Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Pukulan Penuh Amarah


__ADS_3


Arkana melepaskan tangannya dari Bima dengan kasar, kemudian dia menoleh dan menatap wajah kakaknya dengan tatapan serius. Bima sendiri membalasnya dengan tatapan santai, dan itulah yang membedakan karakter dua bersaudara itu.


“ Aku sudah bilang untuk berhenti menemui Jingga, mau sampai kapan kamu merebut kebahagiaanku.?”


“ Siapa yang mau merebutnya? Aku tanya, siapa.?” Bima mulai kesal sambil mendorong Arkana meskipun tidak begitu kuat.


“ Aku nggak ngerti ya sama kamu, aku tahu kita udah berpisah cukup lama. Tapi kenapa setelah kita bertemu begini bukannya saling melepas rindu, tapi justru meluapkan emosi yang nggak jelas.?” Protes Bima.


“ Itu karena kamu yang udah buat aku merasakan semua ini.” Balas Arkana berusaha menahan emosinya yang hampir meledak.


“ Merasakan apa? Ngomong yang jelas bisa nggak sih? Sikap kamu yang kekanak-kanakan ini nggak bisa menyelesaikan masalah. Kalau memang kamu marah sama aku, jelasin salah aku dimana?” Teriak Bima membuat Arkana tampak tak bisa berkata-kata.


“ Dengar ya Ar, saat kedua orang tua kita berpisah aku pernah tanya kamu soal pilihan ikut mama atau papa. Dan kamu jawab kalau kamu mau ikut mama, aku kasih kamu kesempatan itu supaya kamu bisa hidup bahagia sama pilihan kamu. Sekarang apalagi? Kamu marah sama aku karena orang tua kita berpisah? Kamu pikir itu salah aku mereka berpisah.?”


Arkana sangat kesal mendengarnya sampai membuat dia menghajar Bima dengan kuat, Bima yang terjatuh kemudian bangkit dan balas menghajar Arkana.


Arkana kaget karena dia tidak menyangka bahwa Bima akan balas memukulnya, dan pukulan yang dia terima terasa seperti pukulan emosi yang sangat besar.


“ Benar apa kata mama, kamu menjadi agresif dan sulit di mengerti.” Ucap Bima sambil menatap Arkana yang tersungkur di lantai sambil menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah.


“ Soal Jingga, jangan pernah larang aku untuk ketemu sama dia. Kalau kamu takut dia sampai suka sama aku karena aku mirip Nawa, kamu salah. Besok aku akan mempertemukan calon istriku ke mama, jadi nggak ada alasan kamu buat cemburu nggak jelas kaya tadi.” Sambung Bima yang kemudian beralih meninggalkan Arkana.


Arkana terlihat sangat kesal sambil memukul lantai dengan sangat kuat, pikirannya sedang kacau sampai dia tidak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini.


**


Tok..tok…tok…


“ Masuk.” Suara itu baru saja membuat Bima membuka pintu dengan tulisan ruangan direktur utama rumah sakit.


Bima yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu berhasil menemui mama Widya, tampak mama Widya yang begitu bahagia melihat kedatangan Bima. Dia bahkan sampai meninggalkan meja kerjanya dan mengajak Bima untuk duduk di sofa.


“ Ada apa sayang? Tumben kamu datang menemui mama hari ini.?”


“ Bentar, ini wajah kamu merah kenapa? siapa yang udah mukul kamu.?” Tanya mama Widya tampak khawatir melihat bekas pukulan di pipi kanan Bima.


“ Tadi aku jatuh ma.”

__ADS_1


“ Jatuh? Kok yang luka wajahnya?”


“ Iya, wajahnya yang jatuh duluan jadi kaya gini deh. Udah mama nggak usah khawatir, aku bukan anak kecil lagi.”


“ Ya sudah, kalau begitu tujuan kamu datang kemari ada apa.?”


“ Besok Bima mau kenalin mama sama calon Bima.”


“ Oh ya? Kok mendadak gitu? Kita mau ketemu dimana? Apa sebaiknya mama buat reservasi di restoran bintang lima.?”


“ Nggak usah ma, cukup di rumah aja.”


“ Hmm, baiklah. Mama akan menyuruh orang di rumah untuk menyiapkan semuanya, jadi dia mau datang sama orang tuanya juga.?”


“ Sendiri kok ma, aku Cuma mau ajak dia aja dan kenalin ke semua keluarga.”


“ Ngomong-ngomong dia dari keluarga mana?”


“ Dia dari keluarga biasa ma, tapi dia bekerja sebagai pengacara.”


“ Wah putra mama hebat bisa dapat seorang pengacara. Nggak kaya Arkana yang hanya dapat seorang desainer, itu pun sudah tidak pernah menekuninya lagi.”


“ Kamu harus tahu, sebenarnya mama menjodohkan mereka karena satu alasan.”


“ Alasan apa ma.?”


**


Sudah lebih dari lima jam dan Arkana belum juga kembali ke ruangan Jingga, wanita itu sampai khawatir dan berusaha menghubunginya namun terus gagal.


“ Kamu kemana sih mas? Padahal nggak biasanya kamu pergi lama begini.” Keluh Jingga sambil menatap layar ponselnya.


Suara pintu terkuak seketika membuat Jingga menoleh dengan cepat, tadinya dia mengira kalau yang datang adalah Arkana, ternyata dia salah. Seorang perawat datang untuk memberikan suntikan obat yang selalu di lakukan setiap sepuluh jam sekali.


“ Sus, lihat dokter Arka nggak.?” Tanya Jingga.


“ Nggak bu, saya nggak lihat.” Jawabnya pelan.


“ Bisa minta tolong kalau nanti keluar dan lihat dokter Arka, suruh kesini ya sus.”

__ADS_1


“ Iya bu, nanti saya sampaikan.”


Setelah Jingga selesai menerima obat, perawat itu pun pergi dari ruangannya. Dan sekarang dia kembali harus sendirian, rasanya sangat sepi dan dia sangat butuh teman mengobrol sekarang.


Dering ponsel Jingga baru saja berdering, dia melihat ada sebuah DM yang masuk dari Tsania. Tadinya dia tidak ingin melihat isinya, namun Tsania terus mengirimkan format foto yang membuatnya cukup penasaran.


Tsania : Kak Jingga coba lihat, aku nggak bohong kan waktu aku bilang dokter Arkana dan dokter Qania kembali dekat.


Jingga bisa melihat beberapa bukti foto baru yang di perlihatkan Tsania, tampak di foto itu terlihat Arkana dan Qania sedang duduk bersebelahan di satu ruangan yang terlihat seperti ruangan Arkana.


“ Aku nggak boleh terpancing ucapan Tsania, mungkin saja mereka sedang membahas sesuatu.” Benak Jingga yang akhirnya memblokir akun Tsania untuk membuatnya tidak melihat sesuatu yang nantinya hanya akan membuatnya terluka.


**


Jingga kembali membuka kedua matanya setelah dia tertidur akibat obat yang di berikan beberapa jam yang lalu, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari keberadaan Arkana yang ternyata sampai sekarang belum menampakkan wajahnya.


Sekarang sudah malam dan Arkana masih belum kembali, hal ini kembali membuatnya terganggu terlebih lagi saat Tsania mengirimkan bukti foto kedekatan Arkana dengan Qania.


Terdengar suara seseorang sedang mengobrol di balik pintu, Jingga mengenal suara itu dan membuatnya yakin bahwa yang akan masuk sebentar lagi pasti Arkana.


Dan saat pintu berhasil terkuak, terlihat Arkana yang muncul dengan plester di sudut bibirnya. Jingga terkejut melihatnya dan menyuruh Arkana untuk segera mendekat kepadanya.


“ Wajah kamu kenapa mas? Kamu nggak berantem sama mas Bima kan hari ini.?” Tanya Jinggga namun Arkana tidak menjawab apapun.


“ Kamu dari mana mas? Aku udah nunggu kamu dari tadi.” Sambung Jingga dengan wajah sendunya.


Arkana tercekat melihat ekspresi Jingga seperti orang yang baru saja selesai menangis, karena tak tega dengan apa yang telah dia lakukan, Arkana pun langsung meraih Jingga ke dalam pelukannya.


“ Maaf ya, hari ini aku sibuk jadi nggak bisa menemani kamu.”


“ Sibuk? Kamu bahkan mengobrol sama Qania hari ini dan kamu bilang sibuk.?” Benak Jingga tak berani mengatakannya secara langsung.


“ Kamu udah makan? Mau makan apa.?” Arkana melepas pelukan itu dan menatap wajah Jingga dengan lekat.


“ Kamu jujur sama aku, kamu sama mas Bima berantem kan.?” Tanya Jingga sambil menyentuh wajah Arkana.


“ Aku lagi nggak mau bahas itu, kamu tunggu disini aku keluar pesan makanan dulu.” Lanjut Arkana yang akhirnya kembali meninggalkan Jingga sendirian.


__ADS_1


__ADS_2