
Jingga menatap wajah suaminya dengan tatapan khawatir, dia tidak bisa tidur setelah selesai membersihkan tubuh Arkana dan mengganti pakaiannya yang tadi sangat bau alkohol.
“ Kamu ada masalah apalagi mas? Harusnya kamu cerita sama aku, bukan pergi minum kaya gini.” Ucap Jingga sambil menggenggam erat tangan Arkana.
Perlahan namun pasti Arkana mulai membuka kedua matanya, Jingga merasa senang melihatnya namun dia juga menyuruh Arkana untuk tetap istirahat kalau dia masih merasa kurang sehat.
“ Kamu masih disini? “ Lontar Arkana dengan suara parau.
“ Aku disini mas, aku nggak akan kemana-mana.” Balas Jingga.
“ Kamu janji sama aku, jangan pernah pergi lagi kan? Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu, jadi tolong jangan pergi.” Arkana mengatakannya sambil menangis, Jingga tahu kalau dia masih setengah sadar, tapi biasanya orang mabuk akan selalu mengatakan hal jujur seperti Arkana saat ini.
Arkana kemudian meraih Jingga ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu, Jingga membiarkan Arkana memeluknya agar suaminya bisa merasa lebih tenang.
“ Aku nggak akan pergi.” Balas Jingga membalas pelukan itu dengan lembut.
Kemudian Arkana melepaskan pelukannya setelah beberapa saat, dia meraih wajah Jingga dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Suasana ini kembali mengingatkan Jingga pada malam itu, malam dimana dia dan Arkana melakukannya.
“ Aku sayang banget sama kamu, kita sama-sama terus selamanya ya.” Arkana mencium Jingga dengan penuh kelembutan, dan Jingga pun tidak menolak ciuman yang semakin memanas itu.
**
Pria itu mulai membuka kedua matanya, dia merasa sedikit pusing ketika dia berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Arkana terdiam sejenak dan mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya, lalu dia melirik ke sampingnya dimana sudah tidak ada Jingga disana.
Ketika Arkana sadar dan mulai panik mengira bahwa Jingga pergi meninggalkannya, saat itu langsung terlintas sebuah ingatan yang membuatnya membeku di tempat. Ingatan yang datang dengan sangat jelas, dimana dia dan Jingga pernah melakukan hubungan intim berdua.
__ADS_1
“ Ingatan apa itu? kapan aku dan Jingga melakukannya? ini bukan karena efek alkohol semalam kan? Tapi kenapa rasanya sangat nyata.?” Arkana sadar ada yang tak beres di tubuh bagian bawahnya, lalu ingatan itu terus bermunculan satu persatu.
“ Kapan itu terjadi? ini nyata kan? Aku sama Jingga? Semalam kita berdua.?” Arkana melirik cctv yang terdapat di sudut kamarnya, kemudian dia berpikir untuk melihat hasil rekamannya secara langsung.
Arkana turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju monitor yang menunjukkan setiap sudut rekaman cctv di rumah itu, di kamarnya ada satu kamera yang sengaja dia pasang sejak awal. Siapa sangka kalau cctv itu akan menjadi saksi atas apa yang selama ini dia lakukan, kemudian dia membuka daftar rekaman semalam dan membuatnya langsung terkejut bukan main.
Semalam dia dan Jingga melakukannya meski tidak begitu intens, tapi apa yang dia lihat dalam ingatannya tidak sama dengan yang terjadi semalam. Arkana tediam dan merenung sejenak, kemudian dia teringat dengan ucapan Jingga yang menyuruhnya mengingat sesuatu.
“ Apa jangan-jangan.?” Arkana kemudian semakin sadar, dia mencari daftar rekaman beberapa bulan lalu, lebih tepatnya sebelum Jingga di nyatakan mengandung.
Selama ini Arkana tidak pernah sama sekali mengecek rekaman cctv di kamar, karena dia tahu tidak akan ada yang masuk kesana. Dulu Jingga tidak berani masuk tanpa seizinnya, dan sekarang setelah ingatan itu muncul kini membuat Arkana penasaran dan ingin melihatnya secara langsung.
Kedua bola mata Arkana membulat dengan sempurna ketika dia melihat rekaman itu, dia tidak menyangka kalau dia pernah melakukannya jauh sebelum itu bersama Jingga.
Arkana juga mulai ingat pada hari itu dia mabuk karena Qania, dia ingat pernah melakukannya bersama Qania. Tapi rupanya itu bukan Qania, dan ternyata wanita itu adalah Jingga, tapi anak itu belum tentu anaknya meskipun dia sudah melakukannya bersama Jingga.
**
Jingga tidak bisa fokus saat dia sedang membuat sarapan pagi itu, dia terus terbayang-bayang dengan kejadian semalam yang tak bisa di lupakan olehnya. Untuk kedua kalianya dia dan Arkana sudah melakukan hal itu, tapi untungnya tidak begitu intens karena dia sedang mengandung dan takut terjadi sesuatu pada janinnya nanti.
Hari ini Arkana tidak masuk kerja karena libur, dia membiarkan Arkana tidur sepuasnya dan tidak akan membangunkannya sampai pria itu bangun sendiri. Tugas Jingga hanya membuat sarapan agar jika Arkana bangun, dia sudah bisa menikmati sarapannya dengan tenang.
Jingga merasa sudah selesai menyiapkan sarapan, dia hanya akan menyajikannya di atas meja makan. Kemudian dia bergegas menuju kamarnya, entah mengapa dia merasa belum siap untuk bertemu dengan Arkana.
“ Aku kenapa sih? Kalau pun nanti dia bangun, dia nggak akan ingat apa yang terjadi semalam kan. “ Benak Jingga yang takut bertemu dengan Arkana untuk saat ini.
Jingga terperanjat kaget ketika mendengar suara ketukan pintu diluar sana, dia sedikit ragu untuk membuka pintunya apalagi jika harus berhadapan dengan Arkana.
Perlahan namun pasti dia tetap membuka pintu, terlihat sosok Arkana yang berdiri di depannya dengan penampilan yang cukup rapih. Jingga penasaran kemana suaminya akan pergi di jam segini.
__ADS_1
“ Kamu mau kemana.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Aku ada acara bentar, nanti balik lagi. Kamu mau nitip apa.?”
“ Nanti aku chat kamu aja, kalau sekarang aku nggak pengen apa-apa.”
Kemudian Arkana memutar tubuhnya membelakangi Jingga, mengingat sarapan yang belum di sentuhnya lantas membuat Arkana berkata untuk membawanya saja. Dia tidak ingin mengecewakan Jingga karena sudah susah payah membuatkan sarapan, dan Jingga pun memindahkannya ke dalam kotak bekal agar dapat di bawa oleh Arkana.
“ Aku pergi ya.” Arkana menyentuh kepala Jingga dengan lembut sambil menyunggingkan senyum yang berhasil membuat Jingga tersipu malu.
Kepergian Arkana membuat Jingga semakin penasaran, kejadian semalam ternyata benar-benar tidak di ingatnya sama sekali. Entah mengapa hal itu sedikit mengusiknya, tapi dia sadar kalau hal itu tidak perlu di pikirkannya terus menerus.
“ Kalau dia lupa pun nggak masalah.” Gumam Jingga sambil menyaksikan kepergian Arkana di balik gorden jendela.
**
Arkana tidak menyangka akan datang ke tempat dimana Erwin bekerja sebagai pria sewaan, saat itu kehadirannya disana menjadi perhatian semua para pria yang ada di tempat itu.
Mereka mengira bahwa kedatangan Arkana kesana adalah untuk bergabung dengan mereka, dan tampak Arkana yang cukup sabar menunggu pemilik tempat itu untuk segera keluar menemuinya.
“ Pak Arkana.” Seru seorang pria yang dengan penampilan cukup feminism yang menyambut Arkana dengan ramah saat itu.
“ Sebelum bicara, boleh kita pindah dari tempat ini.?” Pinta Arkana padanya.
“ Tentu saja. Ikut saya ke ruangan saya pak.” Seru pria yang di sebut sebagai madam Jeji di tempat itu.
Dan sekarang mereka berdua sudah berada di ruangan madam Jeji, dan Arkana pun menyebutkan tujuannya datang ke tempat itu tanpa menunggu waktu lama.
__ADS_1