
Kehidupan Widya benar-benar telah hancur sejak awal, kedua orang tuanya yang berperan membuatnya menjadi penghasil warisan dari orang-orang kaya membuatnya hidup dalam tekanan.
Kedua orang tua Widya sudah mendoktrin Widya sejak awal untuk berjodoh dengan pewaris tunggal orang-orang kaya raya, tapi sayangnya Widya sudah memiliki Aidan dan dia tidak peduli jika Aidan bukanlah seorang yang kaya raya.
Widya sadar bahwa kedua orang tuanya tidak pernah mencintainya sejak awal, dia hanya di anggap sebagai pewaris kekayaan. Orang tua Widya pernah berkata di depan Widya, bahwa dia adalah pencapaian terbesar di keluarganya sehingga dia harus patuh dan menuruti semua perkataan orang tuanya.
Mentalnya sudah di rusak sejak awal oleh keluarga yang dia anggap akan memberinya kebahagiaan, dan setelah dia melepaskan keluarganya dan memilih hidup bersama Aidan. Memang benar kehidupannya berubah, tapi setelah dia memiliki seorang anak mentalnya kembali di rusak.
Orang-orang menyebutnya sebagai baby blues, dan benar bahwa Widya stress dengan kehidupannya. Aidan sendiri sibuk kerja sampai tidak ada waktu untuknya, Wiyda berusaha sabar dan menahan semua penderitaannya namun tidak bisa.
Bima satu-satunya yang dapat membuatnya merasa tenang, setiap melihat Bima dia menjadi lebih waras. Tapi itu hanya sebentar, tekanan batin dan ekonomi semakin membuat kesehatan mental Widya hampir hancur.
Aidan tidak pernah bertanya tentang kondisi Widya, entah karena dia tidak peduli atau dia tidak tahu soal itu. Widya sendiri bukan tipe orang yang akan memberitahu perasaannya kepada orang lain, dia cenderung memendam semuanya sendirian.
Setiap malam Widya menangis menahan depresi yang di alaminya, dia melawan dirinya sendiri dengan berusaha menjadi istri dan ibu yang terbaik. Sampai para tetangga sempat menjudge Widya sebagai ibu yang buruk, dan mengatakan hal-hal yang menyakiti perasannya.
Sampai di suatu titik Widya sadar bahwa ternyata menjadi seorang ibu sangatlah sulit, beum lagi dukungan suami yang kurang dan ikut menyalahkannya atas apa yang sering di lewatkan.
Dia di salahkan ketika Bima sakit, di salahkan jika rumah berantakan, di salahkan karena tidak bisa merawat dirinya dengan baik, di salahkan ini dan itu.
“ Mas, aku titip Bima sebentar ya.”
“ Aku capek ma, mau istirahat.”
Widya kesal mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aidan saat itu, dia sampai menggebrak meja dan membuat Aidan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
“ Kamu pikir, kamu doang yang capek mas? Aku juga sama capek, tapi kan nggak mungkin aku teriak di depan umum dan bilang kalau aku lagi capek dan hancur. Makanya kenapa aku selalu mendem dan selalu kelihatan baik-baik aja di depan semua orang, karena aku nggak mau di remehkan dan di tertawakan hanya karena masalah aku. Nggak ada yang bisa mengerti perasaan aku gimana, orang tuaku, kamu, dan mereka. Nggak ada yang ngerti.” Sahut Widya sambil berlinang air mata.
Sejak saat itu baik Widya dan Aidan selalu bertengkar dan mempermasalahkan hal-hal yang sepele hingga menjadi masalah besar. Widya kehilanagn kontrol dirinya dan Aidan tidak pernah menanyakan keadaannya, hal it uterus di biarkan sampai tidak ada yang sadar bahwa mental Widya sudah sangat di rusak oleh keadaan.
**
Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung ketakutan dengan tubuh yang bergetar hebat, mimpi yang barusan di alaminya membuatnya sadar akan kesalahannya di masa lalu. Kenapa mimpi itu baru datang sekarang? Atau mimpi itu adalah ingatan yang sempat di lupakan olehnya? Widya tidak tahu, dia hanya takut untuk sekarang ini.
“ Kamu sudah bangun? “ Suara itu membuat Widya menoleh dengan kaget, dia melihat Hendra sudah berada di kamar itu dan entah sejak kapan.
“ Mas Hendra?” Widya terlihat duduk di atas tempat tidurnya dengan ekspresi yang membuat Hendra bingung.
“ Kamu kenapa.?” Hendra datang mendekati Widya sambil menyentuh kepalanya dengan lembut.
Widya merasa begitu sedih sekarang, semuanya membuat lubang di hatinya terasa semakin besar dan hampa. Widya melihat pria yang dia kenal sebagai pria berhati lembut dan selalu menjaganya setiap saat. Pria yang sabar dan pandai mengendalikan diri, tidak pernah memarahinya dan akan menjadi satu-satunya orang yang berada di sampingnya.
Widya tidak bisa berkata-kata lagi saat ini, padahal ada begitu banyak kata-kata yang ingin dia sampaikan kepada Hendra. Namun untuk sekarang dia masih ingin memendamnya, dia butuh waktu yang tepat untuk menyampaikan semua itu.
“ Aku akan periksa keadaan kamu dulu.” Ucap Hendra meminta Widya untuk kembali berbaring.
Widya menurutinya tanpa kata, Hendra sedikit terkejut dengan sikap Widya yang patuh setelah sekian lama. Entah apa yang sudah membuatnya seperti itu, tapi Hendra merasa senang karena akhirnya dia bisa mengurus istrinya lagi.
**
Rumah tampak kosong dan sepi hari itu, Widya tidak melihat ada Arkana lagi disana. Dia sudah menyadari bahwa yang di gendongnya kemarin adalah cucunya sendiri, dan entah mengapa dia merindukan hal itu.
Widya berhenti melangkah tepat di depan sebuah bingkai foto yang menunjukkan foto pernikahan dirinya dan Hendra dulu. Terlihat dia yang tidak bahagia pada saat itu, dan ketika melihat senyuman Hendra yang tampak tulus lagi-lagi membuat perasaannya terkoyak.
__ADS_1
Tatapan Widya sekarang fokus melihat kedua orang tua Hendra, mereka yang dulu sempat menentang pernikahan dia dan Hendra mengembalikan ingatan buruk di pikiran Widya.
“ Hendra benar-benar bodoh memilih janda beranak dua itu sebagai istrinya, mama nggak nyangka kalau orang tua wanita itu sudah berbohong kalau ternyata dia sudah memiliki dua orang anak.”
“ Dia nggak pantas buat Hendra, dia hanya akan menyebabkan banyak masalah untuk rumah tangga mereka nantinya.”
Sampai saat ini, kalimat yang menyakitkan itu masih di ingat oleh Widya dan selalu membuat hatinya sakit jika di ingat-ingat.
“ Kenapa kamu disini? Aku sudah bilang untuk istirahat di kamar kan.?” Suara Hendra lagi-lagi membuat Widya menoleh ke arahnya.
“ Aku mau ke makam anakku.” Pinta Widya tiba-tiba.
**
Widya dan Hendra datang ke pemakaman Bima untuk pertama kalinya secara bersamaan, Widya membawa sebuah buket besar untuk Bima dan terlihat Widya yang tidak terbawa emosi dan cenderung lebih tenang dari yang Hendra bayangkan.
“ Mama minta maaf ya nak, mama baru bisa datang sekarang.”
Hendra melihat sosok Widya seperti bukan Widya yang dia kenal selama ini, mendengar Widya yang bicara di depan makam Bima tanpa menyalahkan siapa-siapa terdengar lebih indah dari pada alunan simponi yang indah.
Dan terakhir, Widya menyampaikan kondisinya sendiri kepada Bima bahwa dia sudah mulai sadar akan kesalahannya. Dia akan membuat dirinya lebih bisa menerima semua keadaan mulai sekarang.
Widya kemudian beranjak dari tempatnya, dia menatap wajah suaminya dan berkata.
“ Aku mau menemui psikolog.” Ucap Widya di sambut senyum penuh kebahagiaan dari Hendra.
__ADS_1