
Karena macet, Sabrina harus tiba di kafe sekitar jam enam sore. Dia tahu kalau disana mungkin sudah tidak ada Lingga, tapi dia masih ingin mengeceknya dengan jelas.
Sabrina sudah masuk ke dalam kafe, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok Lingga masih disana. Tapi yang lebih membuatnya lebih terkejut lagi adalah sosok Siska yang duduk di depan Lingga.
“ Kenapa Siska bisa sama Lingga? “ Benak Sabrina penasaran.
Sabrina melihat keduanya cukup dekat dan seperti membahas sesuatu yang seru, selama ini Sabrina tahu kalau Siska tidak menyukai Lingga. Tapi kenapa dia terlihat seperti menyukai Lingga sekarang?
Sabrina pun tak ingin berada disana lebih lama lagi, dia pergi dari kafe dengan perasaan kecewa. Entah apa yang ada di pikiran Lingga yang mengajaknya lebih awal tapi berakhir dengan perempuan lain.
“ Memang lebih baik sejak awal aku nggak boleh berharap lebih.” Gumam Sabrina mengepal tangannya dengan kuat.
Coklat yang telah dia buat sebelumnya di buang ke dalam tempat sampah, lalu dia memberhentikan sebuah taksi yang akan membawanya kembali ke rumah.
**
Lingga terlihat bingung dan gelisah menatap layar ponselnya, dia sudah mengirim cukup banyak pesan kepada Sabrina tapi satu pun tak terbaca. Mungkin nomornya pun sudah di blokir oleh gadis itu, tapi apa yang membuatnya sampai seperti ini?
“ Apa karena para pembully itu dia jadi seperti ini? “
Lingga semakin frustasi di buatnya, terlebih lagi saat dia mengingat bahwa tersisa dua minggu lagi Sabrina berada di sekolah yang sama dengannya. Jika Sabrina pindah, apa yang akan terjadi ke depannya?
Sayangnya hari ini adalah hari libur, dia tidak bisa bertemu Sabrina dan meminta kejelasan lebih atas sikapnya. Lingga merasa lapar terus memikirkan hal ini, sampai akhirnya dia memutuskan ke dapur untuk mencari makanan.
Hanya dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek, dia menuruni anak tangga. Rumah terlihat sepi, papa dan mamanya sedang berlibur ke Thailand untuk merayakan anniversary pernikahan mereka, Keenan masih sibuk dengan projeknya dan Shanum yang keluar menikmati waktu bersama teman-temannya, dan di rumah hanya ada dia sendirian saja.
“ Bi, aku lapar. Tolong buatin makanan dong.” Pinta Lingga yang baru saja tiba di dapur.
“ Mau di buatin apa den.?”
“ Nasi goreng aja.” Jawab Lingga kemudian sambil menunggu dia kembali memainkan ponselnya.
Sepuluh menit kemudian nasi goreng yang di minta Lingga telah selesai di buat, dia membawa piring nasi gorengnya ke meja makan dan menikmati makanannya dengan santai.
Sampai kedatangan seseorang membuat Lingga tak bisa berkutik lagi, dia terkejut melihat neneknya pulang dengan membawa seorang gadis yang saat itu hampir membuat Lingga tersedak nasi goreng.
“ Nah yang disana itu cucu ibu, namanya Lingga.” Tunjuk nenek Widya pada Lingga yang masih syok melihat kedatangan neneknya.
Gadis yang di bawa oleh neneknya adalah Sabrina, dan Lingga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Bahkan saat ini Sabrina juga di buat terkejut melihat Lingga yang sedang makan dengan penampilan sederhana yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
“ Ayo ikut ibu ke depan.” Ajak nenek Widya menarik tangan Sabrina meninggalkan tempat itu.
Lingga merasa harus segera menyudahi makan siangnya, dia ingin mengetahui alasan neneknya sampai membawa Sabrina ke rumah. Lingga pun segera beranjak dari meja makan, dia mengikuti arah neneknya pergi barusan.
Saat ini Lingga bisa melihat bagaimana neneknya bersama Sabrina sedang duduk santai di halaman depan rumah, pembantu di rumah itu bahkan sampai menghidangkan minuman dan cemilan untuk Sabrina.
“ Nenek kok bisa dekat dengan Sabrina?” Benak Lingga benar-benar di buat penasaran.
Lingga terlihat terus memantau keduanya sampai mereka selesai berbincang, tak lama setelah itu suara neneknya memanggil dari luar. Dan dengan cepat Lingga keluar menemui neneknya.
“ Ada apa nek.?” Tanya Lingga lirih.
“ Kamu bisa antar Sabrina pulang ke rumahnya kan? Dia tinggal di Kemayoran, kasihan kalau dia pulang sendirian.” Pinta nenek Widya.
Rupanya nenek Widya belum tahu kalau Lingga dan Sabrina saling mengenal, itu artinya Sabrina juga tidak memberitahu nenek Widya meskipun punya kesempatan untuk memberitahunya.
“ Nggak usah di antar bu, aku bisa pulang naik taksi kok.” Sahut Sabrina tak enak menerimanya.
“ Nggak apa-apa, kamu sudah baik tolongin saya. Jadi giliran saya yang bantu kamu.” Balas nenek Widya.
“ Kamu perginya sama supir nenek, cukup temani Sabrina dan pastikan anak cantik ini pulang dalam keadaan selamat.” Lanjut nenek Widya melirik Lingga.
“ Baik nek, tapi aku mau ganti baju dulu.” Balas Lingga.
__ADS_1
“ Nggak usah, kamu pergi dengan penampilan begitu saja.” Lontar nenek Widya yang akhirnya membuat Lingga terpaksa pergi dengan penampilannya yang sekarang.
Dan akhirnya Lingga pergi menemani Sabrina pulang dengan supir neneknya, terlihat Widya yang berdiri menatap kepergian cucu dan gadis yang telah menolongnya hari ini.
Terlihat senyuman simpul yang di tunjukkan di wajah Widya, melihat Lingga saat ini membuatnya teringat pada Arkana dulu. Saat Arkana remaja dia tidak ikut andil dalam hubungan asmara putranya, dan sekarang dia ingin membantu cucunya dekat dengan gadis yang di sukainya.
“ Setidaknya kamu harus lebih jujur sama dirimu sendiri nak.” Ucap Widya pelan.
Beberapa hari sebelumnya..
“ Papa dan Mama boleh pergi liburan kok, jangan khawatir sama kami disini.” Sahut Keenan ketika semua keluarga sedang berkumpul membahas hari anniversary Jingga dan Arkana.
“ Iya ma, disini kan ada nenek sama kakek.” Sambung Shanum.
Jingga melirik Arkana yang sejak tadi sudah menunggu keputusan Jingga, bahkan disini Arkana yang terlihat begitu semangat untuk menghabiskan waktu berdua dengan istrinya itu.
“ Tapi kita sudah tidak muda lagi, untuk apa pergi merayakan anniversary.?” Balas Jingga sontak membuat ekspresi Arkana langsung berubah memelas.
“ Tua atau muda, kamu harus tetap pergi bersama suami kamu nak. Kalian berdua kan sudah banyak menghabiskan waktu mengurus anak-anak kalian, dan sekarang waktunya kalian pergi bersama.” Sahut Hendra.
“ Papa benar, kalian harus pergi berdua saja. Biarkan urusan anak-anak di serahkan ke kakek dan neneknya saja.” Sambung Widya.
Jingga pun mulai menyetujui saran dari mereka semua, tapi sebelum itu ada yang harus di bahas oleh Jingga. Salah satu putranya yaitu Lingga akhir-akhir ini terlihat aneh dan tidak seperti biasanya.
Dia bahkan tidak ikut makan malam hari ini, sampai Shanum memberitahu mereka bahwa Lingga sedang dekat dengan seorang gadis cantik. Dan Arkana menambahkan tentang Sabrina yang waktu itu masuk rumah sakit sampai membuat Lingga panik.
“ Tapi dia masih kecil, masa anak mama udah kenal cewek.?” Jingga tampak tidak setuju dengan hal itu.
“ Sebenarnya bukan Lingga yang suka, tapi gadis itu yang suka Lingga terang-terangan. Kalian harus lihat seimut apa dia.” Shanum menunjukkan foto Sabrina di hadapan semua orang di ruang makan.
Shanum menambahkan bahwa Lingga di sekolah menjadi pusat perhatian banyak orang karena wajah tampan dan kepintarannya, hal ini membuat Arkana bangga karena gen Arkana seutuhnya jatuh kepada putranya itu.
“ Biarkan saja, namanya anak remaja akan merasakan masa-masa puber. Selama mereka tahu batasan, papa rasa boleh-boleh saja.” Lontar Hendra.
**
" Aku harus bilang apa? Terlalu canggung untuk memulai. " Benak Lingga bingung.
" Masa harus aku yang mulai? Lagian kenapa juga aku bisa terjebak di situasi begini? Bu Widya yang ku tolong barusan ternyata neneknya Lingga, apa sebaiknya aku diam aja. " Batin Sabrina bereperang dengan isi kepalanya sendiri.
" Eeehmmm. " Pak Ijas memberi kode namun di antara keduanya masih asyik dengan dunia mereka sendiri.
Tiba-tiba saja pak Ijas menepi di sebuah tempat penjual minuman, barulah Sabrina dan Lingga menoleh satu sama lain.
" Den Lingga sama non Sabrina mau minum apa?" Tanya pak Ijas sambil melepas sabuk pengamannya.
" Green tea aja pak." Balas Lingga.
" Kalau non Sabrina.?"
" Nggak usah pak, saya nggak haus. "
" Yang sama aja dengan den Lingga ya.? " Tawar Pak Ijas yang kemudian hanya di balas anggukan pelan dari Sabrina.
Sebenarnya pak Ijas sengaja membiarkan mereka berdua agar bisa memulai obrolan, pria setengah baya itu menyadari sesuatu bahwa kedua muda mudi itu malu dengan keberadaannya di dalam.
Setelah pak Ijas pergi, terlihat Lingga yang memainkan Ac mobil dengan berkata bahwa di dalam mobil terasa cukup panas. Namun Sabrina tidak merasa demikian, tanpa mereka sadari keduanya sudah memulai obrolan meski terdengar cukup random.
" Btw, kamu habis nolongin nenekku dari apa.?" Tanya Lingga masih penasaran.
" Oh itu, aku nggak sengaja ketemu sama nenek kamu di mall. Beliau kesulitan bawa belanjaannya, katanya pak Ijas lagi ke toilet saat itu. Dan karena kasihan, aku bantu dia bawain tas belanjaannya. "
" Hanya itu? Terus nenek ajak kamu ke rumah.? "
" Kamu nggak suka ya aku ke rumah kamu.? "
__ADS_1
" Bukan begitu, aku nggak bilang kalau aku nggak suka. " Ungkap Lingga merasa sudah salah bicara di depan Sabrina.
Kemudian mereka kembali diam, tidak ada pembahasan tentang kepindahan Sabrina. Dan juga tidak ada pembahasan tentang Lingga dan Siska yang kemarin bertemu, keduanya sama-sama malu untuk membahas hal tersebut.
Pak Ijas sengaja kembali lebih lama, dan ternyata usahanya sia-sia. Dia membawa minuman untuk Sabrina dan Lingga, setelah itu lanjut mengantar Sabrina pulang.
**
Lingga di kejutkan dengan kemunculan Shanum yang tiba-tiba datang memeluknya dari belakang, gadis itu tampak kegirangan setelah tahu bahwa barusan Lingga pergi mengantar Sabrina pulang.
Rupanya satu rumah sudah tahu akan hal itu dari nenek Widya, dan sekarang Lingga jadi bulan-bulanan Shanum yang membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang akan sikap kakaknya yang satu ini.
" Jadi gimana? Kamu nggak cosplay jadi kulkas sepuluh pintu kan ke dia.?" Tanya Shanum cukup kesal dengan sikap dingin Lingga pada semua gadis.
" Kak Shanum tahu dari mana.? "
" Dari nenek, dia cerita ke aku kalau kamu barusan antar Sabrina ke rumahnya. "
" Tapi aku nggak pernah bilang ke nenek kalau Sabrina teman kelasku. "
Shanum langsung menutup mulutnya dengan sadar, dia lupa kalau semua orang membahas Lingga dan Sabrina tanpa sepengetahuan Lingga sendiri.
" Aku lupa antar makanan ke tempat kerja kak Keenan, aku pergi dulu." Sahut Shanum berlari meninggalkan Lingga dengan cepat.
" Pantas saja, semua orang rumah aneh. Jadi karena kak Shanum." Gumam Lingga sambil menggaruk kepala tak gatal.
Lingga kini telah memasuki kamarnya, dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perasaan aneh yang terus mengganggunya.
" Aku kenapa sih? Semua yang ku mau tidak berjalan dengan baik, apa yang salah denganku.?" Ucap Lingga sambil menempatkan lengan kanannya di atas kening.
**
Malam harinya Lingga yang terus menerus gelisah memikirkan Sabrina, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu jawaban atas perasaan aneh yang di rasakannya sekarang.
Lingga berdiri di depan kamar kakak perempuanya, saat hendak mengetuk pintu mendadak Lingga ragu dan takut di ledek oleh Shanum.
" Seandainya kak Keenan ada di rumah, mungkin lebih baik membicarakannya dengan dia. Kak Shanum pasti akan tertawa dan mengejek nanti. " Ucap Lingga semakin yakin untuk tidak menemui Shanum.
Suara pintu terbuka baru saja mengagetkan Lingga, dia melihat ekspresi kesal kakaknya yang saat ini menatap ke arahnya bingung.
" Kamu kenapa sih? Aku lihat di bawah pintu kamu terus menerus lewat dan tidak mengetuk pintu, sebenarnya ada apa? " Sahut Shanum kesal.
" Nggak ada apa-apa, aku cuma lewat aja. " Balas Lingga sambil menggaruk kepalanya.
" Bohong, aku tahu kamu mau membahas sesuatu. Cepat masuk, akan ku dengarkan. " Shanum langsung menarik tangan Lingga memasuki kamarnya.
Shanum mendorong Lingga dan menyuruhnya duduk di atas tempat tidurnya, kemudian Shanum memaksa Lingga mengatakan apa yang ingin di katakan kepadanya.
" Jadi begini, aku nggak tahu mau cerita ke siapa. Ku pikir kak Shanum bisa membantu, tapi sebelum itu tolong jangan ketawa kalau aku sudah selesai cerita. " Kata Lingga menatap Shanum serius.
" Aku janji. " Jawab Shanum sambil menunjukkan dua jari tanda sumpahnya.
Lingga pun mulai memberitahu Shanum tentang perlakuan yang dia dapat dari Sabrina selama ini, sampai akhirnya Sabrina cuek dan selalu menghindar darinya. Lingga merasa tidak nyaman dan terus memikirkan hal itu sampai membuat kepalanya sakit.
" Sejak dia cuek, rasanya jadi aneh. Aku nggak ngerti kenapa bisa begitu." Ucap Lingga dengan wajah memelas.
" Selama ini kamu belum pernah suka sama seseorang kan.?" Tanya Shanum tiba-tiba.
" Belum."
" Itu artinya kamu suka sama Sabrina, hanya saja egomu berkata lain. Kamu nggak pernah marah dengan sikap dia selama ini kan? Terus selama dia nyuekin kamu, kamu pun merasa risih dan gelisah.?"
Lingga tidak bisa menyangkal apa yang barusan di katakan oleh Shanum, memang seperti itu kenyataannya. Tapi mengakui dirinya benar-benar telah menyukai Sabrina rasanya terdengar aneh.
" Dia mau pindah sekolah dalam dua minggu, untuk apa juga aku dekat sama dia sekarang. " Gumam Lingga pelan.
__ADS_1
" Kalau kamu suka jangan di pendam, kamu kan sudah tahu kalau dia suka kamu duluan. Dari pada nanti menyesal, lagi pula Sabrina itu anak yang baik. Aku setuju kalau kamu sama dia. " Ucap Shanum seakan memberi rasa percaya diri tersendiri kepada Lingga.