Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Menghilang


__ADS_3


Arkana menghabiskan waktu selama hampir lima jam di ruang NICU untuk menemani putranya yang terus saja menangis, jika Arkana mengembalikannya ke dalam inkubator saat itu juga Keenan terus menangis sehingga dia terpaksa harus menggendongnya agar tetap tenang.


“ Sepertinya Keenan sudah mulai tenang sus, bisa tolong gantian gendong? Soalnya saya mau kembali ke kamar Jingga, sudah cukup lama saya pergi.”


“ Baik dok, sini Keenan biar saya yang jaga.”


Dan akhirnya Keenan di serahkan kepada perawat yang di khususkan untuk menjaga Keenan, pada saat itu Keenan sudah tidak menangis lagi dan terlihat tidur dengan sangat pulas.


Arkana pun perlahan meninggalkan ruangan itu sambil sesekali melirik putranya dan memastikan kepergiaannya akan baik-baik saja kali ini. Setelah di lihat baik-baik, ternyata Keenan tidak menangis sehingga dia bisa pergi dengan tenang.


Arkana berlari menuju kamar Jingga dengan tergesa-gesa, namun saat ingin masuk ke dalam lift dia melihat ada beberapa perawat yang membawa brangkar dengan seseorang yang di tutup kain putih di seluruh tubuhnya.


Karena Arkana tahu bahwa itu adalah pasien yang meninggal dunia, alhasil Arkana harus menggunakan lift yang lain. Hingga akhirnya dia berhasil naik ke lantai tempat Jingga di rawat.


Saat Arkana melewati nurse station, dia tidak melihat ada para perawat disana yang menjaga barang satu pun. Dan suasana di lantai itu tampak sangat sepi tidak seperti biasanya, perasaan Arkana mulai cemas dan mempercepat langkahnya sampai di ruang ICU.


Arkana terkejut dan juga bingung ketika masuk ke dalam ruang ICU dan tidak melihat sosok Jingga di tempat tidurnya, dia mengira bahwa Jingga sudah siuman dan mungkin saja berada di kamar mandi.


Namun saat Arkana mengeceknya, dia tidak menemukan siapapun disana. Dia kembali mencari di setiap sudut, tapi saat dia melewati tempat tidur dia menemukan sesuatu disana.



Sebuah surat di temukan Arkana di atas tempat tidur Jingga dengan tulisan untuk mas Arka di atas kopnya. Ada yang aneh dengan semua itu, Arkana tidak ingin membuka suratnya dan berlari keluar mencari perawat yang bertugas hari ini.


“ Maya, Monik, Nadia. Kalian dimana.?” Sahut Arkana memanggil nama perawat itu satu persatu.


Tidak ada satu pun dari mereka yang muncul pada saat Arkana memanggil nama mereka, seluruh tempat di lantai itu memang sangat sepi dan itu membuat Arkana bertanya-tanya ada apa sebenarnya.

__ADS_1


“ Dokter.?” Suara itu berhasil membuat Arkana menoleh dengan cepat.


“ Kamu dari mana aja? Kenapa nggak ada satu pun dari kalian yang berjaha disini? “


“ Maaf dok, barusan ada panggilan dari departemen dan saya pikir sudah ada Maya dan Nadia disini.” Jawab Monik.


“ Mereka nggak ada, dan yang lebih parahnya lagi Jingga juga nggak ada di ICU>.”


“ Apa dok? Bu Jingga nggak ada di ICU.?”


Keduanya pun kembali mencari Jingga dimana-mana, mereka juga sudah bertemu dengan Nadia dan Maya dimana mereka baru saja kembali dari lantai satu.


Nadia dan Maya juga mengaku masih melihat Jingga sebelum mereka pergi, dan ternyata Jingga sudah tidak ada padahal keduanya hanya pergi selama dua puluh menit saja.


Mereka langsung menuju ruang keamanan untuk mengecek cctv di seluruh rumah sakit, petugas keamanan menunjukkan rekaman tersebut kepada Arkana satu persatu.


“ Nggak mungkin, coba cek yang lain. Saya pergi selama hampir lima jam dari ICU ke NICU, coba cek dengan benar.” Protes Arkana kesal.


Petugas keamanan kembali memperlihatkan semua hasil rekaman yang terjadi di sekitar jam itu, namun tidak ada bukti rekaman yang memperlihatkan seseorang keluar masuk di ruang ICU kecuali Arkana dan ketiga perawat itu.


Arkana merasa sangat marah terutama pada ketiga perawat yang bertugas menjaga Jingga, saat itu ada salah satu rekaman yang memperlihatkan beberapa perawat yang membawa brankar yang sempat di temui Arkana saat di lift.


“ Coba buka dengan jelas rekaman yang ini.” Tunjuk Arkana.


“ Apa kalian tahu siapa pasien yang di bawa oleh mereka.?” Tanya Arkana pada semuanya.


“ Kami tidak tahu dok.”


“ Kalau begitu cari tahu sekarang, siapa pasien yang mereka bawa, dan kemana mereka akan membawanya.” Titah Arkana dan langsung di laksanakan oleh mereka semua.

__ADS_1


Setelah melihat rekaman itu entah mengapa perasaan Arkana berkata bahwa itu adalah Jingga, jaraknya sangat tepat dengan kepergiannya dan saat dia bertemu dengan mereka pun rasanya seperti ada yang janggal.


**


Satu rumah sakit sudah di cek oleh Arkana satu persatu, ada beberapa perawat yang juga membantunya dalam mencari Jingga. Dari semua orang yang di temuinya tak ada dari mereka yang melihat Jingga sama sekali, dan hal itu semakin membuatnya kebingungan.


Nadia yang baru saja kembali dari mencaritahu informasi yang di perintahkan Arkana telah kembali, dan dia memberitahu Arkana bahwa perawat yang di lihatnya di rekaman merupakan perawat dari kelas VIP.


“ Pasien merupakan seorang pria berusia 60 tahun dok, meninggal karena serangan jantung dan akan di bawa ke rumah duka pada saat dokter melihatnya.” Ucap Nadin sambil menyerahkan data informasi pasien tersebut.


“ Ya sudah, terima kasih informasinya.” Balas Arkana tampak putus asa sekarang.


Nadia pun berlalu meninggalkan Arkana, terlihat Arkana yang menatap lembar informasi itu dengan tatapan sayu. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi, kepergian Jingga masih menjadi misteri untuknya, dan soal surat itu dia mungkin bisa menemukan jawabannya dari sana. Namun entah mengapa sangat sulit untuk membuka dan membaca isinya.


Arkana memutar tubuhnya dan menoleh ke atas, dia tiba-tiba saja memikirkan sesuatu yang membuatnya terganggu saat ini. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Arkana pun langsung berlari menuju lantai atas dengan tebruru-buru.


Begitu Arkana tiba di lantai yang ingin dia tuju, dia langsung membuka pintu ruangan direktur utama rumah sakit. Arkana melihat sosok papa Hendra yang duduk disana dengan tatapan yang membingungkan.


“ Dimana mamaku.?” Tanya Arkana.


“ Mamamu belum kembali, dia sedang sibuk dengan bisnis barunya.” Jawab papa Hendra.


“ Jingga menghilang dari ruang ICU, jika dia siuman hari ini tidak mungkin dia bisa pergi begitu saja. Kondisinya masih sangat lemah, ini aneh kalau dia pergi sendirian. Dan satu-satunya orang yang ku curigai saat ini hanya mama. Tolong pa, bantu aku menemukan Jingga.” Pinta Arkana yang tak kuasa menahan air matanya lagi.


Papa Hendra yang terkejut pun langsung menghubungi seseorang dari kepolisian, papa Hendra memiliki koneksi yang luas dengan mereka sehingga dia ingin meminta bantuan kepolisian untuk bantu mencari keberadaan Jingga saat ini.


“ Kamu tenang aja, papa sudah menghubungi kepolisian untuk menyelidiki kasus ini, papa bersama kamu jadi jangan khawatir.” Kata papa Hendra beursaha menenangkan Arkana.


__ADS_1


__ADS_2