Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Pillow Talk


__ADS_3


Saat ini Jingga dan Arkana duduk bersebelahan tanpa ada jarak di antara mereka, keduanya hanya di temani oleh cahaya dari flash light ponsel mereka. Entah sampai kapan lampu di rumah itu akan menyala, Jingga tidak bisa tidur jika lampu belum menyala sehingga dia masih terjaga dan di temani oleh Arkana.


“ Kamu sambil baring aja, atau kamu mau tidur duluan juga nggak apa-apa. Aku tunggu kamu sampai tidur baru aku pindah ke sofa.” Ucap Arkana tak ingin melihat Jingga duduk seperti itu dengan keadaannya yang sedang hamil.


Jingga pun menuruti apa kata Arkana karena dia merasa tidak nyaman dengan posisi barusan, dia pun membaringkan tubuhnya dan tampak Arkana yang memasangkan selimut pada tubuhnya dengan baik.


“ Kamu boleh ikut baring di sebelah aku.” Kata Jingga membuat Arkana diam di tempat dan menatapnya dengan ekspresi yang bingung.


Perlahan namun pasti Arkana ikut berbaring di samping Jingga, sekarang ada jarak di antara mereka meskipun tidak begitu jauh. Keduanya kompak menatap langit-langit kamar dengan pikiran mereka masing-masing.


“ Sejak kapan kamu takut gelap? “ Tanya Arkana tiba-tiba.


“ Sejak usiaku lima tahun, aku nggak sengaja terkurung di gudang waktu itu. Aku ada disana sampai malam karena papaku nggak tahu kalau aku ada disana, sejak saat itu aku nggak bisa ada di tempat gelap.” Jawab Jingga.


Arkana melirik Jingga sebentar, dia tidak menyangka bisa mengobrol dengan santai seperti ini. Mungkin ini adalah langkah awal untuknya dan Jingga bisa kembali memperbaiki hubungan mereka, Arkana sampai senyum tak karuan di buatnya.


“ Kamu kenapa.?” Tegur Jingga menyadari ekspresi Arkana yang berubah.


“ Aku senang aja, bisa ada di tempat tidur yang sama dengan kamu.” Balas Arkana spontan membuat Jingga menoleh ke arah lain dengan cepat.


Kemudian suasana hening menyelimuti mereka, baik Arkana dan Jingga tidak membahas apa-apa. Mereka sama-sama tidak bisa tidur, namun tiba-tiba Jingga terpikirkan sesuatu yang entah mengapa terus mengganjal di pikirannya.


“ Di tempat ini kita pernah melakukannya, tapi bagaimana bisa kamu nggak ingat apa-apa? Katamu kamu cinta sama aku, tapi kenapa hal penting seperti itu aja kamu nggak ingat.” Benak Jingga sedikit kesal.


“ Mas.” Panggil Jingga.


“ Hmm.?”


“ Kamu beneran nggak ingat kejadian itu mas.?”

__ADS_1


Arkana kemudian memutar tubuhnya ke samping agar dia bisa fokus melihat Jingga, kemudian dia berkata bahwa dia sama sekali tidak mengingat apapun.


“ Ya sudah, lupakan saja. Kalau kamu nggak ingat apa-apa, mungkin ini sudah takdir kita.”


“ Tapi aku belum menyerah, aku masih akan berusaha mengingatnya. Jadi tunggu sampai aku mengingat semuanya, masih ada banyak waktu kan.”


Jingga ikut memutar tubuhnya menghadap Arkana, keduanya saling menatap satu sama lain cukup lama. Arkana menikmati wajah cantik Jingga meskipun hanya dengan sedikit penerangan, sementara Jingga memikirkan bagaimana mungkin Arkana dan Bima tidak terlihat mirip padahal mereka adalah saudara kandung.


“ Kalau di lihat-lihat kamu nggak mirip sama mas Bima ya” Ucap Jingga sukses membuat Arkana terkejut bukan main.


“ Kenapa kamu tiba-tiba menyebut nama Bima.?” Tanya Arkana penasaran.


Arkana bangun dari tidurnya dan menatap Jingga tak percaya, dia kembali memastikan apakah benar Jingga sudah bertemu dengan Bima. Dan sekali lagi Jingga menjawabnya dengan tegas bahwa dia sudah bertemu dengan Bima.


“ Tadi siang aku ketemu sama mas Bima, dan aku kaget karena dia nggak mirip sama kamu.” Jawab Jingga kemudian.


“ Kamu sudah kenal Bima sejak kapan.?” Tanya Arkana.


“ Bohong, kamu dan Bima sudah saling mengenal sejak SMA kan? Selama ini kamu kenal sama dia tapi kamu pura-pura nggak kenal dia.?”


Sekarang Jingga yang bangun dari tidurnya, dia menatap Arkana dengan tatapan bingung.


“ Aku nggak ngerti maksud kamu apa, justru aku baru ketemu sama dia tadi siang. Kamu tahu dari mana aku kenal sama dia? Memangnya aku pernah mengungkit dia selama ini.?”


“ Aku lihat di album foto yang ada di kamar kamu, aku lihat kalian berdua pernah foto bersama.”


Jingga mulai mengerti sekarang, ternyata Arkana juga mengira bahwa Nawa adalah Bima. Wajah mereka memang sangat mirip, tapi jika di pikirkan dengan baik tidak mungkin kalau Bima adalah Nawa. Bima sudah berusia 35 tahun sedangkan Nawa memiliki usia yang sama dengan Jingga, jadi tidak mungkin kalau Bima itu adalah Nawa.


“ Kamu salah paham, foto itu bukan mas Bima.” Ucap Jingga sambil menunduk sendu.


“ Bukan Bima? Terus siapa.?” Tanya Arkana.

__ADS_1


“ Kamu sudah sering dengar tentang Nawa kan? Foto yang kamu maksud itu Nawa, aku juga terkejut saat melihat wajah kakak kamu yang ternyata mirip dengan wajah Bima.” Jelas Jingga.


“ Bima mirip Nawa mantan pacar kamu itu.?” Arkana jauh lebih terkejut mengetahui bahwa Bima kakaknya ternyata membuat Jingga mengingatkannya dengan mendiang kekasih Jingga.


“ Aku sudah bicara dengannya tadi siang, dia juga mengaku tidak mengetahui Bima. Aku sangat malu sudah menganggapnya sebagai Nawa, sampai sekarang aku nggak tahu harus bersikap seperti apa kalau besok aku pulang ke rumah mama.” Ucap Jingga tampak frustasi.


“ Jangan pulang kesana lagi, kamu tetap disini sama aku.” Lontar Arkana membuat Jingga meliriknya dengan bingung.


“ Aku nggak akan buat kamu menderita lagi, aku janji akan buat kamu lebih bahagia dari sebelumnya, jadi kumohon jangan pergi dari rumah ini.” Ucap Arkana yang mulai merasa bingung, dia tidak ingin Jingga bertemu dengan pria yang mirip dengan mendiang kekasihnya. Arkana tahu dia mulai egois, tapi ini adalah cara terakhir agar dia bisa membuat Jingga jatuh cinta padanya.


Lampu sudah menyala saat itu, Arkana segera turun dari tempat tidur dan berjanji tidak akan mendekati Jingga. Dia memberikan kebebasan untuk Jingga bisa beristirahat dengan tenang malam ini, kemudian Arkana menuju sofa tempatnya tidur dan tidak mengatakan apapun lagi.


Jingga masih menatapnya dengan tatapan kebingungan, Arkana sudah menarik selimutnya dan membiarkan lampu menyala padahal dia tidak suka dengan keadaan lampu yang menyala.


**


Di tengah malam Jingga terbangun saat mendengar suara orang merintih, ketika Jingga membuka kedua matanya dia pun langsung melirik Arkana yang masih tidur di atas sofa.


Jingga pernah di beritahu oleh Gilang kalau Arkana sering mengalami mimpi buruk semenjak dia melakukan hipnoterapinya, Jingga pun turun dari tempat tidur dan langsung menghampiri Arkana.


Kini Jingga bisa melihat wajah Arkana yang terlihat ketakutan, entah mimpi apa yang di alaminya saat ini sampai menunjukkan ekspresi yang seperti itu.


“ Mas, bangun mas.” Panggil Jingga sambil menyentuh wajah Arkana.


Spontan Arkana membuka kedua matanya dan langsung beranjak dari sana, Arkana menutup wajahnya dan mulai mengatur nafasnya dengan baik.


“ Sini ikut aku.” Jingga menarik lengan Arkana dari sana, namun Arkana langsung menahan dirinya dengan cepat.


“ Mau kemana.?” Tanya Arkana menatapnya heran.


“ Kamu tidur di samping aku, tidur di sofa mungkin nggak nyaman sampai kamu mengalami mimpi buruk.” Balas Jingga.

__ADS_1


“ Aku udah janji nggak akan tidur di samping kamu, aku nggak apa-apa, maaf udah ganggu kamu tidur.” Arkana melepaskan tangannya dari pegangan Jingga dan kembali menundukkan wajahnya.


__ADS_2