Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Arkana Mulai Terbuka


__ADS_3


Malam itu Arkana baru saja keluar dari kamar mandi ketika melihat Jingga baru saja naik ke atas tempat tidur, dengan manja Arkana ikut naik ke atas sana dan mencium perut Jingga sambil mengelusnya dengan penuh kelembutan.


“ Padahal aku harap anak kita perempuan, pasti dia akan jadi perempuan yang sangat cantik seperti mamanya.” Ucap Arkana yang terus mengusap perut besar Jingga.


“ Justru aku lebih senang kalau yang pertama itu anak laki-laki, jadi nanti kalau dia punya adik dia bisa menjaga dan merawat adiknya dengan baik.”


“ Jadi kamu mau punya anak kedua lagi.?” Arkana terlihat malu-malu saat mengatakannya.


“ Maksud aku nanti, kalau anak pertama kita udah besar.”


“ Aku nggak keberatan kok kalau harus bikin adik lagi buat anak kita nanti.”


“ Kayaknya aku salah ngomong deh.” Benak Jingga sambil menepuk kepalanya pelan.


“ Kamu kan tahu waktu anak ini di buat, aku dalam keadaan nggak sadar. Jadi nanti kalau adiknya,”


“ Mas Arka udah cukup, aku jadi malu dengarnya.” Jingga menutup mulut Arkana dengan cepat sehingga membuat pria itu akhirnya berhenti bicara.


“ Kenapa malu sih, aku kan suami kamu.” Arana meraih Jingga ke dalam pelukannya sehingga mereka bisa saling berbagi kehangatan malam itu.


“ Alih-alih nambah anak, aku cuma mau persalinanku nanti berjalan dengan baik. Aku nggak mau anak ini kenapa-napa, dan aku juga nggak mau ninggalin kamu dan dia.”


“ Kamu tenang aja, aku akan konsultasi masalah jantung kamu dengan beberapa dokter di rumah sakit. Qania bilang kalau kondisinya masih baik-baik saja sampai usia kandungan kamu masuk delapan bulan, katanya nggak ada yang perlu di khawatirkan.”

__ADS_1


“ Gimana kalau ternyata salah satu di antara kami yang bisa selamat? “ Tanya Jingga tiba-tiba.


“ Nggak ada yang salah satu, kalian berdua akan selamat. Aku janji sama kamu, bahkan di ruang operasi nanti aku yang akan menemani kamu supaya kamu nggak takut.”


“ Jadi begini ya rasanya punya suami dokter, aku nggak pernah menyangka sebelumnya kalau hubungan kita akan berakhir seperti ini mas.” Jingga meraih tangan Arkana dan memperhatikannya dengan lekat, terutama pada cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manis masing-masing.


“ Kamu masih mau dengar cerita tentang aku nggak? Waktu itu kamu minta tapi aku tolak karena aku nggak siap, tapi sekarang aku sudah siap untuk kasih tahu ke kamu semuanya.” Lontar Arkana lantas membuat Jingga langsung menoleh ke belakang.


“ Aku mau mas.” Jawab Jingga serius.


Jingga dan Arkana merubah posisi mereka ke posisi yang lebih nyaman, Arkana berbaring di samping Jingga dan membiarkan tubuh Jingga ikut berbaring di sebelahnya.


“ Kamu sudah tahu kan kalau mama dan papaku bercerai saat aku berusia 10 tahun? Aku masih belum tahu pasti penyebab perceraian mereka, tapi aku tahu kalau aku bukan anak kandung suami pertama mamaku. Aku yakin kalau salah satu alasannya adalah karena mama hamil dengan pria lain dan bukan papa, tapi aku nggak bisa cari tahu semuanya dengan jelas.”


“ Aku memang anak kandung mama Widya, itu sebabnya saat mereka bercerai aku yang ikut dengan mama. Sejak usia 10 tahun aku hidup penuh tekanan, mama terus menyalahkanku dan bahkan berusaha membunuhku setiap dia merasa sedih karena perceraiannya dengan papa, aku yang masih kecil tidak bisa berbuat apa-apa saat itu dan aku hanya bisa pasrah atas apa yang di perbuat mama padaku.”


“ Setelah kedua orang tua papa Hendra meninggal dan semua harta warisan jatuh kepada papa Hendra, saat itu mama meminta semua harta papa dan memecat semua orang-orang di rumah sakit. Dia menggantinya dengan orang-orang baru yang tidak mengenal siapa mama Widya, mereka pun mengira bahwa mama dan papa Hendra sudah menikah sejak awal dan aku di anggap sebagai putra kandungnya yang akan mewarisi rumah sakit itu nantinya.”


“ Dan aku pun terpaksa harus mengikuti keinginan mama untuk menjadi dokter agar bisa mewarisi warisan itu, meskipun sejak awal aku tidak pernah berniat untuk menjadi seorang dokter.”


“ Untuk memenuhi harapan mama karena masa lalunya yang telah membuatnya terluka, aku berusaha menjadi anak yang baik dengan terus belajar dan berusaha menjadi yang terbaik. Tapi sayangnya hal itu tetap tidak bisa membuatnya puas, aku selalu di salahkan dan tanpa sadar hidup dalam rasa ketakutan dan ketidakpercayaan diri seperti ini.”


“ Dampak dari semua itu akhirnya buat aku berani melakukan self harm, aku terus melukai tubuhku tanpa berpikir panjang. Dan ku pikir mama akan khawatir, tapi sebaliknya dia menganggapku gila. Dan aku sampai mencoba untuk melakukan bunuh diri, tapi akhirnya kamu datang menyelamatkan aku waktu itu.”


Jingga terkejut mendengarnya, dia ingat dengan kejadian di danau waktu itu dimana dia menyelamatkan seorang pria. Ternyata dia sudah pernah bertemu dengan Arkana meskipun saat itu dia hanya menolong dan membawanya ke rumah sakit tanpa mengecek lagi keadaan Arkana.

__ADS_1


“ Jadi itu kamu mas.???”


“ Iya, dan aku sudah tahu kalau kamu yang menyelamatkan aku waktu kita di Madrid. Tapi aku sengaja nggak mau bilang, dan ternyata sekarang sudah saatnya kamu tahu soal itu.”


“ Ini benar-benar takdir, aku nggak nyangka hal ini bisa terjadi.”


“ Terima kasih ya karena sudah menolongku waktu itu, ternyata penolongku adalah calon istriku di masa depan.” Tawa Arkana sedikit membuat suasana yang haru menjadi lebih ceria.


“ Lalu apa yang terjadi setelah itu.?” Tanya Jingga masih penasaran dengan kelanjutannya.


“ Dulu sekali aku pernah mencoba konsultasi pada seorang psikiater, aku mencoba terus berobat selama hampir satu tahun. Tapi, semuanya tidak ada yang berubah, aku tetap merasa depresi dan seakan tidak bisa sembuh dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berobat.”


“ Qania menjadi satu-satunya obat yang paling bisa ku andalkan, dia mengerti dengan situasiku. Tapi sayangnya dia tidak seperti kamu, dia mungkin peduli tentang kondisiku tapi dia juga yang memaksaku untuk mendengarkan mamaku. Padahal karena mama lah aku bisa se depresi itu, tapi aku tetap mencintainya waktu itu dan berpikir bahwa hanya dia yang bisa membuatku merasa lebih hidup.”


“ Semua pun ku lalui dengan harapan bahwa mama akan tetap menganggapku sebagai putra terbaiknya, sampai pada akhirnya aku di jodohkan dengan kamu. Menerima perjodohan itu membuatku berpikir bisa lepas dari mama, setidaknya kami tidak tinggal di rumah yang sama lagi.”


“ Setelah lepas dari mama dan hidup di rumah yang sama denganmu, ku pikir hidupku bisa bebas tapi ternyata tidak. Mama kembali memaksaku untuk memberikan cucu, aku yang masih belum memiliki perasaan apapun padamu saat itu menganggap tidak akan ada yang berubah meskipun ada seorang cucu yang terlahir nanti.”


“ Setiap aku melakukan kesalahan mama akan memanggilku dan menyewa seseorang untuk memukulku, dia tidak pernah melukai wajahku karena tidak ingin orang-orang beranggapan yang buruk. Itu sebabnya setiap kali aku melukaimu, itu sebenarnya bentuk dari emosiku yang tidak bisa ku kontrol dengan baik. Aku benar-benar minta maaf…, aku salah karena menganggapmu sebagai objek kekesalanku setiap mama menyakitiku.”


Arkana menangis karena tak tahan mengingat bagaimana dia pernah melukai Jingga, melihat hal itu membuat Jingga merasa tersentuh dan langsung memeluk Arkana dengan lembut.


“ Kamu boleh menangis kalau dengan itu bisa buat kamu merasa lebih baik mas.”


“ Maafin aku ya, aku tahu kata maaf aja nggak bisa mengobati luka di hati kamu. Aku janji nggak akan pernah melakukan hal itu, aku mau menjaga dan melindungi kamu dari apapun juga.”

__ADS_1


“ Iya mas, aku percaya sama kamu. Dan aku udah maafin semua kesalahan yang kamu lakukan, jadi jangan pernah berpikir kalau aku menyimpan dendam sama kamu.”



__ADS_2