
Arkana sudah meninggalkan rumah sakit dan bergegas menuju rumah mama Widya, tapi tiba-tiba saja dia melihat titik lokasi Jingga tidak sedang berada di rumah melainkan di suatu tempat yang cukup jauh dari rumah.
“ Kemana dia pergi.?”
Arkana melacak tempat Jingga saat ini berada, rupanya dia sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan yang jarak tempuhnya cukup dekat dengan titik keberadaan Arkana saat ini.
“ Syukurlah dia diluar, dia pasti belum bertemu dengan Bima.” Arkana segera memutar laju mobilnya menuju tempat Jingga berada saat ini.
Hujan mengguyur kota Jakarta sore itu, tepat saat Arkana tiba di pusat perbelanjaan tempat Jingga berada. Dia pun masuk ke dalam dan mengikuti kemana titik GPS milik Jingga saat ini.
Arkana beruntung pernah memasang pelacak di ponsel Jingga, jika saja hal itu tidak pernah dia lakukan mungkin sekarang dia akan lebih sulit mengetahui keberadaan Jingga.
“ Dimana dia? Mall sebesar ini dengan banyaknya manusia akan sulit menemukannya, tapi titiknya berakhir di lantai ini.” Gumam Arkana sambil melirik sekitar tempat itu dengan teliti.
Arkana bisa melihat Jingga saat ini, wanita itu berada di seberang lantai yang yang sama dengannya. Tapi melihatnya sedang berhadapan dengan seorang pria bertubuh besar membuat Arkana segera berlari menghampirinya.
Langkah Arkana semakin dekat, dia bisa melihat pria itu marah-marah dan sempat mendorong Diana ke lantai. Tepat saat pria itu hendak memukul Jingga, dengan cepat Arkana menahan tangannya dan memelintirnya ke belakang.
“ Mau apa kau dengan istriku hah.?” Ucap Arkana yang begitu emosi di buatnya.
“ Lepaskan, wanita itu duluan yang menumpahkan kopi di kemejaku.” Sahut pria itu berusaha melepaskan pegangan Arkana.
“ Kau tidak lihat mereka itu seorang wanita? Apa matamu buta? Dia sedang hamil dan kau ingin memukulnya.??”
Suasana di tempat itu semakin kacau, semua mata tertuju pada mereka. Sampai akhirnya security mall datang menengahi mereka. Diana menjelaskan kronologinya pada security, tapi mereka semua harus di bawa ke ruang keamanan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Pria yang merasa tidak terima dengan kemejanya yang kotor tetap meminta ganti rugi pada Jingga dan Diana, karena kesal akhirnya Arkana memberikan beberapa lembar uang merah kepadanya untuk segera pergi sehingga masalah pun dapat terselesaikan dengan cepat.
Setelah semua terselesaikan dengan cepat, Arkana meminta waktu pada Jingga untuk mereka bisa mengobrol berdua. Diana tampak melindungi Jingga agar tidak berhadapan dengan Arkana, namun Jingga memberikan kesempatan pada Arkana sebagai bentuk terima kasih karena telah menyelamatkannya tadi.
“ Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang sakit kan.?” Tanya Arkana yang begitu khawatir pada Jingga.
“ Kenapa kamu ada disini.?” Jingga menatap Arkana penasaran.
__ADS_1
“ Oh itu, aku nggak sengaja ada disini dan lihat kalian dalam masalah.” Jawab Arkana terpaksa bohong.
“ Kamu bisa pergi sekarang, aku akan pulang dengan Diana.” Balas Jingga.
“ Jangan pulang kesana.” Tahan Arkana.
“ Bukannya kita sudah sepakat, sebelum kamu mengingat semuanya, aku nggak akan maafin kamu.” Tolak Jingga.
“ Gilang nggak bilang apa-apa sama kamu.?” Tanya Arkana.
“ Tentang apa.?”
“ Lupakan, aku boleh minta tolong untuk malam ini kita tinggal bersama lagi? Hanya malam ini, besok kau boleh pulang ke rumah mama Widya lagi.” Lontar Arkana dengan penuh harap.
Jingga menghembuskan nafas panjang mendengarnya, sekarang dia menatap Arkana yang menunggu jawaban darinya.
“ Aku nggak bisa pulang sekarang karena ada Bima disana, bagaimana pun juga aku masih syok dengan kemunculannya yang membuatku teringat pada Nawa.” Benak Jingga sambil memikirkan kejadian hari ini.
“ Ya sudah, aku tinggal di rumah sama kamu malam ini.” Jawab Jingga sukses membuat Arkana kegirangan.
**
Akhirnya mereka tiba di rumah, melihat rumah yang sudah lama di tinggalkan olehnya lantas membuat Jingga sedikit rindu dengan suasana yang ada di dalam.
Arkana mengikuti langkah Jingga di belakang, dia terlihat terus tersenyum melihat Jingga yang akhirnya sudah kembali di sisinya. Dia tak lagi khawatir tentang Jingga dan Bima, besok pun dia akan membuatnya tidak bisa bertemu dengan kakaknya itu.
“ Jangan masuk kesini.” Arkana langsung memblokade jalan Jingga ketika dia hendak membuka pintu kamarnya.
“ Kenapa? ini kan kamarku, kenapa aku nggak boleh masuk.?” Tanya Jingga mengernyit heran.
“ Di dalam kotor, bi Inah sama bi Salma udah nggak kerja disini dan aku nggak pernah nyuruh orang buat beresin kamar itu. Di dalam juga banyak laba-laba dan serangga lain, kamu pasti takut kan? Maka dari itu malam ini kamu tidur di kamarku.” Ajak Arkana sambil menunjuk ke arah kamarnya.
“ Kenapa mereka nggak kerja lagi? Kamu pecat mereka.?”
“ Aku mau sendirian di rumah ini, alasan mereka ada disini waktu itu Cuma untuk bantu kamu. Aku nggak butuh mereka lagi makanya aku pecat mereka.”
__ADS_1
“ Jadi selama ini kamu hidup sendirian? “
“ Iya, kamu khawatir ya sama aku.?”
“ Nggak, aku Cuma kasihan sama mereka yang kamu pecat.”
“ Jadi gimana? Kamu mau kan tidur di kamarku malam ini.”
“ Mau gimana lagi.” Jingga pun beranjak menuju kamar Arkana, di ikuti langkah Arkana yang jauh lebih senang dari sebelumnya.
**
Malamnya Jingga dan Arkana sudah masing-masing berbaring di tempat mereka tidur, Jingga mengambil alih kuasa tempat tidur sepenuhnya sedangkan Arkana tidur di sofa.
“ Kamu ingat kan waktu itu kamu buat aku tidur di sofa, sekarang giliran kamu yang tidur disana.” Lontar Jingga yang masih terjaga saat itu.
“ Aku minta maaf, aku salah. Aku terima kok kalau harus tidur di lantai sekalipun.” Balas Arkana.
“ Awas aja kalau kamu datang ke tempat tidur, aku makin nggak mau maafin kamu nanti.” Ancam Jingga.
“ Kamu bebas menggunakan tempat tidurnya, aku nggak akan kesana kok.” Jawab Arkana.
Jingga mencoba menarik selimut dan mencoba untuk tidur, sejak tadi dia tidak bisa berhenti memikirkan Bima. Masih banyak pertanyaan yang ada di kepalanya sampai dia tidak bisa tidur, kemudian Jingga melirik Arkana dan berpikir untuk bertanya tentang Bima pada pria itu.
Belum sempat Jingga memanggil Arkana, tiba-tiba saja lampu padam yang membuat Jingga ketakutan dan langsung berteriak. Jingga terkejut saat ada yang memeluknya dan berusaha menenangkannya, Arkana dengan lembut mengusap kepala Jingga dan membuatnya tidak perlu takut lagi.
“ Ada aku, nggak usah takut.” Ucap Arkana lirih.
“ Kenapa lampunya bisa mati.?” Tanya Jingga.
“ Nggak tahu, aku mau cek dulu tapi aku nggak mau tinggalin kamu sendirian.” Ujar Arkana.
“ Kita tunggu aja lampunya nyala, kamu tetap di sampingku aja.” Kata Jingga sukses membuat Arkana tersadar dan salah tingkah.
__ADS_1