Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Stadium Akhir


__ADS_3


Di saat semua orang sedang sibuk, terlihat Zara yang beranjak dari tempatnya dan menjauh dari keramaian. Jingga menyadari hal itu dan sebelumnya dia meminta izin kepada Arkana untuk bicara dengan Zara, dan Arkana pun mengizinkannya.


Jingga melihat Zara yang sedang menyendiri di beranda restoran, sampai ketika Jingga berdiri di sebelahnya dan membuat Zara sedikit terkejut. Jingga melirik Zara hingga akhirnya wanita itu pun ikut menatapnya.


“ Kamu pasti kaget kan tahu aku itu kakak tirinya Bima? Dan bukan pacarnya.?”


“ Aku hanya penasaran, kenapa dia melakukan semua itu? pasti kak Zara tahu sesuatu tentang dia kan.?” Kata Jingga.


“ Nawa yang menyelamatkan aku dari sekapan mamanya, tapi dia juga yang berusaha memisahkan aku dengan mas Arka. Aku nggak tahu harus gimana, dia mungkin pernah menjadi bagian penting di hidupku. Tapi sikapnya sangat pemaksa dan tidak seperti Nawa yang aku kenal dulu.” Ungkap Jingga.


“ Aku udah capek bohong ke semua orang, Sebenarnya aku hampir tahu semua tentang dia, tapi aku nggak bisa kasih tahu ke orang lain.” Jawab Zara terdengar mulai serius.


“ Kak Zara bisa kasih tahu ke aku, aku janji nggak akan kasih tahu ke dia kalau aku udah tahu semua tentang dia.”


“ Nawa dan Bima masih sama seperti yang kamu kenal, dia sangat cinta dan sayang sama kamu. Waktu tahu kamu ternyata sudah menikah dengan Arkana, dia sempat kesal dan marah tapi di satu sisi dia sangat menyayangi kalian berdua.”


“ Dia berusaha melupakan perasaannya setelah tahu kalau kamu sangat mencintai Arkana, dia berusaha menjauh dan mendukung hubungan kalian dengan caranya.”


“ Kamu ingat waktu hari dimana dia mengalami kecelakaan? Sebelum itu, dia sempat memberitahuku kalau dia mau menikah. Tapi dia tidak memberitahu orang tua kita saat itu, dia hanya bilang ke aku. Dia berencana menikah tanpa melibatkan orang tua kami, itu karena sejak dulu Nawa benci dengan orang tuanya karena perceraian mereka yang terjadi dulu. “


“ Nawa sering memalsukan identitasnya, berbohong sana sini untuk tetap bertahan. Sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan di hari itu, seseorang meninggal dan bukan dia. Tapi dia memalsukan kematiannya karena dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi.”


“ Apa maksud kak Zara? “


“ Nawa mengidap kanker otak stadium akhir, alasan kenapa dia merencanakan semua itu karena dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi dan dia tidak ingin kamu sedih. “


Jingga kembali di buat syok dengan kenyataan tersebut, air matanya mengalir begitu saja mengingat semua kejadian ini benar-benar mengganggu dirinya.

__ADS_1


“ Kenapa dia nggak jujur dari awal? Jadi alasan dia ingin kembali, karena hidupnya hanya tersisa sedikit.?”


“ Dokter bilang dia tidak bisa bertahan selama satu tahun, dan sekarang pun dia sedang di rawat di rumah sakit di Bandung. Kamu tahu kan dia sering kesana untuk berobat.?”


“ Aku nggak tahu, tapi dia memang membawaku ke Bandung waktu itu.”


“ Tapi kenapa kak Zara ikut merahasiakan ini dari semua orang? Bagaimana perasaan mereka kalau tahu Nawa sakit seperti ini.?”


“ Aku terpaksa melakukannya, ini permintaan dia. Aku juga nggak tahan terus berbohong, dan ku pikir akan memberitahu semuanya dalam waktu dekat ini.”


Jingga tidak mau tinggal diam di tempatnya, dia kembali masuk ke dalam dan menghentikan semua aktivitas yang terjadi disana. Zara sudah mengejarnya dan berusaha menahan, namun Jingga tidak mau membiarkan rahasia ini terus di sembunyikan.


“ Bima atau Nawa yang kalian kenal sedang sakit, dia mengidap kanker otak stadium akhir dan sedang di rawat di rumah sakit yang ada di Bandung sekarang. Kita tidak sebaiknya melakukan acara ini dan tertawa sedangkan ada seseorang yang berjuang dengan penyakitnya sendirian, aku…” Jingga tak kuasa menahan tangisanya hingga akhirnya Arkana datang ke sampingnya dan menenangkannya.


Semua orang di tempat itu terkejut mendengar pengakuan Jingga barusan, mereka pun baru tahu dan merasa sangat syok. Arkana tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya memeluk Jingga dan merasakan syok yang lebih besar.


“ Pasti, kita pasti pergi melihatnya.” Balas Arkana lirih.


**


Cuaca di luar sedang cerah namun tidak secerah perasaan Bima saat ini, dia terlihat duduk termenung sendirian di jendela kamarnya sambil menatap keluar dimana langit biru dengan gumpalan awan putih sangat menajakan mata.


“ Kamu sudah bangun.?” Suara seseorang baru saja membuat Bima menoleh.


“ Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau sudah bertemu dengan wanita yang kau cintai kan? Apa dia masih mau balikan denganmu.?” Tanya dokter Ririn yang selama ini menangani penyakit Bima.


“ Sebaliknya, aku udah buat dia benci sama aku dok.” Balas Bima kemudian.


“ Kenapa? kamu udah berbuat apa ke dia.?”

__ADS_1


“ Sulit untuk di jelaskan, tapi sekarang aku lega karena dia bisa melanjutkan kehidupannya dengan orang yang di cintainya.”


“ Jadwal operasi akan di lakukan dalam empat hari, kalau berhasil hidupmu bisa bertahan lebih lama. Tapi kau tenang saja, aku dan dokter lain akan berusaha semampu kami untuk menyembuhkanmu.” Ujar dokter Ririn.


“ Bahkan untuk gagal sekarang pun aku sudah nggak takut dok, dan juga aku ada satu permintaan terakhir kalau operasinya sampai gagal.” Pinta Bima dengan sangat.


“ Apa itu.?”


**


Arkana, Jingga, papa Aidan, dan Zara datang ke Bandung setelah mereka tahu kondisi Bima saat ini, dan rumah sakit yang di datangi oleh mereka adalah rumah sakit yang sama ketika Arkana datang mengikuti Bima.


Saat itu Arkana sadar bahwa ternyata kedatangan Bima ke rumah sakit memang bukan karena Jingga, dan dia ingat bagaimana Bima berkata bahwa dia datang untuk memeriksa keadaanya.


Arkana merasa bersala sekaligus menyesal, dia sudah di beritahu secara tidak langsung tapi mengabaikannya begitu saja. Dan sekarang mereka sudah bertanya pada salah satu perawat tentang kamar yang di tempati oleh Bima sekarang.


Sekarang mereka sudah berada di depan pintu kamar yang di sebutkan oleh perawat barusan, Zara menjadi orang pertama yang membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dulu.


Saat mereka masuk, ternyata Bima sedang di tangani oleh para dokter karena kondisinya tiba-tiba kritis. Mereka yang barusan masuk segera di minta untuk keluar, sehingga para dokter bisa menangani pasien tanpa gangguan.


Semuanya terkejut melihat keadaan Bima yang ternyata separah itu, dan sekarang mereka harus tahu di saat-saat seperti ini. Papa Aidan merasa bersalah pada dirinya karena hampir tidak menyadari bahwa putranya sedang sakit.


“ Aku minta maaf pa, seharusnya aku bilang lebih awal soal kondisi Bima.” Sahut Zara juga merasa bersalah.


Pintu kembali terbuka dan terlihat Arkana yang di dorong keluar menggunakan brangkar, dokter menyampaikan bahwa operasinya akan di majukan hari ini dan mereka meminta persetujuan dari wali Bima.


“ Tolong lakukan yang terbaik dok, sembuhkan anak saya.” Pinta papa Aidan yang telah memberikan izin untuk segera melakukan operasi.


__ADS_1


__ADS_2