Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Telat Datang Bulan


__ADS_3

Jingga membuka kedua matanya dengan berat, entah mengapa pagi ini dia sangat malas untuk bangun. Rasa nyaman untuk tetap berada di atas tempat tidur begitu kuat menariknya agar kembali terlelap, tapi Jingga tidak boleh sampai kalah karena dia ingin ikut sarapan bersama suaminya pagi ini.


Sejak saat itu Jingga sudah tidak berpikir untuk berpisah dengan Arkana, dia menganggap bahwa Arkana mungkin belum bisa di sentuh hatinya. Jika dia berusaha mungkin Arkana bisa luluh, Jingga sangat percaya akan keajaiban cinta datang karena terbiasa.


Sekarang Jingga sudah selesai mandi dan berganti baju yang bagus, dia hanya memakai sedikit bedak dan lip gloss agar terlihat sedikit fresh. Saat itu pandangan Jingga tertuju pada sebuah kalender yang membuatnya terdiam sejenak.


“ Benar juga, aku sudah telat datang bulan.” Ucap Jingga yang menyadari akan hal tersebut.


“ Tapi kayaknya nggak mungkin deh.” Lanjut Jingga akhirnya beranjak keluar dari kamarnya.


Usia pernikahan Jingga dan Arkana saat ini sudah berjalan lima bulan, kehidupan pernikahan yang pelik tentu saja di rasakan oleh Jingga. Meski begitu dia tetap memainkan perannya sebagai seorang istri yang patuh apa kata suaminya.


“ Selamat pagi non, pagi ini kelihatan cantik banget.” Lontar bi Salma ketika Jingga sudah tiba di ruang makan.


“ Masa sih bi? Padahal aku Cuma pakai bedak sama lip gloss aja loh.” Balas Jingga tersenyum malu.


“ Tapi emang benar non, aura non hari ini kelihatan beda.” Sambung bi Inah.


Percakapan mereka kemudian harus terhenti setelah kedatangan Arkana di ruang makan, melihat mereka yang terdiam dengan kompak membuat Arkana mengira bahwa dia sedang di bicarakan sebelumnya.


“ Kalian ngomong aku ya.?” Ucap Arkana melirik mereka bergantian.


“ Nggak kok tuan, saya sama Inah Cuma bilang kalau non Jingga hari ini kelihatan cantik banget.” Jawab bi Salma.


Arkana kemudian memperhatikan Jingga dengan seksama yang membuat Jingga malu di buatnya.


“ Biasa aja.” Kata Arkana yang kemudian mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya pelan-pelan.


**


Jingga sedang beres-beres kamar saat ponselnya berdering menandakan ada telpon yang masuk. Jingga bingung melihat kontak baru yang tidak dia kenal, karena penasaran akhirnya dia menjawab panggilan tersebut.


“ Halo.?”


“ Jingga, ini aku Qania.”


“ Ada apa dok.?”

__ADS_1


“ Jangan panggil aku dokter, kita teman kan.?”


“ Oke, ada apa nelpon aku.?”


“ Aku mau ajak kamu jalan-jalan, kebetulan hari ini aku sedang free jadi mau ajak kamu jalan keluar, gimana? Mau nggak.?”


“ Aku nggak bisa pergi kalau belum izin sama mas Arka.”


“ Soal itu tenang aja, aku lagi sama Arkana.”


“ Kamu boleh pergi.” Suara Arkana di seberang sana membuat Jingga bingung sekaligus heran.


“ Arkana sudah izinin kamu pergi, kita ketemu di Senayan city yah.” Seru Qania yang mengambil alih telponnya lagi.


“ Iya, aku siap-siap dulu kalau gitu.” Balas Jingga kemudian.


Setelah panggilan mereka berakhir, terdengar suara pesan masuk yang datang dari Arkana.


“ Ingat untuk tidak mengatakan apa-apa ke Qania.” Tulis Arkana pada pesan tersebut.


“ Nggak usah khawatir mas, aku tahu kok.” Jingga membalas pesan itu untuk membuat Arkana merasa lebih tenang.


**


Melihat mall yang berdiri besar di belakangnya membuat Jingga cukup merindukan masa-masa dimana dia bisa kemana-mana sesuka hatinya. Dulu, sebelum menikah hampir setiap hari dia keluar untuk mencari referensi desain baju yang akan dia buat, dan Senayan City menjadi tempat favoritenya juga.


“ Jingga.” Panggil seseorang yang membuat Jingga akhirnya menoleh ke arahnya.


Qania baru saja muncul dan mengahmpirinya, wanita itu kemudian menarik tangan Jingga untuk masuk ke dalam. Mereka akan mengunjungi salah satu toko baju yang terkenal disana, tujuan Qania memang ingin belanja tapi dia tidak ingin pergi sendirian maka dari itu dia mengajak Jingga.


“ Kamu nggak mau pilih baju juga.?” Tanya Qania heran melihat Jingga yang hanya memperhatikan desain baju itu tanpa ingin mencobanya.


“ Atau kamu nggak suka brand ini? mau ke toko lain.?” Tawar Qania.


“ Nggak, bukan gitu. Aku kalau suka sama model baju, aku lebih milih untuk buat sendiri sih.” Jawab Jingga membuat Qania melongo.


“ Ya ampun aku lupa, kamu ini kan desainer. Maaf-maaf kalau gitu, kamu bebas deh lihat-lihat baju disini.” Kata Qania.

__ADS_1


Setelah keliling cukup lama, akhirnya Qania berhasil mendapat dua dress , satu sepatu, dan dua tas branded. Sementara itu Jingga hanya membeli satu sepatu yang menurutnya elegan, dan saat Qania bertanya sepatu itu akan di pakai kemana, jawaban Jingga membuat Qania tertawa.


“ Di pakai keluar kalau ada waktu aja.” Ucap Jingga.


“ Memangnya kamu nggak koleksi sepatu kaya artis-artis ya.?”


“ Dulu ada, tapi semenjak butik ku kebakaran semuanya hangus terbakar.”


“ Jadi kamu nggak mau koleksi lagi.?”


“ Satu atau dua aja udah cukup, aku belajar dari masa lalu aja. Kehilangan barang berharga itu rasanya nggak enak, makanya aku mencoba untuk membatasinya mulai sekarang.”


“ Istrinya Arkana ini memang benar-benar hebat, dia beruntung banget punya kamu.” Ucap Qania tersenyum simpul.


**


Setelah dari belanja bersama, tiba waktunya untuk mengisi perut. Qania mengajak Jingga ke restoran Jepang, kebetulan Jingga juga suka dengan masakan Jepang sehingga dia tidak menolaknya.


Mereka memesan berbagai menu spesial di resto itu, sambil menunggu menunya datang mereka pun kembali mengobrol bersama. Bagi Jingga dia sudah sangat nyaman berbagi cerita dengan Qania, begitu pun dengan Qania yang merasa nyaman bisa mengobrol apapun dengan Jingga.


“ Kalau Arkana dia paling nggak mau makan sushi, dia nggak suka makanan mentah katanya.” Lontar Qania.


“ Selera mas Arka memang lebih ke Indonesia kayaknya, bibi di rumah selalu buat masakan khas Sunda yang bisa bikin mas Arka doyan banget kalau makan makanan itu.” Sambung Jingga.


Pesanan pun datang, saat pramusaji menyiapkan menu tersebut di atas meja tiba-tiba saja Jingga merasa sangat mual. Dia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya, dan sekarang dia tidak tahan menahan mual itu hingga akhirnya dia berlari menuju kamar mandi.


Jingga mencoba untuk mengluarkan isi perutnya namun gagal, rasa mual itu masih terasa sangat menyiksanya. Qania yang khawatir baru saja muncul dan melihat keadaannya.


“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Qania menyentuh punggung Jingga dan mengusapnya pelan.


“ Nggak tahu kenapa mual aja pas makanannya udah datang.” Jawab Jingga pelan.


“ Mual? “ Qania tampak menatap Jingga dengan tatapan yang penuh arti, dia merasa bahwa gejala Jingga bukanlah gejala yang biasa.


“ Kapan kamu terakhir mens.?” Tanya Qania.


“ Sekitar bulan lalu, nggak tahu kenapa mens bulan ini belum datang juga.” Balas Jingga kemudian membuat senyuman yang merekah di bibirnya terukir dengan sempurna.

__ADS_1


“ Kita ke rumah sakit sekarang.” Ajak Qania sukses membuat Jingga kebingungan.


__ADS_2