
Jingga sedang menunggu seorang diri di salah satu bangku yang ada di tempat itu, pandangannya tertuju pada satu keluarga kecil yang sedang asyik piknik bersama. Kemudian dia menyentuh perutnya sambil membayangkan dia dan keluarga kecilnya nanti bisa melakukan hal yang serupa.
“ Hanya beberapa bulan lagi kita akan ketemu nak, mama jadi nggak sabar mau lihat seperti apa wajah kamu.” Ucap Jingga lirih.
Tiba-tiba saja Jingga di buat terkejut saat melihat Arkana yang datang menghampirinya, bahkan belum setengah jam dia meninggalkan Arkana bersama Bima dan sekarang pria itu sudah kembali dengan raut wajah yang kesal.
Jingga beranjak dari tempatnya dan ingin menghampiri Arkana balik, namun hal tak terduga terjadi dimana Arkana langsung mendekap Jingga ke dalam pelukannya.
“ Aku lagi marah sama kamu, aku peluk kamu sekarang biar marahku hilang. Jadi jangan melepaskannya.” Gumam Arkana seketika membuat Jingga melingkarkan tangannya ke pinggang Arkana.
“ Kamu seharusnya bilang soal ini dari awal, aku nggak tahu harus bagaimana lagi ke kamu saking marahnya aku sekarang.” lanjut Arkana tampak berusaha menahan emosinya untuk tetap memberikan perlakuan yang manis kepada Jingga.
“ Aku nggak akan melakukannya lagi, aku akan bilang ke kamu terlebih dulu kalau ada apa-apa soal mas Bima.” Jawab Jingga perlahan membuat Arkana melepas pelukannya.
“ Marahku udah hilang karena pelukan tadi, tapi aku masih mau minta sesuatu dari kamu sebagai hukuman karena sudah merahasiakan hal ini dari aku.”
“ Hukuman apa? Kamu nggak akan kurung aku ke kamar mandi lagi kan.?”
“ Kamu ngomong apa sih, ya nggak mungkin aku begitu ke kamu lagi. “
“ Terus hukuman apa.?”
**
Jingga terkejut ketika dia di bawa ke sebuah hotel oleh Arkana, dia bahkan tidak mengerti kenapa mereka harus tinggal di hotel malam ini. Saat memasuki kamar dia di sambut dengan dua handuk berbentuk angsa dengan bunga mawar yang berbentuk hati di atasnya.
“ Konsepnya kok kaya orang bulan madu.?” Benak Jingga merasa bahwa kamar itu memang terlihat seperti kamar untuk pengantin baru.
__ADS_1
“ Gimana ? kamu suka sama kamarnya.?” Tanya Arkana yang yang baru saja memeluk Jingga dari belakang.
“ Kenapa kita tinggal di hotel? Dan juga kita bukan pengantin baru lagi kan.?”
“ Aku Cuma mau ada aku dan kamu saja, itu sebabnya aku bawa kamu kemari.” Arkana meraih tangan Jingga dan menuntunnya sampai ke atas tempat tidur.
“ Di rumah kan Cuma ada kita berdua.”
“ Kamu lupa sama bi Inah dan bi Salma? Mereka kan tinggal di rumah kita.”
“ Tapi kan mereka tinggal di belakang, mereka juga jarang ke area kamar kita.”
“ Duh kamu kok nggak peka banget sih. Aku bawa kamu kemari itu mau buat kenangan sama kamu, selama ini kita nggak punya kenangan bagus di hotel.”
“ Dan juga ini sebagai bentuk hukuman hari ini.” Lanjut Arkana lagi.
Jingga tertawa mendengarnya sampai membuat raut wajah Arkana langsung berubah bingung. Sementara Jingga benar-benar tidak menyangka Arkana akan memikirkan hal semacam ini sebagai bentuk hukamannya.
“ Kamu lucu banget sih mas.” Ucap Jingga sambil membelai rambut Arkana.
Tepat saat Arkana sudah sangat dekat dan bersiap mencium, tiba-tiba saja ada sebuah tendangan yang terasa ketika dia menyentuh perut Jingga. Keduanya diam di tempat dan melirik perut Jingga yang dimana tendangan itu semakin terasa kuat.
“ Kayaknya anak kamu nggak suka kalau kamu cium aku deh.” Ucap Jingga tersenyum simpul.
Arkana melirik perut Jingga sambil menempelkan kepalanya di perut itu, dia tidak bisa mendengar apa-apa tentu saja. Tapi tendangannya terasa cukup kuat dan membuat Arkana ikut bersemangat di buatnya.
“ Kamu belum keluar ya, jadi biarin papa yang manja sama mama kamu. Nanti kalau kamu keluar pasti kamu yang akan mengambil jatah papa.” Ucap Arkana sambil menunjuk-nunjuk perut Jingga.
Jingga senang melihat bagaimana Arkana mengajak bayi mereka berkomunikasi, rasanya dia ingin segera melihat anak itu lahir dan melihat keduanya secara langsung bermain bersama.
Setelah anak di dalam perut itu mulai tenang, sekarang waktunya Arkana melanjutkan niatnya untuk mencium Jingga. Tapi sayangnya kali ini bukan bayi di dalam perut itu lagi yang mengganggu mereka, melainkan pelayanan hotel yang datang membawakan makan malam.
__ADS_1
“ Kita makan dulu ya, malam masih panjang jadi bisa di lanjut nanti.” Ucap Jingga seketika membuat raut wajah Arkana berubah cemberut.
**
Arkana menatap wajahnya di depan cermin di dalam kamar mandi setelah dia selesai mandi, malam itu dia sudah makan malam bersama Jingga dan sekarang dia tidak akan menundanya lebih lama lagi setelah ini.
Sebelumnya Jingga sudah membersihkan dirinya dan mengganti pakaian yang cukup nyaman untuk tidur, dan saat Arkana keluar dari kamar mandi dia melihat Jingga sudah berbaring di tempat tidur lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
“ Kamu tidur? Kan tadi aku bilang tunggu dulu, hukumannya belum selesai.” Sahut Arkana yang mulai naik ke atas tempat tidur.
Arkana mencoba memastikan apakah Jingga benar-benar sudah tidur apa belum, dia bisa melihat bahwa Jingga benar-benar sudah tidur. Hal itu pun membuatnya tidak tega membiarkan istrinya terbangun hanya untuk memberikan apa yang dia inginkan malam itu.
Kemudian Arkana mulai ikut berbaring di sebelahnya, dia merapatkan tubuhnya ke Jingga lalu memeluknya dari belakang. Dia juga mengelus perut Jingga menunggu bayi itu kembali menendang, namun sepertinya si bayi juga sudah tertidur seperti ibunya.
“ Selamat malam kesayanganku.” Ucap Arkana lembut dan berusaha untuk ikut tidur dengan tetap memeluk Jingga.
Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia sengaja berpura-pura tidur untuk menghindari hukuman itu. Dia sudah tahu niat terselubung Arkana dan berusaha untuk menghindar dengan cara seperti itu.
**
Sekitar pukul 2:00 dini hari Arkana terbangun setelah mendengar suara rintihan yang membuatnya langsung bangun dan mengecek keadaan Jingga.
“ Kamu kenapa.?” Arkana panik saat melihat Jingga kesulitan bernafas.
“ Kemu tenang, badannya di lurusin jangan di tekuk begitu.” Lanjut Arkana yang mulai membantu Jingga untuk mengatur pernafasannya.
Arkana benar-benar panik sampai dia bingung harus memulainya dari mana, Jingga menunjukkan kondisi yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan itu membuatnya sangat ketakutan.
Arkana tidak membawa alat kedokterannya untuk mengecek keadaan Jingga, dia hanya mencoba mendeteksi denyut nadinya yang berdenyut sedikit lebih lambat dari biasanya.
“ Kita ke rumah sakit, aku nggak mau kamu kenapa-napa.” Arkana langsung menghubungi pelayanan hotel di jam itu untuk membantunya membawa Jingga ke rumah sakit.
__ADS_1