
Semua terjadi begitu cepat, besok mama Widya dan papa Aidan akan bercerai. Dan semua keputusan untuk hak asuh anak akan di putuskan hari ini juga, baik Arkana dan Bima hanya menunggu di rumah selama masa persidangan terjadi.
Arkana menarik lengan baju Bima saat itu, dia menanyakan keberadaan papa dan mamanya pada kakaknya. Saat itu Bima menyentuh kepala Arkana dan mengelusnya dengan lembut, Arkana justru bingung dengan situasi ini.
“ Kamu lebih sayang siapa.?” Tanya Bima pada Arkana.
“ Mama. Aku lebih sayang mama, papa jahat selalu pukul mama.” Jawab Arkana dengan polos.
“ Jadi, kalau mereka berpisah kamu mau ikut sama mama ya.?” Lontar Bima.
“ Mereka mau berpisah? Papa dan mama berpisah.?” Arkana menatap Bima dengan tatapan terkejut.
“ Kamu harus jadi anak yang baik ya, kalau pun kita nanti berpisah kamu harus janji sama kakak untuk jagain mama.” Lanjut Bima kembali mengusap kepala Arkana dengan lembut.
Dan setelah sidang selesai dan hak asuh anak jatuh pada sang ibu, mama Widya pun akan membawa kedua putranya meninggalkan Sukabumi dan kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta.
Namun hal yang tak terduga pun harus terjadi, Bima mengaku lebih ingin ikut dengan papanya dari mamanya. Hal itu tentu membuat mama Widya kesal, dia ingin kedua anaknya ikut dengannya namun Bima tetap kekeuh untuk ikut bersama papanya.
“ Kamu dengar sendiri kan, Bima lebih pilih aku dari kamu. Jadi sekarang juga kamu pergi dari rumah ini, jaga Arkana baik-baik.” Ucap papa Aidan.
Perpisahan mereka berempat menjadi perpisahan paling menyakitkan bagi mama Widya, di ceraikan oleh suaminya kemudian di pisahkan dari anak pertamanya, dan sekarang dia harus pergi meninggalkan rumah itu bersama Arkana.
**
Satu minggu setelah meninggalkan Sukabumi, Arkana hidup dalam kesepian. Tidak ada lagi kakak yang selalu menghiburnya, tidak ada lagi pertengkaran kedua orang tua mereka, tidak ada lagi obrolan yang sering terjadi antara dia dan mama Widya.
Mama Widya mengurung diri selama satu minggu di dalam kamarnya, dia tidak pernah keluar dari sana sekali. Arkana selalu masuk untuk menghibur atau menemaninya makan, mama Widya hanya menghabiskan waktunya duduk di atas kursi dengan tatapan sayu menatap jendela kamarnya.
“ Ma, besok Arka sudah masuk sekolah baru. Mama mau antar Arka ke sekolah kan ma.?” Tanya Arkana menatap wajah mamanya.
“ ….”
“ Arka, sini sayang. Sama nenek.” Panggil nenek Arkana yang merupakan ibu dari mama Widya.
__ADS_1
Arkana menghampiri neneknya dengan ekspresi sedih karena tidak mendapat respon dari mamanya sendiri, kemudian nenek Dina mengajak Arkana ke ruang tengah untuk bicara bersama.
“ Besok biar nenek yang antar kamu ke sekolah baru ya.” Ucap nenek Dina.
“ Aku mau sama mama, nek.” Balas Arkana.
“ Mama kamu masih belum bisa beraktifitas seperti biasa, jadi biarkan dia untuk istirahat ya.” Ungkap nenek Dina sekali lagi.
Arkana pun menurut apa kata neneknya, dia juga merasa kalau mamanya sedang sakit dan tidak bisa melakukan banyak hal. Meski begitu Arkana sangat ingin di hari pertama dia kembali sekolah di sekolah barunya, dia ingin di temani oleh mama Widya.
**
Arkana baru saja pulang sekolah siang itu, dia mendengar mamanya menangis meraung di dalam kamar. Saat dia lihat, di dalam sudah ada kakek dan neneknya sedang berusaha menenangkan mamanya.
“ Mama kenapa.?” Arkana masuk ke dalam kamar itu ketika semua orang masih sibuk menenangkan mama Widya.
“ Arka, kamu ke kamar dulu ya sayang. Ini urusan orang dewasa.” Sahut nenek Dina.
“ Baik nek.” Arkana menurut dan segera pergi ke kamarnya.
“ Aku nggak mau nikah lagi. Papa sama mama nggak mikir gimana perasaan aku? Aku baru habis cerai sama mas Aidan, anakku di bawa sama dia. Bisa-bisanya kalian suruh aku nikah lagi.” Arkana mendengar suara mamanya saat ini, dia terlihat penasaran dan memutuskan untuk mendengarnya di balik pintu kamarnya.
“ Aidan memang bukan pria yang tepat buat kamu, mama sudah pernah bilang tapi kamu nggak pernah dengar.”
“ Pokoknya aku nggak mau nikah lagi.”
“ Kalau kamu tidak menerima perjodohan ini, kamu berhenti jadi anak kami.”
Suara mama, kakek, dan neneknya sudah tidak terdengar lagi diluar sana. Tangis mama Widya masih terdengar, Arkana bahkan mendengar suara pecahan barang yang mungkin di sebabkan oleh emosi mama Widya yang tak terkendali.
Arkana kemudian membuka pintu kamarnya, dia melihat pintu kamar mamanya masih terbuka dan membuatnya segera masuk ke dalam sana.
“ Mama.” Arkana mencoba mendekati mamanya.
“ Pergi kamu. Mama nggak mau lihat wajah kamu, seharusnya yang ikut sama mama itu Bima dan bukan kamu.” Ucap mama Widya tak mau melihat Arkana.
__ADS_1
“ Salah Arka apa ma?”
Mama Widya kemudian menoleh dan menarik lengan Arkana dengan kasar, dia menatap wajah Arkana dengan tatapan tajam yang membuat Arkana bahkan takut pada mamanya sendiri.
“ Semua karena kamu, papa kamu selingkuh dari mama karena kesalahan kamu.” Ucap mama Widya.
“ Arka minta maaf kalau Arka salah, Arka sayang sama mama.” Balas Arkana yang tidak tahu harus berkata apalagi.
“ Pergi.” Mama Widya mendorong Arkana hingga terjatuh ke lantai.
“ Pergi, kata mama pergi.!!!!” Sentak mama Widya sukses membuat Arkana berlari meninggalkan kamar itu sambil menangis tersedu-sedu.
**
Sejak hari itu mama Widya benar-benar tidak mau lagi bertemu dengan Arkana, dia terus mengusirnya setiap kali Arkana ingin bertemu. Hal itu membuat Arkana jauh lebih sedih dari sebelumnya, dia tidak tahu pada siapa dia harus bercerita.
Kakek dan neneknya masih berusaha membujuk mama Widya untuk menerima perjodohan dengan seorang anak konglomerat bernama Hendra, dan hari ini pria itu akan datang ke rumah untuk bertemu dengan mama Widya secara langsung.
Arkana sedang berdiri di depan rumahnya ketika sebuah mobil mewah baru saja datang di halaman rumah, kemudian muncul dua orang pria dan satu wanita dengan stelan baju yang mahal.
“ Kamu pasti Arkana.” Ucap Hendra sambil menyentuh kepala Arkana dengan lembut.
“ Om siapa.?” Tanya Arkana menatap Hendra dengan tatapan lurus.
“ Kamu akan tahu nanti.” Jawabnya kemudian.
Kakek dan Nenek Arkana pun keluar menyambut mereka, saat itu Arkana tidak ikut masuk ke dalam karena dia ingin fokus bermain di halaman rumah.
“ Selamat datang pak Adyatama, silahkan masuk.” Seru kakek Arkana.
Arkana menoleh ke samping ketika dia mendengar suara jendela yang di ketuk, hal itu menarik perhatiannya dan membuat Arkana segera menghampiri jendela itu.
“ Mama.?” Arkana menatap jendela itu dimana mama Widya sedang balas menatap matanya.
“ Mama butuh bantuan kamu.” Ucap mama Widya dengan nada yang pelan.
__ADS_1