania sangat jarang melihat kumis yang tumbuh di wajah Arkana, jika sudah seperti itu artinya Arkana benar-benar depresi. Bahkan kehadiran mereka sekarang tampak tak di hiraukan olehnya sama sekali.
“ Aku datang kemari untuk mengecek keadaan kamu, mas Aizen bilang kalau kamu nggak pernah datang ke rumah sakit lagi sejak hari itu. Aku boleh ya cek keadaan kamu sebentar.?” Pinta Qania dengan suara yang begitu lembut.
“ Kamu sahabatnya Jingga kan? Kamu beneran nggak tahu dimana dia sekarang.?” Tanya Arkana melirik Diana dengan tatapan putus asa.
“ Aku beneran nggak tahu dimana dia sekarang, mendengar kabar dia menghilang pun cukup buat aku syok.” Jawab Diana.
“ Aku harus bagaimana lagi supaya dia kembali? Bahkan satu informasi tentang dia aja nggak bisa aku dapat, aku suami yang nggak berguna.” Ucap Arkana yang kembali meratapi dirinya.
“ Jangan ngomong gitu, sebaiknya kamu cukup percaya aja kalau Jingga pasti kembali.”
“ Dia meninggalkan surat itu, tapi aku nggak tahu harus percaya apa nggak. Aku dilema Nia, aku bingung, aku frustasi, aku…”
“ Surat apa? Dia bilang apa aja di surat itu.?” Tanya Diana penasaran.
Arkana pun menceritakan semua isi surat itu kepada mereka, keduanya paham dan ikut memikirkan hal serupa. Mereka pun sulit untuk percaya jika Jingga melakukan hal seperti itu, semua benar-benar membuat orang-orang merasa bingung.
“ Jangan sedih seperti ini Ar, kita sama-sama cari Jingga dan pasti dia akan kembali. Kalian punya Keenan, sekarang kamu mungkin kehilangan Jingga tapi kamu masih punya Keenan. Ingat Ar, Keenan juga butuh kamu seperti kamu butuh Jingga.”
Arkana baru saja tersadar dengan ucapan Qania barusan, selama satu minggu ini dia meratapi nasibnya tanpa menengok putranya sama sekali. Dia pun merasa bersalah akan hal tersebut, Keenan di rumah sakit sendirian dan dia berada di rumah tanpa memikirkannya sama sekali.
“ Aku mau menemui Keenan hari ini, kalau bisa aku ingin membawanya pulang. Aku khawatir kalau dia terus berada di rumah sakit dan hal serupa terjadi kepadanya.” Ucap Arkana yang perlahan mulai sadar.
“ Kami ikut bersamamu, selama Jingga nggak ada kami yang akan bantu merawat Keenan.” Ujar Diana kemudian.
__ADS_1
**
Setelah satu minggu berlalu, akhirnya Arkana kembali ke rumah sakit dan melihat keadaan putranya. Kondisi Keenan sudah mulai membaik dan dokter Nala juga memperbolehkan Arkana untuk membawa Keenan pulang ke rumah.
“ Kamu nggak apa-apa Ar merawat Keenan sendirian tanpa Jingga.?” Tanya dokter Nala.
“ Nggak apa-apa dok, saya mau belajar merawat Keenan sampai Jingga kembali.” Balas Arkana.
Dokter Nala hanya bisa menyentuh lengan Arkana dan mengusapnya sambil tersenyum simpul, bagaimana pun juga dokter Nala merasa ikut sedih mendengar kabar kehilangan Jingga yang mendadak ini.
“ Kalau ada apa-apa kamu jangan lupa hubungi saya ya Ar, kamu juga harus sering-sering konsul ke dokter anak tentang Keenan. Dokter Stella yang menangani Keenan selama ini pun sangat baik dalam merawat Keenan.”
“ Terima kasih dok, saya akan menghungi kalian kalau terjadi apa-apa dengan Keenan.”
Setelah selesai mengambil Keenan dari ruang NICU, akhirnya Arkana membawa putranya itu pergi dari rumah sakit. Beberapa orang memperhatikan Arkana dengan tatapan yang beraneka ragam, ada yang menatapnya kasihan, sinis, marah, dan cenderung merendahkannya.
Tapi Arkana tidak peduli lagi dengan mereka, yang dia pedulikan hanyalah keadaan Keenan saat ini. Dan sekarang Arkana berhasil keluar dari rumah sakit, dia menemui Qania dan Diana di tempat parkir dimana keduanya sudah menunggu sejak tadi.
“ Biar aku yang bawa mobilnya, kamu duduk di samping Qania dengan menggendong Keenan.” Ucap Diana lirih.
“ Kamu mau sewa baby sitter buat bantu kamu rawat Keenan.?” Tanya Qania.
“ Aku nggak mau sewa siapa-siapa lagi, aku sendiri bisa merawatnya. Lagi pula aku sudah tidak bekerja lagi, jadi nggak akan sulit buat merawatnya.” Balas Arkana.
“ Aku sama Diana akan sering-sering ke rumah kamu untuk merawatnya, jadi jangan khawatir.”
“ Tapi kamu lagi hamil dan Diana sibuk dengan butiknya, jangan terlalu sering datang. Cukup beberapa kali saja.”
“ Nggak apa-apa, hitung-hitung latihan jadi ibu, kalau nanti anakku lahir aku sudah bisa merawatnya dengan baik.”
Arkana tidak tahu harus berkata apalagi, dia tidak bisa menolak kebaikan hati dari Qania dan Diana saat ini. Untuk sementara waktu mungkin tidak ada salahnya jika mereka membantu merawat Keenan.
**
__ADS_1
Malam ini Arkana dan Keenan akan tidur di kamar Arkana, karena kamar Keenan berhenti di renovasi mengingat mereka akan pindah ke Singapur alhasil Keenan akan tidur bersama papanya.
Arkana sudah naik ke atas tempat tidur sambil menatap wajah putranya yang sedang tertidur dengan pulas, hanya dengan menatap wajah Keenan saja rasanya membuat dirinya sangat bahagia.
“ Maafin papa ya, papa udah tinggalin kamu selama seminggu. Mulai hari ini papa janji nggak akan pernah tinggalin kamu.”
“ Dan papa juga minta maaf karena belum berhasil menemukan mama, kita anggap mama sedang pergi liburan ya. Mama pasti kembali untuk melihat kamu, dia kan sayang banget sama kamu.”
Arkana mengecup lembut wajah Keenan sebelum akhirnya ikut berbaring di samping putranya, kemudian dia meraih tubuh mungil itu dan memeluknya dengan lembut.
“ Selamat tidur sayang, papa disini kok.”
**
Pagi keesokan harinya, Keenan menangis sangat keras yang membuat Arkana bingung harus berbuat apa. Dia sudah menggendongnya namun Keenan terus menangis, dia keluar untuk memanggil dua pembantunya untuk membantu menenangkan Keenan.
Bi Inah yang sudah memiliki dua orang anak tahu betul apa yang harus di lakukan, pampers yang di gunakan Keenan sebelumnya sudah full sehingga harus segera di ganti.
Kedua pembantu itu mengatasi semuanya dengan baik hingga akhirnya Keenan sudah tidak menangis lagi, dia bahkan sudah di mandikan oleh bi Inah sehingga Keenan sudah bersih dan harum.
“ Kalau ada sesuatu jangan sungkan tanya ke kita ya tuan.” Sahut bi Inah.
“ Terima kasih bi, aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian.” Balas Arkana.
“ Santai aja tuan, selama non Jingga nggak ada, kita bisa kok jagain den Keenan.” Sambung mereka.
“ Tapi bi, kayaknya saya nggak sanggup gaji kalian dengan gaji kemarin. Saya berpikir untuk memberhentikan kalian minggu depan setelah pembayaran,”
“ Jangan pikirin gajinya tuan, saya sama Salma nggak apa-apa kok di bayar setengah. Kita berdua nyaman kerja di rumah ini, jadi jangan terlalu di pikirin.” Sambung bi Inah dengan cepat.
“ Terima kasih, kalian benar-benar orang yang baik.” Balas Arkana tersenyum dengan senang.
__ADS_1