Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Best Brother


__ADS_3


Satu minggu berlalu, Tsania yang telah terbukti bersalah dan di laporkan oleh Arkana atas dua kasus yang berbeda. Kepolisian juga sudah menangkapnya dan untuk sementara akan di tahan di penjara sampai proses persidangan dimulai.


Kabarnya kedua orang tua Tsania memohon pada Widya untuk memaafkan kesalahan Tsania, namun Widya yang merasa juga di rugikan oleh Tsania tidak menerima permintaan mereka dan membiarkan proses hukum terus berjalan.


Nisa sudah kembali di tugaskan di rumah sakit, mahasiswa koas lainnya yaitu Gabriel dan Wulan ikut terseret karena sebelumnya sudah merahasikan kebenaran tersebut. Keduanya di keluarkan dari daftar mahasiswa koas di rumah sakit bintang harapan.


Sedangkan Qania sendiri sempat untuk di minta kembali praktek di rumah sakit bintang harapan, namun Qania menolak untuk kembali karena dia ingin fokus dengan tempat praktek yang di siapkan Aizen untuknya.


Selama satu minggu ini baik Arkana dan Jingga sama sekali tidak pernah bertemu, mereka hanya saling berkomunikasi melalui ponsel Diana. Kali ini Qania harus kembali ke rumahnya atas perintah suaminya, alhasil yang menemani Jingga selama Arkana tidak ada tentu saja Diana.


Jingga baru saja keluar dari kamarnya saat dia merasa haus, siang itu Diana sedang keluar untuk belanja keperluan pribadinya. Diana berkata dirinya tidak akan lama, tapi sudah satu jam lebih dia belum kembali.


“ Non Jingga mau minum apa.?” Tanya bi Salma.


“ Air putih aja bi.” Balas Jingga sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Bi Salam pun langsung mengambilkan air minum untuk Jingga, dia memastikan air tersebut bersih dan steril dari apapun juga. Wanita itu kemudian menyajikannya di atas sebuah piring kecil dengan tutup gelas di atasnya.


“ Silahkan non.”


“ Terima kasih ya bi.”


Kehadiran pak Hasan satpam di rumah itu membuat Jingga dan bi Salma menoleh menatapnya, pria setengah baya itu berkata bahwa diluar ada seorang pria yang ingin menemui Jingga.


“ Siapa pak.?”


“ Kakaknya den Arka non.”


“ Mas Bima? Suruh masuk aja pak.”


“ Baik non.”


**


Jingga keluar menemui Bima di ruang tamu dan mulai menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa ruangan itu, Bima tersenyum simpul kepada Jingga sambil menanyakan keadaannya.

__ADS_1


“ Aku baik-baik aja kok mas.” Jawab Jingga tersenyum simpul.


“ Maaf ya aku datang kesini nggak bilang-bilang dulu, soalnya aku udah coba telpon tapi hp kamu nggak aktif.”


“ Hp ku lagi di mas Arka makanya aku nggak bisa jawab.”


“ Loh, kok ada sama dia.?”


“ Iya, mas Arka nggak mau aku banyak pikiran kalau aku pegang hpnya. Tapi nggak masalah kok, nggak ada yang penting juga walaupun hpnya aku yang pegang.”


“ Aku mau langsung to the point aja boleh nggak? Ini menyangkut tentang Arkana.”


“ Mas Arka kenapa.?”


“ Kamu tahu kan kami berpisah selama dua puluh tahun tanpa ada kabar, aku nggak tahu kehidupan Arkana sama sekali dan ku pikir kamu tahu semua tentang dia. Kalau kamu nggak keberatan, kamu mau nggak cerita ke aku.?”


“ Tentu saja mas, aku bisa kasih tahu semuanya ke kamu.”


**


Pria itu tiba di rumah sakit dengan perasaan yang tak karuan, dia berjalan dari lantai satu menuju lantai atas atau lebih tepatnya ruangan direktur utama.


“ Bima? Ada apa kamu datang kemari?” tanya mama Widya menatap putranya penasaran.


“ Bima mau ngomong serius sama mama.”


“ Silahkan, kamu boleh ngomong apa aja ke mama.”


“ Kenapa sikap mama ke Arkana nggak sama seperti sikap mama ke Bima? Kita berdua sama-sama anak mama kan? Tolong jangan pilih kasih begitu ma.”


“ Bima, kamu ini tahu kan kalau Arkana itu bukan anak dari pria lain.”


“ Tapi dia tetap saudara kandung aku ma, kita keluar dari Rahim yang sama. Seharusnya mama lebih paham soal ini.”


“ Terus kamu mau mama bersikap bagaimana? Adik kamu itu sudah memutuskan hubungan keluarga dengan mama, dan sekarang biarkan dia memilih kehidupan yang dia inginkan.”


“ Jadi mama mau melepaskan Arkana dan Jingga sekarang? “

__ADS_1


“ Mama mungkin akan melepaskan Arkana, tapi tidak dengan Jingga. Bagaimana pun juga dia sedang mengandung cucu mama, biarkan bayinya lahir agar semua rencana mama berjalan dengan lancar.”


“ Untuk apa sih ma? Mama nggak puas dengan semua yang sudah mama miliki.?”


“ Bima, jaga ucapan kamu. Mama melakukan ini bukan tanpa alasan, jadi kamu sebaiknya mendukung apa yang mama lakukan.”


“ Bima akan mengambil alih perusahaan dengan syarat mama tidak menganggu urusan Arkana dan Jingga lagi, biarkan mereka hidup bahagia dan jangan pernah menyentuh mereka ataupun menyakiti mereka lagi.” Ucap Bima yang merasa percaya diri bahwa mama Widya akan menerima tawaran tersebut.


Beberapa bulan yang lalu saat Bima di perkenalkan di semua orang dan di umumkan sebagai ahli waris, dia sempat menolak dan tidak akan melakukan apa yang di perintahkan mamanya.


Namun setelah apa yang dia tahu tentang Arkana membuatnya berani mengambil keputusan tersebut, walaupun memegang perusahaan bukanlah hal yang mudah tapi dia harus tetap melakukannya.


“ Baik, kalau kamu ingin melakukan hal itu. Mama janji nggak akan mengganggu mereka lagi.” Jawab mama Widya kemudian.


**


Arkana mengerjap, ia membuka kedua matanya perlahan. Diliriknya jam dinding yang tergantung di atas sana, pukul setengah empat sore. Arkana bangun setelah merasa lapar, kemudian dia beranjak dari tempat tidur menuju dapur.


Di lemari es sudah ada beberapa makanan yang bisa di hangatkan di micro wave, dan semua makanan itu merupakan kiriman dari Bima yang dimana membuat Arkana tidak pernah sekalipun keluar meninggalkan apartemen tersebut untuk mencari makanan.


“ Aku rindu makan bersama Jingga.” Ucap Arkana sambil menatap makanan itu dengan tatapan sayu.


Sambil menunggu makanannya hangat, Arkana mencoba untuk menghubungi Jingga. Hari ini dia belum puas mendengar kabar Jingga karena yang dapat di hubunginya sekarang adalah Diana, sedangkan wanita itu masih menyimpan dendam padanya.


Arkana sedang menghubungi nomor Diana sambil bersandar pada dinding, dia menunggu sedikit lebih lama untuk Diana menjawab panggilan tersebut.


“ Boleh aku bicara sama Jingga.?”


“ Aku baru mau bilang ke kamu, hari ini jadwal Jingga check up. Dia mau sekalian ketemu kamu di rumah sakit, aku nggak bisa bohong ke dia kalau kamu nggak ada disana sekarang, jadi gimana.?”


“ Aku lupa kalau ini jadwal dia check up, untuk sekarang aku masih belum bisa menemuinya. Bisa tetap bersamanya dan jagan biarkan dia berusaha mencariku disana.?”


“ Akan ku usahakan, tapi kalau dia tidak mendengarku bagaimana.?”


“ Aku percaya sama kamu, tolong tetap jaga Jingga.”


“ Ya sudah, aku tutup dulu sebelum dia curiga.”

__ADS_1


Setelah panggilan mereka berakhir, saat itu Arkana terlihat sangat frustasi. Dia benar-benar tidak ingat kalau hari ini merupakan jadwal Jingga check up ke rumah sakit, dengan keadaan rumah sakit yang sekarang tidak di ketahuinya dia mulai khawatir kalau Jingga akan mendengar sesuatu dari orang-orang disana.



__ADS_2