
Malam itu Arkana kembali cukup larut, Jingga bingung sebab setahunya besok dia akan pergi ke Solo. Tapi kenapa dia pulang sangat larut, karena penasaran Jingga pun segera menyusul Arkana ke kamarnya.
“ Mas, mau aku bantu rapihin baju-baju kamu nggak.?” Sahut Jingga dari luar.
Terdengar suara barang-barang pecah di dalam sana, nampaknya Arkana sedang mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya ke lantai. Jingga semakin khawatir di buatnya, dia tahu bahwa Arkana akan melakukan itu jika dirinya mendapat perlakuan tidak baik dari seseorang.
“ Mas, aku masuk ya.” Jingga pun mulai membuka pintu kamar Arkana yang ternyata tidak di kunci.
Jingga bisa melihat Arkana yang duduk di lantai kamarnya sambil menundukkan wajah, seisi kamar sudah berantakan akibat perbuatan Arkana barusan.
“ Mas Arka, kamu kenapa? ayo cerita sama aku.” Sahut Jingga yang perlahan mensejajarkan tingginya dengan Arkana.
“ Keluar sebelum aku nyakitin kamu.” Ucapnya dengan nada yang pelan.
“ Aku nggak akan keluar, aku mau nemenin kamu disini.” Balas Jingga keukeh.
“ Pergi kataku.”
“ Aku istri kamu mas, aku khawatir kalau kamu kaya gini. Biarin aku tahu kamu kenapa, apa yang buat kamu sampai berbuat hal seperti ini.?”
Arkana kemudian beranjak dari tempatnya, kemudian dia menarik tangan Jingga dan membawanya keluar. Jingga langsung menahan langkahnya, lalu dia memeluk Arkana dengan erat.
“ Kamu nggak sendirian mas, aku akan selalu ada buat kamu.” Kata Jingga seketika membuat Arkana tidak bergerak dari tempatnya.
“ Terkadang kita melewati masalah yang berat dalam hidup, tapi bukan berarti kita harus bersedih terus menerus. Kamu sudah melakukan yang terbaik dari diri kamu, dan kamu pantas untuk tetap bahagia.” Ucap Jingga sekali lagi membuat Arkana dapat tenang.
Jingga tersenyum saat Arkana membalas pelukannya, mereka berpelukan cukup lama sampai Arkana merasa semakin lebih tenang dengan emosinya saat ini.
**
Malam itu bi Salma dan bi Inah membersihkan segala kekacauan yang terjadi di kamar Arkana, sementara Jingga sibuk menyiapkan pakaian yang akan di bawa Arkana besok ke Solo.
__ADS_1
“ Gimana keadaan tuan Arka sekarang non.?” Tanya bi Salma.
“ Dia udah tidur di kamar saya bi.” Jawab Jingga.
“ Tumben banget tuan Arka nggak kasar sama non Jingga.”
“ Saya sudah tahu cara buat dia lebih tenang bi.”
“ Sebenarnya tuan Arka kenapa sih non? Kita jadi penasaran tahu.”
“ Hmm, kalian berdua nggak usah tahu dulu ya. Aku juga masih belum bisa bilang ke kalian, tolong ngerti ya.”
“ Baik non, kita berdua selalu siap kok tunggu sampe non Jingga mau cerita.”
“ Saya ke kamar dulu ya bi, tolong sisanya di lanjut.” Sahut Jingga di balas anggukan cepat oleh mereka berdua.
Dan sekarang Jingga telah masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Arkana yang sudah pulas tertidur. Karena kamar Arkana sebelumnya berantakan, dia pun mengajaknya untuk istirahat di kamarnya sementara.
Tak tega membangunkannya sekarang membuat Jingga memutuskan untuk membiarkannya tetap tidur, Arkana terlihat sangat lelah hari ini, melihat tertidur seperti itu seketika membuat Jingga tersenyum simpul.
**
“ Jangan pukul aku ma, aku sudah berusaha menjadi anak yang baik…, kumohon ma.., jangan pukul lagi.”
Jingga terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Arkana yang terdengar meringis ketakutan, saat Jingga menoleh dia mendapati Arkana tetap mengigau dalam tidurnya.
Jingga melihat Arkana mengigau dalam tidurnya sambil menitihkan air mata, dia tidak tahu mimpi buruk apa yang baru saja dia alami sampai dirinya bisa sampai seperti itu.
“ Kamu menyebut mama kamu di mimpi buruk yang kamu alami, sebenarnya apa yang selama ini mama Widya perbuat sama kamu mas? Mama padahal sangat baik sama aku, nggak mungkin kan kalau dia jahat sama anaknya sendiri.”
Jingga membelai rambut Arkana dengan lembut yang membuat Arkana terlihat berhenti mengigau, dia juga sudah tidak meneteskan air mata lagi. Jingga menyeka air mata yang mengalir di wajahnya dengan pelan, nyatanya itu tidak membuat Arkana terbangun.
__ADS_1
Jingga mendapati sesuatu yang aneh di balik kemeja Arkana, saat dia intip ternyata ada bekas luka lebam disana. Jingga tidak tahu dari mana asalnya, namun dia tahu kalau luka itu masih baru.
“ Aku harus cari tahu semuanya tentang kamu, alasan kamu bisa kaya gini, supaya aku bisa bantu kamu tanpa kamu harus minta bantuan sama aku.” Kata Jingga menatap wajah Arkana dengan lekat.
**
Kedua mata Arkana perlahan mulai terbuka, dia merasa tidurnya semalam terasa sangat lelap sampai tubuhnya yang kemarin terasa sakit sekarang jadi lebih ringan.
Arkana terkejut saat menoleh ke samping dan mendapati Jingga masih tertidur dengan pulas, saat itu juga Arkana sadar bahwa dia sedang berada di dalam kamar Jingga.
Arkana lupa kalau semalam dia di minta untuk istirahat, namun karena sangat kelelahan akhirnya dia tertidur bersama wanita itu sampai pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 4:00 subuh, sekitar pukul 5:00 nanti dia sudah harus berangkat ke Solo.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, Arkana melirik Jingga sekali lagi. Semalam dia merasa lebih tenang karena bantuan Jingga, dan sebelum pergi dia mengucapkan rasa terima kasihnya di hadapan Jingga yang sedang tidur.
Beberapa saat setelah Arkana pergi meninggalkannya, Jingga masih tertidur dengan sangat pulas. Semalam dia cukup begadang menemani Arkana sampai dia bisa tidur dengan lelap, dan setelah itu Jingga membuka kedua matanya begitu dia sadar sepenuhnya.
“ Mas Arka.?” Jingga menoleh dan tidak menemukan sosok Arkana di sampingnya.
Kemudian Jingga keluar dari kamarnya dengan panik, dia mencari-cari Arkana dimana-mana namun tidak berhasil di temukan. Ketika dia ke kamar pria itu pun tetap tak ada sosok Arkana.
“ Non Jingga cari tuan? Barusan tuan sudah berangkat ke Solo sama pak Jefri.” Sahut bi Salma yang baru saja muncul dari arah ruang tamu.
“ Sudah berangkat ya? Syukurlah, aku kira dia kenapa-napa.” Ucap Jingga kini dapat bernafas dengan lega.
“ Sarapan sudah siap non, kalau mau makan sekarang biar bibi siapin terus di bawa ke kamar.” Lontar bi Salma.
“ Sekarang jam berapa bi.?” Tanya Jingga.
“ Jam 6:00 non, kenapa toh.?”
“ Nggak, nanti biar aku yang ke ruang makan aja.”
Jingga pun kembali ke kamarnya, dia mencari ponselnya yang dia simpan di atas meja. Kemudian dia mencari nama kontak seseorang, dan sesaat kemudian dia ingat kalau dia baru saja mengganti ponsel dan nomor baru.
__ADS_1
Alhasil Jingga menghubungi Diana untuk di minta mencari nomor salah satu teman SMA nya, Jingga sangat ingin meminta bantuan dari temannya itu untuk masalahnya kali ini.
Diana : Ini nomornya 08520086xxx