Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Baby Girl


__ADS_3


Masih tersisa dua hari lagi bagi Jingga dan keluarga kecilnya untuk berada di Indonesia, setelah semua ini berakhir mereka sudah harus kembali ke Singapura.


Bertepatan hari ini, kabarnya Qania akan melahirkan setelah semalam merasakan kontraksi yang sangat kuat. Qania sendiri akan melakukan operasi caecar karena tali pusar melilit si bayi, jika melakukan metode melahirkan normal nantinya akan membahayakan nyawa si bayi.


Jingga dan Arkana yang telah mendengar kabar tersebut bergegas untuk ke rumah sakit, seperti biasa Keenan akan selalu di titip ke mama Widya. Mau berapa kali pun Keenan di bawa ke neneknya, tampak sang nenek dua kali lebih bahagia menjaga cucu kesayangannya itu.


Setibanya di rumah sakit, Jingga dan Arkana menyapa beberapa orang yang mereka kenal. Termasuk para dokter yang dulu membantu kesembuhan Jingga, dan tak lupa menemui Nisa yang sekarang menjadi kepala suster dari dokter baru setelah Arkana.


“ Ya ampun dokter, Jingga, udah lama nggak ketemu kalian.” Seru Nisa.


“ Kamu apa kabar Nis.?” Tanya Jingga.


“ Baik, keadaan di rumah sakit juga baik-baik aja. Tapi tahu nggak dok, dokter yang sekarang jadi atasan aku gantengnya ngalahin dokter Arka.” Ucap Nisa sambil bisik-bisik.


“ Kenapa nggak kamu pepet aja terus? Kamu mau dapat suami dokter kan.” Seloroh Arkana.


“ Mau banget dok, tapi sayang dia udah punya pacar.” Balas Nisa dengan wajah memelas.


“ Selama janur kuning belum melengkung, masih banyak jalan dan kesempatan loh Nis.” Bisik Jingga di sambut gelak tawa Nisa.


Setelah cukup mengobrol dengan Nisa, kini Arkana dan Jingga sudah kembali melangkah menuju ruang tunggu. Kabarnya Qania telah selesai melahirkan putri pertamanya bersama Aizen, tinggal menunggu waktu saja hingga Qania selesai di tangani dan di pindahkan ke kamar inap.


Di sela-sela menunggu, mungkin ada sekitar tiga kali seorang perawat lewat sambil mendorong box bayi. Ada juga seorang ayah muda yang menggendong anak mereka di temani seorang perawat yang akan memandu mereka menuju ruangan si bayi.


Jingga yang memperhatikan mereka sejak tadi tampak merasa sendu, dia menunduk memikirkan sesuatu yang akhirnya membuat Arkana penasaran dan langsung bertanya.


“ Kamu kenapa? nggak enak badan? Apa sebaiknya kita pulang ke rumah aja?” Tawar Arkana di balas gelengan kepala dari Jingga.


“ Terus apa.?” Tanya Arkana lagi.


“ Dulu waktu ngelahirin Keenan, aku nggak sempat melihat wajahnya. Aku bahkan nggak tahu rasanya melahirkan, bagaimana perasaan nggak sabar di campur bahagia menunggu kelahiran seorang anak. Kalau mengingat hal itu, aku langsung merasa belum seutuhnya menjadi seorang ibu.” Ucap Jingga yang membuat Arkana sedih mendengarnya.


“ Kamu jangan berpikir seperti itu, kamu tetap seorang ibu yang baik dan luar biasa untuk Keenan. Buktinya Keenan bisa tumbuh menjadi anak yang sehat dan aktif, semua itu kan berkat kamu.” Balas Arkana sambil mengusap kepala Jingga dengan lembut.


“ Terima kasih ya mas, aku merasa jauh lebih baik setelah mendengar ucapan kamu.”


“ Sama-sama, selain jadi ibu yang baik, kamu juga adalah istri terbaik yang pernah ada di dunia ini.”

__ADS_1


“ Kamu mulai lebay lagi sekarang.”


“ Aku serius, kamu itu.”


Belum sempat Arkana melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba kemunculan sosok Aizen membuat mereka langsung menoleh dan berdiri dengan tegap.


“ Gimana keadaan Qania dan bayinya.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Qania dan bayinya selamat, terima kasih karena sudah mau repot-repot datang.” Balas Aizen.


“ Syukurlah, aku sama mas Arka udah nggak ada waktu lagi soalnya mau balik ke Singapura. Jadi, kapan kita bisa lihat bayi kalian.?”


**


Kesadaran Qania sudah kembali sejak beberapa saat yang lalu, dia pun mengingat semua yang telah terjadi padanya hari ini. Perut besar yang beberapa saat lalu masih terlihat, sekarang sudah mengempes dan itu artinya bayi di dalam sana telah berhasil keluar.


Pintu terbuka beserta beberapa orang yang di kenal oleh Qania, sosok Jingga yang paling antusias kala itu. Dia menghampiri Qania dan mengucapkan selamat kepada Qania atas gelar ibu yang kini tersemat untuknya.


“ Selamat ya Nia, akhirnya kamu berhasil menjadi seorang ibu.” Seru Jingga.


“ Terima kasih Jingga.” Balasnya parau.



Bayi perempuan Qania dan Aizen lahir dengan selamat dalam keadaan anggota tubuh yang lengkap, selain itu wajahnya begitu cantik. Perpaduan wajah Qania dan Aizen sangat jelas, tidak ada yang mendominasi sebelah pihak saja.


“ Btw namanya siapa.?” Tanya Jingga penasaran.


Qania melirik suaminya dan memberikan kesempatan untuknya menjawab pertanyaan Jingga barusan.


“ Arsyiqila Shaqueena Mahendra.” Ujar Aizen.


“ Nama yang cantik, sama seperti pemilik nama.” Gumam Jingga gemas dengan putri Qania dan Aizen.


“ Kamu nggak mau nyusul punya baby girl lagi.?” Tanya Qania sontak membuat Jingga terkejut.


“ Nggak dulu, Keenan masih kecil. Tunggu Keenan sampai berumur lima tahun,”


“ Apa nggak kelamaan.” Celetuk Arkana dengan wajah cemberutnya.

__ADS_1


“ Terus kamu maunya kapan mas.?” Lirik Jingga.


“ Udah…udah, bahas rumah tangga nanti aja di rumah.” Lontar Aizen di sambut tawa Qania.


**


Arkana masih merajuk di hadapan Jingga setelah pernyataan Jingga hari ini tentang memiliki anak kedua setelah usia Keenan menginjak lima tahun. Tampak Jingga yang sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba berhenti memainkan ponselnya dan menatap suaminya itu dengan tatapan yang menakutkan.


Arkana yang melihatnya langsung mengalihkan pandangannya, tiap kali Jingga melemparkan tatapan seperti itu rasanya seluruh badannya langsung bergidik ketakutan.


“ Keenan baru berumur satu tahun mas, dia masih belum bisa jadi kakak. Aku nggak mau perhatiannya terbagi karena punya adik di usia segitu. Usia ideal untuk punya adik itu berjarak tiga sampai empat tahun, kamu kan dokter, masa gitu aja nggak tahu.”


“ Habisnya lihat anak perempuan Qania dan Aizen buat aku pengen punya anak perempuan juga, pasti kalau kita punya anak perempuan dia pasti bakalan cantik kaya kamu.”


Jingga yang mendengarnya langsung tersipu malu, dia kembali memainkan ponselnya. Bukan tanpa alasan dia bermain ponsel sejak tadi, dia hanya memantau kabar Diana setelah pernikahannya dua hari lalu.


“ Kamu baik-baik aja kan? Kok nggak pernah ada kabar lagi.?” Tulis Jingga untuk Diana.


Beberapa saat kemudian ada balasan dari sahabatnya itu.


“ Aku baik.”


“ Kamu serius? Aku tahu pasti ada sesuatu di antara kamu dan suami kamu kan.?”


“ Dia bukan suamiku, jangan sebut dia suamiku.”


“ Oke, maafin aku. Jadi kamu dimana sekarang.?”


“ Sekarang aku ada di Eropa. Tujuan kami memang honeymoon, tapi aku sama dia pergi ke tempat tujuan masing-masing. Kami sepakat melakukan kontrak pernikahan, jangan beri tahu siapapun soal ini.”


Jingga menghela nafas panjang setelah membaca isi pesan Diana, Arkana langsung bertanya ada apa sebab dia jarang mendengar Jingga menghela nafas seperti itu.


“ Diana melakukan kontrak pernikahan dengan suaminya, aku makin khawatir sama dia.”


“ Hanya menunggu waktu saja, kalau suaminya baik dia pasti bisa membuat Diana jatuh cinta. Sama seperti aku ke kamu dulu.”


“ Iya juga ya, kamu yang sikapnya kasar dan nggak berperasaan aja bisa buat aku jatuh cinta. Gimana dengan suaminya Diana.”


“ Kamu terlalu jujur barusan, mending kita tidur aja sekarang.” Sahut Arkana sambil menarik Jingga ke dalam pelukannya.

__ADS_1



__ADS_2